
Joice sedang pencitraan, sejak beberapa menit yang lalu kakak dan kakak iparnya yang tak berakhlak itu, mengajaknya untuk membantu mereka memasak. Padahal mereka tau, Joi paling tidak suka berkutat di dapur.
Alasan mereka mengajak nya tak lain tak bukan adalah, agar bisa mengintrogasi adik bungsu mereka itu.
"Kak udah ih, ini kakak aja yang lanjutin. Aku males, ngantuk." Joi mendorong adonan bakwan yang dia aduk atas perintah sang kakak, Delia.
"Yaelah dek, tiban aduk aja loh padahal. Ini kakak nuang tepungnya gimana kalo sambil ngaduk." Entah kenapa semua kakak laknat nya itu, mendadak tidak bisa bekerja di dapur tanpa bantuan nya. Biasanya mereka akan langsung mengusir Joi dari sana, bahkan baru mencium wangi gadis itu dari jarak beberapa meter.
Kebiasaan Joi yang asal comot makanan, dan duduk di atas meja dapur lah yang membuat para kakaknya dongkol. Namun hari ini, Joi seakan begitu penting untuk hadir di dapur tersebut.
"Biasanya bisa aja loh, kok tiba-tiba pada manja gini. Curiga aku tuh, ada batu di balik kepiting" Joi memicing kan kedua matanya, tatapan penuh kecurigaan dia lempar kan pada saudara-saudaranya.
"Ish mana ada begitu, kami hanya merindukan mu. Kau kan sudah 2 hari menginap di kota." Elak Jeslyn.
"Itu lehermu kenapa dek?" tanya Debya jahil lalu menaik turun kan alisnya.
"Apaan sih, ini tuh di gigit serangga tau" dalih Joi salah tingkah, padahal dia sudah menyamarkan nya tadi waktu di mobil. Joi melirik kaca di lemari dapur, hanya terlihat samar, kakak-kakak nya saja yang iseng. Menelisik lehernya hingga sedemikian rupa.
"Iseng banget sih, aku ke kamar ah. Males di interogasi para detektif receh" ujar Joi melangkah kan kakinya, namun saat akan melewati pembatas ruang makan. Teguran sang ibu membuat nya urung.
"Bantu masak sana, malu sama Jovan" bisik sang ibu yang tidak terdengar berbisik. Nyatanya Jovan yang sedang duduk di ruang keluarga pun mendengarnya.
"Ibu ih, apa hubungannya dengan pak Jovan" balas Joi sedikit ngegas.
"Joi.." suara bariton sang ayah membuat nyali Joi ciut. Segalak-galaknya sang ibu, tetap Daniel lah yang paling di takuti oleh Joi. Sikap lembut nya, justru membuat anak-anak Daniel lebih disegani dan di takuti oleh anak-anak nya. Meski begitu, anak-anak Daniel tersebut sangat menyayangi sang istri.
"Ishh, ini karena kakak sama ibu nih. Aku jadi lepek di dapur" keluh Joi sambil mendudukkan dirinya di kursi kayu.
"Joi, bangun ih. Bantu iris kan timun buat lalapan, daun selada nya juga sekalian, udah ibu cuciin." Titah Kira beruntun. Joi memutar bola matanya malas.
"Aku jadi nyesel pulang kerumah kalau gini, masa aku udah dandan maksimal berakhir di dapur sih." Joi tak henti hentinya mengoceh kesal.
"Udah ngomelnya, sini kakak bantuin." Delia turun tangan membantu sang adik, membuat wajah Joi sedikit cerah.
"Manja" ledek Jeslyn.
"Iri bilang sista" Joi balas meledek, pasal nya tadi, Delia sedang membantu Jeslyn memotong daging.
"Idih, aku tidak yaa." Sanggah Jeslyn tak terima.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara makan malam kali ini sedikit berbeda, dikarenakan ada calon anggota baru di sana. Jovan. Pria itu di perlakukan istimewa oleh keluarga Daniel. Karena di anggap sebagai juru selamat bagi anak bungsu mereka, Joi.
