
Klekk... "Say... Eh, maaf pak, saya tidak tau kalau bapak ada tamu. Kalau begitu saya permisi dulu." Dada Lusi berdegub kencang, hampir saja dia ketahuan memanggil bos nya dengan sebutan, sayang.
"Itu sekretaris kamu yang baru, kok nggak ada sopan santun nya gitu masuk ruangan kamu. Apa memang sudah biasa gitu?".. Ucap bu Risma dengan tatapan penuh selidik.
"Eh, nggak lah. Mama apa apaan sih, itu juga baru pertama, Lusi masuk ruangan aku nggak ngetuk pintu dulu." Ucap Angga salah tingkah, sungguh dia ingin mengumpati perempuan itu, sudah lancang masuk ke ruangan nya dengan tidak sopan. Seperti nya dia harus tegas pada wanita itu mulai sekarang, terlalu lama di biar kan semakin melunjak saja kelakuan nya.
"Kenapa kamu jadi gugup, gitu? Mama memang nggak pernah suka sama istri kamu, tapi mama juga lebih nggak suka lagi, kalau kamu berhubungan dengan seorang ******. Ingat Ngga, posisi kamu di perusahaan ini masih belum utuh dan kuat. Kamu lengah sedikit, perusahaan ini akan di ambil alih oleh paman kamu yang serakah itu." Ucap bu Risma penuh peringatan.
"Angga nggak gitu lah ma, mama tenang aja. Jangan mikirin aku apa lagi urusan perusahaan, fokus sama Sindy aja, biar kuliah yang bener. Dan lagi bukan nya Bobi juga sedang ada masalah sama istri nya, mama fokus aja ke Bobi, semangatin dia. Pasti kan hak asuk anak nya kita yang dapat, dan jangan sampai sepeserpun istri nya mendapat kan harta gono-gini mereka." Ujar Angga panjang lebar.
"Kamu benar, kita harus cari pengacara yang hebat. Hak asuk Alfi harus jatuh ke tangan kita, apa lagi kamu belum juga ngasih mama cucu sampai sekarang. Alfi jangan sampai lepas dari kita, apa pun cara nya" Ucap bu Risma menggebu-gebu.
__ADS_1
Meski jengkel dengan kalimat soal cucu dari nya yang belum kunjung hadir, namun demi keamanan bersama, Angga lebih memilih diam.
"Ingat, Ngga. Akhir bulan depan, jika sampai lewat dari waktu yang mama kasih. Suka tidak suka kamu harus menikah lagi, dan kali ini kamu tidak boleh menolak lagi seperti waktu kamu menolak Sari, dan malah memilih menikah dengan wanita mandul itu." Ucap bu Risma lagi dengan wajah kesal.
"Iya, ma. Terserah mama saja, lalu bagaiman dengan Sarah. Nggak mungkin aku langsung menceraikan dia tanpa alasan yang jelas." Jelas Angga agar sang ibu mengerti kondisi nya.
"Itu urusan kamu, kamu sudah menangani istri kamu selama 2 tahun. Sekarang giliran mama yang mencarikan kamu kebahagiaan yang nggak bisa Sarah berikan sama kamu." Ujar bu Risma tak ingin di bantah.
"Iya, sudah. Malam besok datang lah ke rumah mama, mama ngadain jamuan makan malam dengan keluarga Miranda, sekalian kamu bisa berkenalan langsung supaya kalian bisa lebih cepat akrab." Ucap wanita paruh baya itu, sambil berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari anak nya.
Angga hanya bisa melongo mendengar ucapan sang ibu, bukan kah ini belum masuk bulan yang di deadline kan oleh ibu nya. Kenapa jadi harus secepat ini, dia bahkan belum bertindak apapun, untuk mencari alasan untuk menghindari ide menikah lagi dari sang ibu. Kini dia sudah akan di hadap kan, dengan orang yang akan di jodoh kan dengan nya. Belum lagi Lusi, jika wanita nekat itu tau. Entah lah, kepala Angga terasa mau pecah memikirkan nya.
__ADS_1
Klekk... "Mas, kamu kok nggak ngabarin aku sih, kalau ibu kamu datang berkunjung, kan aku bisa pakai baju yang sopan trus nggak main nyelonong masuk ruangan kamu gitu aja." Cecar wanita itu panjang kali lebar, menambah pusing di kepala Angga.
"Lagian kamu itu sudah berkali-kali aku bilang, kalau di kantor ya fokus dengan kerjaan kamu aja, jangan kebiasaan keluar masuk ruangan aku tanpa aku suruh. Kalau sudah gini, mama pasti nggak akan suka sama kamu." Angga memang berniat mengenalkan Lusi pada ibu nya, dia yakin Lusi bisa dia kendali kan jika menikah dengan nya.
Tentu saja dengan cara membungkam wanita itu dengan uang dan kekuasaan nya. Dia akan menjadi kan lusi istri kontrak nya sampai wanita itu hamil dan melahirkan anak nya, lalu setelah itu akan dia cerai kan. Dan Sarah akan tetap menjadi istrinya, merawat anak nya dan hidup bahagia. Begitulah rancangan hidup, yang sudah Angga persiapkan dengan matang, sebelum Lusi dan ibu nya mengacaukan semua nya.
"Harus nya kamu kasih tau aku dong, jangan nyalahin aku gini, biasa nya juga aku masuk kamu nggak pernah marah. Senang-senang aja, malah aku sering kamu kangkangin di ruangan ini kalau kamu lagi pengen." Ucap wanita itu asal, karena hati kesal sudah di salahkan oleh kesalahan yang menurutnya tidak sengaja itu.
"Astaga Lusi, keadaan lagi genting gini kamu malah ngomongin ************ sih. Bantu aku mikir dong, kamu gimana sih." Ujar Angga kesal.
"Mending kamu keluar deh, aku pusing kalau kamu ngoceh trus. Nggak bisa mikir aku kalau di cecar mulu." Usir Angga pada wanita itu, dia sedang butuh waktu sendiri. Kepalanya seperti mau pecah sekarang.
__ADS_1
"Terserah!".. Wanita itu keluar dengan membanting pintu, hampir membuat Angga terkena serangan jantung.