
Tak terasa kini bayi Kembar Sarah dan Reegan itu, sudah berusia 3 bulan. Ada hal yang mengganjal di hati keduanya, pasalnya bayi perempuan mereka yang biasa mereka panggil si adek Tersebut, belum bisa merespon saat mereka mengajaknya bermain.
Arah pandangan nya selalu tidak fokus bila mendengar suara seseorang, seperti sedang mencari-cari. Berbeda dengan sang kakak, yang sudah merespon candaan orang disekitarnya dengan senyum.
"Kita bawa ke dokter anak dulu, gak usah terlalu cemas gitu, doakan aja Semoga adek baik-baik aja." Meski hati Reegan juga tidak kalah khawatir dengan kondisi sang anak. Namun dia tidak ingin menampakkan nya, didepan sang istri yang baru dia nikahi satu setengah bulan yang lalu.
"Hari ini mau ngantor dulu apa gimana?"
"Gak, aku udah kabarin Abdi sama Nindy. Yuk siap-siap dulu, aku mau ganti baju adek pake yang lengan panjang. Kamu mau pake daster itu aja, gak apa-apa sih aku. Itu malah jatohnya kaya dress gitu, bagus, aku suka." Bukan apa-apa, pria itu masih saja suka cemburu pada dokter Reza. Dokter itu selalu menatap istri nya dengan tatapan lapar. Dia tidak ingin Sarah tampil terlalu cantik jika keluar rumah, sifat cemburu nya itu sering membuatnya uring-uringan sendiri.
"Ya aku gini aja, malas ganti-ganti. Asal kamu gak malu aja, liat penampilan istri kamu yang kaya bi surti ini." Kekeh Sarah. Dia ingat saat Miranda, teman sang suami berkunjung kerumah mereka. Wanita itu kaget melihat wanita yang duduk dikursi roda, menggunakan daster pula. Seenak jidat wanita itu meminta Sarah membuatkannya orange juice. Dia pikir Reegan sebaik itu, sampai memperkerjakan ART penyandang disabilitas.
Reegan paham arah pembicaraan istrinya. "Ck, perempuan itu gak ada jera-jeranya. Padahal di kantor udah sering di kerjain sama Nindy, teh nya malah pernah di masukin micin sama garem. Udah kaya bikin oralit aja, kreatif banget itu anak." Keduanya pun tertawa, Nindy memang bisa diandalkan. Baik oleh Sarah maupun Reegan.
Sarah sering merasa insecure dengan keadaan nya, namun pria itu selalu mengatakan, jika Sarah sudah sempurna untuknya dan anak-anak mereka. Tidak perlu mendengarkan apa kata orang, hidup mereka bukan mereka yang kasih makan. Cukup dengarkan dia saja dan hal-hal baik disekitar nya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi gini ibu Sarah dan pak Reegan." Dokter itu menjeda ucapannya, Menatap pada orang tua bayi tersebut. "Menurut hasil pemeriksaan sementara, putri ibu dan bapak mengalami kebutaan bawaan lahir. Untuk lebih lanjutnya akan kami lakukan serangkaian tes, untuk lebih memastikan." Lanjut dokter itu lagi.
Sungguh ingin rasanya Sarah berteriak sekencang-kencangnya, ini tidak adil, kenapa harus putri kecilnya. Dia sungguh tidak rela, bagaimana bisa putri nya hidup dengan menanggung beban seberat ini.
"Bagaimana bisa dok, anak kami dinyatakan sehat saat lahir. Saya ada disana saat anak saya dilahirkan, Mereke menangis kencang, Dokter mengatakan bahwa kedua anak kami, dalam keadaan sehat tidak kurang satu apapun." Reegan pun tak kalah syok mendengar apa yang dokter itu katakan.
Meski Reegan sudah menduga, ada yang tidak baik-baik saja pada putrinya. Saat mereka mendatangi dokter spesialis anak, dokter itu malah merujuk mereka ke dokter spesialis mata. Kini terjawab sudah rasa penasaran nya. Hatinya pun hancur mendengar nya.
"Ya dok, saya mengalami kecelakaan dan mengakibatkan saraf tulang belakang saya cedera. Apa itu bisa mempengaruhi pada bayi saya, saya hamil kembar tiga eh bukan maksud saya dua, tapi salah satunya sehat dan baik-baik saja." Sarah menjawab cepat pertanyaan dokter tersebut, sebelum Reegan menjawabnya.
"Itu bisa jadi sebagai penyebab nya, namun untuk lebih jelas, putri ibu akan kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bisa dimulai hari ini, atau diskusi terlebih dahulu juga tidak apa-apa. Namun saya sarankan jangan terlalu lama, ada kondisi dimana jika kerusakannya dibiarkan terlalu lama, akan Sangat sulit untuk disembuhkan." Lanjut dokter itu lagi.
"Hari ini saja dok, gimana sayang, kamu setuju?" Reegan sangat tidak sabar, rasa bersalah semakin menumpuk dihatinya. Mungkinkah ini akibat siksaan yang dilakukan oleh Satria pada istrinya.
__ADS_1
"Ya aku ikut yang baiknya aja, gak apa-apa dok. Hari ini juga bisa dimulai prosedur nya. Apa kami harus mengurus rawat inap?" Sarah sudah pasrah, dia akan ikuti apapun yang dianjurkan oleh dokter, bahkan jika kedua matanya bisa dia berikan pada putrinya, akan dia lakukan.
"Untuk sementara dilakukan dengan cara rawat jalan saja. Jika hasilnya sudah keluar maka akan dilakukan tindakan, bisa operasi atau terapi. Tapi semoga saja bisa dilakukan dengan metode terapi saja." Jelas dokter itu lagi.
Setelah hampir satu jam melewati serangkaian tes pada putri kecil mereka, kini Reegan dan Sarah sedang duduk diruang tunggu depan ruang praktek dokter spesialis mata tersebut.
"Maaf." Hanya kata-kata itu yang bisa Reegan ucapkan, sejak tadi pria itu hanya diam. Reegan begitu tertekan sekarang, sepertinya hukumannya masih belum usai.
"Udah, Ree. Jangan minta maaf lagi, atau aku akan benar-benar marah sama kamu." Ucap Sarah fokus pada putri kecilnya, yang sedang menyusu pada botol susu nya.
"Jika memang harus operasi, aku akan kasih kedua mata aku sama adek. Aku gak akan biarin anak kita melewati hidup nya dengan suram. Perusahaan akan aku serah pada Bastian, anak paman Bagas. Mereka orang baik, Bastian sebentar lagi lulus kuliah, anak pertama paman itu perempuan, namanya Renata. Orangnya baik banget kamu pasti bisa langsung dekat sama dia." Reegan mengambil alih putri nya dari pangkuan Sarah, mencium kedua mata anaknya dengan sayang.
Air matanya mengalir deras, kenapa Tuhan tidak hukum dia saja, kenapa harus putrinya yang tidak berdosa. Dia benar-benar tidak sanggup membayangkan kehidupan sang anak, dimasa yang akan datang.
"Udah, Ree. Jangan gitu, kalo kamu udah serapuh itu, gimana aku sama adek. Kita masih punya kakak juga yang harus kita pikirkan." Ucap Sarah mengelus lembut punggung Pria itu. Mereka sama-sama terpukul dengan kenyataan itu, tapi harus ada salah satu diantara mereka, yang mampu menguasai keadaan meski dengan hati yang sama hancurnya.
__ADS_1