Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LII


__ADS_3

Sarah sudah mendapatkan mesin cuci yang dia mau, juga beberapa barang yang dia butuhkan. Bukannya mau mengambil kesempatan, hanya saja terlalu mubasir, jika duit pria arogan itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.


"Udah Ree, udah banyak banget aku belanja nya. Capek, pulang yuk." Ujar Sarah kemudian menduduk bokongnya, dikursi yang ada didalam toko pakaian tersebut. Dia memijat pelan betisnya yang sedikit pegal.


"Katanya mau memiskinkan aku, baru gini aja kamu udah capek. Sini aku liat." Reegan berjongkok di hadapan Sarah, tanpa komando, pria itu mengangkat kaki Sarah, menaruh di atas pangkuannya lalu memijit pelan betis kekasihnya itu.


"Eh, Ree. Jangan gini, di liatin orang, malu ah. Udah, kaki aku cuma pegel dikit, udah biasa gini." Sarah melepas tangan Reegan dari kaki nya, dia tidak nyaman di perlakukan seperti itu. Apalagi mulai banyak mata yang menatap ke arah mereka, Sarah semakin tidak nyaman.


"Kamu mau beli apa disini tadi, baju buat mama. Yuk aku bantu cariin." Sarah mengalihkan perhatian Reegan, yang sedang menatap tajam pada orang-orang yang berkunjung ke toko itu.


"Udah, cari tempat lain aja, yang lebih mahal dan bagus. Uang kamu banyak gini, sayang kalau disimpan, takut rusak." Sarkas pria itu, dia tidak suka kekasihnya ditatap dengan tatapan remeh, memang apa yang salah dengan penampilan Sarah. Hanya karna bukan tas dan pakaian bermerek yang dia gunakan, bukan berarti dia kampungan.


"Eh, kenapa sayang. Di sini bagus juga kok, ini, baju ini aku suka, boleh?" Ucap Sarah menampilkan mata puppy eyes miliknya, kemudian menunjukkan dress yang sedang dia pegang. dia hanya tidak ingin membuat masalah di sana. Dia hanya orang biasa, yang kebetulan bisa bersama Reegan, hingga bisa merasakan masuk ke toko pakaian bermerek tersebut.

__ADS_1


"Iya sudah, cuma itu? Yang ini juga bagus, kalau kamu yang pake." Balas pria itu menunjuk pada dress yang dia maksudkan. Dia menekankan kata pada kalimat terakhirnya, lalu melirik pada beberapa pengunjung wanita, yang juga sedang memperhatikan dress yang dia pegang.


Sarah tidak ingin memperkeruh keadaan, dia segera menyambar dress tersebut dari tangan Reegan. Kemudian menyerahkan nya pada pegawai toko tersebut, lalu menarik Reegan menuju kasir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang anak tidak tau diri itu lakukan, bagaimana dia bisa menyerahkan pekerjaan pada orang lain begini." Tuan Prayoga berencana akan mengunjungi Reegan ke perusahaan, namun sesampainya di sana dia malah mendapati dua orang manusia sedang duduk makan di ruang kerja cucu nya itu.


"Coba kamu hubungi Reegan, katakan saya menyuruh nya segera kembali ke kantor. Tidak ada alasan, atau gaji kamu bulan ini akan saya pangkas habis." Kalimat ajaib tuan Prayoga berhasil membuat seorang Abdi, asisten setia Reegan itu ketar ketir.


"Baik, tuan. Sebentar akan saya hubungi." Balas Abdi dengan nada pasti, namun hati nya meragu. Bukankah bosnya bilang tidak ingin di ganggu.


"Kamu kenapa malah bengong, sudah bosan kamu bekerja di perusahaan saya." Sarkas pria tua yang menurut Abdi sangat menyebalkan tersebut.

__ADS_1


"Ini tuan, anu, saya...."


"Kenapa dengan anu mu, kamu kena Sipilis, HIV, Aids. Kalau begitu, besok serah kan surat pengunduran diri kamu, saya tidak menerima pegawai yang punya penyakit memalukan seperti itu." Ucap pria tua itu semakin kejam, hampir saja membuat Abdi kejang-kejang mendengarnya.


"Bukan tuan besar, saya sangat sehat. Jasmani dan rohani, jiwa maupun raga." Balas Abdi tegas, enak saja dia dikatai mengidap penyakit kelamin. Benda pusaka nya saja bahkan belum pernah dia pergunakan sebagaimana mestinya.


Abdi kembali melanjutkan kata-katanya, sebelum pria tua itu mendiagnosis nya dengan berbagai penyakit langka lainnya. "Hanya saja tuan Reegan sedang sakit, tadi beliau ke kantor sebentar demi tanggung jawabnya pada perusahaan. Namun beliau hampir saja pingsan, tuan Reegan mengalami sesak napas, kepala terasa berputar-putar, perut mual dan mimisan dalam waktu bersamaan." Maaf tuan, ini demi keamanan, kenyamanan dan keselamatan kita bersama, batin Abdi tanpa penyesalan.


"Kenapa saya tidak tau jika anak itu memliki penyakit separah itu, apa ibunya juga tidak mengetahui hal ini." Tuan Prayoga bergumam pelan, namun masih terdengar oleh telinga tajam Abdi.


"Iya sudah, kalau begitu lanjutkan pekerjaan mu, dan itu siapa namanya, tolong jangan lagi mengulangi kesalahan seperti tadi. Ruangan ini bukan ruang VIP restoran, yang bisa kalian pakai seenak nya." Setelah mengucapkan kata-kata mutiara yang menyakiti hati dan telinga, tuan Prayoga bergegas meninggalkan ruangan tersebut dengan gaya arogannya.


Abdi segera mengetikan kata-kata mutiara yang akan dia kirimkan ke bos nya, dia harus menyelamatkan diri sebelum vonis mati di jatuh kan oleh bosnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2