
Seorang wanita tengah duduk bersandar di kursi nya, sambil menatap titik-titik embun di jendela kaca di samping nya. Diluar sedang gerimis kecil, cuaca yang dingin seolah mewakili sikapnya yang dingin dan tak tersentuh. Sesekali dia membuat lukisan abstrak secara acak, seperti sedang menggambarkan suasana hatinya yang tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Sebuah suara sapaan yang mengganggu pendengaran nya, membuyar lamunannya. Kemudian diapun menoleh sekilas lalu kembali membuang tatapan ke arah jendela. "Kenapa sangat lama?" cetusnya tanpa menatap. Pandangan nya masih sibuk menelisik jalanan, yang nampak hiruk-pikuk penuh kendaraan berlalu lalang.
"Ada urusan mendadak. Seorang pelanggan protes pada butikku soal jas yang dia pesan tidak sesuai atau apalah. Sudah, aku tidak ingin membahas nya." Balas nya tak kalah ketus.
Kemudian pandangan nya menelisik ke atas meja, hanya ada satu gelas jus dan sepiring steak daging serta sepiring pisang keju. Wanita itu menghela napas penuh drama, kejam sekali pikirnya. Tidak kah wanita di hadapannya itu, sedikit berinisiatif memesankan nya meski hanya sekedar air mineral.
"Kau tidak memesankan ku sesuatu? Astaga! minuman pun tak kau pesankan, dasar tidak punya perasaan." Cecar nya kesal.
"Kau tidak meminta nya, lagi pula aku datang bukan untuk menjadi tukang pesan makanan untuk mu." Jawabnya acuh, masih bergeming dalam posisi yang sama. Nampaknya suasana di luar lebih indah untuk di pandang, daripada makhluk yang ada di hadapannya ini.
Lumina berdecak sebal, "harus nya aku berlama-lama saja di butik tadi," gumamnya pelan namun masih terdengar jelas.
Sebuah delikan membunuh dia dapat kan atas ucapan, Lumina nampak kikuk. Mengerikan sekali, batinnya. Bulu kuduknya sampai merinding ngeri. bagaimana bisa wanita berparas sangat anggun, serta memiliki pesona dan kecantikan di atas rata-rata ini, bisa begitu menakutkan. Bahkan hanya dengan tatapan nya saja, membuat nyalinya ciut seketika.
"Maaf," cicit Lumina takut, wanita itu mengusap tengkuknya salah tingkah.
"Jadi, informasi apa yang ingin kau sampai kan padaku, Mina?" tanya nya to the point masih tanpa menoleh sedikit pun.
Lumina tersentak dan hampir saja tersedak potongan pisang keju, yang di comot dari piring wanita dingin itu.
Setelah meneguk air mineral yang kebetulan dia bawa dalam tasnya, Lumina berdecak kesal. " Ck, harusnya tunggulah sampai makananku di cerna lambung, kebiasaan. Selalu saja tak pernah basa basi," dengus Lumina dongkol bukan main.
Namun hanya reaksi datar dan acuh yang dia dapatkan.
"Aku kemari bukan untuk berbasa-basi, Lumina." Penekanan kata yang terlontar dari wanita itu, membuat Lumina semakin tak bernyali.
"Ini, lihatlah sendiri!" ketusnya terlihat menantang walau hati nya ketar ketir.
__ADS_1
Lalu mengangsur sebuah USB OTG ke arah wanita menyebalkan didepannya tersebut.
Tanpa banyk bicara, tangan mungil itu meraihnya, Kemudian menyambungnya ke ponsel. Beberapa saat jari kecil itu tampak sibuk mengotak-atik sesuatu di layar. Lumina hanya acuh melihat nya, wanita itu lebih fokus pada makanan nya, yang baru saja mendarat sempurna di atas meja.
"Menteng Square, yaa..." gumamnya pelan sambil trus menggulir ponselnya.
Lumina yang mendengar gumaman itu pun menyela, "itulah yang aku dapatkan. Yakin akan melakukan nya sendiri? pria itu tinggal di sana sendirian, terkadang membawa beberapa perempuan dan satu wanita tetapnya. Semacam patner ranjang langganan atau apapun itu. Namun info yang aku peroleh, semua nya akurat dan teruji lapangan." Jelasnya bangga dengan hasil penyelidikan nya tanpa di minta.
"Kunyah makanan mu dengan benar, Lumina. Aku tak ingin berurusan dengan jasad orang mati karena tersedak, sangat tidak keren."
Bukan pujian atas hasil kerja kerasnya selama sebulan ini yang dia dapatkan, melainkan kata-kata sadis tak berperasaan. Lumina menyendok makanannya dengan kasar, hingga menimbulkan suara gaduh. Kesal pada wanita dingin dan datar itu, sama saja membunuh diri sendiri secara perlahan.
"Kau lihat pisau steak ku, Mina? kau bisa pilih ujung mana, yang kau ingin aku gunakan untuk melempar kening lebarmu itu." Ujar nya semakin kejam, Lumina hampir saja menelan serta sendok nya akibat kembali tersedak.
Dengan perasaan jengkel, Lumina menghempas sendoknya dalam piring. Tanpa peduli tatapan aneh dan kesal orang-orang di sekitar mereka.
"Jangan mengumpat ku!" lalu menggesernya begitu saja USB OTG ke hadapan Lumina.
