Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXII


__ADS_3

Satria kini merasa terpojok, peluru yang dia punya hanya tinggal 4 dan sialnya, dia hanya membawa satu peluru cadangan. Karena dia pikir, masih ada 4 senjatanya, yang sengaja dia simpan di dasbor mobilnya. Dan hanya Dara dan Killa saja yang tau kebiasaan nya tersebut.


"Shittt, kenapa gue bisa seceroboh ini sih. Dasar anak siluman. Dapat, gue tembak lo tepat di otak licik lo itu." Satria tak henti-hentinya berdumel sejak tadi. Posisinya tidak menguntungkan, bergerak mundur maka dia akan tertangkap, melangkah maju maka dia akan tertembak.


"Semoga aja mereka bisa keluar dari sini dengan membawa Kira. Ya Tuhan, aku tidak pernah memohon apalagi berdoa padaMu, tapi hari ini, dengarkan dan kabulkan lah, doa dari pria penuh dosa ini. Selamatkan para sahabat ku juga keponakanku yang baik hati. Dia masih terlalu muda untuk kau panggil, banyak orang yang mencintainya, termasuk aku. Tukar nyawaku dengan mereka yang ku kasihi. Aku mohon. Amin."


Satria sudah nampak putus asa, bukan usianya lagi untuk bergelut dengan hal semacam ini. Namun keadaan ini, sungguh memaksa tubuhnya yang sudah tak sebugar masa muda dulu. Berjuang demi mereka yang dia sayangi.


Dor dor dor...


Satria mencoba peruntungan di sisa peluru nya. Dan ya, dia berhasil menumbangkan dua orang. Kini dia akan memastikan, keempat sahabat bisa keluar dengan selamat. Satria berjalan pelan menuju tangga, dengan kondisinya yang sudah terluka. Sedikit menyulitkan untuk bergerak bebas.


Terdengar teriakan penuh kepiluan dari sahabatnya, jelas sekali itu suara Reegan. Satria jadi semakin cemas, akankah keponakan sudah.... Tidak, dia tidak sanggup meski hanya sekedar untuk membayangkannya. Namun suara Reegan menjelaskan sesuatu yang buruk sudah terjadi.


Disisa tenaganya, Satria menaiki tangga itu menuju sumber suara. Saat berjalan mencari keliling, akhirnya, langkah Satria berhenti di depan sebuah pintu kamar. Didalam sana, diatas ranjang besar itu. Dia dapat melihat dengan jelas, tubuh keponakannya yang hanya tertutup sebuah selimut tebal. Sudah terbujur kaku didalam dekapan sahabat nya, Reegan.


Lutut Satria seketika lemas, jantung seperti di tembak ribuan peluru. Sakit, sangat sakit. Binatang mana, yang tega melakukan hal sebejat ini, pada keponakan cantik kesayangan nya itu.


Bintang yang menyadari kehadiran Satria, dan melihat kondisi pria itu yang tidak terlihat baik, segera menghampiri nya.

__ADS_1


"Sat." Hanya itu yang bisa Bintang ucapkan, lalu meraih tubuh lemah Satria kedalam dekapan nya. Kedua pria itu menangis tergugu. Begitu pula dengan Revan dan Bastian, yang masih setia memeluk sahabat mereka, yang kini sedang memeluk tubuh kaku putrinya.


Hati siapa yang tak sakit, melihat tubuh mungil gadis tak berdosa itu, penuh luka lebam di seluruh tubuhnya dan bekas cekikan di leher nya, dalam keadaan tak berbusana.


"Gan, kita harus bawa Kira dari sini. Diluar masih ada beberapa orang yang mengincar kita. Mobil kita seperti nya tidak bisa kita harapkan, gue yakin, Mereka pasti sudah merusaknya. Cari mobil yang ada di samping, gue liat ada dua, gue yakin itu mobil para baji*ng*an itu. Gue akan pancing mereka ngejar gue. Gue udah gak sanggup lagi, luka gue parah banget. Gue titip Dara, Sila dan Selo sama kalian semua, tolong jaga mereka, sayangi anak-anak gue." Kuhukk. Satria kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Cepat keluar, lewat tangga darurat, Bas, minta bantal guling itu lo Selimutin, gue akan pancing mereka ke arah timur rumah ini. Kalian hanya punya waktu 10 menit, Revan ahli soal mobil. Tau cara nya make mobil gak bekunci. peluru gue sisa satu, saat lo denger, artinya gue udah gak bisa keluar dari sini hidup-hidup. Gegaslah pergi. Orang gue akan jemput kalian dijalan, ada sebagian yang akan kemari buat ngebersihin kekacauan ini, gue sudah kirim pesan ke Dara, dia tau apa yang harus dia lakukan. Dia sudah ngerti, resiko jadi istri gue. Jadi apapun yang terjadi sama gue, jangan pernah ngerasa bersalah."


