
Monggo mampir jika tertarik sama ceritanya 🤗🤗
Ngintip dulu yuk
Seperti yang telah di prediksi, pagi hari nan indah itu malah membuat Mika berakhir terlempar dari atas ranjang pengantinnya.
"Auw..auwww! Molen! Sakit tau! Bar-bar benar jadi perempuan, lembut sedikit kenapa!" sentak Mika merasa kesal. Bagaimana tidak, Violen menendang pria tampan itu hingga menggelinding jatuh ke dasar lantai.
"Siapa suruh kau berbuat mesum kepadaku. Aku ini wanita baik-baik, jadi jangan samakan aku dengan para ja la ng yang biasa kau gre pe gre pe di mana saja kau inginkan. Aku ini wanita mahal, satu unit gedung empire state pun tak akan mampu untuk menukar harga diriku yang amat sangat tinggi ini." Ucap Vio sarkastik.
Wanita itu bahkan duduk berlutut di atas kasur dengan kedua tangan berkecak di pinggangnya. Mika mendengus mendengar kalimat Vio yang lagi-lagi menohok jantungnya.
"Cih! Aku ini suamimu molen, aku punya hak paten atas seluruh aset di tubuhmu itu." Balas Mika tak mau kalah. Pria itu bangkit berdiri sembari menepuk pinggulnya yang terasa kebas ngilu dan nyeri.
Tendangan maut Vio benar-benar di niatkan sepenuh hati. Hingga membuat pria tampan itu harus mendarat darurat dengan posisi yang cukup mengenaskan.
"Suami terpaksa, kail isi ulang! Ingat itu!" seru Vio berteriak kencang. Mika sedang berada di dalam kamar mandi, namun pria itu hanya menutup separuh pintunya.
"Dia pikir dia sudah hebat begitu, dengan menaklukkan para ayam kampus? Oh tidak! Dia hanya pria kurang belaian yang selalu mencari mangsa di berbagai tempat setiap ada kesempatan. Aku mah ogah, nehi nehi no way!" Mika terus menatap sang istri yang berbicara sendiri dengan ekspresi jijik terhadapnya.
Pria itu berjalan dalam keadaan tak berbusana sama sekali, sedangkan handuk ia gunakan untuk menyugar rambutnya. Ia sengaja melakukannya, toh Violen adalah istrinya. Dan lagi wanita itu sudah pernah melihat separuh tubuhnya, kala ia tengah bergumul panas dengan seorang mahasiswi di belakang kampus.
Violen menoleh kemudian memekik keras. "Astaga! Bisa tidak kau jangan menodai mata suciku ini? Ya Tuhan, maafkan hambamu. telah berbuat dosa sepagi ini. Jauhkan lah hamba dari api neraka. Amin." Begitulah doa Violen sembari menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.
Namun ekor matanya masih sempat melirik aset kebanggaan milik suaminya.
"Alamaakkk! Itu perkakas kok guede banget sih. Itu punya perempuan-perempuan apa tidak koyak ya. Iihhhh... jangan sampai tongkat baseball itu memasukiku, bisa-bisa milikku yang seimut lobang semut ini akan melebar seperti mulut buaya." Violen tanpa sadar bergidik ngeri lalu kembali membuang pandangannya.
Tak bisa ia bayangkan benda bengkok panjang nan besar itu menerobos intinya. Membayangkan nya saja, sudah membuat Violen sesak nafas.
"Mandi dan keramas lah. Agar seluruh keluarga menyangka kita sudah melakukan ritual malam pertama. Aku tak ingin pagiku di mulai dengan suara-suara sumbang penuh nada ledekan." Ketus Mika mulai berpakaian.
Violen mencebik jengah. Ia tak suka di perintah.
__ADS_1
"Suka-suka aku dong! Rambut-rambut aku, mau aku keramas kek mau aku keremes kek. Kok situ yang ngatur, enak saja!" Violen turun dari ranjang kemudian menghampiri letak handuk yang secara asal Mika letakkan.
"Peraturan nomor satu, aku tak suka melihat isi kamar berantakan. Aku tak suka melihat seseorang menaruh barang secara sembarangan, terlebih handuk lembab seperti ini di mana saja. Aku tak ingin memanjakan seorang pemalas. Aku menikah denganmu bukan untuk menjadi seorang pelayan yang selalu membenahi kekacauan yang kau lakukan. Jadi pahami aturanku atau kita auto bercerai!" tegas, lugas dan terlihat tak ingin di bantah.
