Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
(Kiddos of Jovan-Joi)


__ADS_3

Ana mulai merasa jenuh, menunggu dan duduk diam bukanlah dirinya. Dia yang sudah terbiasa melakukan aktivitas, merasa sedang di tawan di dalam kamar apartemen tersebut. Beberapa kali Ana memainkan game ular di ponsel polyphonic miliknya. Meski sudah model yang terbaru dan memiliki fitur musik dan kamera belakang. Tetap saja ponselnya adalah ponsel jadul di dunia dewasa ini. Takdir Ana tidak mengijinkan nya untuk menjadi anak milenial. Dan Ana menerima itu dengan lapang dada.


Klek


Rick muncul dengan wajah tak bersahabat, Ana yang bersemangat akan pamit pulang merasa tidak enak hati.


"Rick? ini sudah sore, boleh kah aku pulang?" sungguh pertanyaan konyol, namun Ana tidak tau bagaimana lagi cara nya berbicara normal dengan pria datar itu.


"Aku bahkan baru pulang, tidak bisa kah kau tidak langsung mambahas itu dulu?" Ketus Rick jengkel. Kemudian bergegas ke kamar mandi tanpa menghiraukan wajah cengo Ana.


"Aku kan tanya nya baik-baik, kenapa dia mesti semarah itu padaku." Gerutu Ana kembali duduk di sofa sambil memainkan game di ponsel nya.


Hampir 20 menit, Rick keluar dengan wajah segar. Ana tanpa sengaja melihat pantulan Rick dari balik kilau guci besar, menjadi malu sendiri.


'dasar tidak tau malu, bisa-bisa nya dia hanya menggunakan handuk keluar dari kamar mandi.' rutuk hati Ana kesal. Wajahnya memerah seperti tomat.


"Kau sudah siap? ayo aku antar pulang." Suara Rick yang tiba-tiba membuka ponsel Ana terjatuh, untung saja tidak sampai eror. Bisa macet usaha nya jika begitu. Sebuluk-buluknya ponselnya, di sana ada banyak menyimpan nomor orang-orang yang berlangganan kue padanya.


"Ah, ya. Ayo, ini sudah sore. Seharusnya tidak usah di antar, beri tau saja caranya turun menggunakan benda kotak itu. Atau ada tangga, aku akan turun lewat tangga saja." Ujar Ana panjang lebar. Rick mendengus mendengar ucapan polos Ana.

__ADS_1


"Ayo cepat! atau kau mau aku kurung di sini sampai besok pagi?" balas Rick sarkastis, wajah Ana memucat, lalu segera meraih tas kusamnya.


"Ayo!" ajak Ana tanpa pikir panjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau tinggal di sini?" setelah memarkir kan motornya di halaman mini rumah Ana, Rick tidak segera pergi. Mata elangnya menelisik penampakan rumah minimalis tersebut dengan teliti. Bersih dan sangat terawat.


"Tentu saja aku tinggal di sini, kau pikir aku asal turun di halaman rumah orang begitu?" entah kenapa Ana tiba-tiba emosi.


"Ck! aku kan hanya bertanya, Kenapa kau harus meninggikan suara mu yang cempreng itu." balas Rick tak kalah ketus.


"Tidak perlu, kau tidak akan betah bertamu di rumah ku. Di dalam sempit dan gerah, kau bisa sesak nafas." Cegah Ana mengantisipasi. Dia tidak ingin menerima tamu selain orang-orang yang datang untuk memesan kue pada nya.


"Pelit sekali, kau bahkan makan dan tidur nyenyak di kasur ku, aku tidak keberatan." Rick mulai mengungkit nilai kebaikan nya pada Ana.


Ana berdecih mendengar mulut Pria itu, yang mirip sekali dengan ibu-ibu berdaster.


