Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Detektif dadakan


__ADS_3

"Sayang, malam ini aku akan terlambat pulang. Tidak perlu menunggu ku, istirahat lah di kamar, jangan menunggu di sofa lagi. Itu tidak nyaman, badanmu akan sakit." Daniel berujar di sela Sarapan nya dengan sang istri.


Asha menghentikan sendoknya yang sudah akan masuk ke dalam mulutnya. Namun sesaat kemudian, wanita itu melanjutkan nya dan terlihat mengangguk pelan.


Sejak bangun pagi tadi, Asha memang irit bicara. Daniel pun hanya diam saja, entah karena tidak peka akan keadaan, atau tidak ingin memancing keributan.


"Kenapa jawabnya begitu?" Daniel nampak menuntut penjelasan.


"Tidak apa-apa, memangnya aku kenapa?" Asha balik bertanya dengan wajah polos.


Daniel menghela nafas panjang, istrinya ini semakin hari semakin aneh. Atau karena dirinya yang sedang menyimpan rahasia, sehingga gampang neting pada sikap ambigu orang lain. Tidak ingin memperkeruh suasana, Daniel tidak lagi bertanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ingin aku antarkan makan siang nanti" tawar Asha menyerahkan tas kerja Daniel, saat suaminya akan memasuki mobil.


Daniel terkesiap mendengar pertanyaan sang istri, "tidak perlu, maksudku, aku tidak ingin kau lelah. Istirahat lah dirumah, aku janji akan menelpon mu nanti siang. Aku berangkat dulu," Daniel mencium kening istrinya dengan sayang, jantung nya masih terasa maraton akibat pertanyaan Tiba-tiba sang istri.


Asha hanya mengangguk, dalam diamnya, hatinya meringis perih. Untuk pertama kalinya, Daniel menolaknya secara halus. Biasanya pria itu akan sangat senang, jika Asha datang mengantar kan makanan ke kantor nya. Tapi kali ini berbeda, Asha mencoba menahan sesak di dadanya tanpa banyak bertanya lagi.


Saat mobil Daniel sudah tak terlihat lagi, Asha menghubungi seseorang. Dari raut wajahnya, pembicaraan itu nampak sangat serius. Wajah teduh dan penuh senyuman yang di lihat oleh Daniel tadi, kini berubah datar, dingin dan tak tersentuh.


"Bi, aku akan keluar. Bibi tau apa yang harus bibi lakukan jika suamiku menelpon, tapi aku rasa Daniel sedikit sibuk hari ini. Jadi mungkin dia tidak akan menelpon kerumah." Asha berbicara pada bi Surti, dan hanya di balas anggukan oleh wanita paruh baya tersebut tanda mengerti.


Asha berjalan keluar, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu nya didepan gerbang.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa mengabari ku lebih awal," siapa lagi yang berani berkomentar tanpa melihat situasi selain Lumina. Nampak nya wanita itu sudah kebal dengan sikap dingin Asha.


"Apa seseorang harus mengatakan dulu, kapan dia akan mati agar para pelayat segera bersiap. Jika tau pun aku yakin, kau orang pertama yang akan menolak mati dengan cara apapun." Sarkas Asha menohok.


Lumina mendelik tak suka, perumpamaan yang wanita dingin itu gunakan, terdengar mengerikan di telinga nya.


"Bisa kau cari perumpamaan yang lebih manusiawi? semakin hari aku semakin stress menghadapi mu yang seperti ini." keluh Lumina melirik sebal pada sahabat disampingnya itu.


"Kita akan kemana? Jangan bilang mau membuntuti Daniel? aku sudah seperti detektif Conan saja, sangat tidak nyambung dengan profesi ku." Omel mulut lemes Lumina. "Aku sekolah desainer mahal-mahal di Paris, ujung-ujungnya menjadi seorang penguntit di tanah air." Omelnya berlanjut.


"Fokus saja pada jalanan, Mina. Aku tidak ingin mati dalam rasa penasaran, terutama mati bersamamu. Aku rasa, tidak akan ada satupun pintu surga yang akan menerima ku, jika datang ke sana berdua dengan mu." Tandas Asha semakin membuat tengkuk Lumina seketika terasa berat.