__ADS_1
"Makan yang banyak, Van. Ini ada bantuan tangan Joi tadi, jadi wajib nambah. Soalnya jarang-jarang Joi mau ke dapur" ujar Jesen tertawa pelan. Lirikan maut Joi pada kakaknya seolah tatapan senang bagi para keluarga nya.
"Kakak apaan sih. Biasanya juga aku masak sendiri kalo mau makan" sanggah Joi sebal.
"Ya masak mie instan, Joi paling jago." Ledek Jeslyn mengompori.
"Issh, berasa anak pungut aku tuh kalau begini" Joi mulai mendramatisir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Diem dulu Joi, aku masih kangen." Jovan menginap dirumah Joi karena sedang hujan lebat, Daniel tidak ingin terjadi sesuatu di jalan jika Jovan memaksa pulang.
Dan kini, pria itu sedang mencuri kesempatan ditengah malam buta. Untuk memasuki kamar Joi, saat gadis itu tertidur lelap.
"Aku gerah ih, lepasin atau aku teriak nih" ancam Joi tak di gubris oleh Jovan.
"Kalau kau teriak, aku jamin, besok pagi, kita sudah jadi sepasang pengantin baru." Ujar Jovan enteng.
"Bapak mau apa sih sebenarnya, pacar bukan, teman bukan keluarga apalagi." Cecar Joi semakin kesal.
"Aku ini calon suami masa depan mu, Joi. Tadi papa sama ibu udah kasih restu. Kelar ujian kelulusan, kita langsung nikah. Aku sudah melamar mu tadi walau belum resmi. Nanti aku akan bawa orang tua ku kemari, untuk melamar kan mu untuk ku." Jelas Jovan panjang lebar.
"Ih, siapa juga yang mau nikah sama bapak. Pede Banget jadi orang" ketus Joi.
"Yakin tidak mau?" tanya Jovan menyelidik.
"Kan bisa sambilan Joi, aku mau kita nikah nanti pas habis kelulusan SMA. Aku tidak mau lama-lama seperti ini, aku mencintaimu, Joi. Sangat." Tegas Jovan menatap sendu pada Joi, dia tau umur Joi masih sangat muda untuk membahas tentang pernikahan. Namun dia takut gadis itu akan berubah pikiran, dikampus akan ada banyak lagi pria yang akan menjadi saingan nya. Dia tidak ingin kecolongan, Joi miliknya, dan akan selalu seperti itu.
"Kenapa bapak tiba-tiba seperti ini, kemarin aja bapak suka ketus dan galak sama aku. Apa karena kejadian kemarin malam? Kalau karena itu tidak usah sampai menikah. Aku tidak akan menuntut bapak apa-apa." Joi menatap Jovan yang juga tengah menatap nya dengan tatapan sulit di Jabar kan.
heppmmm, bungkaman tiba-tiba Jovan membuat mata Joi melotot. Dibalik cahaya remang kamar nya, Joi masih bisa melihat dengan jelas wajah penuh nafsu Jovan.
******* Jovan turun keleher jejang Joi, pria itu mengecap namun tidak meninggalkan jejak baru. Dia takut Joi diintrogasi oleh orang tua nya.
Sementara tangannya sudah bergerilya, hingga akhirnya mendarat sempurna di kain segitiga Joi. Entah sejak kapan, piyama satin Joi terangkat hingga leher. Joi yang memang tidak biasa tidur menggunakan br*a, dadanya menjadi santapan lezat bagi Jovan.
"Paak.. jaangan gini.. aku takut.." Jovan menghentikan aktivitasnya lalu menatap Joi sayu.
."Aku pengen yang, aku tidak mau munafik.. Boleh ya, aku janji ini sudah tidak sesakit kemarin.." Jovan mendarat ciumannya di bibir mungil Joi, lama-lama Joi pun terhanyut.
Kini posisi kedua nya sudah naked, Jovan tengah bermain lidah disela paha Joi. Joi yang baru pertama merasa kan sensasi aneh itu, hanya bisa menahan suara nya agar tak berisik.
"Paak aku,, mau pipis..udaah... hah hah hahh..." nafas Joi terengah-engah, Jovan menyeringai puas.