"Pulanglah, aku sibuk. Dan terimakasih sudah menolong ku tadi, juga memberikan ku makan, tumpangan kasur dan diantar pulang dengan selamat tak kurang satu apapun." Ujar Ana mengucapkan rasa syukur dan terimakasih nya dalam satu kalimat panjang tanpa jeda. Rick melengos kesal.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pulang. Jangan berkeliaran lagi, bisa-bisa kau di angkut truk sampah, kalau pingsan di sembarang tempat seperti tadi." Ujar Rick mulai menyalakan Motornya, dan berlalu pergi dari hadapan Ana tanpa menunggu balasan gadis itu.


"Dasar gila! aku pingsan karena ulah kekasih nya juga. Pasangan yang cocok tidak ada obatnya. Sama-sama tidak punya perikemanusiaan!" omel Ana sambil membuka kunci rumah nya, sudah hampir senja, dan rumahnya masih gelap gulita di dalam sana.


"Neng Ana? ngomel sama siapa atuh?" suara tersebut hampir membuat jantung Ana berhenti beroperasi. Dengan wajah kesal Ana berbalik hendak memarahi orang yang sudah lancang hampir saja membuat nya tinggal nama. Namun sepersekian detik, niatnya urung sempurna. Wajah kesal nya berubah dengan menampilkan senyum jutaan watt.


"Pak RT? ada apa ya, senja-senja ke rumah saya? mau pesan lumpia? dadar gulung? coba aja ke warung teh Santi, siapa tau ada nyisa." Ana berbicara cepat agar tidak di sela oleh pak RT ganjen tersebut.


"Bukan neng, akang cuma mau cek keadaan neng Ana aja. Tadi pulang sekolah tidak langsung pulang neng? Kok kaya baru nyampe, bajunya masih sama." Ujar pak RT basa basi sambil menunjuk ke arah seragam yang Ana pakai.


"Oh, saya ada jam tambahan pak. sebentar lagi mau ujian kelulusan, jadi harus lebih banyak belajar." Ana berusaha seramah mungkin, mengingat dirinya barangkali saja akan membutuhkan bantuan ketua RT tersebut. Yang pasti sesuatu yang berhubungan dengan profesi nya sebagai ketua RT, bukan yang lain.


"Gitu ya neng, akang cemas liat rumah neng masih terkunci. Takut neng kenapa-kenapa. Lagipula tidak usah terlalu keras belajar neng, tidak lulus juga tidak apa-apa. Akang siap menerima neng apa adanya, nikah sama akang tidak butuh ijazah." Ucap pak RT mesem-mesem sendiri membuat asam lambung Ana tiba-tiba naik ke kerongkongan.


"Heheh.. pak RT, bercanda nya suka lucu gitu. Saya masuk dulu ya pak, kebetulan mau bikin pesanan kue. Selamat sore pak, permisi." Tanpa menunggu jawaban pak RT, Ana bergegas masuk ke dalam rumah nya dan mengunci nya dari dalam. Bisa gawat jika pria tua tersebut tiba-tiba masuk ke dalam rumah nya.


"Huhh.. Apa tidak ingat umur? istri udah dua masih juga nyari daun muda. Iiiii..." Ana bergidik ngeri, lalu masuk kamar nya. Malam ini dia jamin akan bergadang sampai subuh. Mengingat jika bahan-bahan yang dia butuhkan belum dia siapkan sama sekali.


Selain membuat kue, Ana juga membuat nasi kuning telur. Hanya itu mampu nya, harga ayam cukup mahal di kantong rikuhnya. Kebetulan dia memelihara ayam bertelur beberapa ekor, itulah yang dia andalkan. Jadi setidaknya, tidak perlu membeli telur di luar. Namun dia bersyukur, jualannya selalu saja laris manis. Meski dia kadang hanya memakan sisa-sisa nya saja, tidak masalah. Jika kelak dia sudah sukses, makanya jangankan kue pasar atau nasi kuning. Semua makanan mahal di restoran pun akan dia makan setiap hari. Begitu lah khayalan sederhana seorang Ana, tidak muluk-muluk. Cukup jadi orang sukses, maka dia tidak perlu menahan lapar setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2