Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXIV


__ADS_3

Satu minggu sudah, wanita itu setia memejamkan kedua matanya. Sementara kedua bayinya, kini masih berada dalam ruang inkubator di ruangan bayi. Menunggu sang ibu terbangun, dari tidur lelapnya.


"Mau sampe kapan kamu hukum aku kaya gini, Sar. Kamu gak kasian sama anak-anak kita, mereka pengen disusui sama bundanya. Mereka pengen kamu peluk, Sar. Please, bangun untuk mereka berdua. Kamu boleh benci sama aku, tapi jangan hukum mereka juga." Pria itu menangis tergugu, sambil menggenggam tangan Sarah. Setiap hari hanya itu yang bisa dia lakukan, berbicara dengan Sarah meski wanita itu tidak pernah merespon nya.


Sudah seminggu ini, pria itu tidak beranjak dari rumah sakit. Dia bahkan rela tidur dilantai ruang tunggu yang dingin itu, jika beruntung, dia akan tidur diatas bangku deret. Jika tidak, dia akan tidur dilantai dingin hanya beralaskan kasur lipat yang hanya sampai dibetisnya. Belum lagi, jika banyak keluarga pasien yang menunggu. Aturan ruang tunggu adalah, siapa cepat dia dapat. Beruntunglah mereka yang bisa tidur nyenyak di bangku deret tersebut, selain empuk, juga tidak harus berhadapan langsung dengan lantai yang dingin itu.


Sarah mengerjabkan kedua matanya, pandangan nya masih kabur. Dia melirik seorang yang nampak tengah menangis, sambil menunduk, menggenggam tangan nya. Dia ingin berbicara, namun suaranya seperti susah keluar, dia juga merasa haus yang luar biasa..


"Air... air.."


Reegan mengangkat kepalanya, menatap Sarah dengan tatapan tak percaya. Benarkah wanita itu sudah sadar, atau dia sedang berhalusinasi sekarang.


"Haus...tolong.. air.."


Reegan tersadar, dia tidak sedang berhalusinasi, wanita itu benar-benar sudah sadar.


"Ya sebentar, aku ambil." Reegan berlari keluar, dia mengambil satu gelas air mineral dibawah kursi ruang tunggu. Lalu kembali masuk.


"Nih, pelan. Dikit-dikit aja dulu, aku belum sempat tanya perawat, kamu sudah boleh minum atau belum. Mereka lagi makan siang. Dibelakang meja itu." Reegan berkata, sambil menunjuk arah meja jaga setinggi dada orang dewasa, tempat para perawat sedang makan sambil duduk melantai.


Setelah Sarah selesai minum, Reegan beranjak menuju meja perawat. "Bentar ya, aku lapor dulu ke perawat, kalo kamu udah bangun." Pria itu bergegas menuju meja itu, dia mengetuk pelan permukaan meja, agar perawat tau keberadaan nya.


"Ya pak, ada yang bisa di bantu?" Tanya perawat itu ramah. Sambil mengelap tangannya dengan tisu basah lalu menggunakan hand sanitizer.

__ADS_1


" Itu, ibu Sarah baru terbangun." Balas Reegan seraya menunjuk brankar nomor 4, milik Sarah.


" Baik pak, saya hubungi dokter dulu." Perawat itu menelpon dokter, sementara dua orang perawat menghampiri ranjang Sarah.


"Siang bu, saya periksa dulu ya." Ujar perawat itu ramah. "Baik, bu nanti dokter yang akan jelaskan, ditunggu sebentar ya bu,pak. Ibunya boleh dikasih minum kalau mau, makan juga boleh, nanti setelah ini ya. Ada orang yang akan mengantarkan makanan, istrinya nanti dibantu makan ya pak." Ujarnya lagi, tanpa tau status pasangan tersebut.


"Ya sus, ini boleh dikasih naik sedikit, tidak. Agar lebih nyaman aja, kalau makan nanti."


"Boleh pak, jangan terlalu tinggi dulu."


Klek..


Dokter masuk ke ruangan tersebut, langsung menuju ranjang Sarah.


"Selamat datang kembali, ibu Sarah. Gimana tidurnya, nyenyak banget ya. Sampai-sampai bapaknya tiap hari nangis bombay, karena ibu tidak mau bangun-bangun." Ucap dokter itu terkekeh pelan. Lalu beralih menatap Reegan. Dia bersyukur, tidak harus membius pria itu tempo hari.


