
Suara derap langkah menuju kearah ruang bersalin dimana Joi berada, membuat langkah Jovan terhenti. Amelia dengan wajah sejuta kepanikan, Joi adalah tanggung jawabnya dan sang suami. Gadis itu resmi menyandang gelar yatim piatu sejak dua bulan yang lalu, otomatis Amelia merasa bertanggung jawab penuh untuk apapun yang terjadi pada Joi.
"Bagaimana menantu mom, Vano?" wajah pucat Jovan menjelaskan segala nya, Amelia tidak lagi bertanya.
"Apa yang dokter katakan, son?" Edwin yang meskipun bertampang datar, namun jauh di dalam lubuk hati nya. Memendam kecemasan yang luar biasa. Joi sudah seperti putri bungsu baginya, gadis itu masih terlalu muda untuk melakukan persalinan normal. Sementara ada tiga bayi di dalam rahimnya.
"Joi sudah pembukaan 6 saat sampai beberapa menit yang lalu, mom," Jovan menatap sang ibu dengan wajah berlinang air mata. "Maaf kan Jovan karena selama ini tidak pernah mendengar kan nasihat mom dan dad. Ampuni segala kesalahan Jovan, dan maaf telah menjadi anak yang tidak berguna... Jovan... menyesal.." Ucap Jovan tergugu memeluk kaki sang ibu dan menciumi nya tanpa perasaan jijik. Amelia mematung, beberapa detik kemudian Amelia tersadar saat melihat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.
Dengan lembut Amelia menarik putranya "Vano.. jangan seperti ini nak, kau anak mom dan dad, kami bangga memiliki mu. Tidak ada yang salah denganmu, kau hanya belum menemukan jalan pulang yang benar'. Lihatlah sekarang, kau terlahir menjadi seorang Jovano Rines yang baru. Kau kebanggaan kami, kebanggaan anak-anak mu. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, ingat nak. Maaf tidak membuat hati yang terluka pulih dengan utuh dan sempurna. Jadilah ayah dan suami yang hebat untuk anak-anak mu kelak." Amelia menciumi wajah anaknya dengan perasaan haru.
"Ayo masuk, temani istri mu di dalam.. kenapa kau malah diluar sini" Cecar Amelia yang sudah kembali pada mode galaknya.
"Tadi dokter menyuruh ku menanyakan stok darah di PMI, ini aku baru kembali saat mom dan dad datang." Jelas Jovan tidak ingin tanduk rusa sang ibu keluar disaat genting seperti ini.
"Ya sudah, masuk sana, temani istri mu." Jovan melangkah masuk namun suara sang ibu menghentikan nya. "Jika Joi sudah tidak kuat, operasi saja, dia akan tetap menjadi ibu yang sempurna." Nasihat sang ibu hanya diangguki oleh Jovan.
Jovan Kembali melangkah masuk ke ruangan bersalin dengan perasaan was-was "Mi, maaf didi lama. Diluar ada mom dan dad yang lain masih diperjalanan." Joi hanya bisa mengangguk lemah, matanya terasa berkunang-kunang. Sakit yang dia alami sungguh luar biasa.
"Aku..tidak..kuat lagi..di di" suara lemah Joi membuat jantung Jovan ikut melemah, Air mata sudah mengalir deras.
"Maaf yang, semua ini karena aku. Kalau sudah tidak kuat, kita operasi saja ya? mau? mom juga meminta nya tadi." Jovan mencium tangan Joi berkali-kali. Hati Pria itu dilanda ketakutan luar biasa.
"Sudah pembukaan 9, di. Tanggung.." Tiba-tiba Joi merasakan ada yang meletus dari inti nya, tak lama cairan mulai keluar dari sana Joi panik Jovan jangan di tanya lagi. Pria itu berteriak histeris melihat banyak air menetes kelantai.
Dokter dan perawat pun bersiap, seorang dokter sudah duduk didepan kedua kaki joi yang direntangkan.
"Siap bu ya, ikuti instruksi saya... tarik nafas dalam-dalam, tahan... ngeden bu... sedikit lagi, itu kepala nya sudah terlihat... ya pintar, begitu, terus. tarik nafas nya jangan cepat-cepet... nanti ibu kelelahan............." Joi seakan tuli, rasa sakit menjalar hingga ke tulang-tulangnya.
__ADS_1
Jovan menahan naafasnya berkali kali saat sang istri sekuat tenaga, mendorong anak-anak nya keluar. Berkali-kali kata maaf dikumandangkan Jovan ditelinga sang istri. Entah sudah berapa liter Air mata pria itu keluar untuk menangisi kesakitan istri nya.
Suara tangisan bayi ketiga akhirnya terdengar, hati Jovan membuncah tak dapat digambarkan. Namun saat menoleh kembali pada sang istri, nafas Jovan benar benar tercekat, jantung nya berdegup kencang tak terkira. Mata Joi terpejam sempurna, sementara Dokter tengah sibuk mengeluarkan ari-ari bayi nya.
"Dok istri saya kenapa?" tanya Jovan dengan suara bergetar. Tangannya menepuk pelan pipi Joi yang masih tak merespon nya. "Mimi, bangun yang, jangan seperti ini, didi takut..."
Dokter mengambil alih Joi dan meminta Jovan sedikit menjauh, walau awalnya menolak namun demi keselamatan sang istri. Jovan mundur mendekati boks bayinya. Lutut nya terasa lemas, namun sekuat tenaga Jovan berdiri tegap.
Dapat dia lihat bagaimana dokter menekan dada istrinya berkali-kali, Jovan tidak kuat lagi. Pria itu tersungkur dilantai, Jovan merutuki keegoisan nya. Andai saja dia tidak egois, mungkin sekarang istri nya baik-baik saja. Suara tangis ketiga bayinya menyadarkan Jovan. Bergegas Jovan bangkit walau kaki nya masih terasa lemas.
