Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXVIII


__ADS_3

Sudah sebulan sejak Asha terbangun dari koma nya, kini dirinya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Gadis itu sudah bisa diajak berbicara oleh orang lain, selain sang ayah dan para pamannya.


"Asha? Ngapain nak, kamu mau melukis?" Asha sedikit kaget dengan kedatangan sang ayah, yang tiba-tiba muncul di belakang nya.


"Papi? Bikin kaget aja. Aku tiba tiba pengen melukis. Apa mungkin dulu aku memang suka melukis ya pi?" Tanya Asha sambil menatap netra sang ayah dengan tatapan penuh tanya.


"Eh? Ya, dulu sekali. Belakangan sudah jarang, sibuk sekolah dan lain-lain. Ini memangnya kamu mau lukis apa, hmm?." Sang ayah menjawab dengan gugup, lalu mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Pemandangan hutan dibelakang villa ini aja pi, tar kalo kaki Asha udah bisa diajak jalan jauh, Asha mau turun ke desa. Boleh tidak? Susi sering pergi ke desa untuk berbelanja bersama dokter Varel, aku mau ikut jalan-jalan. Siapa tau dapat inspirasi disana. Asha sedikit bosan di Villa setiap hari." Ujar gadis itu, menjelaskan niatnya dengan suara serendah mungkin, dia takut sang ayah marah. Karena ayahnya sudah mewanti-wanti, agar dia tidak boleh keluar dari villa karena kondisi nya yang tidak memungkinkan.


"Ya, nanti sama papi juga. Om Wijaya sama om Arkhan juga pasti mau ikut. Pasti bosan juga kaya anak papi yang cantik ini. Ayo lanjut lagi melukis nya, nanti biar papi pajang di kamar papi. Jadi kalau bangun pagi, papi langsung bersemangat." Ujar sang ayah menenangkan anaknya Sambil terKekeh pelan. Tidak mungkin dia mengatakan tidak boleh, bukan? Satu-satunya cara adalah dengan selalu menunda, niat sang anak dengan mengalihkan pikiran nya pada objek lain.


Selalu seperti itu, setiap Asha menyampaikan niatnya, untuk turun ke desa yang berjarak sekitar 20 menit dari villa mereka.


"Baik pi, boleh minta tolong tidak, nanti kalo Susi mau turun ke desa, minta di belikan kuas yang baru, sama cat akrilik dan cat airnya sekalian." Pinta gadis itu dengan tatapan memohon.


"Boleh, nanti ayah suruh dokter Danu belikan kalau mereka turun ke desa." Balas sang ayah. Sejatinya, di desa tersebut hanya ada pasar tradisional, yang menjual hasil panen kebun, penjual ikan sungai hasil tangkapan sendiri, pecah belah yang tidak terlalu lengkap dan jajanan pasar khas desa tersebut serta warung sembako kecil.


Namun untuk menghibur sang anak, tidak apa-apa lah, berbohong sedikit. Barang-barang yang Asha pesan itu dan barang kebutuhan mereka yang lainnya, berasal dari kota kabupaten. Yang jaraknya sekitar 4 jam kurang lebih. Namun mencegah banyak nya pertanyaan dari sang anak, tuan Wardhani lebih memilih menjawab Sesingkat mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari-harinya Daniel mulai di sibukkan dengan urusan perusahaan, tiga tahun lamanya, perusahaan mendiang sang ayah dikelola oleh orang kepercayaan papi Bintang. Kini Daniel mulai mempelajari nya lagi dari awal.

__ADS_1


Kepala nya sudah terasa berat sejak pagi, semalam dia kurang tidur.


Klek


"Hai Dan?" Sapa seorang gadis tanpa sopan santun, masuk ke dalam ruangannya.


Daniel menyipitkan matanya, dahinya mengernyit heran. Apakah mereka memang sedekat itu, hingga si gadis bisa dengan bebas mengunjungi, dengan pakaian yang... Astaga, kepala Daniel semakin berdenyut. Bukan perkara melihat paha mulus dan belahan dada, yang hampir meloncat keluar dari pembungkusnya. Namun gadis itu orang yang paling dia hindari dan tidak dia sukai.


"Ngapain kamu kemari? Kalo urusan pekerjaan, mendingan kamu balik dulu, perbaiki cara berpakaian mu itu agar terlihat lebih pantas. Kalau hanya untuk menyapa, oke, hai juga. Sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan ini, aku sibuk." Ujar Daniel to the point, dengan nada ketus yang sangat tidak enak di dengar.


