
Pagi pertama mereka sedikit rusuh, Alfan sok sokan mau masak nasi dengan cara manual. Dan hasilnya, beras yang dia masak untuk membuat nasi, malah jadi bubur dengan kuah yang melimpah ruah.
"Kan gue udah bilang, tunggu magicom aja, tadi gue udah telpon pak Sutrisno, katanya nanti diantar sama Tuti sama Mina." Untungnya di desa ada toko pecah belah yang kebetulan ada jual rice cooker.
"Gue kan ikhtiar, Junaidi. Salah mulu gue dimata lo, miris gue." Drama Alfan membuat ketiga sahabatnya, ingin sekali memasukkan si Muhidin itu ke dalam dandang bubur kuah buatannya sendiri.
"Permisi mas, di depan ada neng Mina sama neng Tuti mau antar tempat masak nasi apa gitu." Ujar pak Supri menyela obrolan lagi unfaedah para pria itu.
"Oh, oke pak. Makasih, suruh langsung masuk aja." Balas Kavin ramah.
" Ini di coba dulu mas, tadi udah nyoba di tokonya. Tapi pas kesini kita jatoh, itu dusnya penyok, ikut terguling. Padahal sudah saya peluk kuat-kuat biar gak rusak." Jelas Mina takut-takut. Bisa melayang uang gajinya yang tadi dia gunakan, untuk mendahului membayar magicom tersebut.
Jason mengambil alih untuk mencobanya, dan ternyata masih sehat walafiat. Tidak lecet juga karena didalamnya ada Styrofoam.
"Aman kok, gak lecet apalagi rusak, itu siku kamu luka. Sini aku obatin dulu." Jason yang baru ngeh melihat siku gadis itu luka lecet, pasti akibat menyelamatkan rice cooker tadi.
"Eh, gak usah mas. Luka gini mah udah biasa. Gak apa-apa." Ujarnya tak enak. Lagian luka itu belum seberapa, hanya luka gores saja.
"Gak, sini." Jason tetap memaksa hingga menarik pelan tangan gadis itu menuju sofa di ruang tamu.
"Ini tuh harus di obatin, kalo gak bisa infeksi, trus di amputasi." Kalimat mengerikan itu membuat Mina bergidik ngeri. Apa jadinya jika dia buntung, gak buntung aja hidup mereka sering di hina sanak keluarganya.
__ADS_1
Jason berjalan meninggalkan Mina yang masih mematung di tempatnya duduk. Rupanya, perkataan Jason mempengaruhi otak kampung minimalis nya. Setelah mendapat kan apa yang dia cari di dalam kotak obat, Jason kembali duduk disamping Mina yang masih bengong.
"Siniin tangan kamu." Bagai kerbau yang di cucuk hidung nya, Mina hanya menurut saja.
"Udah, nanti jangan dikasih basah dulu." Mina tersentak kaget saat jari tangannya digenggam pelan oleh Jason.
"Hah? Ya mas, sudah ya ini." Ujar gadis itu malu, membuat Jason semakin gemes melihat nya.
"Udah, jangan kena air dulu." Ucap Jason lagi.
"Ya mas, makasih banyak. Kalo gitu, kami pamit dulu. Mmm... anu mas, itu... Gimana ya ngomong nya kok jadi gak enak gini." Guman gadis itu ragu dan gugup.
"Mina,, ini tadi saya kasih sama Tuti. Katanya beli nya make uang kamu. 345rb kan? Itu bawa aja, buat beli bensin sisanya." Kavin datang dari arah dapur memberikan uang ganti pada Mina.
"Udah bawa aja, ini juga buat kamu kasih sama yang punya motor. Tuti bilang itu motor pinjam sama bos warung kan?" Kavin menyerahkan lagi 4 lembar uang merah itu pada Mina untuk di berikan pada pemilik motor. Tadi dia sudah melihatnya, motor itu sedikit lecet di bumper depan, dan kopling nya sedikit bengkok.
