Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXXIV


__ADS_3

"Asha sayang, kamu mau apa dengan itu nak?" Tuan Arkhan heran melihat Asha yang sibuk sendiri, dengan buku dan ballpoint di tangannya.


"Asha mau buat kue pengantin Pah, papa ingat mbak Mina? Yang sering ke sini sama mbak Tuti, ngantar pesanan kita dari warung bambu." Asha balik bertanya.


"Inget, kan udah sering ke sini selama 6 bulan ini. Emang kenapa Mina nya? Mau nikah? Kok kaya dadakan papa rasa." Tanya tuan Arkhan heran, pasalnya gadis itu masih terlalu muda. Meski di desa itu usia segitu di anggap sudah matang untuk menikah.


"Ya, calonnya orang kota pah. Kemarin waktu mbak Mina sama Mbak Tuti ke sini, cerita. Di lamar dadakan juga, baru kenal 2 hari. Itu calon nya takut ke selip sama orang katanya yah." Asha bercerita sambil terkekeh lucu. Mengingat wajah malu-malu temannya.


"Ada-ada aja anak muda sekarang. Trus orang tua yang pihak laki-laki nya bagaimana, masa pak Madun main Terima aja. Takutnya orang gak baik, mana tau. Itu juga baru kenal katanya." Tanya tuan Arkhan khawatir, Mina dan Tuti, kedua wanita itu sering mengantar makanan ke villa mereka dan berteman baik dengan putri nya. Sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, itulah kenapa dia jadi mencemaskan keadaan gadis belia itu.


"Katanya sempat di tolak sama paman Madun, tapi yang pria nya malah bilang gak mau pulang kalo lamaran nya gak di terima. Kayanya udah cinta mati dia sama mbak Mina pah." Jelas Asha kembali terkekeh.


"Nanti papa mau turun, mau beli bohlam lampu ditaman belakang, ada mati satu. Sama mau beli bibit sayur juga. Sekalian papa mau ke rumah pak Madun, mau mastiin. Kasian kalau sampai bukan orang baik-baik, anaknya cuma Mina yang udah besar. Kamu mau titip apa nak?"


"Aku titip beli pewarna boleh, yang merah sama biru muda. Ada di warung bibi Sumi."


"Ya nanti papa belikan, ini mau ajak papi kamu sama daddy. Bedua itu main catur mulu kaya udah tua aja." Gerutu Arkhan kesal.


"Papa, papi sama daddy kan emang udah tua" Gumam Asha pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Arkhan.


"Kamu bilang apa, hmmm ? Papa tua, yaa?" Tanya Arkhan lalu mengacak pelan rambut anak gadis kesayangan nya itu. Asha adalah kesayangan mereka, apapun akan mereka lakukan untuknya. Bahkan rela tinggal di daerah terpencil itu, tanpa peduli pada dunia luar.

__ADS_1


"Ihh papa, tu kan rambut aku jadi kusut." Omel gadis itu manyun lalu Merapi kan rambutnya.


"Loh anak papi di apain sama papa Arkhan. Iseng bener sama kesayangan papi ini." Ujar tuan Wardhani seraya berjalan memasuki dapur menuju kearah putri nya.


"Ini pih, papa gak mau di bilang tua." Adu Asha pada sang ayah.


"Emang papa kamu gitu, berasa muda terus dia. Padahal otot udah pada kedodoran gitu." Timpal sang ayah meledek sang paman.


"Enak aja, gak liat ini. Otot masih kenceng gini, emangnya situ, perut aja di gedein." Balas Arkhan tak terima, otot kencangnya dikatain kendor.


"Pada ngapain sih ribut soal otot, malu sama umur. Asha yang Jelas-jelas masih muda, anteng-anteng aja." Tuan Wijaya berjalan menuju dispenser mengisi botol minumnya.


"Aku mau ke desa mau beli bibit sama pesanan Asha, sekalian mau kerumah pak Madun. Itu, si Mina di lamar sama orang kota, katanya baru kenal dua hari. Tapi yang prianya ngotot, malah ngancem gak mau pulang dari rumahnya pak Madun. Aku khawatir nya bukan orang baik-baik, bagaiamana pun anak-anak itu sudah seperti anakku sendiri. Mereka berteman baik sama Asha kita." Ujar Arkhan menjelaskan panjang lebar tentang kecemasan nya pada keluarga pak Midun.


