Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Daniel-Asha S2


__ADS_3

"Apa kamu bilang? hah?" seorang gadis berteriak kencang, sembari menunjuk wajah wajah seorang pria, yang tertunduk di hadapannya dengan wajah takut.


"Itu yang saya lihat, nona. Nyonya Sarah sekembalinya menjemput putri nya itu, besoknya dikabarkan masuk rumah sakit. Setelah saya selidiki, dan informasi itulah yang saya dapatkan. Putrinya masih hidup, dan tinggal di sebuah desa terpencil selama ini." Jelas pria itu dengan suara bergetar ketakutan.


"Dan...."


"Dan apa, jangan berbicara setengah-setengah!" Hardik gadis itu lagi, napas nya memburu karena menahan amarah.


"Dan ketiga pria yang di nyatakan tewas karena ledakan itu. Mereka juga masih hidup" jelas nya lagi, suaranya semakin rendah. Jelas-jelas jika gadis di hadapan nya ini tengah memegang sebilah pisau buah. Bisa saja gadis itu khilaf, lalu membacoknya akibat emosi yang meledak-ledak.


Tubuh Asara bergetar hebat, perlahan dia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di samping nya.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka semua masih hidup?! Aku di sana menyaksikan tubuh mereka bersimbah darah, juga pemakaman itu. Aku juga menyaksikan nya walau hanya dari jauh. Tidak, ini tidak benar. Tidaakkk!!" Teriak Asara menggeleng kuat kepalanya, suaranya bergetar, kini dia benar-benar merasa ketakutan.


Bayangan Satria yang akan menghabisi nya, dan Daniel yang akan semakin jauh dari jangkauan nya. Membuat nya linglung, ini semua di luar rencana, harusnya, dia hanya perlu masuk dalam kehidupan Daniel dengan identitas baru.


"Kalian punya tugas baru. Bunuh gadis itu, juga seorang pria. Ini fotonya, namanya Satria. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Hampir semua anggota nya ikut dengan ku, dan sisanya, sudah aku kirim ke alam baka." Titah gadis itu dengan sadis. Setiap kalimat nya, terdengar mengerikan untuk ukuran seorang gadis muda seperti nya.


Ketiga pria bayaran itu hanya bisa saling beradu pandang satu dengan yang lain. Siapa yang tak kenal dengan Satria, seorang pembunuh kejam nan sadis. Mafia yang paling di takuti pada masanya. Dan sekarang, mereka mendapatkan tugas yang mustahil untuk di laksanakan.


Ketiganya hanya bisa meneguk ludah kasar, menolak pun nyawa mereka sedang dalam pertaruhan. Gadis di depan mereka ini layak nya seorang psikopat, dan sialnya, sekarang mereka sedang berada di sarang psikopat tersebut.


"Baik nona, akan kami laksanakan." Si pria bertubuh tegap dan bertatto hampir di seluruh tubuhnya itu, menjawab cepat mewakili kedua temannya, yang sudah nampak ciut dan terlihat ragu-ragu. Jawaban kedua temannya, bisa saja mengantar mereka ke neraka lebih cepat, untuk itu dia harus menyelamatkan diri nya kali ini. Urusan tugas itu, biarlah di pikiran nanti saja. Dia ingin segera keluar dari sana dalam keadaan hidup-hidup, dia seperti kesulitan untuk bernapas, melihat gadis itu yang masih dalam kilatan kemarahan yang besar.


"Tuntaskan semua yang ku perintah kan, jika kalian gagal, nyawa kalian sebagai gantinya." Ujar nya lagi dengan tak berperasaan.


Ketiga nya hanya bisa mengangguk mantap, yang penting bisa keluar dari sana sudah cukup.

__ADS_1


Setelah sampai di luar dan berkendara lumayan jauh, seorang temannya yang bernama Toto mulai angkat suara.


"Kenapa kamu malah main ya ya aja sih, tadi. Kamu gak tau siapa lawan kita. SA TRI AA!! Ucuuupp!" Seru Toto menghardik sang teman dengan mengeja nama calon target mereka.


"Aku gak tuli To. Kamu gak perlu ngomong sekencang itu" balas Ucup tak terima. Pasalnya, apa yang dia lakukan adalah untuk menyelamatkan mereka semua, tapi malah di salah kan oleh temannya.


"Lagian kalian berdua kenapa jadi tiba-tiba kalem tadi, hah!" Ujar Ucup menghardik balik. "Aku itu sedang berusaha, agar kita bertiga bisa keluar dari sana dalam keadaan utuh, baik nyawa maupun raga." Ujarnya kesal.


Membuat keduanya langsung kicep. Kemudian membuang pandangan ke luar jendela mobil.


Ucup melirik kedua sahabat nya melalui ekor matanya, ada hal yang sedang dia pikirkan sekarang. Dan itu berhubungan dengan target yang akan mereka eksekusi. Dia tidak benar-benar berniat untuk melakukan nya, Ucapan spontan nya tadi hanya naluri bertahan hidup.


Namun untuk mengatakan nya kepada kedua temannya itu, sama saja bunuh diri. Yang perlu dia lakukan sekarang, adalah mengulur waktu dan membuat kedua temannya sibuk dengan tugas lain.


