Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXIII


__ADS_3

Reegan mengerjab kedua matanya, suasana hening, tak satupun orang berada di sana. Ruangan yang serba putih, dengan cahaya yang sangat terang. Apakah dia sudah berada di surga. Tidak mungkin bukan, Dirinya adalah seorang pendosa. Lalu kemana para sahabatnya, putrinya?


"Aarrggghh." Reegan berusaha menahan nyeri di bagian perutnya. Pria itu mencoba untuk bangun dari posisi nya, namun saat tangan kanannya bertumpu, rasa perih dan nyeri yang sama seperti di perutnya kembali dia rasakan.


Reegan sejenak menghentikan gerakan nya, lalu mencoba melihat ke arah tangannya. Ternyata nyeri itu berasal dari jarum infus yang menusuk kulit tangannya.


Reegan termenung, dirinya belum mati. Lalu bagaimana dengan para sahabatnya? Apakah mereka juga mendapat kan kesempatan kedua sama seperti dirinya? Lalu di mana Putri nya?


Banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran nya. Kenapa tidak ada satupun orang yang menemani di rumah sakit, apakah keluarga nya membenci nya sekarang. Sehingga tak satupun dari mereka yang mau menunguinya di sana. Reegan tidak sanggup meski hanya memikirkan nya. Pria itu kembali berusaha untuk mendudukkan dirinya.


Klek


"Astagaa, tuan. Apa yang kau lakukan? Berhenti lah, anda baru saja melakukan operasi kecil subuh tadi." Seorang perawat laki-laki bergegas masuk, lalu menuju ke arah ranjang Reegan dengan wajah panik.


"Lihatlah, perut anda mengeluarkan darah. Duduk seperti ini saja, bersandar. Aku akan menaikkan nya sebentar." Perawat itu menekan tombol pengatur panel pada ranjang itu.


"Apa seperti ini sudah pas, anda merasa nyaman?" Tanya perawat itu. Reegan hanya mengangguk pelan. Dia sebenarnya merasakan pusing dan mual disaat bersamaan. Ingin bertanya pun dia Bingung harus memulai nya dari mana.


"Anda ingin sesuatu, tuan? Minum?" Perawat itu kembali bertanya. Lagi-lagi hanya di Jawab oleh gelengan saja.


"Anda ingin bertanya tentang keluarga anda, tuan?" Kali ini Reegan segera menoleh pada perawat itu dan mengangguk cepat.


"Keluarga anda sedang mengurus pemakaman, tadi putra anda berpesan, jika anda bangun, katakan jika mereka ke sana. Untuk mengantar paman-pamannya juga adik perempuan nya. Dan anda tidak perlu memikirkan apapun selain kondisi anda saja. Semua sudah di urus oleh tuan muda Keenan. Setelah selesai, Mereka akan kembali kerumah sakit. Begitulah kira-kira pesan beliau sebelum pergi dari sini." Perawat itu berujar panjang lebar, untuk menyampaikan pesan yang dititipin kepadanya.


Reegan kembali merasakan sesak di dadanya, tadinya dia berharap, keempat sahabat nya, mendapatkan kesempatan yang sama seperti dirinya. Namun nyatanya, hanya dia yang selamat. Tanpa terasa, air mata pria itu keluar tanpa bisa dia kendali kan. Reegan sedikit memiringkan tubuhnya, bahu pria itu berguncang hebat. Dirinya sedang meratap pilu kepergian para sahabat nya. Tentu saja rasanya sangat sakit

__ADS_1


Perawat itu merasa tak enak hati, namun itu adalah pesan yang diberikan padanya, untuk disamping kepada pria didepannya itu.


"Beristirahat lah tuan, teman anda berada diruang tepat di seberang ruangan ini. Beliau masih belum sadar sejak operasi yang dilaksanakan tadi subuh, namun kondisi nya sudah stabil. Jika anda ingin melihatnya, tunggu setelah tuan Revan sadar." ujar perawat itu lagi tanpa diminta. Tentu saja itu membuat Reegan merasa senang bukan main.


Pria itu menoleh cepat pada sang perawat, dengan wajah yang berbinar senang.


"Siapa lagi temanku yang selamat?" Tanya Reegan dengan wajah penuh harapan.


"Hanya tuan Revan, maaf tuan." Perawat itu menjawab dengan suara rendah.


Reegan kembali terdiam, sisi lain hatinya Merasa senang, paling tidak masih ada salah satu dari sahabat nya yang selamat. Walau sisi lain dihatinya, merasakan sakit yang teramat dalam, atas kepergian ketiga sahabatnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Sementara ditempat lain, disebuah villa yang berjarak ratusan kilometer dari pusat kota. Tampak beberapa orang tengah sibuk mengurus sesuatu. Beberapa orang kulu kilir mengerjakan tugasnya masing-masing, sejak semalam, Mereka bahkan belum ada satupun yang beristirahat.


Huuhhh, "Sudah stabil, hanya saja kita butuh lebih dari yang kita punya sekarang ini." Ucap seorang pria pada teman seprofesi nya, yang sejak semalam membuat tidur nyenyak nya terusik. Dan hingga waktu menjelang sore hari ini, dirinya bahkan baru bisa sekedar meluruskan pinggang nya.