"Aku ikut kalo gitu, kasian juga. Takut ada apa-apa, bukannya si Mina itu tulang punggung yang bantuin biaya hidup keluarga nya. Kasian kalo gak dapet orang yang benar." Tuan Wardhani ikut menimpali kekhawatiran sahabat nya.


"Aku juga, tapi baru di lamar aja kan?" Tanya TUan Wijaya ikut cemas. Kejadian yang menimpa putri kesayangan mereka membuat nya trauma.


"Ini Asha lagi mau buatkan kue pengantin, makanya aku makin cemas, mau turun biar bisa mastiin. Kasian pak Midun, Mereka mana paham berurusan sama orang kota. Pasti bawaan nya sungkan kalo mau ngomong apa-apa. Yuk, aku ambil kunci mobil sama jaket dulu. Kalian juga, cuaca dingin banget ini, kulit kalo udah tua gampang dimasuki angin." Ujarnya sambil berlalu dari hadapan kedua sahabat nya yang mencebik kesal, mendengar kata-kata di ujung kalimat tersebut.


"Papi turun ke desa dulu nak ya. Varel sama Susi sudah balik dari kabupaten belum? Harusnya tadi Susi gak usah di ajak, Varel benar-benar keterlaluan, istri nya kemana-mana dia bawa. Lagi hamil begitu, papi ngeri. Jalanan nya itu loh, papi ngilu liatnya." Omel tuan Wardhani pada dokter Varel, pria itu menikahi Susi 4 bulan yang lalu. Dan mereka tinggal di samping villa, rumah kayu jati 2 lantai yang di bangun oleh dokter Varel dan rekan-rekannya 2 tahun lalu, sebagai tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Kini hanya ada 3 dokter tetap yang tinggal di sana, dua lainnya kembali ke kota untuk melanjutkan hidup mereka. Namun tidak lama lagi, dokter Danu akan kembali untuk melanjutkan hubungan serius nya dengan dokter Levita. Seperti janjinya, jika mereka semua sudah kembali pulih, maka dia akan menerima pinangan dokter Danu.


"Mau cek kandungan sekalian pi, walau kak Varel itu dokter kandungan, tapi alat USG nya di sini gak ada, mau liat si dedek, gak sabar mereka." Ujar Asha berbinar, sebentar lagi akan ada tangisan bayi di kediaman mereka walau tidak satu rumah. Namun hanya berjarak lima langkah dari rumah mereka.


"Pada mau kemana pak?" Dokter Bram tiba tiba datang dari pintu belakang dengan membawa buah semangka besar dipelukan nya.


"Ke desa. Itu kamu panen yang di ujung sana? Bisa duel maut kamu tar sama Arkhan." Kekeh Tuan Wardhani, pasalnya, semangka itu sudah pria itu Bungkus dengan karung untuk di amankan, dan sekarang di gondol oleh dokter Bram.


"Eh? Beneran. Waduh, ini gimana cara balikin lagi." Ujarnya panik dengan wajah pucat pasi.


"Kamu mau balikin kaya gimana, hah?" Nah kan, yang punya udah keluar tanduk.


"Hehehe, gak tau tadi kalo ini ada yang punya. Mau di balikin lagi gak ini?" Jawab nya dengan wajah cengengesan yamg menjengkelkan untuk di liat.


"Ck, sudah kamu potong juga tangkainya. Nanti jangan kamu habisin, saya potong kamu punya itu." Ujarnya sadis lalu melirik aset berharga milik Bram, membuat pria itu bergidik ngeri.


"Ya, ya. Aku gak rakus juga sampe makan semangka segede ini makan sendiri." Dumel nya kesal. lalu meletakkan buah semangka itu di wastafel untuk di cuci.


"Ayuk berangkat. Asha papa sama yang lain turun dulu, Bram, kamu jagain anak saya baik-baik. Kalau sampai lecet dikit, kamu saya tanam di kebun belakang buat pupuk." Ucap nya penuh peringatan. Bram hanya mendengus jengkel.


"Ya, aku jagain tenang aja. Udah sana, pasar gak sampe siang tar gak keburu, aku pesan onde-onde, dadar gulung sama pais pisang ya, masing-masing 5." Ujarnya nyengir minta di tabok, membuat tuan Arkhan melotot tajam. Namun bukan Bram jika langsung ciut.

__ADS_1


__ADS_2