Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLII


__ADS_3

Sarah dan para wanita sedang heboh berkutat di dapur luas itu, Mereka akan memasak dalam jumlahnya yang berupa macam jenis makanan.


"Ini udah kamu tarokin garam belum ya?, Aku udah terlanjur masukin satu sendok teh garam barusan." Nabila menggantung tangannya yang akan memasukkan kembali sesendok garam tersebut.


"Udah tadi, tapi belum nyoba. Cobain dulu, takut malah keasinan. Berabe, para bapak-bapak itu bisa tensian ntar." Membuat yang lain terkekeh mendengar ucapan Dara, si adik bungsu mereka.


Nabila lalu mengambil sendok lain untuk mencoba nya, setelah dirasa tidak ada masalah. Dia kemudian menambahkan sedikit penyedap.


"Oke semua berarti ini. Kita makan nya di gazebo belakang kan? Tar aku minta tolong si bujang lapuk mengangkat nya ke sana." Nabila telah menyematkan nama baru, untuk Bramantyo Ibrahim, si dokter spesialis bedah. Walau yang empunya selalu melipat wajahnya karena kesal dengan panggilan nyeleneh tersebut.


"Kamu ini, gak liat Bram muka udah kaya sprei kusut gitu kamu panggil begitu." Ujar Marissa terkekeh.


"Lah, emang dia bujang lapuk kan. Udah mau 30, tua loh itu sudah." Seperti biasa, wanita itu selalu tak ingin argumen nya di kalahkan.


"Ya, ya. Aku yang bujang lapuk. Ibu-ibu yang cetar membahenol, mana nih yang mau aku angkat ke belakang?" Bram tiba-tiba muncul dari arah pintu belakang, dengan bendera tanda kepasrahan tercetak jelas di wajahnya. Percuma mendebat wanita itu pikirnya, tak akan menang.


"Ini, kamu bawa ke belakang semua. Trus Yang lain kamu suruh angkat kursi sama meja yang ada di dalam itu. Mana cukup, kita banyak. Udah paham kan, kamu? Ya udah aku mau baikin makeup ku dulu." Setelah mengultimatum Bram yang masih nampak melongo melihat tingkah unik Nabila, wanita itu berlalu begitu saja dari sana. Tanpa Ucapan terimakasih, tanpa kata 'tolong'. Hanya perintah mutlak yang tak dapat di tolak.

__ADS_1


"Ck, udah kaya nyonya besar aja tu orang. Untung udah tua, kalo gak...."


"Siapa yang kamu sebut tua, hah?" Dari arah belakang Bram muncul Revan dengan wajah garang. Enak saja istri cantik dan seksi nya di sebut tua oleh bujang lapuk itu.


"Heh? Gak, siapa yang ngomong gitu. Aku gak ya, ini, aku lagi liat kursi yang di sana itu. Kayanya udah agak tua, takut aja tar ambruk gitu." Setelah melesatkan elesan ala belut sawah, Bram segera bergegas mengangkat nampang yang sudah diisi oleh Dara, dengan beberapa mangkuk lauk.


Menyelamatkan diri lebih baik, dari pada balas mendebat pasangan suami-istri, yang kelakuan nya sebelas dua belas tersebut. Dia masih sayang dengan nyawanya, andai bisa di ganti yang baru pun. Dia tidak ingin ambil resiko. Pasangan tersebut terlalu berbahaya dari pada mafia.


"Gitu aja kabur, makanya gak laku-laku." Revan mendengus kesal.


Dara, Marissa dan Sarah, hanya bisa menggelengkan kepala. Revan dan Nabila memang pasangan serasi, jodoh yang sudah Tuhan setting sedemikian rupa. Hingga mereka tampak cocok dalam berbagai hal.