"Aku cuma mampir Dan, mau ajak sekalian makan siang. Kita memang gak sedekat itu, tapi kita sekampus, Sekelas pula. Apa salahnya kita berteman deket." Balas gadis itu dengan mimik wajah yang terlihat sedih. "Aku kebetulan mampir keruangan om aku, di bagian personalia. Aku juga baru tau tadi kalo kamu yang punya perusahaan ini. Jadi sekalian aku pengen nyapa aja, kupikir kita teman karena kita satu kelas dan sudah saling mengenal selama satu tahun ini." Gadis itu berujar panjang lebar dengan terisak pelan.


Membuat Daniel melongo melihat nya, kenapa sekarang seolah gadis itu adalah kekasih nya yang sedang di sakiti hatinya. Daniel meraup wajahnya kasar. Dasar wanita, pikir nya.


Tok tokk


Klek...


"Loh? Asara, kamu kok bisa ada di ruangan pak Daniel? Ini kamu nangis kenapa, hmmm?" Pria paruh baya itu masuk tergesa menuju arah gadis yang masih terisak itu lalu memeluknya.


"Pak Daniel, dengan segala rasa hormat. Kenapa keponakan saya bisa sampai menangis seperti ini, bukannya tadi dia baik-baik saja saat dari ruangan saya." Ujar pria itu dengan nada suara yang sedikit keras.


Beberapa orang karyawan yang tanpa sengaja melewati ruangan yang memang tidak tertutup tersebut. Berbondong untuk menyaksikan nya. Pintu yang memang terbuka sangat lebar itu, memudahkan mereka untuk melihat apa yang terjadi didalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Maaf, pak Hamdan. Keponakan bapak tidak saya apa-apakan, dia menangis tidak jelas hanya karena saya bertanya maksud dan tujuan nya, yang tiba-tiba masuk ruangan saya dengan tidak sopan." Jelas Daniel lugas, seraya menatap datar ke arah om dan keponakan itu.


"Tidak mungkin hanya seperti itu, anda pasti sudah melecehkan keponakan saya. Anda harus bertanggung jawab pak Daniel. Saya tidak mau tau." Seru Hamdan dengan suara tinggi. Hingga semakin mengundang kerumunan para karyawan. Gadis itu menyeringai puas, rencananya berhasil bukan. Jika tidak bisa mendapatkan pria itu dengan cara baik-baik, maka jangan salahkan dia, jika memakai cara yang senekat ini.


Daniel menyipitkan matanya, menelisik penampilan gadis itu sekali lagi. Sama sekali tidak membuat nya tertarik, bukannya dia tidak normal. Hanya saja, melihat wanita berpenampilan seperti itu, bukan hal asing baginya dan sama sekali tidak menantang jiwa kelakian seorang Daniel.


"Tanggung jawab seperti apa yang anda inginkan, pak Hamdan?" Daniel bertanya dengan nada dingin namun terkesan tenang.


"Nikahi keponakan saya." Jawab pria itu mantap.


Dia yakin Daniel akan menuruti nya, melihat banyaknya karyawan yang menyaksikan hal tersebut, membuat nya merasa menang.


Daniel tampak sedang berpikir, lalu mengangkat gagang telepon dan terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Hubungi dokter Varel."


"............................."


"Kalau begitu, dokter yang ada saja yang profesi nya sama. Makasih Win." Daniel menutup telponnya, lalu beralih menatap kedua manusia tak tau malu dihadapannya itu.


"Anda yakin dengan keinginan anda pak Hamdan? Masih ada waktu 15 menit untuk mengubah pikiran jika anda mau."


"Tidak, saya sudah sangat yakin dengan keputusan saya. Saya tidak terima, jika keponakan saya di lecehkan, bahkan jika harus melawan anda sekalipun, saya tidak takut." Balasnya dengan penuh keyakinan dan jangan lupa nada suaranya, yang seperti sedang berada di tengah hutan belantara.

__ADS_1


"Baiklah, kita tunggu saja kalau begitu. Keputusan saya tergantung dengan apa yang ingin saya ketahui." Ujar Daniel tenang, lalu melanjutkan pekerjaan nya tanpa mempedulikan kedua makhluk di hadapannya itu.


__ADS_2