
Daniel memarkirkan mobilnya asal, dengan gontai, pria itu keluar. Sebelum melangkah masuk, Daniel memejamkan kedua matanya. Helaan nafasnya yang tidak biasa, menjelaskan, jika pria tersebut sedang sangat tertekan.
Langkahnya yang tak bersemangat saat memasuki rumah kedua orang tua nya, mencuri perhatian Bintang dan istri nya. Keduanya saling bertukar pandang.
"Pi ak...."
"Duduklah! aku tidak mengajarkan mu untuk tidak sopan saat berbicara pada orang tua." Sarkas sang ayah dingin.
Daniel bukannya langsung duduk, pria itu melangkah kearah sang ayah meski hatinya was-was.
Daniel bersimpuh di hadapan Bintang, bahunya bergetar hebat. Lagi-lagi Daniel menangis seperti anak kecil. Citra nya sebagai pria dingin dan datar, menguap entah kemana.
Sinta yang melihat keadaan anaknya yang begitu tertekan, merasakan iba di hatinya. Bagaimana pun dia seorang ibu, yang sudah menghadirkan Daniel ke dunia ini. Namun, saat mengingat kesalahan fatal putra bungsunya. Rasa iba itu tidak sebanding dengan rasa sakit, yang dialami oleh menantu nya.
"Apa kau bangga dengan dirimu sekarang?" pertanyaan Bintang bagai anak panah menghujam jantungnya. Daniel membeku, tak ada kata yang bisa di ucapkan untuk menyanggah nya.
Suara langkah kaki seseorang tidak membuat Daniel mengangkat wajahnya. Bahkan pria itu semakin menunduk dalam, seolah sudah siap akan segala perlakuan ayahnya.
Bugh
Daniel terhempas ke lantai, telinga nya berdengung, Daniel meringis menahan sakit. Namun belum reda rasa sakitnya, pukulan keras di perutnya kembali dia rasakan.
Daniel bahkan tidak diberikan kesempatan, meski hanya sekedar mengatur napas nya. Sinta membuang pandangan nya ke arah lain. Ibu mana yang tega dan sanggup, melihat darah dagingnya di sakiti sedemikian parah.
Dean memukul adiknya dengan membabi buta, emosi pria itu sudah berada di puncak. Dia mengambilnya penerbangan malam itu juga, saat mendengar berita tak mengenakan itu dari sang ayah.
Selama perjalanan dari Surabaya-jakarta, Dewi tak henti hentinya menasihati sang suami. Dia tau bagaimana watak suaminya, jika sedang sangat marah pada seseorang. Apalagi apa yang dilakukan oleh Daniel, sangatlah fatal. Dia pun tak membelanya, namun juga tak tega jika sang suami, sampai melakukan hal buruk pada adiknya.
"Apa otakmu sudah tidak bisa kau pakai lagi dengan benar, hah! apa nbegini cara yang di ajarkan oleh papi dan mami padamu, untuk memperlakukan istri mu? Kenapa kau mempermalukan keluarga ini hingga sampai tak punya muka lagi, di hadapan keluarga ayah dan bunda." Dean tergugu karena untuk pertama kalinya, tangannya yang selalu dia gunakan untuk merangkul saudara nya dengan kasih sayang. Kini dia gunakan untuk menganiaya adik bungsunya dengan brutal.
Bukannya dia senang melakukan nya, hatinya pun sama sakitnya. Namun kekecewaannya pada sang adik, sudah melebihi rasa kasihannya.
__ADS_1
Daniel tidak melawan, tidak mengelak bahkan pria itu terkesan pasrah akan perlakuan sang kakak. Dia salah, dia pantas mendapatkan nya.
Seorang Art dan satpam masuk ke dalam rumah, rupanya Dewi yang memanggil nya. Dia tidak tega, melihat adik ipar nya tergeletak dilantai tak berdaya.
Kedua nya membawa Daniel ke kamar tamu, atas perintah Bintang. Hati Daniel mencelos, kini dirinya diperlakukan layaknya seorang tamu di rumah orang tuanya sendiri.
Sesampai di kamar, daniel di baringkan di atas ranjang. Kemudian di tinggal kan sebentar oleh bibi, wanita paruh baya itu tak henti-hentinya meneteskan air mata. Daniel sudah seperti putranya sendiri, sejak kecil dia yang ikut membantu merawatnya di sela-sela pekerjaan nya.
Wanita itu kembali dengan membawa sebaskom air es, dan juga obat anti nyeri yang dia masukkan ke dalam saku bajunya. Lalu memberikan nya pada Daniel, selesai meminum obatnya, bibi mengompres luka lebam di wajah dan perut daniel.
Perlahan daniel tertidur, efek obat yang bibi berikan memang membuat ngantuk. Wanita itu sengaja memberikan dua obat sekaligus, obat nyeri juga obat tidur. Dia tak ingin Daniel merasakan kesakitan.
Sementara di kamar lain, dewi tengah mengoles salep di luka lecet punggung tangan Dean. Wanita itu bahkan tidak berbicara apapun pada suami nya. Dean tau, jika istri nya sedang marah padanya. Namun dia juga tidak bisa diam saja, saat adiknya menyakiti istri nya dan mempermalukan keluarga nya.
