Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XCII


__ADS_3

"Maas.. aku.. sampai..." Racau seorang wanita di sebuah kamar petak, tak jauh dari area hiburan malam tersebut.


"Bersama.. sayang.. Terima ini.." Hentakan kuat dan dalam disertai erangan panjang itu, penanda jika perbuatan nikmat penuh dosa tersebut telah usai.


"Ha..ha.. hahh... Mas.. Kamu gila ya." Cerca wanita tersebut pada pasangan kencan nya.


"Kalau aku hamil bagaimana? Gak mikir kamu itu." Lanjutnya masih dengan nada kesal.


"Itu bagus, artinya aku bisa bawa kamu keluar dari tempat kumuh ini. Apa uang yang aku kasih selama ini kurang, sampai kamu tetap memilih tinggal ditempat seperti ini." Balas sang pria tak kalah kesal. Berkali-kali meminta wanita itu pindah dari, hanya penolakan yang dia dapat.


Resikonya jatuh cinta pada wanita penghibur, walau wanita itu sudah tidak melayani pria manapun lagi. Tetap saja dia ingin Wanita pindah dari sana, ikut bersama nya lalu menikah. Dia tidak peduli pada masa lalu wanita itu, baginya dirinya pun manusia penuh dosa. Adil bukan? Dia tidak mencari wanita sempurna, namun bersama nya, mereka sama-sama saling menyempurnakan.


"Gak bisa mas, udah berkali-kali aku bilang. Ada hal yang menahan aku harus tetap disini, aku belum bisa ngasih tau kamu." Ujar wanita itu untuk kesekian kalinya. "Atau kalau aku kasih tau alasan aku, apa mas mau terima." Tanya sang wanita menantang.


"Memangnya apa alasan kamu sampe gak bisa milih ikut aku, Dara?" Pria itu balik bertanya dengan nada jengkel.


"Ini mas, aku gak bisa ninggalin dia sama Sasa. Masa depan dia akan sama dengan Sasa atau kami semua, aku gak tega mas. Aku udah jaga dia sejak dia bayi merah. Aku sayang, mas. Sayang Banget, sama besarnya dengan rasa sayang aku sama kamu. Aku gak bisa milih mas, sulit. Tolong mengertilah." Dara menyerahkan ponselnya pada kekasihnya itu.


"Liatin dulu, mas. Baru gitu aja kamu udah bersikap kaya gitu." Dara memaksa Satria untuk melihat ke arah ponselnya.


Dengan terpaksa Satria melihat apa yang coba kekasihnya itu perlihatkan. Kedua mata Satria hampir meloncat keluar, bagaimana tidak gadis kecil itu seperti duplikat Keyra, gadis kesayangan nya. Bagaimana bisa, apa Reegan pernah meniduri wanita lain selain Sarah. Tapi mengingat betapa bucinnya pria itu, rasanya mustahil. Tapi yang namanya manusia, bisa saja khilaf, dosa terdalam seseorang siapa yang tau.

__ADS_1


"Siapa anak kecil ini, katakan Dara? Siapa?" Entahlah, Satria tiba-tiba merasa emosional. Apapun yang berhubungan dengan Keyra nya, selalu membuat emosi nya serasa di rollercoaster.


"Mas, kamu nyakitin aku. Lepasin mas, sakit." Rintihan kesakitan Dara menyadarkan Satria, pria itu melihat arah tangannya yang tengah mencekik wanita itu.


"Maaf sayang, maaf. Kamu gak apa-apa, aku benar-benar gak sengaja. Aku tadi..." Satria menjeda ucapannya, ketika terdengar suara ketukan pintu.


Pria itu menatap wajah kekasihnya, dengan tatapan bertanya. Mungkinkah kekasihnya itu masih menerima pelanggan lain, selain dirinya. Akan dia bunuh pria itu jika benar.


Satria bergegas memakai boxer nya tanpa memakai baju, pria itu mengambil pistol dibalik celana jeans yang dia pakai tadi.


"Mas, kamu itu mau ngapain sih. Biar aku aja yang buka. Simpan lagi pistol kamu itu, mungkin temanku mau minjam sesuatu. Kamu bakal bikin dia takut nanti." Ujar wanita itu mengomel sambil memakai pakaiannya, tanpa menggunakan dalaman.


"Ya sebentar, gak sabar banget sih." Gerutu wanita itu kesal, belum lagi sang kekasih yang terus mengekori nya dari belakang. Membuat wanita itu sedikit frustasi.


"Ya bentar ada apa si...." Wanita itu mematung menatap siapa yang mengetuk rumahnya tengah malam buta.