"Baik bu, sementara masih di ruangan bayi. Ibu akan di observasi selama satu jam, setelah itu boleh pindah ke ruangan rawat inap. Untuk sekarang kondisi ibunya sudah membaik, nanti diobservasi dulu, ya." Ujar Dokter itu, sambil membaca laporan medis, milik Sarah.


"Sabar ya bu, dedek nya juga pasti tidak sabar ketemu sama ibunya. Kalau sama ayahnya sudah sering, setiap hari seperti makan obat, pagi siang dan malam. Selebihnya menemani ibu disini. Secinta itu pak ya, sampe hampir saya bius waktu itu. Karena tidak ingin keluar dari sini." Ujar dokter itu panjang lebar sambil terkekeh pelan, membuat Reegan ingin sekali memformalin mulut dokter itu agar kaku.


Terlalu banyak bicara batin Reegan kesal, seharus itukah menceritakan kegiatan nya setiap hari pada Sarah. Apa dokter itu punya dendam kesumat padanya.


Namun lain di hati lain di kenyataan. Reegan membalas ucapan dokter itu, dengan senyum semanis gula Jawa.

__ADS_1


Setelah dokter Reegan menaikkan sedikit tempat tidur Sarah, agar wanita itu bisa sedikit bersandar. Kemudian merogoh saku nya untuk mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi album foto, memperlihatkannya pada Sarah.


"Nih, kamu liat ini aja dulu." Reegan meletakkan ponselnya ditangan Sarah.


Mata Sarah berkaca-kaca, melihat video kedua anaknya. Ternyata Reegan menyuruh seseorang, untuk mengabadikan momen dimana bayi mereka dikeluarkan dari perutnya. Dan masih banyak lagi, video dan foto-foto kedua anaknya, yang setiap hari Reegan abadikan setiap dia berkunjung kesana.


"Makasih, sudah jaga mereka untukku. Dan terimakasih juga, sudah mau repot-repot menjagaku." Ucap Sarah tersenyum tulus.


Membuat hati Reegan seperti tercubit, wanita itu berterimakasih padanya, seolah dia adalah orang lain bagi Sarah dan anak mereka.


"Tidak perlu berterimakasih padaku, aku tidak pantas menerima nya. Itu tugasku, tanggung jawab ku untuk menjaga mereka dan juga menjagamu." Ujar Reegan dengan mata yang sudah hampir menangis. Dia duduk disisi ranjang Sarah, lalu meraih tangan wanita itu, kemudian menciumnya lama dengan berurai air mata.


Reegan sangat mudah menangis akhir-akhir ini, semua hal yang berhubungan dengan Sarah dan anak-anaknya, membuat Reegan tampak begitu rapuh.


"Hei, aku bahkan tidak sedang memarahi mu. Sudahlah, jangan membahas apapun lagi. Berhenti menangis, aku masih hidup." Cetus wanita itu, lalu menarik pelan tangannya, dari genggaman Reegan.


"Jika kamu lelah, istrahat lah. Kamu juga bisa pulang, aku akan meminta suster menghubungi aya...." Sarah terdiam sesaat. "Aku akan meminta mereka menghubungi mas Angga, ya. Pulanglah, kamu juga butuh istirahat, bukan?" Ujar wanita itu mengusir Reegan secara halus. Namun dengan senyum selembut kapas.


"Kenapa harus menghubungi orang lain, jika aku sudah berada di sini. Istirahatlah, aku tidak akan menggangu mu. Aku akan tunggu diluar sampai nanti kamu dipindahkan, aku juga ingin melihat anak-anak. Akan ku sampai kan salam rindu dari bunda mereka." Balas Reegan kemudian keluar dari sana, setelah sampai diluar, pria itu duduk dikursi ruang tunggu.


Reegan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, pria itu kembali menangis tersedu-sedu. Bahunya bergetar hebat, menahan suaranya agar tidak menggangu orang lain, yang juga sedang beristirahat disana.


Pria itu tau Sarah sangat membencinya, namun wanita itu masih bersikap lembut padanya. Itu yang membuat hatinya semakin sakit, jelas bahwa Sarah sudah menolak kehadirannya disana.

__ADS_1


"Reegan, apa yang terjadi dengan Sarah? Katakan?" Suara bariton itu membuat tangis Reegan terhenti. Reegan menatap netra sang ayah, dengan tatapan sendu yang terlihat sangat menyedihkan.


"Sarah baik, dia sudah sadar, ayah masuklah. Temani Sarah didalam, aku ingin melihat si kembar dulu." Reegan berlalu dari hadapan sang ayah.


__ADS_2