Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Daniel-Asha S2


__ADS_3

"Kau terlalu pede nona, bahkan jika milik ku sudah bereaksi, itu karena pengaruh obat sialanmu. Bukan murni karena aku berhasrat padamu." Si dokter berdecih jijik pada Asara, ya gadis itu adalah Asara.


"Aku akan keluar dalam keadaan seperti ini, maka karir anda akan tamat!" Ancamnya penuh amarah dan malu di saat bersamaan.


"Kelaurlah! Aku juga sedang sibuk, sebentar lagi jam praktek ku selesai. Maka pergilah dalam keadaan apapun, aku tidak peduli." Balas dokter itu acuh dan kembali melanjutkan pekerjaan nya, meski di tengah gejolak yang mulai mengusik tak nyaman bagian dirinya di bawah sana.


Asara merasa buntu, disaat kepalanya terasa pusing memikirkan cara, suara handle pintu yang di putar berkali kali seperti angin segar bagi nya.


Di tatapnya dokter yang masih tak bergeming ditempatnya, ide nya muncul seketika. Dengan airmata penuh kepalsuan, Asara membuka pintu kemudian segera memeluk orang yang nampak didepan nya, tanpa melihat siapa yang sedang dia peluk.


Seorang wanita mengernyit dahi nya dalam, dia menatap bingung pada gadis yang sedang memeluknya dengan isak tangis pilu. Lalu menatap kekasihnya nya yang nampak acuh tak acuh.


"Maaf, nona. Apa yang terjadi padamu? Bisa kau lepaskan pelukan mu, aku merasa sedikit sesak." Ujarnya sedikit memerintah.


Membuat Asara terpaksa mengurai pelukannya, lalu menatap wanita yang dari tadi dia peluk. "Maafkan aku nona, Dokter itu berniat melecehkan ku. Tadinya aku akan memeriksa kan kandungan ku, namun dia malah menyuruh ku membuka dress ku. Lalu.... dia... meraba area sensitif ku..." tangis pilu yang terdengar menyebal di telinga Bram.


Sial sekali pikir nya, baru saja dia mengganti kan temannya untuk satu minggu ke depan. Malah di pertemukan dengan pasien jenis serigala berbulu angsa seperti ini.


"Masuklah sayang, aku sudah lapar. Apa kau mendengar sesuatu? Seperti ada dengungan lebah hutan, aku sampai merinding takut di sengat dengan brutal. Seperti nya lebah jenis ini benar benar liar," ujar Bram mempersilahkan sang kekasih masuk, dia berbicara seolah Asara tak ada disana. Dan malah menyamai gadis itu dengan lebah hutan.


"Ka..u, kekasih nya?" ucap Asara gugup lalu menilik penampilan wanita yang tampak biasa saja dimatanya. Bahkan terlalu biasa menurut nya.


"Aku calon istri nya, nona. Kau pasien nya? aku tidak tau jika kekasih ku menyukai daun muda seperti mu, selera mu benar benar mencengangkan, sayang." Kekeh wanita itu. Dia sama sekali tak cemburu, namun melihat tubuh mulus gadis itu, wajar jika dirinya yang hanya gadis desa merasa insecure.


Wanita itu menatap sang kekasih dan beralih menatap si gadis dengan tatapan iba. " Siapa namamu? Kau terlihat lebih cantik dari yang ku lihat di kamera video call. Jangan lakukan hal seperti ini lagi, mempermalukan dirimu sendiri untuk mencapai keinginan mu. Ini salah, tidak baik. Kau masih sangat muda, benahi hidup mu," Anisah memberikan sederet nasihat sederhana, namun terasa menyentuh hingga ke relung hati.


Asara terbelalak mendengar pengakuan wanita itu, jadi sejak tadi pria itu membuat panggilan video pada kekasihnya? Kenapa dia bisa tidak menyadari nya, lalu di lirik nya meja kerja samg Dokter. Dapat dia lihat ponsel yang sedang di sandarkan, di sebuah rak kecil di atas meja tersebut. Asara menjadi semakin malu di buat nya, pantas saja Dokter itu begitu percaya diri, tanpa merasa khawatir ketika kekasih datang.

__ADS_1


Dengan telaten wanita itu memakai kan dress yang terletak di lantai, pada tubuh Asara. Asara hanya menerima nya dan diam saja dengan apa yang di lakukan oleh wanita itu.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Anisah mengeluarkan rambut Asara yang ikut terselip di balik dress-nya.


"Sudah selesai, kau semakin cantik bila berpakaian lengkap seperti ini." Ujarnya terkekeh pelan. "Kau mengingatku pada seseorang, wanita yang pernah menjadi sahabat dekat ibuku di masa lalu. Entah dimana beliau berada sekarang, aku harap hidupnya lebih baik." Ucap bergumam pelan seraya menerawang jauh ke masa lalu, kenangan buruk yang berusaha dia lupakan dari ingatan polosnya waktu itu.


"Kau ingin aku pesankan taksi, hmm?" tanya nya lembut, membuat Asara semakin terperangah. Kenapa wanita itu masih bersikap baik dan lembut padanya, setelah dia hampir saja menggoda calon suaminya.


"Dia bisa sendiri sayang, jangan terlalu baik. Dia hanya orang asing yang tidak tau malu," potong Bram cepat, dia tidak suka sang kekasih yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Sayang? jangan seperti itu, dia hanya sedang kalut dan salah arah. Jangan terlalu menghakimi nya," nasehat Anisah tak suka dengan perkataan sang kekasih.


