Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLVI


__ADS_3

Pertama kalinya, Sejak Asha kehilangan ingatannya, dia melihat pemandangan yang kota yang penuh hiruk pikuk dan gemerlap lampu kota yang indah. Gadis itu tak henti hentinya berdecak kagum, membuat semua orang merasa senang sekaligus sedih. Melihat reaksi nya saat pertama kali mobil mereka memasuki area perkotaan. Asha yang tadi nya mengatakan ngantuk berat, Tiba tiba berubah cerah.


Sarah sampai menitikkan air mata nya. Sedih akan keadaan sang buah hati, namum itu lebih baik untuk putri nya. Kebaikan yang di paksa oleh keadaan. Begitulah kenyataannya.


"Asha seneng gak, bisa balik ke kota lagi?" Sang ayah bertanya seraya tersenyum lembut pada Asha.


"Senang, senang Banget malah. Banyak gedung tingginya ya yah, yang jualan makanan pinggir jalan juga banyak. Kapan-kapan Asha boleh mampir ke sana gak yah?" Balas Asha sesekali menoleh pada sang ayah lalu kembali fokus pada pemandangan kota di hadapan nya. Tampak nya, gadis itu sangat menikmati pemandangan kerlap kerlip yang di tangkap oleh Indera penglihatan nya.


"Boleh, tapi di temani ya. Gak boleh pergi sendiri, kalo mau apa-apa bilang aja, jangan keluar rumah kalo gak ada yang temani." Asha hanya mengangguk mendengar nasihat sang ayah, yang sudah berkali kali sejak mereka akan kembali ke kota.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bi Surti, Mbok Darmi, Mamat, Puput, Ujang, dan beberapa orang yang sudah bekerja cukup lama dan mengenal baik Asha. Mereka semua menetes kan air mata haru, meski sudah di wanti-wanti oleh Keenan dan Reegan perihal penyambutan seperti apa yang harus mereka lakukan. Namun setelah menyaksikan sendiri nona muda mereka masih hidup, membuat mereka melupakan semua titah yang sudah mereka dapatkan.


"Adek udah sehat, makin cantik sekarang. Bibi kangen." Bi Surti menjadi orang pertama yang menyapa nona muda mereka. Dirinya sudah tak tahan lagi, ingin memeluk namun mengingat kondisi Asha yang tidak mengingat Siapa pun. Membuat nya urung, cukuplah mengetahui jika majikan kecil mereka baik-baik saja. Mereka sudah sangat bahagia.


"Eh, emmm.. Ya bi, Asha sehat. Bibi sama yang lain sehat. Ini yang kerja di rumah sini semua kan? Ayah udah bilang, dulu sebelum kecelakaan setahun lalu dan Asha hilang ingatan. Asha dekat banget sama semua orang yang bekerja di rumah." Asha berujar panjang dengan senyum lebar. Nampaknya, di hati kecilnya. Dia pun merasa kan getaran kerinduan yang sama, hanya saja masih terlalu asing dengan situasi yang terjadi sekarang.


"Ya, dek. Dulu adek deket sama semuanya, makanya kita semua kangen Banget sama adek A..sha." Dengan terbata bi Surti mengeja nama majikan kecil mereka. Sedikit susah namun harus belajar terbiasa mulai sekarang. Wanita paruh baya itu juga membalas senyum Asha tak kalah lebar Dengan wajah yang sumringah.

__ADS_1


"Mari langsung ke meja makan aja, Pak, bu..." Bi Surti tampaknya terlalau fokus pada Asha sampai tak menyadari kehadiran orang yang juga sangat mereka rindukan. Sarah.


"I..bu.." Tangis wanita itu seketika tumpah ruah, Sarah yang tidak ingin membuat putrinya kebingungan segera memeluk erat bi Surti, lalu membisikkan sesuatu yang hanya mereka berdua saja mendengar nya.


Setelah tenang, wanita itu lalu tersenyum, berganti dengan wajah cerah penuh senyum keharuan. Ya, Dirinya sangat bahagia sekarang. Dua orang, yang menjadi jantung keluarga Sudibyo dan rumah besar ini telah kembali.


