Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Calon mertua (Joice)


__ADS_3

Joi gelisah, apalagi saat gerbang rumah nya sudah terlihat jelas dan semakin dekat.


"Kok tanganmu sampe keringat gini, AC nya dingin padahal." Gumam Jovan polos. Tak tau saja Jovan, jika Joi sedang ketakutan setengah mati. Bisa-bisa nya dia pulang di antar seorang pria mesum, yang ingin berkenalan dengan keluarga nya.


"Heh? tidak apa-apa" ujar Joi kaget dengan pertanyaan Jovan yang tiba-tiba. " Yang itu pak, parkir nya di luar aja," tunjuk Joi pada gerbang besar rumah nya.


Jovan menelisik keadaan rumah Joi yang sangat besar, bahkan lebih besar sedikit dari mansion keluarga nya. Padahal di sana hanya kota kecil menurut nya, dan tentu sangat kontras dengan bangunan yang ada di sekitar rumah Joi.


"Orang tua mu kerjaan nya apa? nanti biar tidak salah bicara dan menyinggung perasaan calon mertua." Ujar Jovan percaya diri. Joi sampai tergigit lidahnya sendiri akibat ucapan guru laknat nya tersebut.


"Calon mertua dari solo!" ketus Joi kesal. "Papa sama ibu cuma petani sayur, sama peternakan ikan di sungai kecil di belakang. Orang sini manggilnya juragan" jelas Joi mendetail. Rupa nya, Daniel dan Kira masih melanjutkan usaha perkebunan Sarah dan Reegan. Bukan karena mengejar untung, namun amanah Reegan dulu sebelum berpulang. Dia ingin warga punya mata pencaharian untuk membantu menopang ekonomi keluarga.


Karena bagi mereka yang hanya lulusan SMP, sangat susah mencari pekerjaan. Walau sekarang di sana sudah ada pabrik milik keluarga Daniel. Pabrik sandal dan sepatu. Juga pabrik pembuatan pakaian, yang kini sudah wara wiri masuk mall karena kualitas nya yang mampu bersaing dipasaran.


Tetap saja masih banyak yang memilih bekerja di kebun, apalagi yang usianya sudah tidak produktif untuk bekerja di pabrik. Bekerja di kebun mereka lebih santai, kapan lelah bisa istrahat. Pulang pun bisa bawa sayur dan ikan dari keramba. Daniel membeli tanah di belakang perkebunan mertuanya. Ternyata di sana ada sungai kecil, yang akhirnya Daniel gerus hingga menjadi besar dengan tambahan air bor.


"Ketus banget sih" balas Jovan kesal, seolah Joi sangat tidak menginginkan kehadiran nya. "Kalau tidak suka padaku bilang saja, sekalian aku berhenti ngajar agar kau tidak perlu bertemu dengan ku lagi " Jovan mulai dalam mode merajuk, padahal hatinya pun was-was, jika saja Joi mengatakan, ya.


"Ishh, sensi amat sih. Kaya lagi dapet aja" Joi keluar lebih dulu, lalu membuka pintu belakang, sementara Jovan membuka bagasinya.


Jovan melongo kan kepalanya pada Joi "banyak banget ternyata, ada yang bisa bantu bawain tidak?" Terang saja, Jovan membeli beberapa jenis roti dan cake, belum lagi beberapa macam varian minuman masa kini 20 cup. Juga banyak mainan untuk keponakan Joi.

__ADS_1


Joi mendelik sebal, lalu memanggil satpam rumah nya untuk membantu.


Mereka berjalan beriringan, Jovan layaknya anak kecil yang tak bisa jauh dari ibunya. Kemana langkah Joi ke sana juga dia ikut melangkah.


Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sisa kecantikan masa mudanya, berjalan menuju arah pintu depan. Dari jendela dapur ruang makan, dia melihat sang anak berjalan di halaman rumah bersama seorang pria. Jelas saja Kira kepo maksimal.


"Dek? Dimas mana, tidak ikut pulang? padahal akhir pekan loh." tanya Kira memulai jurus detektif nya.