"Tapi mas, ini kebanyakan. Lagian yang punya motor baik kok mas, pasti ngerti. Jalanan nya agak licin, udah paham bos saya soal itu. Jadi kalo jatuh, udah gak heran. Lagian cuma lecet, gak apa-apa itu mas, udah biasa." Mina menolak halus uang yang diberikan oleh Kavin padanya. Dia tak ingin di bilang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Udah, Mi. Ambil aja. Kami yang gak enak soalnya." Kavin sampai tersedak air liurnya sendiri mendengar kata-kata Jason barusan..
Apa dia tidak salah dengar. "Mi" Jason memanggil Mina dengan sebutan itu, bukan?
__ADS_1
Mina akhirnya mengalah, walau dia tau, pemilik motor itupun pasti akan menolaknya. Tapi biarlah bos nya yang mengembalikan nya sendiri.
"Makasih ya, Tut. Hati-hati, jangan sampe jatoh lagi, Kasian anak kita kalo ibu nya sakit." Oou wawww, sepertinya dua sahabat nya itu benar benar akan menjadi warga desa tak lama lagi. "Anak kita" Daniel hanya menggeleng kan kepalanya lalu segera masuk ke dalam rumah.
Mendengar kata-kata rayuan gombal ala casanova kelas ikan lele itu, membuat nya mual dan pusing di saat bersamaan. Kini hanya Kavin yang masih bertahan, menyaksikan bagaimana kedua pria di depannya itu, mengucap kan pesan pesan pada pujaan hati mereka seakan keduanya akan berangkat perang.
"Hati-hati dijalan ya, ibu nya Tiara. Titip salah buat anak kita, dari bapaknya Tiara yang ganteng ini." Kavin mengulang ucapan sahabat nya yang super lebay bin alay.
"Iri bilang bro. Makanya nyari pacar sono, jangan siksa batangan lo pake sabun cap tangan tiap tegang." Setelah berucap kenyataan yang menyakitkan di telinga Kavin, pria itu naik ke kamarnya tanpa peduli perut lapar.
"Lo kenapa Senyum senyum gitu, anda sehat pak Jason Belaric?" Ujar Kavin menempelkan punggung tangannya, di kening pria yang sedang kasmaran tingkat kabupaten tersebut.
"Ck, sehat gue. Hanya jantung gue aja yang sedikit bermasalah. Jedag jedug gak karuan kalo berada di dekat calon makmum gue. Seperti nya hilal gue udah terlihat semakin jelas sekarang." Ujarnya dengan senyum seindah kulit mulus tangan Mina yang dia sentuh tadi.
"Ck, ya kalo Mina belum ada calonnya. Tar di salib orang, kelar idup lo." Balas Kavin sewot, namun berhasil membuat Jason ketar ketir.
"Lo jangan gitu dong, gue baru jatuh cinta ini. Semangatin, bukanya patahin semangat dan anjlokin mental gue kaya gini." Balas Jason sengit. Sedikit banyak kata-kata Kavin mempengaruhi kinerja otaknya.
"Ya kan kali aja. Mana kita tau, tiba-tiba besok pak Supri datang ngasih kartu undangan titipannya Mina." Kavin semakin gencar memprovokasi otak calon bucin itu. Dia ingin tau, seberapa seriusnya sahabatnya itu pada Mina. Dia tak ingin kedatangan mereka dengan damai, pulangnya meninggalkan luka pada gadis desa sepolos Mina.
"Pak Supri mana? ayo kita ajak bawa lamar Mina sekarang juga. Urusan mimi gampang, bisa nyusul nanti. Kalo perlu, nikah aja dulu, yang penting sah dulu, resepsi gampang." Jason berujar dengan nada gelisah maksimal.
__ADS_1
Membuat Kavin terbahak-bahak, konyol bukan. Daniel yang baru keluar kamar terheran-heran melihat kedua makhluk astral itu. Yang satu tampak sangat bahagia, lalu yang satu lagi terlihat frustasi tak karuan.