Setelah menyampaikan amanah-amanah yang mengiris hati itu, Mereka kemudian berpelukan, dengan Kira berdada ditengah mereka. Mereka menatap wajah yang sudah penuh luka itu, dengan hati miris dan Terluka.


Mereka keluar, kemudian berpisah diujung tangga, Satria membawa guling digengdongan nya. Seolah sedang membawa seseorang. Dan benar saja, ketiga orang yang masih selamat itu, mengira bahwa Satria sedang membawa tubuh Kira. Mereka mulai menghujani dengan tembakan beruntun, namun Satria masih belum melepaskan tembakan balasan. Karena itu akan menjadi kode bagi para sahabat nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siniin, Gan. Bas, tolongin gue. Van lo gak usah, bahu lo sakit itu." Bintang mencoba meraih tubuh Kira, yang masih dipeluk erat oleh Reegan. Mereka akan turun melalui tangga darurat dari lantai dua villa tersebut.


"Gan, udah lepasin dulu. Kita harus segera pergi, jangan buat pengorbanan Satria ini sia-sia." Sentak Revan tak sabar, dia tau seberapa besar luka dan kesedihan sahabat nya, namun sekarang mereka harus segera bergegas.


Saat akan menurui tangga tersebut, Tiba tiba terdengar sebuah suara ledakan, dari arah kamar yang tadi mereka masuki. Jelas, jika pelakunya ingin menghilangkan jejak Kira dan mereka semua didalam sana, sayangnya mereka sudah keluar membawa serta tubuh Kira.

__ADS_1


"Bas, cepat." Seru Bintang dari atas, dia masih mencoba menahan tubuh Kira yang dia ulurkan pada Bastian. Guncangan itu hampir membuatnya oleng.


"Ya, sin......" Duaarrrrr


Tubuh keempat sahabat itu terpelanting jauh dari tempat mereka berada, begitu juga dengan tubuh Kira, separuh bangun besar itu hancur berantakan. Disisa kesadarannnya, Reegan dapat melihat dengan jelas, tubuh putri nya yang berbungkus selimut tebal itu. Sedikit tersingkap hingga batas paha.


Lalu matanya beralih ke kirinya, terlihat tubuh bintang dan Revan, tidak dalam keadaan baik-baik saja, sebuah besi menancap diperut Bintang, dan wajahnya hampir tak bisa dikenali. Serpihan kaca dan darah yang mengucur deras dari sana, membuat Reegan bergidik ngeri. Lalu tatapan beralih pada Revan, yang kondisinya tak kalah mengenaskan. Ada sebuah potongan kaca lumayan besar tertancap di bahu pria itu, bisa Reegan pastikan, sahabat nya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Dengan sisa kekuatan nya, Reegan merangkak menuju arah putri nya, namun sebelum dia sampai di sana. Ekor matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak kalah mengerikan, tubuh Bastian dalam keadaan kaki yang terputus, dan dadanya menancap sebuah besi kecil, sebesar kelingking orang dewasa. Dadanya serasa sesak, namun dia harus terus bergerak. Setelah sampai didekat tubuh putrinya, Reegan meraih selimut itu lalau menutupnya kembali. Terlihat darah segar mengucur dari ubun-ubun Kira, mungkin terbentur akibat terlempar tadi.


Reegan merasakan kepalanya seakan mau pecah, lalau dilihatnya perutnya yang terasa perih. Ternyata ada serpihan kaca menancap disana. Reegan sudah tidak punya kekuatan untuk mencabut nya, yang dia lakukan hanya memeluk tubuh putrinya, disisa tenaga atau lebih tepatnya, disisa waktu yang dia punya. Dia yakin tidak akan bertahan, namun tidak masalah, rasa bersalah nya akan sedikit berkurang dengan menemani anaknya menuju peristirahatan terakhir bersama-sama.


Matanya perlahan mulai terpejam, tubuhnya seakan mati rasa, namun di sisa kesadarannya, dia berharap pada Tuhan, agar mengampuni segala dosanya, berikut para sahabatnya, juga putri kesayangannya.


Hening


Gelap


.....

__ADS_1


.....


__ADS_2