
"Kalau begitu, nikahi aku dengan sah, aku tidak ingin menjadi istri keduamu" Tuntut Kira dengan wajah seriusnya.
"Tentu saja, hanya kau dan anak-anak. Wanita itu hanya butiran debu, yang akan ku lenyapkan dengan mudah." Daniel kembali menyuapi roti ke mulut Kira. Wanita menyusui pasti gampang lapar pikir nya. Apalagi Kira harus menyusui dua bayi sekaligus.
"Boleh aku bertanya satu hal?" Daniel teringat akan putranya, Kirel.
"Katakan. Tapi jika tentang Kirel, aku sudah membuat keputusan. Dari awal Kirel tau, jika aku adalah ibunya. Maka selama nya biarkan tetap seperti itu, aku menyayanginya juga. Walau baru bertemu, Kirel sudah membuat ku menyukainya sejak awal berjumpa." Kira seperti dapat menebak arah pertanyaan Daniel.
"Kau sudah mendahului ku rupa nya," senyum Daniel semakin lebar, "berarti kita punya banyak anak sekarang, ada 6 orang anak. Aku beruntung sekali, terimakasih sayang." Daniel mendekat lalu mencium kening Kira penuh perasaan. Lalu beralih pada bayi yang baru saja melepas puncak dada sang ibu.
Daniel mencium pipinya gemas, "aku akan memindahkan nya ke boks" Daniel mengangkat tubuh mungil Delia dari pangkuan Kira, setelah kembali menutup dada Kira dengan kain yang melorot tertarik tangan mungil Bya. Pipi Kira bersemu merah, lalu mengancingkan bajunya kembali. Kebiasaan nya sejak punya anak, menyusui sambil berbaring lalu tertidur.
Justin lah yang akan memindahkan bayi mereka dan mengancing kembali baju tidur nya. Semenjak punya anak, rasa malunya lenyap entah kemana pada suaminya. Bahkan dia begitu santai menyusui anak-anaknya, sambil duduk bersantai bersama sang suami. Begitu lah jika orang sudah menikah, yang terpenting adalah anak-anak tumbuh sehat sempurna. Tanpa memikirkan bagaimana bentuk payu*da*ra mereka, juga garis-garis halus di beberapa bagian tubuh yang menggangu penglihatan.
"Begini saja sudah cantik, aku tidak perlu istri yang mulus, bentuk pa*yu*dara yang indah, perut rata dan halus. Karena semua wanita itu cantik pada dasarnya, hanya saja pengorbanan mereka lah yang membuat mereka rela, mengorbankan tubuh indah dan mulus serta pa**yu*dara mereka dijejali oleh asi yang melimpah ruah. Aku menyukai semua yang ada padamu, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jangan mencemaskan bentuk tubuh dan dadamu yang kau bilang kendor itu, aku tidak suka kau menghina pabrik makanan anak-anak ku. Aku mencintaimu sepaket lengkap tanpa sedikitpun perasaan ku didiskon." Kelakar Justin panjang lebar seusai mereka berbagi peluh. Kira tersenyum getir, dia merindukan Justin nya. Matanya berkaca-kaca.
Daniel yang peka menghampiri nya, dan memeluk kira dengan sayang.
"Menangislah jika kau merindukannya, itu sewajarnya. Dan kau harus terus mengingat nya sampai kapanpun, dia tetap boleh ada di hatimu. Aku tidak masalah. Jika kondisi mu sudah benar-benar baik dan anak-anak sudah bisa di bawa perjalanan jauh. Kita akan mengunjungi Justin, aku ingin meminta ijin dan restu padanya." Daniel melerai pelukannya, lalu menghapus air mata wanita nya.
__ADS_1
"Sudah malam, ayo tidur kembali. Banyak-banyak istirahat, aku akan tidur di sofa itu, dari sana aku bisa mengawasi anak-anak. Jadi kau bisa istirahat dan tidur nyenyak." Daniel merapikan selimut Kira setelah wanita itu berbaring.
"Di sofa tidak nyaman, sempit. Di sini saja, jika kau tak keberatan mencium aroma amis asiku, yang berceceran di sprei." Kira sebenarnya tidak percaya diri, namun sofa di kamarnya kecil hanya kuat dua orang saja.