"Tidak ikut bu, katanya pulang sekalian abis ujian kenaikan kelas nanti." Balas Joi. Dimas memang tinggal di kota, orang tua nya masih bertahan di sana, karena mereka tidak cocok dengan kehidupan kota yang berisik. Hingga Joi sesekali menginap di sana jika malas pulang pergi sejauh hampir satu jam. Dan Daniel sudah sangat percaya pada Dimas.


"Ini siapa?" bisik Kira menyenggol lengan Joi saat mereka masuk menuju ruang tamu.


"Kepo" balas Joi jahil.


"Saya Jovan bu, gurunya Joi juga pacar nya" Jovan mengulur tangannya lalu mencium takzim punggung tangan Kira. Joi melotot tajam, dasar tukang ingkar rutuk nya. Semua Diluar skenario nya.


"Bukan bu, sembarangan saja bapak ini." Sanggah Joi membuat Jovan malu pada Kira.


"Huss! mulut mu itu, pacar ya pacar." Ujar Kira protes, dapat dia lihat wajah Jovan yang pias karena ucapan putri nya.


"Nak Jovan ngajar juga, wah cocok kalau begitu. Bisa sekalian mantau anak ibu di sekolah, sweet banget sih pacar mu Joi." Ujar sang ibu kesenangan, wajah Jovan pun berubah cerah dan percaya diri.

__ADS_1


"Ya bu, saya wali kelasnya juga guru bidang studi fisika. Jadi Joi bisa saya pantau langsung" lanjut Jovan menanggapi dengan bangga. Merasa mendapat lampu hijau, Jovan semakin berani menunjukkan dirinya.


"Eh, sebentar ya, ibu mau manggil yang lain dulu di belakang." Kira bergegas ke belakang dengan langkah cepat, seolah Jovan adalah tamu istimewa yang harus keluarganya tau semua.


"Ck! bapak ini apa-apaan sih. Kan ibu kiranya kita betulan pacaran, aku tuh kasih kecil, baru 17 tahun bulan depan. Itupun baru akhir bulan nanti." Omel Joi panjang lebar. Jovan tertawa pelan lalu duduk semakin mepet pada Joi.


"Masih kecil tapi sudah bisa di ajak buat anak kecil" goda Jovan mencium gemas pipi Joi.


"Jauh-jauh ih, gerah" Joi mendorong pelan dada Jovan yang semakin mendekat.


"Aku jadi pengen ngamar lagi kaya tadi malam, enak banget, aku nagih" bisik Jovan di telinga Joi membuat gadis itu merinding. Apalagi mengingat ukuran pisang raja milik Jovan yang, woww!


"Ciuman bentar yuk, aku masih kangen nanti pulang ketemu baru hari senin" Jovan langsung mencium lembut bibir Joi sambil menahan tengkuk gadis itu.


"Iyyuuuuhh.." suara para bocil mengagetkan kedua insan yang sedang bertukar saliva tersebut. Joi yang tadinya menolak, nyatanya ikut terbuai pula.


""Eh? Ivy, Ela, David?" Joi mengabsen nama keponakan nya satu persatu, saking terkejutnya. Lalu mengelap bibirnya yang sedikit bengkak akibat ulah Jovan.


"Duduk sini yuk, paman ada beli mainan tuh, coba di lihat. Pilihlah mana yang kalian sukai" tunjuk Jovan pada 3 paper bag di atas sofa seberang mereka. Pria itu bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Bapak sih," omel Joi kesal tidak lupa cubitan ala Capitan kepiting mendarat sempurna di paha Jovan. Membuat pria itu meringis menahan sakit

__ADS_1


"Sakit yang, tadi juga sampe desah gitu. Kok cuma aku yang salah" protes Jovan tak terima, tangannya mengusap-usap pahanya yang terasa panas.


"Yang yang, jangan panggil aku gitu. Aku bukan pacar bapak" ketus Joi ngukuh.


__ADS_2