"Gue sudah minta bantuan seorang kenalan, paling lambat besok malam baru nyampe." Balas pria itu pada teman nya. "Sorry, udah ngelibatin lo dalam masalah ini. Setelah situasi ini bisa terkendali dengan baik, lo bisa kembali pada kehidupan tenang dan nyaman lo di kota. Gue ngerti, lo gak akan bisa kelamaan gak dilendirin."Kekeh pria itu meledek rekannya.


Mereka butuh hiburan sekarang, selain energi yang banyak terkuras, pikiran mereka juga tak kalah lelahnya.


"Ck, itu namanya kebutuhan tau."


Ledekan pria tersebut pun dihadiahi tinjuan kecil oleh rekannya, lalu mereka mulai tergelak mentertawai kekonyolan mereka sendiri.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Disebuah lokasi pemakaman milik keluarga Sudibyo, tampak beberapa orang keluarga, sahabat dan kenalan. Tengah mengikuti prosesi pemakaman tersebut. Tangis kesedihan yang mendalam dari seluruh keluarga korban, terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Mereka yang hadir pun tak kuasa membendung air matanya, saat menyaksikan bagaimana satu persatu, peti jenazah itu diturunkan ke liang lahat.


Sarah yang sejak mengetahui peristiwa mengerikan itu terjadi, menjadi lebih banyak diam. Wanita itu sesekali menyeka air matanya, namun tidak se-histeris istri-istri dari para sahabat suaminya. Diamnya membuat semua orang khawatir, tidak ada satupun kalimat terucap dari bibirnya. Bahkan dia sama sekali tidak bertanya apapun tentang keadaan sang suami.


Kini matanya hanya terfokus, pada peti jenazah sang putri yang mulai ditimbun oleh tanah yang lembab, hatinya miris, putrinya paling tidak suka kotor. Dan sekarang, anaknya akan melebur menjadi satu, bersama tanah lembab itu.


Sarah menatap kosong kearah makan yang mulai tertimbun sempurna, hatinya masih belum puas. Bahkan dirinya tidak bisa, sekedar memberikan kecupan perpisahan pada sang anak. Tidak satupun dari peti jenazah itu ada yang boleh dibuka. Dokter mengatakan, keadaan para korban, tidak dalam kondisi yang bisa dilihat. Ledakan itu telah membuat beberapa bagian tubuh korban rusak parah, dan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, jika keluarga korban membuka peti-peti itu. Maka pihak rumah sakit, sudah menutup rapat semua peti jenazah itu dengan cara menguncinya.


"Bun, pulang yuk." Keenan berusaha membujuk sang ibu, agar mau pulang. Hanya Keenan lah yang nampak paling tegar diantara semuanya. Namun tidak ada yang tau, seberapa dalam kesedihan yang pria itu simpan didalam hatinya.


Rintik-rintik hujan itu seolah mewakili kesedihan hati Sarah yang paling dalam. Hari sudah hampir gelap, karena memang pemakaman itu dilakukan di sore hari, setelah menunggu penggalian makam itu selesai. Ada empat makam sekaligus, di tambah cuaca yang tidak mendukung, membuat proses pemakaman itu sedikit terkendala.


Alam seakan ikut berduka, atas kepergian keempat orang terkasih keluarga tersebut.


"Bun, ayo pulang." Keyra yang dipaksa pulang oleh keadaan, baru saja sampai satu jam sebelum sang adik dan para pamannya dikebumikan. Hatinya begitu sedih juga sakit, dia berandai-andai. Jika dirinya lebih memilih ikut merayakan kelulusan sang adik di villa tersebut, mungkin kejadian mengerikan ini tidak akan terjadi.


"Kira pasti akan sedih liat bunda kaya gini, dia paling gak suka liat bunda sedih apalagi serapuh ini. Kita semua merasakan kehilangan dan rasa sakit yang sama, bun. Mari kita saling menguatkan dan mengobati luka ini bersama. Masih ada kami anak-anak bunda, hmmm." Kalla pun mencoba membujuk ibunya, yang nampak begitu rikuh dalam sikap diamnya.


Sarah menatap sekali lagi pada tanah merah yang masih basah itu, lalu beralih menatap nisan sang anak. Begitu sakit rasanya, ketika menyaksikan anakmu lebih dulu pergi meninggalkan mu dan dunia ini. Kamu yang membawa nya ke dunia ini, kamu pula yang mengantarnya pulang dan tidak akan pernah bisa kamu bawa kembali.


∆Maaf para Readers ku yang terkasih, baru bisa up pagi ini. Dikarenakan kehidupan nyata, ternyata butuh fokus yang lebih tinggi, dari pada dunia kehaluan author yang hakiki🤭🤭🙏🙏


∆Si bungsunya othor baru abis vaksin kemarin dan sedikit tidak enak body. Semalam othor mau coba ngehalu ditengah kerewelan si bayik, ternyata hanya mengundang denyut kepala jadi nano-nano rasanya😂😂🤣🤣

__ADS_1


∆Trus dukung author receh kalian ini ya, biar up_nya semakin mangat. Jangan lupa like, komen, vote n' di favorit, oke😘😘😘🤗🤗🤗🙏🙏🙏


∆GBU semuanya, bagi yang menjalankan ibadah puasa, selama menjalankan nya dan semoga dilancarkan dan diberikan kesehatan maksimal hingga tuntas.😇😇😇😇😇😇


__ADS_2