
Sesampai mereka di depan pintu, Lumina kembali meyakinkan sahabat nya.
"Yakin akan masuk, bagaimana jika kita menunggu saja di sini. Maksud ku, didalam sana ada bayi merah, aku khawatir kau tidak bisa mengendalikan emosi mu." Ujar Lumina mencoba menego, dia sangat khawatir sekarang. Sikap Asha yang sulit di tebaklah, yang membuat nya ketar ketir memikirkan nasib sang bayi, jika terkejut lalu end. Diapun akan terkena masalah.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan, Mina. Aku pernah menghadapi situasi yang lebih dari ini, lihatlah. Aku berdiri didepan mu dalam keadaan baik-baik saja. Kali ini pun begitu, aku punya pengendalian diri yang cukup bagus. Jangan mencemaskan ku, pikirkan saja nasibmu sendiri." Pungkas Asha tak ingin di bantah lagi.
Lumina melotot sempurna, bagaimana bisa Asha berkata seperti itu tanpa ekspresi apapun. Memikirkan nasibnya, tentu saja. Namun dia bukan sahabat laknat, yang membiarkan temannya masuk dalam jurang, lalu meninggalkan nya tanpa perasaan.
"Aku ikut!" putus Lumina akhirnya. Asha trsenyum samar bahkan hampir tak terlihat.
"Baik lah, ayo. Ketuk pintunya, Mina. Buat tanganmu berguna, " lagi-lagi kata ajaib Asha berhasil mencekik Lumina berkali kali. Wanita itu merasa udara disekitarnya mulai menipis.
Tok tokk tokkk
Keduanya menunggu pintu terbuka dengan perasaan campur aduk, sudah tiga kali mengetuk masih belum di buka. Lumina menatap tak sabar ke arah pintu, berbeda dengan Asha yang terlihat tenang.
Saat keduanya tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing, suara handle pintu dibuka dari dalam mengalihkan atensi mereka. Sesaat kedua nya saling menatap, entah saling menguatkan atau sekedar saling mengingatkan.
Bola mata Daniel hampir saja melompat keluar, saat melihat siapa yang mengetuk pintu ruangan putrinya. Dengan gugup dan salah tingkah, pria itu menyapa sang istri dengan kikuk.
"Sa..yang.. ke.napa ka.u bisa ada di sini?" Daniel merutuki kebodohan nya, pertanyaan nya sama saja menjebaknya masuk ke dalam jurang.
"Maaf, tadi aku ingin menjenguk karyawan butik Lumina. Beliau baru saja habis operasi pengangkatan jantung, hati, paru-paru, lambung dan dua ginjalnya. Ternyata malah nyasar kemari, maaf jika kehadiran ku mengganggu. Lumina ternyata salah mengetuk pintu, ada-ada saja. Kami permisi, sampai bertemu di rumah." Asha berbalik namun sebelum kakinya melangkah, wanita itu kembali menoleh.
"Aku harap kau tidak lupa arah jalan pulang ke rumah kita, tidak sampai satu jam dari sini. Jika kau lelah dan ingin beristirahat, pulanglah kerumah. Ke perbatasan kota itu cukup jauh, lumayan kau bisa menghemat satu jam perjalanan mu untuk beristirahat sebentar. Oya, semoga putrimu lekas sembuh." Setelah mengatakan sederat kata-kata yang tidak enak di dengar telinga. Asha benar benar pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Daniel masih mematung di tempatnya, susah payah pria itu berusaha menelan ludahnya, yang tiba-tiba terasa kaku di tenggorokan. Hingga sebuah panggilan membuyar lamunan Daniel, juga Lumina yang masih belum beranjak dari sana.
"Daddy? Misha ingin di gendong daddynya lagi," suara seorang wanita menarik perhatian Lumina. Wanita cantik itu menoleh ke dalam, dilihat seorang wanita sedang menggendong bayi, berjalan ke arah mereka dari arah kamar mandi. Rupanya wanita itu sedang berada di kamar mandi tadi. What!? berarti tadi Daniel juga di dalam sana. Makanya baru membuka pintu, disaat jari lentiknya hampir lecet akibat mengetuk keras pintu ruangan tersebut.
Lumina menatap tajam pada Daniel, membuat Daniel semakin salah tingkah.
"Ada tamu, kenapa tidak disuruh masuk saja. Lihat sayang, ada teman daddy datang. Pantas saja daddy langsung bergegas meninggalkan kita berdua dikamar mandi tadi." Celoteh wanita itu pada bayi yang bahkan tak mengerti apa yang dia katakan.
Lumina mengepal kan tinjunya, ingin sekali dia membogem wajah menyebalkan Daniel. Namun sisi kemanusiaan nya masih tergugah, dia tidak ingin membuat keributan di depan bayi tak berdosa itu.
"Maaf jika kedatangan ku mengganggu aktivitas kalian di dalam kamar mandi tadi, aku salah ketuk pintu. Temanku ternyata berada di ruangan ujung sana, dia baru saja operasi pengangkatan organ tubuh, akibat berselingkuh dari istri nya." Ujar Lumina tak kalah sadis dari perkataan Asha tadi, sungguh dua wanita yang memiliki karakter hampir sama. Bedanya, Asha yang selalu bisa mengendalikan situasi. Lumina cenderung beringas dan blak-blakan.
Daniel semakin pucat pasi, berkali kali dia berusaha menelan ludah nya ,untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. " Dad? kau baik-baik saja. Ini, tolong gendong Misha dulu, aku ingin membersihkan kamar mandi. Kau membuat cairan nya menetes di mana-mana, mana warna putih pasti kelihatan sekali di lantai juga di dinding." Omel wanita itu ambigu, sambil menyerahkan bayi perempuan ke gendongan Daniel.
