Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLVII


__ADS_3

"Sar?"


"Jangan sekarang." Ucapan Reegan terpotong oleh intrupsi Sarah. Nampaknya wanita itu masih belum mau berdamai dengan keadaan, membuat Reegan hanya bisa menghela napas pasrah.


"Bun,yah. Asha bawa boneka ini boleh? Muat tidak ranjangnya?" Asha memasuki kamar orangtuanya dengan memeluk sebuah boneka beruang yang di berikan Daniel pada tadi, sebelum Pria itu pulang.


"Muat lah. Baru juga boneka, dulu kalian berlima sering tidur sama ayah bunda di sini. muat aja." Jawab Reegan meyakinkan. Benar kan, kelima anak mereka memang sering tidur bersama nay dan Sarah, jika anak-anak nya sedang merindukan momen masa kecil mereka dulu.


"Oke, aku ngantuk banget. Mau langsung tidur gak apa-apa kan Yah, bun?" Asha mengambil posisi tidur di tengah, lalu memeluk boneka nya. Mata sayu nya mulai terpejam. Pasti sangat lelah, perjalanan 11 jam tidak lah sebentar. Mereka baru tiba pukul 8 malam dirumah. Sungguh melelahkan.


Sarah dan Reegan hanya menatap putri bungsu mereka tanpa menjawab, karena bisa di pastikan gadis itu tidak akan mendengar lagi apa yang akan mereka katakan. Bergantian, keduanya mencium kening sang anak. Lalu kembali ke posisi masing-masing. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang, entahlah.


"Aku akan tidur di sofa." Reegan akan beranjak namun suara Sarah menghentikan pergerakan nya.


"Kalau ada yang harus tidur di sofa, itu aku. Tidurlah, kalau tidak nyaman dengan keberadaan ku, abaikan saja. Anggap tidak ada." Sarah memutar tubuhnya kemudian berusaha memejamkan kedua matanya yang sangat sulit di ajak kompromi. Tubuhnya lelah, namun matanya berkhianat dan pikirannya memberontak.


Reegan terdiam mendengar ucapan sang istri, dia tidak ingin membuat masalah semakin runyam. Akhirnya memilih diam.


Tiba-tiba mata Sarah terasa menggelap, tidak ini bukan karena dia sedang ngantuk berat. Apakah ini sudah waktunya, haruskah sekarang. Dirinya masih butuh sedikit waktu lagi untuk menemani putri nya. Dengan sedikit memaksa kan diri, Sarah bangun dari pembaringan nya.


Reegan yang merasakan ada pergerakan di samping putri nya pun menoleh. Sepersekian detik saja, dia dapat melihat bagaimana sang istri yang baru saja duduk di sisi ranjang, ambruk ke lantai keras itu tanpa sempat dia tahan. Tak ingin membangun kan sang anak, Reegan bergegas bangun dan menghampiri Sarah dengan tubuh gemetar ketakutan.


Posisi Sarah yang sedikit telungkup membuat Reegan tak begitu memperhatikan, namun saat dia membalik tubuh sang istri, Reegan dia buat syok bukan main. Darah segar keluar begitu banyak dari hidung istri nya. Tanpa menunggu lagi, Reegan mengangkat tubuh sarah, membawanya keluar kamar. Sesampai nya di ruang tamu, Kalla yang kebetulan baru datang dari arah dapur pun di buat terkejut oleh pemandangan yang ada di depan nya.

__ADS_1


"Bunda kenapa yah? abis jatuh apa gimana?, ini darahnya kenapa banyak banget kaya gini? Ya Tuhaaann, bunda." Reegan tak menggubris pertanyaan beruntun sang anak. Dirinya hanya ingin fokus membawa Sarah ke rumah sakit.


"Pak, ibu kenapa?" Pak Supri datang menyela saat pandangan tak sengaja melihat sang majikan menggendong majika perempuan nya keluar rumah, dia pun menghampiri.


"Mobil pak, tolong cepat." Titah Reegan dengan suara bergetar panik, dan ketakutan.


"Aku aja yah." Kalla bergegas ke garasi. Tadinya dia akan menelpon sang Kakak dulu, karena jika dia balik ke dalam rumah akan makan waktu. Namun urung mengingat sang ibu butuh pertolongan segera, nanti lah sesampainya mereka di rumah sakit pikir nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Para perawat bergerak cepat menangani Sarah dari ketika wanita itu di turunkan dari dalam mobil. Karena Kalla sudah menghubungi pihak rumah sakit terlebih dahulu.