Bisa-bisa dirinya terserang stroke jika terus meladeni wanita es kutub itu. Lumina akhirnya fokus pada kemudi, dan jalan macet di depannya saja. Walau jiwa kepo nya meronta ingin bertanya banyak hal, terutama kemana mereka hari ini. Dia bahkan meninggalkan pekerjaan penting nya demi wanita datar itu, lihatlah bagaimana dia diperlakukan sekarang.


"Jangan mengumpat ku dalam hatimu, Mina. Kau bisa kualat pada ku nanti," ujar Asha penuh peringatan tanpa menoleh pada lawan bicara nya.


Pikirannya masih tertuju pada sang suami, kini dia berprofesi ganda. Selain menjadi seorang istri, dia pun berperan sebagai detektif dadakan.


Subuh tadi, Asha terbangun lebih dulu. Tanpa sengaja dia membaca pesan dilayar ponsel suaminya.


Pesan itu sangat menggangu nya, bagaimana tidak. Seseorang memanggil suaminya dengan sebutan daddy, dia yakin jika dia bertanya, maka suaminya pasti akan berkelit. Dan berujung pria itu akan lebih mawas diri padanya.


Untuk itu lah, dia membutuhkan bantuan Lumina, lagi dan lagi. Sahabat nya yang ceplas-ceplos dan ketus, namun Asha merasa nyaman dan aman jika bersama nya.


"Kita akan menunggu saja disini atau turun? kurasa bertanya pada sekuriti itu akan lebih membantu. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk mengintai suami orang lain, kurang kerjaan sekali." Gerutu Lumina tiada henti.

__ADS_1


"Pergilah bertanya, buat dirimu berguna, Lumina sayang." Perintah Asha tanpa peduli wajah Lumina yang sangat tidak enak di lihat.


"Ck! awas saja jika aliran di rekening ku tidak selancar air mengalir sampai jauh," omelnya lagi lalu keluar dari mobil, kemudian membanting pintu mobilnya dengan hati dongkol.


Klek


Lumina menghempas bokong nya di jok dengan kasar, lalu menceritakan apa yang dia dapat dari sekuriti tadi. Asha nampak berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul.


"Kita akan menyusul ke rumah sakit, aku penasaran wanita gila mana, yang sudah berani merampas perhatian suamiku." Putus Asha dengan seringai diwajahnya, lumina bergidik ngeri melihat nya.


Sepanjang perjalanan Lumina tampak gelisah, andai saja dia bisa menghubungi Daniel, jika istri lemah lembut nya. Kini sudah berubah menjadi singa betina yang menakutkan, namun sayang. Ponsel sialannya berada di dalam tas di jok belakang. Lumina berkali-kali menghela nafas pasrah.


"Mina? apa kau sakit, kenapa kau berkeringat padahal di dalam sini sangat dingin? Jika kau sakit, aku bisa naik taksi saja, tidak apa-apa, Mina." Ujar Asha lembut dan nampak sangat khawatir.


Lumina lagi-lagi dibuat takjub akan sikap Asha yang secepat kilat berubah, lihatlah wanita itu bertanya dengan wajah polos yang menyebalkan.


"Aku tidak apa-apa, jangan pedulikan aku, Sha." Balas Lumina tersenyum masam.


Setelah sampai di parkiran rumah sakit, Lumina semakin gelisah. " Mina? Jika kau tidak enak badan, aku akan masuk sendiri. Pulang lah, maafkan aku selalu melibatkan mu dalam urusan ku. Aku ambil alih disini, pulanglah, makan obat, lalu istirahat." Ucapan Asha malah membuat Lumina semakin cemas, apa maksud nya mengambil alih. Perasaan nya mulai tak enak.


"Tidak, aku baik-baik saja, Sha. Ayo, aku temani, akupun penasaran dengan wanita gila, yang berani mengusik hidup tenang sahabat ku ini." termasuk mengusik hari tenangku, dan membuat jantung ku bekerja keras hari ini lanjutnya dalam hati tentu saja.


Asha pun menurut saja, kedua wanita beda genre itu mulai memasuki lorong rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju ruangan, yang baru saja mereka ketahui dari resepsionis tadi. Lumina mencoba membuat beberapa cerita lucu, walau akhirnya terdengar garing bahkan ditelinga nya sendiri.


Akhirnya wanita itu menyerah, toh jika terjadi keributan, Daniel lah yang wajib disalah kan, bukan? Karena pria itu adalah pangkal masalah nya.

__ADS_1


__ADS_2