Jangan di tanya bagaimana reaksi Daniel mendengar kata-kata ambigu Tiara, jelas membuat nya semakin ketakutan setengah mati. Tatapan membunuh Lumina masih terarah padanya, tanpa berkedip sama sekali. Tamatlah sudah riwayat nya kalau begini.
"Ck! ternyata kau lebih bernafsu pada wanita yang baru saja habis melahirkan. Kasihan sahabat ku, hanya menerima ampasnya saja, pantas saja dia tidak kunjung hamil. Cairan putihmu ternyata kau cecerkan di sembarang tempat. Menjijikkan!" Sarkas Lumina menohok.
Daniel gelabakan, "Lumina kau ini salah paham, maksud Tiara..."
"Oh! jadi namanya Tiara. Bagus, tapi sayang, pelakor!" Ketus Lumina memotong kalimat Daniel.
"Tunggu saja sampai surat cerai kau dapatkan. Kau bisa bercinta sepuasnya dengan ******* itu, yang bahkan tidak ada seperempat nya dari Asha ku yang berharga." Setelah selesai dengan kalimat kejamnya, Lumina melangkah pergi meninggalkan Daniel yang lagi-lagi hanya bisa mematung.
Daniel segera menyusul Tiara ke kamar mandi, untuk menitipkan Misha.
__ADS_1
"Tiara? Apa sudah selesai? aku titip Misha sebentar, ada urusan mendadak yang tidak bisa di tunda. Tolong jaga dia untukku," Setelah meletak kan Misha dalam boks bayi, Daniel bergegas meraih kunci mobil nya.
"Kau akan kembali lagi kan? aku sedikit kewalahan menjaganya di malam hari jika sendirian." Ujar Tiara memastikan.
Dengan ragu Daniel mengangguk, "tentu saja aku kembali, putriku ada disini. Aku titip dia sebentar saja, setelah urusan ku selasai, aku akan segera kembali." Jelas Daniel meyakinkan.
"Baiklah. Oya, apa istrimu sudah tau soal Misha? Apa dia akan menerima nya? aku hanya khawatir saja. Tidak mudah membesarkan dan menyayangi anak orang lain seperti anak kandung sendiri." Tiara berujar sendu sambil menatap bayi mungil itu di dalam boks.
Daniel memegang bahu Tiara, "Dia pasti akan menerima nya dengan suka cita, pernikahan kami akan hampa tanpa nya. Misha adalah malaikat yang Tuhan kirim, disaat kami mulai berada di fase jenuh meski tidak kami sadari. Terimakasih sudah merawatnya dengan baik sejak di dalam kandungan mu, aku berhutang banyak padamu, Tiara. Kau wanita murah hati, Tuhan akan membalas kebaikan mu yang tidak bisa ku berikan sepenuhnya. Maaf untuk tak pernah bisa selalu memenuhi keinginan mu, aku berjanji akan selalu menjagamu dengan caraku. Istri ku pasti akan berterimakasih padamu jika dia sudah bertemu dengan mu, Asha wanita yang sangat lembut. Dia akan memahami kondisi ini tanpa drama." Ujar Daniel panjang lebar untuk menenangkan wanita yang sudah melahirkan putri nya tersebut.
Daniel menarik Tiara yang terisak ke dalam pelukannya, dielusnya bahu wanita itu yang bergetar hebat meredam tangis.
"Maafkan aku, Tiara. Andai aku punya solusi lain untuk mu, akan aku lakukan. Andai tidak ada Asha dalam hidup ku, aku yang akan mengambil seluruh tanggung jawab yang ada padamu. Aku mencintai istri ku, sangat." Beginilah cara Daniel menenangkan wanita malang itu, walau dia tau, wanita itu pasti berharap lebih padanya.
Namun dia harus tegas, perasaan nya pada Asha tak tergantikan. Kehadiran Tiara dalam perjalanan hidup nya, hanyalah kisah kecil yang tak mampu menggeser posisi istrinya. Namun berbeda dengan Misha, dia sangat mencintai bayi mungil itu bahkan sejak di kandungan ibunya. Melihat mahluk kecil menggeliat dalam sebuah kantung gelap, dilayar monitor USG, membuat hatinya menghangat tanpa bisa di jelaskan.
Untuk itu dia berani mengambil tanggung jawab, untuk membesarkan bayi itu bersama sang istri. Dia harap Asha berbesar hati menerima nya tanpa adanya pertengkaran apalagi perpisahan.
Kata-kata Lumina berhasil mengembalikan kesadaran nya. Perceraian? tidak! itu tidak boleh terjadi! Dia sangat mencintai Asha, Misha adalah penghuni baru di hatinya, yang memiliki posisi setara dan sama kuatnya di hati Daniel.
Dia tidak bisa memilih, tidak akan pernah bisa. Susah payah dia bisa mendapatkan Misha, agar kehidupan nya sempurna. Kini tidak akan dia hancurkan dengan perpisahan.
Setelah Tiara tenang, Daniel kembali berpamitan pada wanita itu. Dia tidak ingin sampai istrinya berbuat nekad. Pernikahan nya bahkan baru 5 bulan, perpisahan tidak ada dalam rancangan masa depannya ketika mereka menikah.
Meski kehadiran Tiara mendahului pertemuan nya dengan Asha, namun tetap saja, istri nya jauh lebih segalanya.
__ADS_1