Bisa saja keduanya berkhianat padanya demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Bisa di lihat bagaimana kedua temannya itu yang tidak bisa menghadapi situasi sulit, orang seperti itu, cenderung akan lebih memilih jalan pintas. Demi bisa bertahan hidup, maka teman sekalipun akan mereka korbankan. Dia tidak ingin mengambil resiko mati konyol, karena kedua temannya yang tak setia kawan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"No!"


"Hmm, ganti!"


"Belahan dadanya terlalu rendah"


"Cantik! Tidak, terlalu cantik. Coba yang lebih tertutup" titah Daniel seenaknya. Sejak tadi sudah lebih dari 10 baju yang di coba oleh Asha, ada saja yang kurang dari gaun-gaun tersebut.


"Sekali lagi aja, yuk sayang. Yang ini kayanya cocok deh, kamu cobain dulu gih. Aku mau lihat" perintah Daniel lagi seenaknya, tidak taukah dia jika gaun itu adalah gaun pertama yang Asha coba tadi. Dan dia bilang gaun itu membuat Asha jadi terlihat seksi.

__ADS_1


Asha menghela nafas pasrah, percuma mendebat sang kekasih yang memiliki tingkat keposesifan yang di atas rata-rata.


Daniel terlihat memindai gaun yang tengah Asha kenakan, nampak dari raut wajahnya, dia tidak terlihat puas dengan pilihan nya sendiri. Bukan karena Asha tidak cocok mengenakan gaun tersebut, namun kekasih nya jadi berkali kali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Dan dia tidak suka itu. Membayangkan mata para pria menatap penuh rasa kagum pada calon istri nya, kepala Daniel berdenyut nyeri.


"Isshhh... Apa tidak ada gaun yang benar di butik ini. Kenapa semuanya membuat mu jadi NNT semakin cantik dan seksi, aku tidak suka melihatnya, sayang." Ujar Daniel dengan wajah terlihat frustasi.


Terbalik bukan? Harusnya Asha yang frustasi, karena sejak tadi sudah lebih sepuluh kali harus bergonta ganti gaun pengantin.


"Jadi mau nya bagaimana, apa perlu menambah sedikit penutup di bagian dadanya. Aku suka gaun yang ini, warnanya, detailnya juga modelnya. Gak ribet dan rame. Gimana?" kali ini Asha mencoba untuk memberikan pilihan.


"Nah! Itu aku setuju. Mbak tolong ini di tambah bagian dadanya ya, aku tidak suka jika calon istri ku nanti jadi pusat perhatian. Terutama makhluk yang bernama pria." Tegas Daniel memberi perintah pada penjaga butik tersebut.


Dengan senyum ramah dan kesabaran setingkat dewi, wanita itu mengangguk saja, lalu memberikan pilihan untuk tambahan pada gaun tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita langsung nyari makan aja yuk, aku laper." Ujar Daniel sambil memutar kemudi nya, menuju arah restoran favorit keluarga mereka.


"Ya, aku juga. Kita terlalu lama milih gaun, gak terasa sampe hampir 2 jam di sana." Balas Asha, tanpa sadar jika ucapannya membuat pria di samping nya itu merasa tersentil.


"Maaf ya, sayang" Daniel mencium punggung tangan sang kekasih. Dia merasa bersalah, namun mau bagaimana lagi. Dia tidak rela berbagi pemandangan indah di tubuh sang kekasih pada orang lain.


"Heh? Bukan gitu maksud aku. Maaf." Cicit Asha tak enak hati.


"Ya gak apa-apa, aku hanya gak rela kamu jadi pusat perhatian dan di kagumi oleh pria lain. Aku ini cemburuan, aku posesif, juga protektif. Jadi nanti kalo kita udah menikah, kamu yang sabar ya, ngadapin sikap aku yang kaya gitu." Ujar Daniel menoleh sekilas kemudian fokus pada jalan di depan nya.


"Aku gak masalah, dengan begitu aku merasa sangat di cintai juga di lindungi." Balas Asha tersenyum lembut. Membuat hati Daniel lega sekaligus bahagia. Dia berjanji akan melindungi sang kekasih, meski dengan nyawanya sebagai taruhan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mereka mendiskusikan rencana masa depan mereka, juga jumlah anak yang akan mereka miliki. Meski sejatinya, Daniel sudah mengetahui hal yang tak Asha ketahui tentang kondisi dirinya. Yang kemungkinan besar, tidak akan bisa memiliki anak. Bagi Daniel tidak masalah, banyak anak-anak yang kurang beruntung di luar sana, yang tidak di inginkan oleh orang tuanya. Maka dia yang akan mengambil alih peran tersebut, dia sudah menyusun segala rencana masa depannya bersama Asha. Termasuk mengadopsi anak, dengan alasan sebagai pemancing kehamilan bagi istri nya kelak.


Secinta itu pria bucin tersebut. Maka segala hal akan dia lakukan, untuk menutupi kekurangan sang istri nantinya. Tanpa membuat wanita itu merasa insecure dan juga tertekan.


__ADS_2