Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Aku tak mau kau kenapa-napa


__ADS_3

"Jeeslyyynn, Jesseen, Jeviieeerr..!" Suara teriakan seorang wanita menggema mengalahkan deru ombak.


"Ck! tidak bisakah aku bermain dengan tenang sebentar saja" sungut seorang bocah berusia 4 tahun.


Justin hanya menggeleng pelan, putri nya itu memang sedikit keras kepala. Namun dia sangat menyayangi nya.


"Pulanglah duluan, ibu jika sudah memanggil akan terus mengulang panggilan nya sampai kalian kembali. Ayah akan mengikat ini dulu, ikannya biar ayah yang bawa, itu berat." Mendengar nasihat sang ayah, lagi-lagi Jeslyn mendengus kesal.


"Jevi, Jesen? pulanglah bersama kakak kalian." Perkataan Justin tidak mendapatkan protes dari kedua anak itu, Justin tersenyum melihat keduanya yang begitu penurut.


Selama 4 tahun ini, hidup mereka di liputi kebahagiaan yang sempurna. Anak-anak yang sehat dan cerdas. Meski jarang bergaul bersama anak-anak lain, namun ketiga anak Justin itu terlihat sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.


"Di mana ayah kalian?" Kira celingukan menatap pintu dapur. Wanita itu terlihat sedang memasak untuk makan malam mereka.


"Ayah sedang mengobrol dengan ikan duyung yang cantik, dan tidak galak seperti ibu." Jawab Jeslyn sekenanya.


Kira mendelik tak suka dengan ucapan anak sulung nya itu. Jevier yang melihat gelagat akan adanya peperangan, antara kedua wanita kesayangan nya itu segera menyela.


"Ayah masih mengikat jala, bu." Jelasnya meluruskan kalimat usil sang kakak.


"Ibu masak apa?" Jesen yang terlihat lebih montok diantara para saudaranya, berusaha menggapai atas meja namun tetap tidak sampai.


"Ibu masak ikan sungai yang di dapat ayah kemarin" jawab Kira seraya mengangkat tubuh montok si bungsu.


"Sayang, sini aku saja yang menggendong nya." Justin yang baru datang terlihat panik melihat sang istri menggendong Jesen yang jumbo.


"Ayah dapat ikannya banyak sekali, nanti malam kita barbeque an di belakang" Ucap Kira sumringah. Lalu membawa ikan hasil tangkapan Justin ke wastafel, untuk di cuci kembali dan dimasukkan ke dalam wadah.

__ADS_1


"Duduk disini dulu ya, ayah akan membersihkan badan sebentar." Justin mendudukkan Jesen di kursinya di meja makan yang tak jauh dari sana.


"Jev, jaga adikmu sebentar ya" Justin tau jika anak perempuan nya itu suka sekali menjahili adiknya.


"Baik yah." Jevier duduk di kursi disamping sang adik lalu mengajak menusun puzzle.


"Dasar bayi gendut" ucap Jeslyn meledek.


"Aku tidak gendut!" seru jesen dengan mata berkaca-kaca, " ibuu, lihat kakak meledek ku terus." Adu nya pada sang ibu.


"Jeslyn!" Ujar Kira datar.


"Aku tidak meledek nya, dia kan memang gendut, masa aku bilang kurus. Ibu dan ayah bilang tidak boleh berbohong, Kenapa aku jujur jadi salah sih" gerutu Jeslyn protes.


"Ya anak ayah tidak salah, hanya saja caranya yang salah. Mengatai orang seperti itu tidak baik, fisik seseorang tidak boleh di hakimi. Itu bukan sesuatu yang bisa di jadikan gurauan, Oke. Ayo minta maaf pada adikmu," Nasihat Justin lembut sambil mengusap rambut hitam sang anak dengan sayang.


"Maaf, Jesen. Makanya kau harus kurangi makan, biar badanmu tak besar." Justin hanya bisa menarik nafas panjang, mendengar celotehan permintaan maaf yang jauh dari ekspektasi.


Justin menatap punggung sang istri, yang masih belum mau menoleh untuk menolong nya.


"Bukan begitu juga maksud ayah, sayang. Kemarilah," Justin mendudukkan Jeslyn di pangkuan nya. Justin kembali menarik nafas dalam lalu menghela nya perlahan.


"Dengar kan ayah, ada dimana suatu kondisi tidak perlu harus selalu kita perjelas. Misalnya, saat kau selalu memanggil adikmu, gendut atau besar seperti sekarang ini. Kita hanya cukup tau saja, tanpa harus mengomentari nya. Kata-kata kita yang terdengar biasa, namun bisa menyakiti hati orang lain. Kau mengerti maksud ayah, Jesy." Justin menatap netra polos anaknya yang tampak sedang memikirkan perkataan nya.