"Akhirnya... selamat kembali nyonya muda Rines.." ujar seorang dokter tersenyum lega, dia tau siapa Joi. Yang merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempat nya bekerja. Sementara kedua kakaknya tidak sedang berdinas hari itu.
Jovan melangkah dengan kaki gemetar, menuju brankar istri nya. "Bagaimana istri saya dok?"
"Ibu Joi sudah baik-baik saja, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, beliau hanya kelelahan dan itu wajar. Kondisi nya akan membaik setelah beristirahat sebentar, lalu setelah itu bisa pindah ke ruangan. Melahirkan tiga bayi sekaligus di usia semuda ini, adalah hal yang luar biasa. Bapak patut bersyukur, karena telah dipertemukan dengan wanita sehebat ibu Joice. " Jelas sang dokter tersenyum simpul.
Dalam benaknya bersumpah, tidak akan pernah menyakiti hati wanita nya, Jovan rela menukar hidupnya agar Joi dan anak-anak nya bahagia.
"Pak, bayinya tidak ingin di gendong?" seorang perawat berdiri di samping Jovan dengan satu bayi ditangannya. Jovan mengernyit heran, kenapa hanya ada satu, bukan kah anaknya ada tiga.
Seolah paham dengan kerutan dahi Jovan, si perawat menjelaskan jika kedua bayinya yang lain sedang tertidur di dalam boks bayi.
"Hati-hati kepalanya, pak. Begini saja, " perawat itu menginstruksikan tangan Jovan agar bayinya merasa nyaman dalam dekapan sang ayah.
Saat bayi nya sudah dalam dekapannya, Jovan merasa kan gelayar yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Desiran hangat mengalir dalam hatinya.
"Hai girl, terima kasih sudah terlahir ke dunia ini sebagai anak didi dan mimi. Kau dan kedua saudara mu, akan didi curahkan kasih sayang yang tak terhingga. Didi akan menjaga kalian dengan seluruh hidup yang didi punya. Kalian punya mimi yang hebat, kelak hargailah dia lebih dari kalian menghargai dan menyayangi didi. Didi sayang kalian, triplets, forever." Bulir bening menetes tanpa permisi, Jovan telah benar-benar berubah menjadi pria yang cengeng sekarang.
__ADS_1
Pria arogan itu, kini telah menjadi seorang ayah dari tiga bayi sekaligus. Kebahagiaan yang tidak pernah dirinya rencana kan dalam hidup nya, namun kini dia sangat mensyukuri hukuman yang awalnya terasa seperti berjalan diatas bara api. Memikirkan biaya hidup berfoya-foya nya, yang hanya mengandalkan gajih seorang guru yang notabene tidaklah seberapa. Namun Kini, Jovan bangga akan profesi nya, gajihnya yang diawal dia rasa tidak akan cukup seminggu. Kini dia mampu menghidupi serta istri nya. Dan sekarang bertambah dengan kehadiran ketiga buah hati nya.
Jovan menjadi orang yang sangat menghargai setiap sen yang dia hasilkan, sesekali dia membantu di perusahaan sang ayah. Dan bonus yang dia dapat selalu dia tabung, tanpa mengambil nya sepeser pun.
Eeuugghhh
Jovan duduk di kursi disamping ranjang istri nya, Joi berusaha membuka matanya yang terasa berat.
"Didi? aku sudah melahirkan ya?" tanya Joi polos, karena dia melihat perutnya yang sudah mengempis.
Jovan tersenyum lembut lalu mencium kening istrinya. " ya ini, satu sama didi yang lain pada bobo, tuh di boks. Mimi udah enakan belum? mau minum dulu tidak?" meski belum di jawab Jovan menuju meja, ada dua kotak sari 🥜 hijau. Kemudian memberikan nya pada sang istri.
"Didi sudah lincah gendong anak kita, emang aku tidur berapa lama?" Joi merasa dirinya tertidur cukup lama.
"Tidak lama, mungkin ada setengah jaman, sengaja belum dipindahkan supaya mimi istrahat dulu. Tadi abis dibersihkan sama dokter dibiarkan dulu katanya. Ibu Joi nya butuh banyak istrahat untuk memulihkan energi." Seloroh Jovan panjang lebar, Joi pun ikut terkekeh pelan.
"Perih di? kayanya tadi robek ya?" wajah Joi meringis menahan rasa nyeri.
"Tadi dokter bilang,di gunting, buat bantu jalan lahir triplets. Ada 8 jahitan, mungkin itu yang nyeri, sabar ya yang. Dan maafin didi ya, kalau bukan karena didi, mimi tidak ngerasain sakit kaya tadi juga sekarang." Jovan menatap sang istri dengan mata berkaca-kaca. Joi menghentikan minumnya, lalu meletakkan diatas nakas di samping nya.
"Aku tidak apa-apa, kok di. Aku malah merasa bangga tau tidak? di umur aku baru mau 18 tahun, aku udah jadi ibu. keren kan? sekarang istri nya pak guru Jovan cabul, udah jadi Wanita seutuhnya. Jadi jangan mewek-mewek lagi, didi jadi cengeng ssjak aku hamil. Bawaan deh kayanya," Seloroh Joi mengusap air mata sang suami.
Jovan cemberut mendengar namanya di tambah oleh sang istri, Jovan cabul? apa-apaan istrinya ini. Untung sayang, pake Banget malah.
Joi terkekeh pelan sambil menekan perut bawahnya yang terasa sedikit kontraksi.
Klek
__ADS_1