
"Sorry bro, gue telat. Udah pesen makan belum." Reegan mendudukan diri di pojok sofa, lalu mendudukkan Kira di sampingnya disusul Sarah juga Killa.
Anak itu terus menatap tajam pada Kira, dia tidak suka ayahnya di ambil alih oleh orang lain.
"Kira mau pesan apa nak? Steak mau, enak. Nanti ayah potong-potong. Minumnya susu putih gula aren, ya gak sih namanya." Ujar Reegan semangat. Sudah hampir sebulan dia memberikan minuman tersebut pada putrinya.
Menurut Marissa, istri sahabatnya, Bastian. Minuman itu bagus untuk menaikkan berat badan anak, Selain susu juga minuman pertumbuhan yang sehat. Gula aren juga bisa meredakan asam lambung. Putrinya menderita penyakit lambung yang lumayan serius untuk anak seusianya, sering meringis diam-diam kala nyeri lambungnya kambuh.
"Boleh yah, tapi pake nasi ya." Ujar Kira memelankan suaranya malu-malu.
"Ya, pake nasi. Mas dengarkan, anak saya minta tambahan nasi, trus minumnya. Susu putih dikasih gula aren, bisa gak?"
"Bisa pak, nanti di buatkan. Dikasih kental atau encer aja?" Balas Waiter tersebut ramah.
"Agak kental, tapi jangan kental banget, intinya gak kental gal encer. Udah, gitu aja. Oya Dessert nya juga, yak cocok buat putri cantik saya ini." Ujar Reegan lagi tanpa berniat menanyakan apapun yang Killa ingin pesan.
Membuat wajah anak itu semakin masam. Sekali lagi, Reegan tak peduli. Cukup sudah selama ini, dia menuruti semua yang anak itu perintah kan layaknya pelayan.
Satria hanya menatap Reegan dengan tatapan tak terbaca, miris memang. Dulu pria itu begitu mendewikan putrinya itu, bahkan mengalah untuk melakukan apa yang diinginkan gadis kecilnya. Demi membuat anak itu senang, atau lebih tepatnya, agar anak itu bungkam walau hanya untuk sesaat.
"Sar, yakin cuma pesen itu aja. Bukannya kamu ada hipertensi, pesen yang menunya ayam deh, atau steak salmon aja. Steak salmon aja mas, steak dagingnya tetep jadi, tapi jadi menu pesanan saya. Ayam goreng geprek sambel matah, nasi 4 porsi, ayam bakar tambah ya dua porsi. Yang kuah-kuahnya, sop iga bakar sambel goreng hati pake pete kalo ada. Minumnya, juice alpukat dua, jeruk nipis sama satu. Udah itu aja." Tanpa ucapan terimakasih, tanpa senyuman. Begitulah Satria.
"Killa mau pesan apa nak?" Si lembut hati mulai mengambil alih situasi.
"Aku ayam goreng kremes gak pake nasi, roti bakar stroberi, minumnya Juice stroberi juga. Itu aja, aku gak rakus kok bun." Ujar anak itu seperti menyindir seseorang dimeja tersebut.
Reegan melengos kesamping, lebih baik menatap putri cantik nya dari pada terbawa emosi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau di panggilin sekarang, gak?"
"Boleh, anak gue udah ngantuk nih." Diusapnya rambut Kira dengan lembut. Padahal mata anak itu cerah tak berkabut sedikit pun.
"Halo Jo, bawa masuk. Ruangan yang gue sebut tadi masuk aja gak usah pake nanya lagi." Klik
Bos gak ada akhlak, main klik gak pake basa basi dulu. Membuat Tejo kesal bukan main, ingat jo, bos selalu benar😁
"Ayo masuk gak usah pake dibenerin segala, cantik juga kagak." Entahlah, Tejo jadi emosi sendiri melihat wanita itu. Apa karena hasrat nya yang belum bisa tersalurkan, atau bagaimana. Hanya Tejo yang paham.
"Cerewet lo kaya banci, mau aja jadi kacung tuh laki-laki. Dasar kacung murahan!" Sasa terus menghardik Tejo selama dimobil tadi, wanita itu merasa bosan. Begitupun dengan Tejo, namun demi rupiah yang mengalir deras ke dalam rekening nya. Tidak masalah, toh hanya duduk diam sambil ngemil enak roti bakar coklat oreo dan coffee latte. Semua aman terkendali.
"Gak usah dorong-dorong, gue bisa jalan sendiri. Jangan sentuh gue ngerti gak lo." Emosi Sasa mulai terpancing lagi.
"Dah sampe, masuk sono." Dengan hati tak senang, Tejo mendorong Sasa masuk sampai wanita itu hampir terjatuh.
Kelima orang didalam ruangan private tersebut serentak menoleh. Membuat Sasa hampir kembali kabur, setelah tau siapa yang ada di hadapannya. Untung saja Tejo sigap berjaga di depan pintu ruangan tersebut.
