Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXIX


__ADS_3

"Wah Banyak banget belanjaan cucu oma, oma ada dibelikan tidak nih?" Seloroh sang oma melihat belanjaan cucunya.


"Ada gak kak?" Ujar Keyra pada kakaknya. Gadis itu hatinya selembut sang ibu, selalu merasa tidak enak pada orang lain.


"Ada, semuanya dapat. Buat opa juga, bunda, mbok Darmi, bi Surti, Teh Puput. Pokonya semuanya deh, nanti kakak bagi-bagikan." Balas sang kakak penuh semangat.


Jika didepan keluarga nya, Keenan selalu bisa menunjukkan sikap ramahnya itu. Terkecuali pada adik bungsunya, Keenan selalu merasa lain pada gadis kecil itu. Mungkin karena jarak mereka yang terlampau jauh, jadi dia begitu susah untuk mengakrabkan diri pada sang adik.


"Wuuaaa, ini buat oma? Ya ampun tas limited edition, opa. Astagaa, cucu oma pinter banget sih. Warnanya juga oke, pas ini, sama dress oma yang kemarin dibeli sama opa." Ujar sang oma heboh sendiri. Bagaimana tidak, cucunya itu telah membelikan nya sebuah tas, yang belakangan ini sering dia ceki-ceki diinternet.


"Makasih ya kak, oma suka Banget ini." Lanjutnya lagi seraya menghadiahi sang cucu, dengan banyak ciuman diwajahnya.


"Iiyyuuhhh, oma. Itu muka kakak jadi liur semua." Celetuk si kembar, Kalla. Si jahil yang pecicilan dikeluarga Reegan.


"Eh, mana ada. Enak aja kamu, sini oma kasih liur sekalian." Ujar sang oma tak terima, dia bergaya akan meraih tangan Kalla, untuk dia berikan ciuman yang sama seperti Keenan. Membuat cucu nya itu berlindung dipunggung sang ibu.


"Makanya jangan suka usil sama oma." Nasihat sang bunda.


"Kak yang buat bunda mana?" Keyra bertanya pada sang kakak, pasalnya tadi dia menyuruh kakaknya membelikan sesuatu untuk sang bunda.


"Ini, ada. Nih bun." Keenan menyerahkan dua buah paper bag pada ibunya. "Tadi adek yang pilih, ya kan dek?".


"Aku cuma minta dicarikan yang cocok buat bunda aja, semoga bunda suka." Ujar gadis itu malu-malu.

__ADS_1


"Wah bagus banget, teh. Bunda suka, ini yang bunda mau beli tapi ketunda-tunda terus nih. Makasih ya, sayangnya bunda." Sarah menciumi anaknya itu dengan perasaan bahagia.


Sarah baru bisa menunjukkan kasih sayang dan perhatian nya ketika gadis itu akan tidur, dan ketika putri bungsunya tidak ada dirumah. Karena jika putri kecilnya itu melihat, maka dia akan mengamuk dan memukuli kakaknya tanpa ampun.


"Sama-sama bun, bunda benaran suka ya. Key senang kalo bunda suka. Nanti dipake ya, pas anniversary ayah sama bunda." Ujar gadis itu tidak kalah bahagia. Membuat hati Sarah seperti tercubit, seperhatian itu sang pada kedua orang tuanya. Meski mereka sering mengabaikan nya, walau tanpa mereka sendiri ingini.


"Wah buat ayah mana nih, harus ada ini, soalnya tadi notif M-Banking nya, sederas air mengalir masuk ke ponsel ayah." Ujar pria yang baru datang itu, dengan wajah dibuat pura-pura merengut.


"Udah pulang, bukannya bilang pulang sore yah?" Tanya Sarah heran. Pasalnya tadi pagi sang suami begitu semangat, saat meminta ijin ke pemancingan bersama personil ayam sambel nya.


"Gak seru, mancing trus dilepas lagi. Gitu-gitu aja, bete aku. Mending mancing sama kang Ujang, dapat nya pasti, trus bisa dibawa pulang tanpa dibayar juga." Ujar pria itu mendudukkan diri disamping sang istri dan anak gadisnya, hal yang paling jarang dilakukan jika ada si bungsu dirumah.


"Teteh beli apa tadi? buat ayah ada dibelikan juga kan?" Tanya sang ayah pura-pura menuntut.


"Nih, ada. Ini Adek juga yang suruh milih."