Daniel memahami arti diam Kira segera berpindah, lalu ambil posisi di samping wanita itu. "Aku tidak apa-apa, ini aroma kehidupan, kenapa harus merasa jijik. Aku bersyukur kau bukan tipe wanita yang mementingkan bentuk tubuh dan pa*yu*dara, sehingga mau menyusui anak-anak. Tidur lah, ini baru pukul 3 dini hari." Daniel tidur menyamping menghadap Kira. Dia tidak ingin Kira berpikir jika dia jijik padanya.
Setelah wanita itu terlelap, Daniel memberanikan diri mengelus pipi tembem Kira. Wanita itu terlihat seperti wanita pada umumnya, ada yang bertahan pada bentuk tubuh semula, ada yang jadi semakin kurus dan ada juga yang dari kurus tiba-tiba gemuk. Begitu juga Kira, wanita itu terlihat lebih berisi. Namun Daniel tidak mempermasalahkan nya, akan lebih buruk jika punya istri yang hanya pintar merawat tubuh, namun tak tau cara merawat anak dan suaminya.
Kira nya dan Justin itu tetap lah wanita paling cantik di dunia ini. Tidak peduli bagaimana pun perubahan nya.
Daniel berbalik terlentang, dia tidak bisa tidur, hatinya terlalu bahagia. Lamaran nya di terima walau tidak lah romantis. Di usianya yang sebentar lagi 32 tahun ini, dia hanya berharap agar pernikahan ke dua kalinya dengan wanita yang sama ini. Akan menjadi pelabuhan terakhir nya, dia memiliki 6 orang anak itu sudah kebahagiaan tak terhingga untuk nya. Dia akan berusaha menjadi ayah yang hebat, walau tak bisa menyamai peran Justin dalam hidup Kira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Loh? Daniel? ayah kira si Wati yang lagi masak, padahal kemarin sudah bilang, hari ini bakal datang telat karena mau posyandu dulu." Reegan kaget melihat Daniel tengah berkutat memotong wortel, seperti nya pria itu akan membuat kan sup. Terlihat daging sapi di potong dadu di dalam mangkuk.
"Ya yah, aku tadi bangun lebih awal abis gantiin popok anak-anak. Kepikiran buat sup, kemarin sore aku ada bawa daging." Balas Daniel menoleh sesekali, karena sibuk melanjutkan mencuci daun sop dan batang bawang prei.
Reegan memperhatikan kegiatan Daniel tanpa menyela, dia tau pria itu pasti tidak sadar jika dia telah tanpa sengaja menjelaskan. Jika dia masuk ke kamar putrinya. Reegan tidak marah, namun dia khawatir putrinya yang menolak Daniel.
__ADS_1
"Ada yang bisa ayah bantu tidak?" tawar Reegan berjalan mendekati rice cooker, pria itu mengecek nasi di dalam sana.
"Ayah buat nasi aja aku kurang paham soal nya" Daniel tersenyum malu sambil menggaruk pelipis nya.
"Ya, biar ayah saja. Ayah khawatir kau akan membuat kan kita semua bubur bayi." Seloroh Reegan membuat keduanya tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf aku kira kau belum bangun jadi aku tidak mengetuk dulu" uajr Daniel tak enak hati. Kira sedang menyusui Delia tanpa penutup apapun.
"Tidak Apa-apa" Kira segera meraih kain lampin sang anak dan menutup nya.
"Aku ingin membantu mu memandikan anak-anak, Wati terlambat datang, mau posyandu. Berarti anak-anak juga kan?" tanya Daniel memastikan, hatinya merasaka desiran hangat. Dia merasa tak sabar memamerkan kedua putri kecilnya, yang sangat montok itu di hadapan ibu-ibu di tempat posyandu nanti.
"Kenap kau tersenyum sendiri? apa ada yang lucu?" tanya Kira heran.
"Aku tidak sabar memamerkan kedua putriku di hadapan para ibu-ibu" jelas Daniel tersenyum lebar, lalu memudar. "Maaf, maksud ku itu, Delia dan Debya." Ralat Daniel salah tingkah.
Kira tersenyum melihat Daniel yang kikuk. "Mereka putrimu juga jika kau tidak keberatan." ucap kira membuat hati Daniel bagai di lambung tinggi.
__ADS_1
"Tentu saja mereka putriku," balas Daniel cepat. "Aku siap kan air hangat dulu" Pria itu bergegas ke kamar mandi dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Kira menggeleng pelan, dia bersyukur jika kedua putrinya mendapatkan tempat di hati Daniel.