Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXII


__ADS_3

"Maaf, yah. Sarah kelamaan di rumah." Ucap Sarah sambil meletakkan barang belanjaan yang dia bawa.


"Nggak apa apa, tadi kamu ngerjain lukisan?".. Pak Ramdhan bertanya pada anak nya.


"Iya, yah, baru bikin sketsa nya aja. Nanti di lanjut lagi kalau ayah sudah keluar dari rumah sakit. Besok jadi kan, jadwal pasang ring nya?".. Tanya Sarah pada ayah nya, sambil merapikan pakaian bersih sang ayah, yang baru saja dia bawa dari rumah.


"Jadi, tadi dokter Reza udah kasih tau ayah prosedur nya gimana. Nggak usah takut katanya, di bius lokal aja, di area yang akan dibedah. Bedah nya juga bedah kecil hanya untuk memasukkan kateter nya aja, jadi nggak perlu khawatir. Ayah sudah siap." Jelas pak Ramdhan pada anak nya itu, yang terlihat raut cemas di wajah nya.


"Ayah makan dulu ya, pasti ayah bosan kan makan makanan rumah sakit dari kemarin. Sarah ada beliin ikan bakar gurame kesukaan ayah, ini juga ada sayur sop nya. Mau Sarah suapin apa makan sendiri? Pake tangan, tangan ayah yang di infus yang lengan atas kan, ini nggak apa apa kalo nekuk? Sakit nggak, yah?"..


"Nggak sakit, malah ayah bersyukur di infus nya di situ, jadi nggak ganggu aktivitas jari tangan." Iya, kemarin saat pertama di bawa kerumah sakit, kondisi pak Ramdhan sudah lemah sekali. Dia sudah merasakan sakit sejak 2 hari, namun karna tidak ingin merepotkan Sarah, pak Ramdhan lebih memilih untuk beristirahat saja dirumah. Namun siapa sangka setelah solat subuh, kondisi nya makin memburuk. Yang terpikir untuk di hubungi oleh nya hanya, kang Ujang, tetangga sebelah rumah nya.

__ADS_1


Kondisi nya yang sudah lemah itu, menyulitkan perawat untuk memasang infus, hingga akhir nya setelah berapa kali gagal, perawat memutuskan untuk memasang nya di pembuluh darah yang ada di lipatan lengan.


"Bawa sini, biar ayah makan sendiri, kamu juga makan sama sama ayah." Ucap pak Ramdhan bersemangat.


"Itu kamu beli apa, buat kamu?" Tanya pak Ramdhan melihat bungkusan yang baru akan di buka oleh Sarah.


"Nasi goreng teri yah, petai nya nggak ada. Susah nyari nya kata mas Diman, lagi nggak musim mungkin." Jawab Sarah tampak kurang bersemangat, pasal nya dia sangat suka dengan jenis makanan yang beraroma tajam itu.


"Begitulah kalau kita punya tetangga yang tidak punya sikap tenggang rasa, tidak patut untuk di contoh. Padahal siapa juga yang sering minta petai kita kalau sudah berbuah, belum lagi sayuran yang ayah tanam. Yang bilang minta sedikit aja buat sayur makan siang, tapi kalau udah ngambil, bisa untuk simpanan seminggu. Suka kesal aku tuh, tar kalau Sarah sudah punya uang lebih, Sarah mau tinggiin lagi pagar khusus yang sebelah rumah pak Dulah itu saja." Omel Sarah dengan kesal.


"Udah biarin aja, nggak enak sama pak Dulah. Beliau sering bantu ayah kalau lagi kesusahan, istri nya biar aja. Udah gitu memang tabiat nya, sama tetangga yang lain juga gitu. Jangan di hiraukan, bisa stress, kalau kita ikutin cara nya dia." Nasehat pak Ramdhan pada anak nya, dia tidak ingin Sarah semakin tidak menyukai tetangga nya itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana yah, rasa nya. Martabak manis nya Sarah beli yang deket minimarket depan rumah sakit. Yang tempat Sarah biasa beli lagi nggak buka, ini ayah mau nyoba sate nya, enak banget." Ucap Sarah sambil menyodor kan bungkusan yang berisi sate pada ayah nya.


"Satu aja, nyantap. Ayah udah kenyang makan tadi.


"Yah, kalau Sarah pisah sama mas Angga, apa ayah akan marah Sama Sarah?".. Ucap Sarah di sela-sela makan nya, Sarah berbicara dengan nada takut-takut.


"Hakikat nya pernikahan itu, saling melengkapi dan membahagiakan satu sama lain. Tapi jika sudah tidak merasa bahagia, tidak bisa saling melengkapi bahkan cendrung saling menyakiti. Sebaik nya di sudahi saja, jika tidak pun, di cari jalan keluar nya bersama. Tapi kalau usaha itu juga sudah tidak berhasil, jangan di paksakan. Yang menjalakan rumah tangga itu kamu dan Angga, baik buruk nya pasangan tidak perlu di umbar keluar. Jika memang berpisah adalah jalan yang terbaik, maka lakukan. Berhenti saling menyakiti demi mempertahankan sesuatu, yang sudah tidak layak untuk di perjuangkan. Itu egois, namanya."


"Ayah akan mendukung apapun keputusan kamu, ayah masih ada. Anak perempuan itu, tempat pulangnya ketika dia sudah tidak di butuhkan dirumah suami nya, adalah rumah ayah nya. Buat dirimu bahagia, kita memang orang tak punya, tapi ketidakpunyaan kita bukan alasan bagi orang lain untuk menginjak harga diri kita, hingga tak bersisa." Nasehat pak Ramdhan panjang lebar, dia juga ingin anaknya bahagia, sudah cukup tekanan selama 2 tahun pernikahan anaknya itu.

__ADS_1


Sarah tergugu di pangkuan sang ayah, yang masih setia mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Dia bersyukur kepada Tuhan, yang begitu baik sehingga mengirim sosok ayah yang sangat mencintai diri nya.


__ADS_2