Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part VCLII


__ADS_3

"Jadi sudah siap untuk bertemu princess kita? Untuk para wanita tolong kendalikan diri kalian, jangan membuat nya kebingungan. dan ingat, namanya Asha, dan ingat semua yang sudah kita bahas semalam. Jangan ada yang salah dialog, fokus pada skrip masing-masing. Mengerti?" Satria Kembali mengultimatum pada para wanita juga kedua sahabat nya.


Mereka sudah merancang kebohongan demi kebohongan sedemikian rupa, untuk di sampai kan pada Asha. Dia tidak ingin, gadis yang sangat dia sayangi itu bertanya-tanya kenapa dia dikucilkan ke daerah terpencil tersebut.


"Ya, ya. Ayo sudah. Mimi udah gak sabar mau ketemu ki... eh mulut jahat, mulut jahat." Nabila memukuli mulutnya sendiri. "Asha, ya Asha kita. Yuk!" Seolah dia yang akan tuan rumah, Nabila memimpin para pasukan nya menuju Medan perang dengan gagah berani.


Semua orang hanya menggeleng kepala, dan menghela nafas pasrah melihat kelakuan wanita yang tak pernah berubah itu.


Setelah sampai di ruang tamu villa yang di tempati oleh Asha, Mereka semua mengambil posisi duduk masing-masing. Reegan tampak gelisah, dia takut putri nya tak menerima nya. Karena selama dia terbangun, yang dia tau, Bintang Wardhani adalah ayahnya.


Bintang turun dari lantai atas membawa seorang gadis, yang nampak kebingungan dengan situasi yang ada. Matanya tanpa sengaja bersitatap dengan Reegan, ada perasaan aneh menjalar dalam hatinya.


"Duduk dulu nak, ada yang ingin papi sampai kan padamu." Bintang menarik nafas panjang, ada perasaan tak rela untuk mengatakan kebenaran yang ada. Rasa sayang nya pada gadis itu sangat besar, baginya Asha adalah putri nya. Dia mencoba menutup mata akan kenyataan lain, mungkin karena dirinya yang begitu ingin memiliki anak perempuan, namun sang istri sudah tidak boleh hamil lagi.


"Kamu ingat percakapan kita beberapa hari yang lalu?" Asha hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. "Bahwa papi hanyalah pamanmu, karena kedua orang tua kandung mu sedang dalam masa pemulihan di luar negeri dan belum bisa kembali dalam waktu yang lama." Rasa sesak terasa menghimpit dada nya saat mengatakan itu, lalu di raihnya tangan mungil Asha.


"Sekarang mereka sudah pulih, lebih tepatnya, ayahmu sudah sembuh total dari sakitnya." Benar bukan, dia tidak berbohong, Reegan memang dalam keadaan sakit selama beberapa tahun ini. Sakit batin dan jiwanya, karena rasa bersalah dan kehilangan yang dalam.

__ADS_1


Asha masih belum bergeming, dia tidak tau harus senang atau sedih. Pria di hadapannya ini sudah sangat dia sayangi layaknya ayah kandung nya sendiri. Dalam kondisi ingatan nya yang belum pulih, dia tiba-tiba harus menerima fakta lain. Jika orang yang begitu menyayangi dan sudah merawatnya layak anak kandung itu, bukanlah ayahnya. Belum lagi, tau-tau dia sudah memiliki tunangan, benar-benar membuat nya bingung juga pusing memikirkan nya.


"Ayah mu ada di sini nak, di sana. Pria yang tak kalah tampan dari papi itu, adalah ayah kandung mu. Sapalah dia nak, ayahmu sangat merindukan mu?" Disela perasaan sesak di dadanya, Bintang mencoba berkelakar. Matanya sudah berkaca-kaca, sekali saja dia berkedip, maka luruh lah semua air matanya itu.


Asha menatap seseorang yang di sinyalir adalah ayahnya. Di tatapnya wajah pria paruh baya itu dengan perasaan yang, entahlah. Hatinya gamang, benarkah, terlalu banyak kejutan dalam hidup nya semenjak dia terbangun dari tidur panjangnya.


