
Mata Tiara membulat sempurna, menatap pria yang memegang tangan begitu kuat.
"Kau, bukankah?" Tiara pias, wanita itu gugup juga ketakutan.
"Ya, Tiara. Aku masih hidup" wajah yang dulu selalu menatap nya dengan penuh damba dan cinta, kini berubah bengis dan penuh dendam.
"Bukankah kau sudah mati, aku melihat mu terbakar di dalam mobil itu. Aku di sana, tidak mungkin kau bisa selamat dari ledakan itu." Tiara terus menggeleng kan kepalanya berusaha menolak kenyataan.
"Ternyata kau sangat berharap aku mati rupanya. Rasa suka dan obsesi mu untuk memiliki Daniel, benar-benar membuat ku terpukau. Aku salut dengan perjuangan mu untuk mendapatkan Daniel, bahkan tega melenyapkan suamimu sendiri." Bryan terkekeh hambar, hati siapa yang tak sakit. saat Mengetahui jika istri nya, jatuh hati pada sahabatnya sendiri.
flashback
Bryan menatap heran pada istrinya, ini bukan penolakan pertama baginya. Namun sudah berkali-kali Tiara menolak hubungan suami istri dengan nya. Alasannya selalu saja, takut bayi mereka kenapa-kenapa. Mengingat usia kehamilan Tiara yang baru menginjak 3 bulan.
Namun Bryan tidak gila, sampai melukai calon anaknya yang sudah susah payah dia dapatkan, dari hasil donor sp*rma sahabat nya.
"Aku akan melakukan nya perlahan, sayang." Mohon Bryan dengan wajah memelas.
"Tidak tetap tidak, Bryan. Moodku sedang tidak baik, aku tidak ingin anakku kenapa-kenapa. Aku sudah menanti nya selama 4 tahun, aku tidak ingin melakukan kesalahan apapun yang berakibat pada bayiku." Tolak Tiara tegas.
"Dia juga anakku, Tiara." Balas Bryan tak terima. Walaupun bukan anak kandung nya, namun akan terlahir dari rahim istri nya.
Tiara melengos lalu menarik selimutnya hingga leher.
Bryan menyugar rambutnya kasar, dia pria normal. Wajar jika menginginkan hubungan suami istri, apalagi pada istrinya sendiri. Namun lagi-lagi dia harus kembali bersolo karir.
Saat merasakan gerakan Bryan meninggalkan nya, Tiara meraih ponselnya. Lalu memotret wajahnya yang terlihat berlinang air mata. Setelah memilih beberapa foto yang mendeskripsikan kesedihan nya, Tiara mengirimnya pada seseorang.
__ADS_1
Hampir 5 menit Tiara menunggu balasan dengan perasaan was-was.
Drrrttt drrrttt
Terlihat balasan yang membuat senyum di wajah Tiara merekah.
'Apa masalah kalian? Bryan tidak mengatakan apapun padaku. Apa kau baik-baik saja, bagaiamana dengan bayi kalian?' Balasan Daniel membuat senyum cerah Tiara sedikit memudar.
"Dia juga bayi mu, Daniel. Kau ayah kandungnya, apapun alasannya kau tidak bisa memungkiri nya." Balas Tiara berusaha mengambil simpati Daniel.
"Apa kau tidak merasa kan apapun selama aku sudah dinyatakan hamil? maksud ku seperti mengidam atau menginginkan sesuatu?" Tanya Tiara memancing reaksi Daniel.
'Entahlah, terkadang aku sangat ingin sesuatu mamun saat sudah mendapatkan nya. Aku sudah tidak menginginkan nya lagi, aku tidak tau itu ngidam atau sekedar ingin saja.' Balas Daniel apa adanya.
"Itu namanya kau sedang mengidam, Daniel. Aku juga terkadang begitu menginginkan sesuatu, namun tidak semua bisa aku dapatkan kan😢😢" Emoji sedih Tiara memancing rasa penasaran Daniel.