"Aku sudah selesai! Pertemuan ini tidak pernah terjadi, ini untuk membayar makanan ku. Juga makanan mu... " Ditatapnya porsi makanan Lumina lalu berdecak kagum, "makanan mu yang porsi kuli itu. Habiskan! jangan membuang uangku percuma" lalu menaruh beberapa lembar uang merah diatas meja, mata Lumina bersinar cerah. Niat hati ingin membalas perkataan laknat sahabat nya itu, seketika sirna tak berbekas.
"Kalau begini kan aku senang," lalu meraih uang tersebut dan menaruh nya secara asal ke dalam tasnya.
"Pulanglah! aku akan menghabisi makanan ku ini. Oya, punya mu juga masih tersisa banyak, sayang kalau tidak di makan. Steak ini mahal, aku terpaksa harus menghabiskan ini juga." Tanpa menunggu persetujuan, Lumina menumpuk sisa steak itu ke dalam piring nya.
Gelengan salut terlihat jelas oleh Lumina, namun wanita itu seolah tak melihat apa-apa. Hingga sampai suara langkah kaki itu mulai menjauhi mejanya, Lumina menghentikan makannya. Di tatapnya punggung kecil wanita dingin itu, dengan perasaan campur aduk.
Sungguh dia tidak ingin melakukan ini, namun tidak punya cukup alasan untuk menolaknya. Atas nama sebuah persahabatan, dia rela menantang maut bagi dirinya sendiri, juga sahabat nya yang lain. Dia sangat menyayangi sahabat nya itu, sangat! Hingga tak bisa melakukan apa-apa, saat dirinya harus terlibat ke dalam misi berbahaya tersebut.
Lumina hanya berharap, apa yang dia lakukan sekarang, tidak akan dia sesali di kemudian hari. Dalam hatinya tak henti melafalkan kalimat-kalimat doa, agar sahabat nya baik-baik saja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah Asha terhenti saat melihat tatapan seorang pria di hadapannya, "Sayang, kenapa jam segini sudah dirumah? Apa kau rindu pada istri mu ini, hmm?" ujar Asha lembut seraya mendekati suaminya dengan langkah pelan.
"Dari mana?" tanya Daniel datar.
Asha menatap heran pada suaminya, jangan katakan jika suaminya itu pulang secepat ini karena ingin menanyakan dari mana dirinya.
"Minimarket depan komplek, lihat ini. Aku membeli beberapa kebutuhan wanita, dan beberapa cemilan. Aku suka lapar tengah malam, di kulkas sudah tidak ada stok jadi aku berinisiatif sekalian membelinya saja." Jelas Asha panjang lebar sambil memperlihatkan belanjaan nya.
Wanita itu menarik pelan pergelangan tangan sang suami, tanpa peduli jika pria itu tengah marah padanya. Memang apa salahnya, begitu lah pikirnya.
"Lihat, aku membeli ini semua," ujarnya sembari mengeluarkan satu persatu barang, dari dalam plastik berlogo sebuah minimarket berwana biru tersebut. "Jangan bilang kau pulang, karena tau aku pergi keluar rumah seorang diri?" tanya Asha dengan wajah menyelidik.
Daniel terlihat gugup, "ti..dak yang benar saja. Tidak seperti itu, pekerjaan ku tidak banyak hari ini." Elak Daniel salah tingkah. "Karena itu aku bisa pulang lebih cepat, aku merindukan mu, sayang." Ujar Daniel memeluk pinggang kecil sang istri dari belakang. Dia sebisa mungkin menyembunyikan wajah kikuknya dari Asha.
Istri nya itu, selalu bisa membuat nya mati kutu. Harusnya dia yang marah karena wanita itu pergi tanpa mengatakan padanya, bahkan ponselnya nya pun tidak dibawa. Hingga Daniel tidak bisa melacak keberadaan sang istri, membuat daniel ketakutan setengah mati. Kinerja jantung nya saja masih belum stabil, kini bertambah oleh tuduhan tepat sasaran dari istri nya.
Daniel masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, aroma vanilla menyeruak rongga hidungnya. Damai dan menenangkan. Itulah yang daniel rasakan sekarang, sensasi seperti ini selalu bisa menetralkan kecemasan nya yang berlebihan.
Dani mendongak, menatap sang istri daei samping dengan wajah yang sudah lebih tenang.
"Jangan begini lagi, aku cemas saat menelepon pun tapi malah di angkat oleh bibi. Aku hampir gila saat tau, kau keluar tanpa di temani oleh siapa pun. Kau bisa mengajak bi Surti lain kali jika ingin berbelanja, jangan seperti ini lagi. Bisa?" Daniel memaparkan isi hati nya lalu mencoba bernegosiasi agar istri nya tak merasa di kekang.
Berbelanja dengan bi Surti membuat hatinya bisa sedikit lebih tenang, orang suruhan nya bisa menjaga dari jauh. Namun kejadian hari ini membuat nya benar benar merasa kecolongan, bagaimana bisa istrinya tak bisa di temukan, di sudut manapun minimarket tadi.
Daniel mulai merasa, jika istri nya itu sedang menyimpan suatu rahasia darinya. Namun sikap tenang dan polosnya selalu saja mampu mematahkan persepsi Daniel. Lihatlah sekarang, tanpa merasa bersalah dan dengan wajah tanpa dosa. Wanita itu bahkan terlihat biasa saja, tanpa sedikitpun terlihat raut kegugupan atau semacamnya.
Daniel benar benar frustasi dengan pemikiran nya sendiri yang sungguh mengganggu.
__ADS_1