"Kiraa, astagaa. Sini masuk, kamu ngapain malam-malam begini keluyuran hujan-hujanan kaya gini, hmmm?" Dengan telaten wanita itu mengelap wajah anak itu dan merapikan rambutnya.


"Ganti baju dulu, ayo mama Dara mandiin. Kamu hangat ini, astaga Sasa. Gak punya otak banget sih tu orang. Pasti Kira disuruh ngemis lagi, sampe malam-malam kaya gini masih diluar." Cerocos wanita itu tanpa henti, sementara Satria terpaku ditempatnya berdiri.


Anak kecil itu, bagaimana bisa begitu mirip dengan Keyra Kecilnya dulu. Ingin sekali Satria bertanya banyak hal pada kekasihnya itu, namun melihat wanita itu terus mengomel membuatnya ciut.

__ADS_1


"Sini, duduk sini. Mama Dara tarokin minyak kayu putih. Ini kamu kenapa bisa sampe ujan-ujanan begini.?"


"Ibu marah, Kira cuma bawa pulang uang 71rb. Katanya gak cukup, Kira disuruh kerja lagi, kalo gak dapet banyak gak boleh pulang kaya biasa." Jelas gadis kecil itu membuat hati Satria seperti tercubit. Orang tua gila mana yang tega menyuruh anak sekecil itu, bekerja hingga larut malam.


"Trus kenapa gak langsung kesini aja, kok malah pergi ketempat lain dulu. Lain kali kalo disuruh ngemis sampe malam lagi, jangan mau ya. Biar uangnya mama Dara yang kasih. Bohong aja bilang hasil ngemis atau mulung. Kira masih ikut mulung juga gak.?"


"Masih, mama Dara. Kira mulung di gunung sampah yang tinggi itu, banyak teman, Kira sering dikasih makan sama orang-orang dirumah kardus. Makan singkong rebus pake terasi pedas, enak banget. Kira suka." Ujar gadis kecil itu sumringah, seolah apa yang dia ceritakan adalah makanan super nikmat ala restoran bintang 5.


"Itu namanya sambel terasi, Kira. Bukan terasi pedas. Kamu jangan sering-sering makan terasi, nanti keringat kamu bau. Anak mama Dara cantik gini kok bau terasi sih, gak banget. Gak usah mulung sama ngemis juga, nanti mama Dara kasih kamu 100rb sehari. Nanti kasihnya yang uang recehan, biar ibu kamu yang gila uang itu gak nyuruh kamu kerja sampe malam-malam begini." Obrolan ala kedua wanita beda generasi itu, disimak baik-baik oleh Satria.


Ada perasaan hangat yang menjalar didalam hatinya, sekeras itu perjuangan hidup gadis kecil dihadapan nya ini. Membuatnya malu pada dirinya sendiri, memilih pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Agar hidupnya mapan.


"Trus mama Dara dapat uang dari mana? Ibu bilang kalo ibu gak ngangkang gak dapat duit. Mama gak gitu kan, kata mbok dirumah kardus itu omongannya jelek. Gak boleh tau artinya, nanti Kira besar tau sendiri katanya." Astaga, ingin sekali Satria menembakkan peluru nya menembus otak wanita tak berakhlak itu. Bagaimana bisa anak sekecil itu, sudah diracuni pikirannya dengan perkataan-perkataan kotor.


"Ya ampun ibu kamu itu, emang otaknya udah rada-rada rusak. Jangan di dengarin, itu omongannya jelek. Benar kata mbok dirumah kardus, Kira gak boleh tau artinya. Bisa bikin lidah putus, jadi Kira jangan ngucapin kata-kata kaya gitu lagi ya." Seburuk-buruknya dia, tidak akan tega pada anak sekecil itu.


Hanya saja dirinya tidak seberuntung wanita lain, sekolah tinggi dan punya karir yang bagus. Ayah nya yang serakah itu, menjualnya seminggu sebelum dirinya ujian kelulusan. Dara remaja diberi obat perangsang berdosis tinggi, agar mau melayani para pria hidung belang.


Dirinya dijual ditempat pelacuran itu, hingga akhirnya setahun yang lalu bertemu dengan Satria. Saat tidak sengaja menolong pria itu bersembunyi dari kejaran musuh-musuh nya. Dari situ benih cinta mulai tumbuh pada pria tampan itu, namun dirinya selalu merasa tidak pantas. Sampai akhirnya Satria berhasil meyakinkan Dara, agar percaya pada ketulusan cintanya. Darapun dia beli dari seorang mucikari dirumah pelacuran itu, namun wanita itu tidak mau pindah dari daerah tersebut.


Kini Satria tau alasannya, rasa sayang yang besar pada gadis kecil itulah yang menahan sang kekasih, untuk tetap berada disana.

__ADS_1


__ADS_2