"Entahlah, belakang Bryan sedikit berubah padaku. Aku mengerti, sulit menerima fakta, jika seorang istri mengandung anak pria lain. Tapi tolong jangan tanya kan apapun padanya, aku khawatir dia akan marah dan semakin dingin dengan ku. Aku mencemaskan bayiku," lagi-lagi pesan dramatis Tiara menggugah rasa iba Daniel. Tiara benar, bayi itu adalah anak kandungnya dengan Tiara. Jelas dia merasakan perasaan nya yang belakangan sedikit sensitif, dan mudah tersentuh akan banyak hal.
Namun dia berusaha mengabaikan nya, bagaiamana pun secara hukum anak itu adalah anak Tiara dan Bryan. Dia tidak punya hak apapun atasnya. Untuk itu, dia tidak ingin terlibat lagi dalam urusan keduanya. Termasuk menolak keinginan Tiara untuk melihat keadaan bayi itu. Dia takut akan merasa berat melepas anaknya pada orang lain. Dan itu akan melukai hati sahabat nya.
"Besok bisa bertemu, aku merasa perlu bercerita pada seseorang. Belakangan ini aku merasa tertekan, aku takut akan mempengaruhi kehamilan ku." Pesan Tiara tidak segera di balas oleh Daniel. Pria itu ragu jika harus menemui Tiara tanpa didampingi suaminya, takut akan menimbulkan salah paham.
Tiara mulai gelisah, dia takut Daniel menolaknya. Dia jatuh hati pada pria dingin itu sejak pertama diperkenalkan Bryan, saat akan melakukan prosedur bayi tabung melalui donor sp*erma milik Daniel.
Awalnya dia menolak untuk hamil anak pria yang tak jelas asal-usulnya, namun saat bertemu Daniel secara langsung. Tiara berubah pikiran, dengan suka rela dia melakukan segala proses nya.
Saat dia di nyatakan hamil anaknya dan Daniel, pikiran jahat mulai menguasai diri Tiara. Dia ingin berpisah dari Bryan dengan cara seolah pria itu berprilaku buruk padanya. Dengan begitu, simpati Daniel akan dengan mudah dia dapat kan. Daniel Tentu tidak akan tega, membiarkan anak kandung nya tersiksa, dalam pernikahan orang tua yang toxic.
__ADS_1
"Baiklah, jam makan siang." Akhirnya Daniel menyetujui nya, tentu saja Tiara senang bukan kepalang.
"Baiklah, kirimkan alamat nya besok" dengan begitu bersemangat Tiara membalas pesan Daniel, lalu kembali meletakkan ponselnya dalam mode silent didalam nakas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf membuat mu menunggu lama, sudah pesan makanan?" tanya Daniel basa basi.
"Belum, aku hanya pesan minum. Entah kenapa aku begitu ingin makanan yang dipesan olehmu, apa kau tidak keberatan?" tanya Tiara dengan wajah memelas.
"Baiklah, apa ini yang di sebut mengidamkan?" tanya Daniel terkekeh.
"Kurasa, ya. Anakmu ini ingin di pesankan makan oleh daddynya," balas Tiara membuat Daniel terkesiap. Ditatapnya perut tiara yang mulai membuncit dibalik dress nya yang sedikit ketat.
"Apa tidak masalah memakai dress press body seperti itu, maksud ku apa itu tidak menekan nya di dalam sana" ujar Daniel salah tingkah.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Tiara, tentu saja wanita itu melayang tinggi mendengar Daniel mencemaskan bayi mereka.
"Aku belum beli dress hamil, Bryan selalu sibuk belakang ini." Ujar Tiara dengan wajah sendu sambil mengelus perut nya yang seminggu lagi berusia 3 bulan.
"Kau tak ingin menyentuh nya, bagaiamana pun dia juga darah dagingmu, Dan." Ujar Tiara tiba-tiba, hampir saja membuat Daniel tersedak ludahnya sendiri.
"Emm, apa tidak masalah, maksud ku, aku tidak ingin Bryan salah paham jika melihat nya." Ujar Daniel lalu menelisik segala arah, seakan takut ketahuan mencuri.
"Tentu saja tidak masalah, ini juga anakmu, Dan. Kenapa kau selalu menampiknya," ujar Tiara terisak.
Daniel gelabakan sendiri, dia tidak bermaksud menampik. Hanya saja anak itu bukan haknya, meski jelas itu darah daging nya.
__ADS_1