Dia sengaja meminta sang ayah tidak melakukan apapun pada adiknya. Karena tidak ingin menambah luka di hati kedua orangtuanya. Bagaimana pun, Daniel putra mereka, hati orang tua mana yang tega. Melihat anak yang mereka besarkan dengan cinta, kini mereka sakiti dengan sengaja.
"Sudah" cetus Dewi memecahkan keheningan.
Dean menarik pelan tangan istrinya, " ada papi. Duduk sini, lihat masmu ini terluka. Apa kau tidak kasihan?" goda Dean mencairkan suasana.
"Luka yang di buat sendiri, kenapa mesti minta di kasihani." Ketus Dewi masih kesal.
Dean menghela nafasnya, "dengar sayang, apa yang Daniel lakukan sudah sangat keterlaluan, punya anak dengan perempuan lain. Apaun alasannya, dia telah menyakiti hati Kira hingga tak bersisa." Dean menatap istrinya yang masih bergeming.
"Seandainya situasi ini di balik, apa kau akan merelakan aku memiliki anak bersama wanita lain, hnm?" mata Dewi hampir melompat keluar mendengar ucapan ngawur sang suami.
"Mas apa-apaan sih, perandaian mas gak lucu." Ketus Dewi terlihat marah.
"Nah! itu yang aku maksud. Tidak ada seorang wanita pun yang rela, berbagi suami nya pada wanita lain. Walau hanya dalam bentuk perhatian. Sama-sama menyakitkan. Pahamilah situasi ini melalui sudut pandang Kira, wanita itu bukan hanya sekedar adik ipar bagiku. Kira sudah seperti adikku sendiri, posisi nya di hati kami, terutama papi, sangatlah berharga. Kira layaknya berlian dalam keluarga ini, bukan berarti menantu mereka yang lain tidak. Hanya saja, kehadiran Kira, mengobati kerinduan papi dan mami, akan anak perempuan. Sejak kecil Kira kami itu hidupnya tidak lah mudah. Bahkan saat dewasa pun harus menderita bertahun-tahun. Kinipun kembali dalam kondisi yang tak kalah memprihatinkan, mengetahui suaminya lebih memilih berbohong berkali-kali padanya, demi seorang anak dari wanita lain. Pahamilah sayang," Penjelasan Dean membuat Dewi menitikkan air matanya.
Jelas dia memahami perasaan adik iparnya itu, entah bagaimana keadaan Kira sekarang.
__ADS_1
"Maaf kan aku, pah. Aku hanya tidak tega melihat keadaan Daniel," Dewi terisak di pelukan sang suami. Hati keduanya sama perihnya, Daniel adik kecilnya yang mereka sayangi begitu juga Kira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang dingin menyapa kulit mulus Kira, wanita itu tengah menikmati coklat panasnya di balkon kamar. Lumina sedang membuat kan sarapan, meski ada bibi, dia lebih memilih melakukan nya sendiri.
Klek
Lumina melongok kan kepalanya melalui daun pintu yang terbuka sedikit.
"Kirasya sayang, aku membawa kan sarapan.." Seru Lumina menyangka Kira sedang mandi.
Saat kakinya melewati pintu kaca balkon, dia kaget melihat Kira yang sedang memejamkan kedua matanya. Terlihat disudut matanya berair. Wanita itu pasti sedang meredam rasa sakit dihatinya lagi.
Lumina menghela nafas berat, "ayo sarapan. Aku membuat kan sarapan penuh cinta, dengan segala perhatian dan kasih sayang di dalam nya. Jadi makanlah tanpa ada kesedihan apapun. Aku tidak ingin usaha ku sia-sia, kuku indahku harus terpotong bersama denga irisan wortel sialan itu. Jadi kusarankan makanlah dengan hati-hati. Air matamu akan menghalangi pandangan mu pada sup yang kau makan. Tidak lucu jika kau mati karena tertelan kuku lentikku."
Lumina berujar panjang lebar, kali ini, dia punya bahan untuk membalas kata-kata mutiara yang selalu Kira katakan padanya.
Kira menari ujung bibir nya, dia sama sekali tidak tersinggung. Kata-kata Lumina justru menghibur nya.
"Terimakasih Lumina sayang. Kau tau saja caranya menjadi pelayan setia yang baik budi pekerti." Balas Kira tak kalah menohok.
Lumina tersedak potongan wortel hingga masuk ke dalam hidung nya. Wanita itu menatap tajam pada Kira yang justru tertawa renyah, melihat penderitaan sahabat nya. Ingin sekali dia marah, namun melihat tawa lepas itu. Dia pun ikut tertawa.
Keduanya menghabiskan sarapan dengan canda tawa, hal yang sudah sangat Lumina rindukan. Kira kecilnya sudah kembali.
Lumina diam-diam merekam percakapan penuh tawa keduanya, lalu membagikan di group keluarga Sudibyo dan kawan-kawan. Tak lupa juga, Lumina mengirimkan video itu pada para sahabatnya.
Senyum cerah di bibir Lumina terus berkembang, adik kecilnya kini telah kembali menjadi dirinya sendiri.
Dia berjanji, jika Kira belum mendapatkan kebahagiaan nya, maka dia pun akan terus menjadi bayangan sahabat nya itu.
__ADS_1