
Justin menceritakan saat dia tau, ternyata Kira sedang hamil satu bulan lebih saat itu. Dirinya sangat senang, hari, minggu dan bulan dia habiskan untuk menemani dan melakukan apa yang Kira sukai.
Dan juga tentang lamaran Kira padanya, karena mengetahui penyakit yang dia alami. Pernikahan pun terjadi, dan kini setelah 4 tahun menikah, Justin di beri kesempatan untuk menjadi ayah untuk anak kandung nya. Meski sebenarnya dia tidak ingin Kira hamil lagi, mengingat proses persalinan wanita itu yang hampir membunuhnya karena ketakutan.
Justin bercerita tentang ketiga anak nya yang merupakan anak kandung Daniel, yang dia rawat dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kecerdasan ketiga tak henti hentinya Justin banggakan pada Daniel.
Air mata Daniel mengalir menganak sungai, hatinya menghangat, desiran hebat menerpa hatinya.
"Katakan dimana kalian sekarang, aku hanya ingin melihat anak-anak ku, maksudku anak-anak kita dari dekat. aku tidak akan mengambil nya darimu, aku janji." Daniel memohon dengan suara serak.
"Untuk saat ini biarkan semua berjalan seperti sedia kala, kau akan mendapatkan giliran mu nanti. Jika aku pergi, tolong jaga Kira, menikahlah dengannya. Dan ya, titip anak-anak ku yang sedang Kira kandung. Jika kau tidak bisa menyayangi mereka, tolong jangan sakiti anak-anak ku. Abaikan saja jika mereka merengek padamu, tapi jangan sekali-kali menyakiti. Aku tidak akan mengampuni mu, "Ujar Justin sedikit mengancam di akhir kalimat nya. Walau itu hanya candaan.
"Kau ini, kau pasti pulih kembali, aku bisa memeriksa kan ginjal ku. Mungkin saja cocok untuk mu, jangan putus asa begitu. Anak-anak pasti sedih jika kau pergi, mereka membutuhkan ayah hebat seperti mu." Sanggah Daniel, walau Hati nya nyeri, dirinya masih sangat mencintai Kira.
Namun mendengar cerita Justin, dia merasa berhutang banyak pada pria itu. Kira pantas bersanding dengan Justin.
"Andai masih bisa, sayangnya sudah tidak bisa lagi. Dengar kan aku sekali lagi, jika aku pergi, menikahlah dengan istri ku, dia sedikit montok, tapi tetap mempesona dan cantik. Aku akan sangat cemburu, bila Kira kita, menikah dengan pria lain. Aku tidak rela, lebih baik dengan mu saja. Aku akan relakan walau sedikit tidak ikhlas," kekeh Justin meredam sesak di dadanya.
Jangan kira hatinya baik-baik saja, menyerahkan istri dan kelima anaknya pada Daniel. Namun dia tidak ingin egois, hidupnya tidak akan lama lagi. Belakangan Justin rajin menggunakan celana dan baju panjang, untuk menutupi kaki dan tangannya yang sering terlihat membengkak. Dia tau, waktu nya sudah tak banyak.
Maka dia harus meyakinkan Daniel siap, menerima tanggung jawab yang besar itu.
"Aku tau kau masih sangat mencintai istri ku, dasar pebinor!" seru Justin terbahak di ujung sana.
Namun Daniel tau, Justin hanya berusaha meredam perasaan nya. siapa yang rela, istrinya dimiliki oleh pria lain, walaupun mantan suami sendiri.
__ADS_1
"Jelas saja aku masih sangat mencintai nya, aku akan mencintainya beserta apa yang ada padanya. Termasuk anak-anak yang dikandung nya, aku suka anak-anak, kau pasti tau dari Bryan jika aku mengadopsi seorang anak."
"Ya, Bryan mengatakan nya padaku. Kira pun mengetahui nya, dia senang kau sudah bisa menentukan pilihan dan menjadi pria yang tegas." Justin menjeda kalimat dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan.
