Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXX


__ADS_3

"Sore sayang, sore anak-anak ayah." Pria itu mencium satu persatu para kesayangan nya.


"Tadi ada arisan disini ya, aku lupa. Tau tadi dari Angga, ketemu di minimarket depan komplek." Ujar pria itu, duduk di sofa sambil membuka pakaian kerjanya.


"Ya, tuh aku yang dapat arisan nya. Ada baju couple batik sama Satu set Tupperware." Jelas wanita itu tersenyum lembut.


"Aku ada beliin pembalut tadi, sama kapas. Ada ****** dot sama susunya juga, aku tambah 4 kaleng besar buat stok." Jelas pria itu kemudian beranjak menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk memandikan Sarah. Setelah itu, dia juga akan menyiapkan air mandi untuk kedua anaknya.


Itulah kegiatan Reegan selama satu bulan ini, sebelum dan sepulang kerja. Adalah mengurus anak-anak nya serta ibu anak-anak nya. Pria itu sudah terbiasa memandikan anak-anaknya sendiri, walau awalnya dia terlihat sangat kaku dan takut-takut. Sekarang dia sudah cekatan dalam mengurus keduanya, Sarah hanya membantu sebisanya. Puput bertugas hanya jika Reegan tidak dirumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Put, kamu jaga kakak sama adek dulu dikamar, saya sama ibu mau makan malam dulu."


"Baik pak." Ujar gadis itu mengikuti Reegan dari belakang menuju kamar. Reegan sengaja membuat kamar dilantai bawah itu besar, karna dipakai berempat bersama anak mereka. Didalam selain ada ranjang mereka, juga ada dua box bayi.

__ADS_1


"Sayang, ayo makan dulu. Nih ada Puput yang jagain." Reegan mengangkat Sarah dari atas ranjang, memindahkan nya ke kursi roda.


Setelah selesai menaruh makanan di piring Sarah, Reegan mengambil untuk dirinya sendiri.


"Tadi siang gimana, anggota nya asyik gak. Gak ada yang nyinyir apa giman gitu sama kamu." Tanya pria itu cemas, dia tidak ingin Sarah terbebani pikirannya hanya karena omongan orang lain.


"Gak, mana berani mereka. Kamu aja gak tau, gimana sadisnya ibu Lusi itu kalo ngomong." Sarah terkekeh geli, mengingat momen tadi siang, dimana para wanita sosialita itu, selalu dibuat tak berkutik, oleh mulut cabe level setan milik Lusi.


"Tau aku, sayang. Dulu aku sering kerumahnya, sering nginap disana juga. Para tetangga dekat rumah mana ada yang berani ngomongin dia, Angga aja mana berani, salah ngomong aja, malamnya di bakal nginap sama aku dikamar tamu." Kekeh Reegan, mengingat tingkah istri Angga tersebut.


"Perempuan itu kalau udah punya anak, aura keibuannya pasti keluar banget. Ada yang tiba-tiba jadi galak, ada yang biasa-biasa aja, ada yang jadi sensian. Macam-macam pokonya, jadi para pria itu harus ekstra sabar ngadepinnya." Ujar Sarah disela-sela makannya.


Sarah hanya tersenyum lembut, dia tidak ingin menanggapi nya. Dia tau pria itu pasti akan semakin sedih jika pembahasan itu berlanjut.


"Tadi kamu gimana, lancar?" Tanya Sarah untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Lancar, makasih ya doanya. Tadi udah mau nyerah aja, waktu liat proposal aku ditaruh kasar diatas meja. Kasian banget liat nasibnya, udah cape-cape aku kerjain, malah di campakkan. Udah mau nangis aja aku tuh tadi. Aku cuma gak mau kalian hidup susah sama aku." Ujar pria itu sendu.


"Aku gak apa-apa, anak-anak juga pasti bangga sama ayahnya. Udah Bekerja keras buat mereka, buat aku juga. Jangan terlalu maksain diri, pikiran kamu jangan terlalu di porsir, nanti kamu malah sakit. Aku kaya gini, gak bisa ngurusin kamu, anak-anak juga gimana kalo kamu sakit. Rejeki itu ada aja asal kita mau berusaha, jangan dipaksain lembur sampe tengah malam apalagi sampe subuh. Tubuh kamu perlu di jaga kondisinya." Nasihat wanita itu panjang lebar.


Dia bukan tak peduli, jika Reegan bekerja hingga tembus subuh bahkan pagi. Dia hanya tidak ingin, membuat pria itu merasa tidak didukung, parah lagi jika merasa diremehkan.


"Makasih ya sayang, udah bertahan disaat kondisi aku kaya gini. Aku janji gak akan begadang lagi sampe selarut itu, aku gak tau kamu nya merhatiin aku yang jarang tidur. Gak enak ya tidur gak aku peluk." Seloroh pria itu mencairkan suasana.


"Ya, gak ada manis-manis nya gitu, kalo disamping aku kosong." Lajut Sarah menimpali selorohan pria itu. Kemudian keduanya tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku ganti dulu ya, pembalutan nya sebelum tidur." Sebenarnya darah nifas Sarah sudah tidak banyak, hanya flek-flek saja, itupun kadang keluar kadang tidak, namun untuk mengantisipasi. Sarah tetap menggunakan nya setiap hari, mengingat dirinya yang tidak bisa melakukan sendiri jika tiba-tiba darah nifasnya Keluar.


"Ya, yang dilaci kayanya abis, aku gak liat tadi pas buka lacinya."

__ADS_1


"Ya abis, ini udah aku beli tadi sekalian kapasnya juga. Rebahan dulu yuk." Pria itu begitu telaten membersihkan **** ***** Sarah, meski dia harus berusaha keras menahan gejolak hasrat. Namun tidak masalah, mottonya adalah, jangan hanya bisa memakai namun juga harus bisa merawatnya dengan baik.


Pria juga harus tau, jika ingin mendapatkan full servis, maka juga harus ikut andil dalam hal perawatan. Baik secara langsung seperti yang sedang dia lakukan sekarang, maupun dengan dana berjalan. Sama istri jangan hitung-hitungan, kesejahteraan rumah tangga terjadi, karena ada dua orang yang bersepakat untuk saling memberi dan menerima.


__ADS_2