Suasana yang dulu kini bisa mereka rasakan kembali, walau masih ada satu lagi yang belum bisa ikut hadir. Sinta. Wanita itu sudah dalam perjalanan pulang ke Indonesia, mendengar kabar membahagiakan itu, membuat rasa mual dan pusing nya lenyap seketika.


flashback


"Mami apa kabar? Sehat? Kak Dean sama kak Dion gimana, sehat-sehat semua?" Pertanyaan beruntun Daniel membuat Sinta berdecak, dia sampai bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ck, kamu ini. Mami aja belum jawab kabar mami gimana. Pertanyaan kamu udah merayap kemana-mana." Suara kesal-kesal manja sang ibu membuat Daniel terKekeh lucu. Bisa dia bayangkan wajah sang ibu saat ini. Ah, dia sangat merindukan wanita yang sudah mengahdirkan dirinya ke dunia ini. Sudah lebih setahun dia tidak pernah berjumpa dengan wanita cerewet itu, dan sialnya, sangat dia sayangi.


"Hehehe, maaf mi. Jadi, kabar mami gimana, sehat?" Daniel mengulangi kembali pertanyaan nya.


"Mami sehat, tapi hati mami yang gak sehat. Mami kangen kamu. Kenapa malah kembali ke Indonesia, kenapa gak nyusul ke sini aja. Keluarga kamu di sini semua Daniel. Perusahaan biar pak Roman yang kelola, bukannya selama ini juga begitu. Mami gak mau kita terpisah nak, cukup...." Sinta menjeda kalimat nya, wanita itu terisak pelan. Rupanya, kesedihan sang ibu belum lah berkurang walau sedikit.


"Mami mau kita ngumpul sama-sama nak, kamu bisa beli rumah deket rumah kakakmu, Dean. Doni juga bilang, ada rumah di dekat rumahnya lagi di renovasi, dan itu mau di jual. Kamu bisa memulai hidupmu yang baru di sini. Menikah dan punya anak. Sudah saatnya kita melepaskan Kira, agar dia tenang di sana." Sinta berujar panjang lebar, dia tidak ingin di hari tuanya, berjauhan dengan anak bungsu nya tersebut.


Daniel mendengar tanpa menyela, di ujung kalimat sang ibu, Daniel hanya bisa meringis mendengar nasihat ibunya. Bisa-bisa kepalanya di penggal oleh sang ayah, jika berani menikahi wanita lain, dan menyakiti putri kesayangan semua orang tua mereka tersebut.


"Daniel memang akan menikah mi, bulan depan. Tapi gak di Swiss atau di LN lainnya. Daniel akan menikah di sini, dan mami harus pulang. Kak dean dan kak Doni pun harus pulang. Untuk bantu aku mempersiapkan semuanya." Daniel menggantung ucapannya. Dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk di sampaikan pada sang ibu. Atau wanita itu akan berteriak histeris diujung telepon, dan membuat nya tuli mendadak.


"Mi? Masih dengar aku gak?" Tak mendengar suara sang ibu, membuat Daniel menyadari. Jika wanita kesayangan nya itu masih berat untuk kembali.


"Heh? Ya ya, mami denger. Tapi sebelum nya maaf Daniel, mami gak bisa pulang sekarang atau nanti. Mami gak bisa, maaf." Suara lemah sang ibu di ujung kalimat membuat Daniel menghela napas panjang. Agak susah berhadapan dengan sifat keras wanita itu, harus bisa memupuk rasa sabar agar tidak layu dan mati.


"Mi? Kalo aku bilang, sekarang aku lagi sama papi. Apa mami percaya, hmm?" Dengan sabar Daniel mencoba membujuk sang ibu dengan sedikit teka-teki, berharap itu bisa memancing rasa penasaran ibunya.

__ADS_1


Namun harapan hanya tinggal harapan. Reaksi sang ibu membuat Daniel melongo tak berkutik.


"Ya, mami percaya. Papi kan memang ada di sana, bersama Kira dan paman-pamanmu yang lain. Kenapa kamu bertanya begitu? apa kamu berniat membongkar makan papi kamu, dan memindahkan nya ke sini, begitu? Lebih baik jangan nak, kasian papi udah tenang, lagian biarlah papi bersama dengan para sahabat nya juga putri kesayangannya. Kamu aja yang ke sini, nanti mami bakal tinggal sama kamu aja, biar gak kesepian." Kalimat reaksi Sinta begitu jauh dari ekspektasi Daniel. Dan pria itu hanya bisa mengusap wajah nya kasar, menandai jika dia sedang frustasi sendiri dengan sikap sang ibu.


__ADS_2