
"Jadi gimana bang, Kiran nya masih mau dicariin gak nih. Eh bentar, papi telpon."
"Ya pi, kenapa?"
"......................"
"Oke pi, mami otw. kebetulan lagi dijalan sama Daniel." Ujar wanita itu tampak panik
"Kenapa mi, papi gak kenapa-kenapa kan? Tanya Daniel cemas
"Gak, ini om Satria. Katanya bawa anaknya yang lagi sakit atau apa gitu. Suaranya berisik disana, masih di UGD. Kesana dulu ya bang, besok lagi nyari Kiran nya."
"Ya mi gap apa-apa. Cuma Daniel bingung, sejak kapan om Satria punya anak. Kok kalo ngumpul, gak pernah diajak." Tanya Daniel bingung.
Begitupun sang ibu, bagaimana dia bisa tau Satria punya anak atau tidak. " Mami juga gak ngerti bang, mungkin anak angkatnya atau bagaimana gitu. Maklum om Satria kan udah seumuran papi, udah lumayan tua juga." Eh, mulut jahat. Bagaimana dia bisa berucap seperti itu, jika anaknya itu mengadu. Bisa berkurang anggaran belanja bulan ini. Bahaya, harus segera menyelamatkan diri nih.
"Maksud mami, mungkin om Satria ngadopsi anak jadi pas om nya nikah nanti tinggal nambah adik aja buat anak angkatnya, gitu bang."
"Aku gak nanya mi, aku pusing mikirin Kiran. Gak ada waktu ngadu macam-macam sama papi." Ujar Daniel seperti mengerti arah pembicaraan sang ibu.
"Oh, oke. Bagus. Eh maksud mami, besok kita nyari Kiran lagi." Tawar Sinta agar anaknya tidak murung lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, itu gimana ceritanya Satria bisa punya anak udah segede itu. Adopsi apa anak dari benih titipan yang gak sengaja tercecer gitu. Maksud mami pas pengaman nya lupa make gitu pas lagi diujung..." Cerocosan ala petasan pengantin Betawi itu meluncur lancar dari mulut Sinta.
"Udah diem, gak ada gitu-gitu. Satria itu pemain handal, gak ada cerita benihnya tercecer sembarangan. Papi juga belum tau, tadi diminta datang aja, katanya anak itu kritis abis kelelep tong air gitu. Gak jelas juga tunggu aja, Satria sama ceweknya masih didalam." Bintang jadi gusar sendiri, dengan cerocosan sang istri yang mengundang perhatian keluarga pasien lain.
"Oh, sama ceweknya juga. Apa ibu nya tu anak ya, kasian sekali. Pasti sedih banget itu hidupnya berdua sama anaknya." Ujar wanita itu berubah mellow.
"Mana papi tau, udah diem dulu. Daniel sini nak, kamu kemana sama mami tadi, kok bentar banget udah nyampe." Tanya Bintang pada sang anak.
__ADS_1
"Abis nyari Kiran pi, tadi ketemu sama teman-teman kiran yang biasa mulung sama ngamen bareng. Katanya Kiran udah 3 hari gak ada ikut, mungkin lagi sakit, disiksa lagi sama ibunya karna bawa pulang uang sedikit." Jawab Daniel setengah mengadu, wajah nya masih murung.
Klek
"Gimana, Sat. Udah baikan apa gimana?" Tanya Bintang tak sabar.
"Udah mendingan dari pertama dibawa, sekarang lagi sama mama nya didalam. Untung gak banyak keminum air, udah keburu pingsan. Dehidrasi kata dokternya, kaya udah berapa hari gak dikasih makan gitu." Ujar pria berwajah dingin itu mellow.
"Loh, kok bisa sampe gak dikasih makan. Itu pacar kamu niat gak sih pelihara anak, kalo gak kasih aku aja, sama anak kok sadis banget." Mulai lagi mulut petasan itu merepet.
Bintang dan Satria kompak mendelik sebal pada wanita itu, yang malah balik dipelototi tanpa tau bahwa dirinya benar atau salah.
"Kenapa? Aku mau masuk, papi disini aja sama Daniel. Ini urusan wanita." Ujarnya lagi seraya melenggang masuk.
"Eh, itu bini gue. Gak apa-apa, takutnya gimana gitu didalam. Boleh masuk gak ini, sekalian mau nengok anak lo." Ujar Bintang tak enak, pria itu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya baik-baik saja. Tanpa kudis apalagi kurap.
"Boleh, yuk barengan. Agak khawatir juga gue, sama ke grangasan bini lo. Daniel ikut yuk, liatin adek Kira didalam." Tawar Satria.