"Maaf, mari mari. Bibi masak banyak buat nyambut adek. Ada ayam sambel, tempe-tahu-terong goreng, sup bening bihun....." Bla bla bla sepanjang langkah kaki menuju ke arah ruang makan, bi Surti begitu bersemangat mendikte semua jenis makanan yang dia buat bersama mbok Darmi dan Atun, si ART baru. Rekomendasi dari nyonya muda mereka, Arumi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai makan makan, Reegan dan Sarah mengantar Asha menuju kamarnya di lantai atas. Kamar itu sudah di rombak oleh Keyra, dengan harapan, agar semua kenangan lama yang tersimpan dalam susunan tangan 'Kira', tidak akan mempengaruhi memori 'Asha' yang sekarang. Semua barang-barang yang di anggap tidak perlu Asha kenang, mereka menyumbangkannya ke yayasan kasih anak jalanan. Tempat sang ibu pernah mengabdikan diri nya.


Sarah dan Reegan hanya tersenyum, melihat putri mereka yang tampak begitu bahagia, hanya karena hal sederhana semacam ini. Benar-benar yak ada yang berubah. Asha mereka tetap lah putri yang sederhana.


" Oya, Kamar ayah bunda dimana? Aku malam ini mau tidur sama ayah sama bunda. Boleh?" Asha mendudukkan dirinya kembali lalu menatap kedua orangtuanya dengan tatapan penuh permohonan.


Reegan jadi gelabakan sendiri, namun tidak dengan wanita yang memiliki sifat tenang di samping nya itu.


"Boleh. Boleh banget malah, ya kan yah?" Sarah menoleh pada sang suami dengan tatapan yang tidak bisa Reegan tebak. Wanita itu sekarang Begitu penuh misteri baginya.

__ADS_1


Reegan hanya bisa melongo tanpa dapat mengatakan apapun, dia begitu syok dengan pernyataan Sarah. Hati nya begitu bahagia, walau masih abu-abu.


"Bolehkah yah?" Asha kembali bertanya, dan berhasil membuat lamunan Reegan buyar.


"Heh? Ya ya, tentu saja. Kenapa tidak boleh. Kalau begitu ayah akan menyuruh Kakak ipar mu mengganti dengan sprei yang baru." Reegan nampak begitu bersemangat, bagaimana tidak. Dua wanita yang paling dia rindukan dalam hidup nya, kini akan tidur di kasur yang sama dengannya. Sungguh Tuhan begitu baik, bukan? Senyum bahagia terus tersungging di bibir Pria itu, perasaan was-was akan di tinggal kembali oleh sang istri, kini mulai sedikit berkurang. Paling tidak untuk saat ini, ada putri nya yang akan mengulur waktu Sarah agar lebih lama tinggal bersama mereka.


"Kalau begitu, kamu mandi dulu. Bunda yang akan menggantikan sprei di kamar bawah." Sarah kembali berujar, seraya mencium kening sang anak kemudian berbalik pergi keluar dari kamar tersebut.


Reegan pun pamit pada putrinya, lalu menyusul langkah sang istri. Pria itu mensejajarkan langkah mereka, sambil turun tangga. Tidak ada kata yang terucap, keheningan selalu mengambil alih jika mereka sedang berdua.


klek


Sarah mematung di depan pintu kamar yang baru saja dia buka. Ada perasaan asing menelusup dalam hatinya. Namun akhirnya dia tetap melanjutkan langkah demi langkah, hingga berhenti di depan sebuah ranjang yang sudah lama tidak dia tempati.


Deheman Reegan membuyarkan lamunan Sarah, wanita itu menoleh sekilas lalu beralih kembali, pada ranjang yang menjadi fokus nya sejak pertama kali masuk tadi.


"Permisi, maaf bun. Ini Rumi bawa kan sprei baru." Wanita itu tersenyum canggung, situasi di dalam kamar itu membuat Arumi sedikit tidak enak.


"Bawa sini, biar bunda yang pasangin. Makasih ya nak." Sarah meraih lipatan sprei dari tangan sang menantu, dengan senyum lembut di wajahnya yang selalu nampak menenangkan, bagi siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


"Sama-sama bun, Rumi keluar dulu. Edel sama Ednan lagi rewel sama abi nya." Wanita itu keluar dari sana dengan perasaan lega, suasana yang canggung membuat nya tak nyaman sendiri.


__ADS_2