"Dia juga masih mencintai mu, di menyayangi ku dengan cara berbeda, aku tidak masalah. Kami saling menyayangi, tanpa mengungkit apapun yang telah berlalu. Kau pun harus begitu, Kira tidak suka mendengar kata maaf berkali-kali. Cukup utarakan sekali, dan jadilah pria berbeda untuk nya. Maka kau akan mudah menggapainya nanti." Hati Daniel sesak, Justin bukan memberikan tips untuk meraih hati Kira tanpa peduli pada perasaan nya sendiri. Sungguh pria yang mulia, Daniel jadi malu pada dirinya sendiri.
"Aku pasti akan menggapai nya dengan cara yang benar, terimakasih. Aku berhutang sekali lagi padamu." Ujar Daniel tulus, " bolehkah aku melihat rupa anak-anak kita itu," kekeh Daniel di ujung pertanyaan nya.
"Boleh, aku akan mengirimkan banyak foto dan video padamu, dari mulai mereka baru lahir. Ya sudah, aku harus kembali, atau istri ku akan mendiami ku sepanjang hari. Aku takut," ujar Justin apa adanya.
"Baiklah, aku tunggu" balas Daniel bersemangat.
"Oya, katakan pada putramu, agar dia mengerti situasi nya, jika dia akan memiliki 5 orang adik. Aku takut dia merasa tersisihkan, hati anak-anak sangat halus." Nasihat Justin kembali menampar telak Daniel.
"Akan ku katakan padanya, dia taunya Kira adalah ibu kandungnya nya, jadi tidak masalah jika Kira pulang membawa hadiah yang banyak. Adik-adik nya," kekeh Daniel.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Aku turut berdukacita, mami dan papi sedang dalam perjalanan dari Kalimantan. Mungkin sampai nanti malam." Ujar Daniel memberanikan diri menyapa Kira.
Sejenak kira menatap manik mantan suaminya dengan tatapan tak terbaca. "Terimakasih kasih," jawab Kira lalu fokus pada perutnya, dia merasakan mulas ringan sejak tadi, hanya saja dia menahannya.
Dia ingin menyaksikan sang ibu dikebumikan, itu untuk terakhir kalinya. Anak-anaknya masih di rumah Bryan. Lumina melahirkan semalam, dia baru sampai tadi pagi dijemput oleh orang kepercayaan Bryan.
"Bagaimana kabarmu dan anak-anak,?" Daniel kembali membuka suara, walau sangat pelan.
__ADS_1
Kira tak terkejut, dia sudah membaca pesan yang di tulis oleh suaminya di sebuah buku catatan.
Daniel sudah tau segalanya.
"Mereka baik, sekarang ada di rumah Bryan. Sekarang mungkin sedang di perjalanan menuju kemari." Jelas kira, sambil mengelus perut nya yang semakin kencang.
Daniel melirik tangan kira yang nampak terus mengelus perutnya. Dia sedikit cemas, jika tidak salah ingat, Justin bilang, di bulan-bulan ini, waktu nya Kira melahirkan.
"Apa sudah waktunya?" tanya Daniel cemas.
"Harusnya dua minggu lagi,"
"Ayo aku antar ke rumah sakit" tawar Daniel mulai terlihat panik. Entah karena janjinya atau karena hatinya.
"Mungkin karena kelelahan saja, aku akan baik-baik saja. Sebentar lagi bunda akan di antar, aku ingin menunaikan bakti terakhir untuk nya" Air mata kita kembali mengalir.
"Dek?" Keenan berjalan ke arah adiknya membawakan jus jeruk nipis, Kira tadi meminta nya.
"Daniel, terima kasih sudah datang." Ujar Keenan tulus, tidak ada gunanya memelihara permusuhan terlalu lama. Itulah yang selalu ibunya katakan.
"Kau sendiri, mana Kirel?"
"Kirel aku titip kan di yayasan, itu aman untuk nya selama aku bekerja. Tiara sering menyakiti putraku itu, saat aku tidak ada." Adu Daniel tanpa sadar, lalu seketika melirik pada Kira.
"Kau bisa bawa dia kemari, Dan. Kami kasih keluarga mu, kalianlah yang memisahkan diri dari kami." jelas Keenan.
__ADS_1
"Kami hanya merasa tidak pantas dan malu pada keluarga ini, terlalu banyak hal menyakitkan yang kami berikan." Kira tak ingin mendengar lagi, hatinya tidak ingin cerita masa lalu menambah kesedihan nya saat ini.
Daniel menatap punggung Kira yang mulai menjauh. Hatinya tertawa miris.