"Mau om, ayo." Satria dan Bintang melongo, siapa yang ngajak masuk siapa yang diajak. Satria yang malah berasa sedang menjenguk, bukan dijenguk.
"Ck, anak lo. Semangat bener, kaya ada apa-apa nya gitu." Decak Satria kesal. Kemudian mereka masuk ke dalam.
"Jadi gitu, aku kira. Maaf ya udah marah-marah gak jelas." Ujar wanita itu malu-malu.
"Kenapa sayang, kaya bunga layu. Meleot gitu." Bintang mengerti arti sikap sang istri yang terlihat salah tingkah. Pasti dia habis mencecar tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu.
"Papi iih, kamar tamu kosong loh." Ujar wanita itu mendelik semakin malu.
"Eh Daniel kok disini, tuh adek nya disana. Yuk." Satria heran melihat Daniel masih ada diluar tirai.
"Eh, gak apa-apa Daniel masuk. Tar sumpek." Tanya anak itu tak enak, apalagi tingkah sang ibu yang suka berisik seperti petasan tahun baru.
__ADS_1
"Gak apa-apa, santai aja. Om Satria loh ini, kaya sama orang lain aja." Satria paham arti dari ucapan keponakan nya itu, dia mengenal anak-anak para sahabatnya sejak mereka masih bayi.
"Haus mama Dara, Kira haus" Ucap gadis itu lemah, akhirnya Kira sadar juga dari pingsan nya.
"Eh ya sayang, ini pelan-pelan aja." Ujar Dara bergegas menusukkan sedotan pada minuman kotak sari buah hijau tersebut.
Sementara Daniel membeku ditempat nya, Kiran yang dia cari kini ada dihadapannya, dalam keadaan yang tidak baik.
"Kiran?"
"Abang Niel, kok bisa ada disini. Jenguk Kiran ya?" Tanya gadis kecil itu polos, dengan mata berbinar.
"Eh, ya. Abang Niel jenguk kamu. Kok bisa sampe sakit sih, abang Niel nungguin kamu loh, dirumah sudah 3 hari ini." Ujar remaja itu lembut seraya merapikan anak rambut Kiran yang tampak kusut.
"Kiran dikurung ibu di gudang, katanya Kiran nyuri uang ibu. Padahal om Gayus yang ambil, kiran liat kok, Waktu om Gayus ambilnya. Dia bilang shutt gitu sama Kiran. Kiran kelaperan, haus juga dua kali malam kiran gak dikeluarin. Pas dikeluarin malah dicelupin di tong air." Ujar gadis kecil itu terisak pelan, sesekali menyeka air matanya sendiri. Tampaknya dia sudah terbiasa mengatasi rasa sakitnya sendiri.
Rahang remaja itu tampak mengeras, tangan kirinya terkepal erat, sementara satu lagi mengusap air mata gadis kecilnya.
"Nanti abang Niel hukum ibu kamu itu, kita penjarakan aja. Kamu mau, ikut abang Niel pulang. Tinggal sama abang aja, gak usah mulung apalagi ngemis. Nanti bisa sekolah, ada TK dikomplek nanti abang antar naik sepeda. Bolehkan mi, Kiran tinggal sama kita." Tanya remaja itu ddngan wajah penuh harap
"Eh, itu... Tanya om Satria dulu aja ya, boleh apa gak nya. Kan om Satria yang udah nolongin Kiran." Ujar wanita itu tak enak, walau sebenarnya dia juga sangat menginginkan Kiran tinggal bersama mereka.
"Boleh, tapi nanti ya, Kira nya mau dirawat dulu disini beberapa hari, Daniel boleh jenguk kok." Ujar Satria juga tak kalah tak enak, pasalnya yang bisa memberikan ijin itu bukan dirinya. Namun demi menyenangkan hati sang keponakan, Satria akan ikuti dulu alurnya.
"Boleh mi, Daniel disini aja. Nanti mami ambil baju ganti Daniel dirumah, oya kira pasti lapar. Tadi kita bawa kotak makan, ada di mobil. Papi ambil ya, tolong." Benar-benar anaknya si Bintang ini, dikasih celah sedikit langsung nyerobot kaya ibu-ibu antri sembako gratis.
"Kok papi, kan punya nya Abang." Ujar Bintang tak terima jika dirinya harus keparkiran.
"Papi ih, kok gitu sih. Ayuk ambil, malu depan Kiran tu, nanti dikira papi gak ikhlas." Oke, jika sang provokator sudah berbicara, Bintang bisa apa. Artinya masa depannya sedang dipertaruhkan sekarang.
"Ck, ya ya. Papi ikhlas ini." Pria itu berdecak kesal karena tak mampu, melawan kehendak sang nyonya.
__ADS_1