"Ck, jangan tertipu wajah sok polos nya. Dia hanya sedang mencari empati mu," sanggah Bram tak mau kalah.


"Baiklah baiklah, kau nona, pergilah. Seperti nya kau telah berhasil membuat mood kekasihku berantakan, nona." Ucap Anisah terkekeh lucu seolah semua nya baik-baik saja.


Setelah mengambil tasnya, Asara keluar dari ruangan Bram. Namun sebelum benar-benar keluar dari sana, sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Senang bertemu dengan mu, jaga kandungan mu baik-baik." Pungkas Anisah lagi.


Setiap kata yang terucap dari mulut Anisah memukul telak hati Asara. Tak ingin terlarut dalam nasihat-nasihat dari orang yang baru saja dia kenal, Asara segera pergi dari sana. Gadis itu itu berjalan dengan langkah lebar, seolah sedang di kejar oleh penagih hutang.


"Jangan terlalu baik pada orang yang baru saja kau kenal, sayang. Seseorang bisa saja memanfaatkan kebaikan mu ini," nasihat Bram bijak.


"Maafkan aku, dia mengingatkan ku pada bibi Sasa. Kau ingat? Wanita yang difoto dirumahku, sahabat ibu ku dulu?" jelas Anisah mengingat kan.


"Ingat, tentu saja aku mengingat nya. Wanita yang sudah menghancurkan hidup mu dan ibu, bukan?" jawab Bram lugas terkesan sedikit emosional.

__ADS_1


Anisah hanya diam tak menanggapi, dia juga masih merasa kan sakit, akibat perbuatan wanita itu padanya dan ibunya di masa lalu. Dia ingat bagaimana sang ibu mengalami depresi berat, hingga nyaris mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menyayat pergelangan tangannya. Untung saja dirinya segera mengetahui nya, dan meminta pertolongan pada tetangga mereka.


"Sayang?" Bram yang menyadari, jika kekasih nya sedang larut dalam kenangan masa lalu merasa bersalah. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud mengingat kan mu pada kenangan buruk itu." Ujarnya penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, ayo makan. Apa kau masih bisa menahan nya?" tanya Anisah ambigu, namun segera di sadari oleh Bram. Sejak tadi dia mencoba bersikap cool, meski sedang berusaha keras menahan sesuatu di bawah sana.


"Aku akan ke toilet sebentar, jika sudah lapar duluan saja. Aku tidak janji akan cepat," balas Bram dengan wajah memerah menahan malu, juga menahan gejolak yang meminta segera di tuntas kan.


Anisah hanya mengangguk saja, Bram bergegas menuju kamar mandi di ruangannya. Miliknya sudah sejak tadi mengeras hingga membuat nya tak nyaman. Namun tak ingin menampakkan nya di hadapan gadis jahanam itu, juga kekasih nya tentunya.


Anisah duduk di sofa sambil malamun, dia masih kepikiran gadis yang tadi. Kenapa wajahnya mirip sekali dengan dua orang, yang sudah memberi kan luka padanya dan sang ibu. Garis wajahnya, benar benar duplikat perpaduan keduanya. Anisah mengetikkan pesan untuk di kirim pada sang ibu, sekedar menanyakan kapan wanita itu akan menyusul nya ke kota.


Klek


Wakah Bram terlihat lebih segar, pria itu nampak nya habis mencuci wajahnya juga. Hingga tidak sekuyu tadi, mungkin efek menahan hasrat pikir Anisah.


"Ayo makan, aku sengaja menunggu mu," ajak Anisah pada Bram yang masih mengelap sisa-sisa air di wajahnya dengan tisu.


"Ayo!" Bram duduk disamping sang kekasih lalu mengambil sendok yang Anisah siapkan.


"Apa efek nya sudah selesai?" Bram hampir saja tersedak oleh pertanyaan tiba-tiba Anisah. Segera pria itu meraih minuman kemasan di atas meja, yang sudah dibuka oleh tunangannya.


"Maaf," cicit Anisah merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut." Balas Bram menatap Anisah. "Obat nya terlalu kuat, lagipula minuman ku hanya tinggal seperempat saja tadi ketika gadis itu masuk. Ujar dengan wajah memerah, tentu saja dia merasa malu karena sang kekasih sempat melihat miliknya, yang menjulang sempurna tertahan oleh celana kain yang dia pakai.


"Oh," Anisah tidak tau harus menanggapi nya bagaiamana, diapun belum berpengalaman soal yang satu itu. "Apa masakan ku enak?" tanya Anisah di sela makannya, "pasti tak seenak masakan ibu di desa, kan? aku sedang belajar membuat beberapa masakan, yang biasa ibu masak di kedai kantin klinik." Ungkap Anisah pada sang kekasih.

__ADS_1


"Kau ini cerewet sekali, yang mana dulu yang harus aku jawab." Decak Bram dengan mulut penuh, "masakanmu selalu enak, apalagi masakan ibu. Aku selalu menyukai setiap masakan ibu juga dirimu, apapun jenisnya." Jawab Bram apa adanya kembali melanjutkan makannya dengan lahap. Efek bersolo karir membuat sebagian energi sedikit terkuras.


Anisah hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pengakuan sang kekasih. Dia sangat menyukai Bram karena sifatnya yang bersahaja, murah hati namun bisa sangat tegas dan tak peduli, pada orang yang dia anggap 'mengganggu'. Contoh kecilnya, seperti gadis yang baru saja mempermalukan dirinya sendiri diruangan ini.


__ADS_2