__ADS_1
"Kau puas baby, apa pipismu kali ini terasa nikmat?" Pipi Joi bersemu merah, Jovan mengecup bibir Joi lalu kembali menatap nya.
"Aku masuk yaa..." Joi hanya mengangguk walau masih was-was. " Milik Joi terasa penuh sesak, sedang kan Jovan memejamkan kedua matanya dan mendesis nikmat. Pria itu memompa perlahan untuk memberikan sensasi nikmat pada Joi.
"Paak.. aakh.." Joi memekik setiap kali merasakan hentakan kuat dari Jovan.
"Panggil aku sayang.. Joi.. aochh kau nikmat yang.. aku suka milikmu.." Jovan terus meracau, merasakan remasan kuat di milikinya.
"Paaak.. aku.. mau pipis lagi..." Desah Joi kesekian kali nya.
"Sayang panggil aku sayang..." Jovan sengaja menghentikan gerakannya, membuat Joi kesal.
"paak" rengek Joi.
"Panggil aku sayang dulu, Joi." Jovan menunduk lalu melahap dada menantang Joi.
"Akh.. sayaang.. lanjutkan, aku mau pipis enak lagi" suara sensual Joi membuat Jovan tersenyum penuh kemenangan. Dengan tenaga penuh, Jovan Kembali menghentakan pinggulnya.
Tak lama tubuh Joi menegang untuk kesekian kalinya.
Jovan membiarkan Joi menikmati pelepasan nya, sambil bermain di puncak dada Joi yang masih belum keluar. Maklum baru di garap oleh Jovan.
"Kau puas sayang?" tanya Jovan merapikan rambut Joi. Joi hanya mengangguk pelan, perasaan malunya sedikit berkurang.
"Sekarang kau mau coba sensasi baru?" Jovan Kembali bertanya nakal, Joi kembali mengangguk. Jovan mengangkat tubuh Joi tanpa melepas kan penyatuan. Membawa tubuh Joi ke sofa, setelah sampai Jovan melepaskan penyatuan mereka.
"Taruh lututmu disini sayang, kalu pegangan di sandaran sofa." Jovan mengarahkan posisi Joi sesuai yang dia inginkan. Setelah dirasa pas, Jovan menarik pelan pinggul Joi kebelakang. Lalu mengarahkan milik nya, Joi mengerang begitu juga Jovan. Sungguh nikmat batin keduanya.
"Kau suka sayang? aku selalu ingin mengagahimu di meja kelas seusai jam sekolah selesai. Nanti bisa kita coba, kau mau hmm?" Jovan mengerakkan pinggul nya pelan, dia tidak ingin buru-buru.
"Mau.. seperti nya akan beda..." dengan nafas terputus-putus Joi menanggapi pertanyaan Jovan. Jovan tersenyum senang.
"Kau mulai liar, aku suka.. Kau milikku, jangan lupa itu.. hanya aku yang boleh memasuki mu..." Ujar Jovan lalu menepuk pelan bokong sintal Joi.
Suara lenguhan bersahutan didalam kamar Joi, kini Joi sudah menjadi gadis liar milik Jovano.
"Terimakasih kasih yang, aku harap kau segera hamil. Agar tidak perlu kuliah" ujar Jovan dengan nafas tersengal-sengal.
Joi mendelik sebal, namun tak membantah. Tubuhnya terasa remuk, Jovan mempraktekkan berbagai gaya padanya yang masih pemula. Tentu saja Joi kewalahan.
"Cape yang? maaf, abis kau nikmat sekali rasanya, aku ketagihan. Aku tidak sabar menanti hari Senin, aku mau mencoba bercinta di dalam kelas bersama mu."
"Isshh apaan sih, tidak mau ah. Ketahuan bagaiamana" tolak Joi kesal.
__ADS_1
"Tidak akan, nanti aku suruh satpam jaga di depan pintu. Si Dimas" kekeh Jovan.
Dia tau otak mesum remaja 17 tahun itu sebelas dua belas dengannya, dengan iming-iming nilai yang bagus. Dimas tidak akan menolak.