Justin beruntung, anak-anak nya adalah anak-anak yang cerdas. Mereka mampu mencerna situasi dan kondisi tanpa harus di jelas kan bertele-tele.


Jeslyn kemudian mengangguk paham, "Jesen, maafkan kakak ya. Mulai sekarang kakak tidak akan memanggil mu gendut atau besar lagi. Hanya Jesen saja, ya Jesen terdengar lebih baik." Jeslyn turun dari pangkuan sang ayah dan menghampiri adiknya.

__ADS_1


Tangan mungil Jeslyn di sodorkan pada sang adik.


"Maafkan kakak yaa" Jesen hanya mengangguk lalu kedua berpelukan. Jevier pun ikut serta dari belakang, memeluk kedua saudara nya dengan penuh kasih sayang.


Kira menoleh dan menatap suaminya dengan mengedipkan matanya. Menunjuk apresiasi nya atas keberhasilan sang suami, yang entah untuk keberapa kalinya, berhasil memberikan pengertian pada Putri mereka.


Justin berjalan ke arah sang istri dan memeluknya dari belakang, di elusnya perut Kira yang mulai membuncit. Kira hamil anak kedua mereka, meski Justin sudah mewanti-wanti, agar Kira tidak hamil lagi. Masih terbayang di benak Justin, bagaiamana perjuangan Kira melahirkan anak pertama mereka hingga tak sadarkan diri. Melahirkan di rumah bukanlah pilihan sebenarnya, namun ternyata ketiga anak mereka sudah tidak sabar utuk berjumpa sengan kedua nya.


Kira melahirkan subuh hampir menjelang pagi, dan hanya di bantu oleh bidan desa dan juga Justin.


Jiwa Justin seperti ditarik keluar dari raganya, saat melihat istrinya tergolek lemas saat berhasil melahirkan Jesen. Namun bidan mengatakan jika Kira hanya kelelahan saja, tidak perlu khawatir. Namun tetap saja dia tidak bisa tenang.


Dia menyaksikan sendiri, detik demi detik anak-anak dilahirkan melalui inti sang istri. Inti yang baru sebulan terakhir ini, dia sentuh kembali setelah sekian tahun lalu.


Dia melihat bagaimana bidan menggunting dan kemudian menjahitnya tanpa di beri bius sama sekali. Hatinya sangat sakit dan sesak. Jika mengingat dosanya di masa lalu, saat dirinya merenggut paksa harta berharga sang istri. Lalu di oper pada teman-teman nya tanpa perasaan.


"Adek ngapain di dalam sini, udah mulai besar yaa. Padahal baru 2 bulan, kan?" tanya Justin sambil terus mengusap lembut perut istrinya.


"Ya, kaya waktu hamil si triplets. 2 bulan udah kaya 4 bulan. Aku curiga kita bakal dapat kembar lagi," balas Kira lalu mematikan kompor dan berbalik menghadap sang suami.


Dapat dia lihat perubahan raut wajah suaminya, terlihat cemas dan tertekan.


"Kenapa? aku gak apa-apa kalau dapat kembar lagi, artinya kita masih di percaya sama Tuhan untuk merawat anak. Syukuri, aku akan baik-baik saja. Kali ini aku akan menego padaa bayi kita, agar lahirnya di rumah sakit saja." Kekeh Kira mencairkan suasana.


"Aku takut." ungkap Justin jujur. "Aku takut kau lemes lagi seperti waktu itu, aku ketakutan setengah mati. Aku tidak mau kehilangan mu, sayang." Ujar Justin dengan wajah sendu.


"Aku kuat, dulu karena aku sakit perut nya malam hari, aku ngantuk tapi tidak bisa tidur. Makan juga tak bisa karena nahan sakit, jadinya lemes gitu." Jelas Kira menenangkan. Kehamilan nya ini berkat tipu muslihat nya, dia sengaja tidak mengkonsumsi pil penunda kehamilan di saat dia sedang subur.

__ADS_1


Dia ingin Justin merasakan memiliki anak kandung nya sendiri, walau selama ini, pria itu selalu mengatakan dia tidak lah masalah. Ketiga anak mereka adalah anaknya, hanya dialah ayah nya.


"Janji ya, kuat-kuat saat lahiran nanti. Aku tak mau kau kenapa-napa. Aku akan selalu berdoa agak persalinan mu di mudahkan , dan anak kita sehat kau juga selamat." Ujar Justin terdengar seperti sebuah pesan ditelinga Kira. Namun dia segera menepis pikiran negatif nya. Justin nya akan baik-baik saja, dan menemani nya membesar anak-anak mereka hingga dewasa. Dia sangat menyayangi pria itu, walau tidak bisa di bilang cinta. Karena hatinya sudah beku untuk yang namanya cinta.


__ADS_2