"Duduk lo, mau kemana? Lo gak pengen nyapa anak kandung lo ini." Ujar Satria menatap Sasa tajam lalu bergantian melirik Killa.
Killa yang mulai paham situasi tiba-tiba merengek minta pulang.
"Bun pulang yuk, Killa ngantuk, kaki Killa juga Tiba tiba pegel, nyut-nyut. Ayuk bun, kita pulang." Ujar gadis kecil itu hampir menangis.
Sasa berjalan pelan menuju bagian sofa kosong disamping Satria, persis Menghadap kearah Killa.
__ADS_1
"Killa? Ini mama nak." Ujar wanita itu dengan suara bergetar. Bagaimana pun Killa anak kandungnya, tentu saja ikatan batin itu tetap ada.
"Ibu? Ibu apa kabar?" Si baik hati, Kira masih menyapa wanita berhati iblis itu dengan penuh perhatian.
Sasa mulai menyadari sesuatu, ternyata Reegan sudah menemukan anak nya, sejak tadi dia hanya fokus pada Killa saja. Sehingga tidak memperhatikan keberadaan anak itu.
"Ngapain kamu nanya-nanya saya. Senang kamu bisa kembali sama orang tua kamu, udah ngerebut apa yang anak saya punya. Dasar gak tau diri, udah di besarin gak tau balas budi. Tukang rebut kaya ibu kamu yang gak tau malu ini." Oh oke Sasa, kamu sedang memancing ikan di air keruh.
"Siapa yang lo bilang tukang rebut, gak tau balas budi dan gak tau malu itu, hah!?" Reegan reflek berdiri dari duduknya, berteriak pada Sasa. Membuat Sarah dan Killa terlonjak kaget, namun tidak dengan Kira. Suara seperti itu sudah makanan nya sejak bayi, andai dia sudah paham.
"Anak setan ini sama wanita gak tau malu didepan gue ini. Kenapa lo, gak terima?!" Sasa benar-benar sudah menantang maut sekarang.
"Gue gak mau basa basi sama lo, buang-buang waktu aja. Itu anak lo, bawa pergi. Gue udah gak sudi besarin anak ****** yang gak jelas siapa bapaknya." Reegan berusaha menekan emosi nya, dia memikirkan perasaan istri dan putrinya jika dia meladeni wanita itu adu mulut. Akan banyak kata-kata menyakitkan lain yang akan wanita itu ucapkan.
"Killa gak mau yah-bun, Killa anak ayah sama bunda, bukan perempuan ini. Killa gak mau, pokonya gak mau." Histeris anak itu mulai pada kelakuan asalnya.
"Gue mau Terima dia asal kasih semua harta yang seharusnya Killa dapat kan, secara hukum dia anak kandung kalian. Artinya dia juga punya hak yang sama dengan anak-anak kalian yang lain. Gue ingin, rumah, mobil, setengah saham perusahaan lo dan tabungan Killa selama menjadi anak lo. Gue mau, 1Triliun. Tunai." Permintaan tak tau malu itu meluncur lancar dari mulut Sasa. Sungguh wanita tidak tau malu yang sesungguhnya.
"Killa gak mau yah, gak. Wanita ini gila, Killa bukan anaknya. Bukan, ayo pulang bun, Killa cape. Kembali kan Kira aja, dia cocok sama perempuan itu, sama-sama gembel." Oh, Killa kamu benar-benar menambah masalah menjadi semakin runyam sekarang.
"Lihat, anak ****** tetap selamanya begitu. Mulut dan otak nya sangat susah di didik dengan baik. Liat anak gue, walau dalam asuhan ****** kaya lo, tapi kelakuan nya berakhlak. Jelas bibitnya."
"Bun, serahin Killa sama wanita gak tau malu itu. Dan untuk semua permintaan nya, tidak akan dia dapatkan sepeserpun. Sat, lo urus sisanya, sesuai apa yang sudah kita bahas kemaren. Ayo kita pulang, Kira anak kandung kita udah ngantuk."
Reegan menggendong putri kecilnya, lalu mendorong pelan bahu Sarah agar keluar dari baris sofa tersebut. Dia sudah tidak tahan berada disana, andai tidak ada anak dan istrinya. Dia pasti kan mulut wanita itu akan hancur dibuatnya.
Sementara Killa sudah menangis histeris, dia tidak mau ditinggalkan dengan wanita itu. Walaupun itu ibu kandungnya. Satria yang sudah paham, mengambil bagian ny. Ditahan nya tubuh kecil Killa agar tak mengikuti Reegan dan Sarah keluar. Walau hatinya juga tak tega, namun itu tetap harus dilakukan. Andai Killa bisa berdamai dengan keadaan, mungkin sekarang anak itu masih duduk manis di singgasana nya yang nyaman. Sayang anak itu tidak pandai bersyukur.
__ADS_1