"Tenang yah, bunda akan baik-baik saja. Bunda wanita yang hebat, buktinya, selama ini. Bunda bisa menyembuhkan lukanya, dengan caranya sendiri tanpa bantuan siapapun kecuali Tuhan tentunya. Dan sekarang yakinlah, Tuhan juga akan turut bekerja, untuk memulihkan bunda." Kalla berujar panjang, meski hatinya pun ketar ketir tak menentu. Namun harus ada yang menguatkan di kondisi seperti ini, begitu lah pikirnya.


"Kenapa, Kal? Udah jam segini iseng bener kamu tuh, gak ada kerjaan banget." Suara kesal Keenan tak di gubris oleh Kalla.


"aku sama ayah di rumah sakit sekarang. Tadi bunda pingsan, trus kami bawa gak sempet kasih tau kalian, panik, buru buru. Asha jangan di kasih tau dulu, dia ada di kamar bawah. Kamar bunda sama ayah. Kalian aja sama Kavin, Keyra." Balas Kalla menjelaskan panjang lebar.


Keenan terdiam, tubuh terasa kaku. Sakit apa ibunya? Kenapa dia tidak tau apapun? Dia benar benar merasa tidak berguna sebagai seorang anak.


"Aku akan ke sana sekarang." Keenan memutuskan panggilan nya lalu bergegas menuju gantungan kunci, lalu meraih jaket nya. Kemudian mengetuk pintu kamar mandi dimana ada istrinya di dalam.


Tok tokk tokkk

__ADS_1


klek


"Loh, kok? Mau kemana malam-malam gini, urusan kantor?" Sang istri mengernyit dahi, heran.


"Gak, itu. Bunda di bawa ke rumah sakit, gak tau sakit apa, tadi Kalla sama ayah panik, jadi gak sempet bangunin kita. Asha ada di kamar bawah, gak usah si bangunin. Aku mau ke rumah sakit dulu ya, kamu besok aja, kasian anak-anak." Keenan mencium kening sang istri, sebelum pergi.


"Ya uda, abi hati-hati. Jangan terlalu ngebut. Berdoa aja, bunda baik dan kuat." Keenan hanya mengangguk, lalu bergegas pergi.


Sementara Arumi masih sibuk dengan pikirannya sendiri, sudah dua kali dirinya memergoki Sarah mimisan selama di villa. Namun wanita itu selalu bilang karena cuaca di desa yang dingin. Dirinya terbiasanya dengan cuaca kota yang panas, jadi agak sedikit sensitif dengan perubahan tersebut.


Apakah yang sedang dia pikirkan sekarang, adalah benar bentuk dari kecurigaan nya selama beberapa hari ini. Dia hanya berharap dan berdoa, semoga saja tidak. Ibu mertua nya adalah orang yang baik. Dia harap, wanita yang sudah seperti ibu nya itu dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia bersama keluarga nya mulai sekarang. Cukuplah segala penderitaan yang selama ini menggerogoti hati dan hidup sang mertua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langkah lebar keenan di sepanjang lorong menuju UGD, menjelaskan kepanikan pria itu. Dirinya mengahampiri sang adik dan ayah nya, yang nampak duduk di ruang tunggu tersebut.


"Bunda gimana di dalam, udah ada dokter keluar belum, apa katanya?" Keenan bertanya dengan nada tidak sabar pada kedua orang yang nampak lesu di hadapan nya itu.


"Belum kak. Dokter hanya bilang bunda butuh donor darah, dan sudah dapat. Kebetulan PMI ada stoknya." Kalla menjelaskan mewakili sang ayah yang masih tampak syok dan dalam ketakutan yang sama.


"Astagaa, cobaan apa lagi ini, Tuhaan." Keenan duduk di samping sang adik seraya mengusap kasar wajahnya.


Reegan masih tak bergeming, pikiran nya kalut. Apakah ini alasan dari perubahan sikap sang istri selama kembali beberapa hari ini. Dia sungguh tak sanggup bila harus kehilangan wanita itu lagi. Lebih baik Tuhan panggil dia saja duluan, dengan begitu, dia tidak akan menanggung beban kehilangan di sisa umurnya yang entah kapan.

__ADS_1


__ADS_2