"Wah, barang mahal ni. Buat nyogok ayah ya, biar ayah gak marah sama bunyi berisik diponsel ayah tadi." Ujar Reegan dengan wajah sumringah. Bukan soal harganya yang selangit. Dasi, jas dan sepatu itu warnanya sangat cocok dengan selera Reegan, dia sangat menyukainya.


"Makasih ya teh, ayah suka Banget nanti ayah pake pas anniversary. Eh, bunda gimana. Coba liat dong, serasi gak sama punya aku." Reegan mengambil paper bag dari tangan Sarah, lalu mengeluarkan isinya.


"Woww, seksi sekalee gaun anda nyonya." Seru Reegan dengan mata melotot.


"Ini pasti kakak yang pilihkan ni, adek pasti mintanya dibeliin gaun yang cocok sama bunda. Hapal ayah mah, anak gadis ayah nih baek nya gak ketulungan. Kakak aja ni, kayanya memang cari masalah sama ayah." Ujar Reegan tak terima. Enak saja istrinya memakai gaun kurang bahan seperti itu.

__ADS_1


"Ck, sekali-kali yah. Biar ayah juga bisa melotot, pas liat bunda make baju gitu dipesta-pesta. Bukannya cuma melotot liat orang lain aja." Sindir sang anak menyentil hati kecil Reegan.


"Ayah gak gitu ya, enak aja kamu. Ayah tu melotot karena ayah gak suka liatnya, sok seksi, cantik aja hasil polesan berjam-jam." Ujar Reegan tak terima dengan sindiran sang anak. "Beda sama bunda, Cantik nya alami, dan selalu seksi di mata ayah. Liat aja ini, yang berjejer kaya tanaman hias, adalah hasil nyata dari kesaksian bunda." Ujar pria itu bangga, dan berhasil mendapatkan hadiah cubitan gemes sari sang istri.


"Aww, sakit sayang. Galak amat bunda, teteh aja yang sayang ayah sini." Pria itu merangkul bahu sang anak, lalu mencium pucuk kepala Keyra dengan sayang.


"Kalo ngomong gak milter dulu, enak aja cucuku dibilang tanaman hias. Kalo gitu, kamu itu induk hias nya." Gerutu sang oma tak terima, cucu-cucu kesayangan nya dibilang tanaman hias.


"Ayuk makan, opa laper nih. Nunggu kalian pada pulang jalan." Ujar tuan Adnan menengahi. "Yuk, Kavin. Kamu ini nge-game mulu, liat itu kacamata sudah setebal itu." Omel sang Kakek pada cucu laki-laki nya itu. Yang hanya di jawab cengengesan oleh sang cucu.


"Aku juga laper, disana aku makannya cuma seuprit. Gak selera, rasanya aneh. Yuk sayang aku udah laper banget." Ujar Reegan bersemangat.


"Yang nyuruh kamu jalan itu siapa? Hari libur Bukannya ngajak istri jalan-jalan, malah asyik nongkrong sendiri." Omel wanita paruh baya itu masih berlanjut.


Reegan seperti biasa, kura-kura dalam sangkar, pura-pura tidak dengar. Namun tetap melirik kearah sang istri, dia jadi merasa bersalah. Benar, harus nya dia mengajak sang istri jalan-jalan mumpung dia sedang libur.


"Duduk sayang, sini biar aku yang layani kamu hari ini. Mau lauk apa sayang, ayam penyet atau ikan jerawatan. Tempe-tahu-terong kamu pasti suka, jadi gak usah nanya lagi." Apalagi terong aku, kamu pasti suka sekali. Namun itu hanya kata-kata yang diucapkan dalam hatinya saja.


"Aku bisa sendiri, udah duduk aja. biar aku buatkan sekalian." Sarah mengambil alih piring dari tangan sang suami.


"Ya sudah kalo kamu maksa, aku bisa apa." Reegan menatap sang ibu dengan tatapan penuh kemenangan. Seolah berkata, lihatkan, secinta itu istri ku.


"Ck, maksa konon. Sekali-kali biarkan Reegan mengambil sendiri makakannya, kedua tangannya masih sehat. Kalah sama cucu oma yang cantik ini." Ujar wanita itu sinis pada putranya, namun beralih lembut menatap Keyra, sambil mengusap pelan rambut cucu cantiknya itu.

__ADS_1


Keyra hanya tersenyum samar, mendengar kata-kata sang nenek. Setiap kedua orang itu bersama dalam satu ruang yang sama, selalu saja terjadi perdebatan-perdebatan kecil. Hal biasa, itu bumbunya keluarga bahagia, ribut kecil itu lumrah. Bukan masalah, malah akan mempererat hubungan kekeluargaan itu sendiri.


__ADS_2