Sekali lagi Asha menoleh pada Bintang meminta persetujuan, Bintang hanya mampu mengangguk tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Gadis itu berjalan pelan ke arah sang ayah dengan perasaan campur aduk, sementara Reegan sangat tegang. Dia ingin berlari memeluk putrinya, namun kali nya seperti kehilangan seluruh kekuatan. Dia hanya mematung dan menunggu hingga putri nya sampai di hadapannya.


"Ya, ayah. Asha selalu suka memanggil ayah dengan sebutan itu." Jawab Reegan dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Bolehkah ayah memeluk mu nak?" Tanpa menunggu jawaban dari sang anak, Reegan meraih tubuh mungil putri nya, dipeluknya erat dengan kerinduan yang tak terhingga. Air matanya luruh sebanyak yang bisa matanya keluar kan. Putri yang terakhir kali dia peluk dalam keadaan tak bernyawa itu, kini dia peluk kembali dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Semua orang yang berada di sana membuang pandangan masing-masing, seraya menghapus air mata mereka.


Satria dan Bastian yang memahami apa yang Bintang rasakan, mendekati pria itu lalu memeluknya sekedar untuk menyalurkan kekuatan dan juga dukungan. Mereka tau sebesar apa rasa sayang Bintang pada Asha Mereka. Selama tinggal bersama beberapa bulan ini, mereka yang paling tau, seperti apa perlakuan seorang Bintang, biang pembuat onar di masa muda mereka. Memperlakukan Asha layak nya sebuah porselen mahal, gadis itu di jaga sedemikian rupa agar tak terluka dan sakit.


Bukannya mereka tak andil dalam menjaga dan menyayangi gadis itu, namun yang Asha tau, Bintang lah ayah kandung nya. Sehingga tidak ada kecanggungan bagi gadis itu mengatakan hal apapun padanya.

__ADS_1


"Maaf, baju mu basah nak." Reegan melerai pelukannya, lalu mengelus lembut bahu sang anak yang basah oleh air matanya.


"Tidak apa-apa, ayah pasti sangat merindukan ku, kan? Papi Bintang memperlakukan ku dengan baik dan juga sangat menyayangi ku. Begitupun dengan papa dan daddy. Mereka bertiga sudah seperti three Musketeers dalam menjaga ku." Kekeh gadis itu mencairkan suasana. Membuat semua orang pun ikut tertawa pelan.


Ayo duduk, ayah ingin di dekat mu." Reegan menuntun Asha duduk di samping nya. Nampak nya pria itu akan lebih memonopoli Asha mulai sekarang.


"Baik, yah." Asha duduk di samping sang ayah, lalu menatap sekeliling, tadi dia tidak terlalu memperhatikan. Sekarang baru sadar, ada banyak wajah baru yang juga duduk di sana.


"Mereka semua siapa yah?" Asha bertanya lalu menoleh pada sang ayah. "Yang duduk di sebelah mu itu, namanya mommy Marissa, kau biasa memanggil nya begitu. Mom Marissa itu adalah istri dadi Daddy Bastian. Dan wanita yang tak kalah cantik dari mom Marissa itu, adalah mama Dara, dia istri papa Satria. Dan yang paling cetar membahana itu, adalah mimi Nabila, istri dari paman Revan, pria tua yang duduk di samping mimi Nabila." Reegan memperkenalkan satu persatu orang-orang yang ada di sana.


Revan mencebik kesal disebut pria tua oleh orang yang bahkan lebih tua setahun darinya.


Reegan pikir, Biarlah mereka sendiri yang akan menjelaskan pada Asha sesuai skrip yang mereka sudah pelajari tadi malam.


"Hai, sayang. Mimi Sangat merindukan mu, maaf, saat kau sudah bangun, mimi belum sempat mengunjungi mu kembali. Ada sedikit masalah di butik mimi hingga mimi tidak bisa segera menjenguk mu. Sini, peluk mimi." Wanita itu menggeser Reegan seenak perut. Reegan mendelik tak suka lalu menatap sengit pada Revan untuk melampiaskan kekesalannya.


"Maaf kalau Asha gak ingat sama mimi." ucap gadis itu merasa bersalah. "Tidak apa-apa sayang, lebih baik seperti ini. eh, maksud mimi, biar seperti ini saja, jadi kaya di film-film korea gitu. Suasana nya jadi dapet banget." Ah, suami istri itu memang sangat licin kalau soal mengeles, selicin belut sawah.

__ADS_1


__ADS_2