Mika menatap handuk yang baru saja ia pakai di tangan istrinya kemudian meraih handuk tersebut.
"Baik nyonya, akan hamba ingat baik-baik." Dengan santai Mika menanggapi sederet kalimat yang berisi aturan tersebut. Pria itu meletakkan handuknya di sebuah gantungan khusus lalu menatap jahil ke arah Violen.
"Sudah 'kan? Sekarang mandilah. Aku akan menunggu istri cantikku dengan sabar," ucap Mika seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
"Dasar pria alay!" sungut Vio lalu berjalan ke kamar mandi.
Sedangkan Mika membalas beberapa pesan para wanita yang pernah memberikan kehangatan padanya.
"Sorry girls, aku sudah menikah sekarang. Jadi aku tak lagi membutuhkan jepitan va gi na kalian. Milik istriku terlalu sempurna untukku duakan. Terimakasih banyak sebelumnya, dan tolong berhenti mengirim pesan murahan kepadaku. Istriku segarang singa, seganas serigala dan sebuas Yeti Himalaya." Begitulah isi pesan nyeleneh Mika yang ia kirim melalui pesan teks kepada semua mantan partner ranjangnya. Meski tak melulu hubungan tersebut berakhir di ranjang, Mika sangat kreatif mengolah tempat lain menjadi sehangat ranjang panas.
"Ayo!" Mika sedikit terkejut melihat Violen rupanya sudah siap. Dapat ia lihat kecantikan hakiki ini setiap hari tanpa absen. Istrinya bahkan tak menggunakan apapun di wajahnya. Hanya pelembab bibir yang membuat penampilannya tampak semakin cerah natural.
"Hei! Menjauh! Aku tak tampil cantik untuk kau sentuh. Bisa-bisa wajahku akan terkena jerawat batu akik, iyuhhh no way!" cegah Vio mendorong kasar tubuh suaminya.
Lagi-lagi Mika hanya bisa men desah pasrah. Menghadapi Vio benar-benar menguji ketahanan mentalnya.
"Ayo kita turun, saat memasuki restoran, cobalah bersikap seperti istri yang selayaknya seorang istri. Aku tak ingin di cecar kalimat-kalimat nasihat berayat-ayat," ujar Mika mengingatkan.
Violen hanya berdehem, "hmmm..."
"Hmmmm apa Violen..." kali ini Mika sedikit menekan intonasi suaranya, dan itu berhasil membuat Violen langsung menurut. Ia tak pernah mendapatkan seorang dari keluarganya berkata dengan nada tinggi, karena dirinya selalu di perlakukan bak putri raja.
"Maaf," sesal Mika yang melupakan jika istrinya adalah tuan putri kesayangan yang selalu di perlakukan bak porselen harga triliunan.
Setiba di depan restoran, Mika meraih tangan istrinya meski sempat mendapatkan penolakan. Namun genggaman erat tangan Mika membuat Violen tak dapat berbuat apa-apa, terlebih melihat tatapan mata penuh binar kebahagiaan di wajah keluarga besar mereka.
Akhirnya Violen mengalah. Ia bahkan bersandar manja di lengan kekar suaminya, itu sukses membuat jantung Mika bagai di pacu. Degup keras di balik dinding dadanya terasa begitu kuat sampai-sampai Mika hampir kesulitan untuk bernafas.
__ADS_1
"Wah pengantin baru sepertinya tak seperti praduga kita ya jeng. Lihatlah, anak menantu kita tampak begitu serasi dan... wow! Lihat rambutmu Violen sayang. Kau keramas nak? Ck, lihatlah putraku jeng. Anak tampanku rupanya telah berhasil menggetarkan ranjang pengantinnya semalam." Celotehan Isabel frontal.
Sang suami hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Mulut istrinya memang sedikit lincah tak tau waktu dan tempat seperti biasanya.
"Ya jeng, aku bahagia melihat putriku juga bahagia. Sayang, kau ingin pesan apa nak?" dengan lembut Ayara berbicara kepada putrinya.
"Aku pesan apa yang suamiku pesan ma..aku ikut aja. Aku masih lelah sekali, semalaman suntuk Mika tak melepaskanku bahkan hanya untuk buang air kecil. Suamiku ini sangat ganas sekali, aku sampai kesulitan untuk berjalan." Mika melotot mendengar kalimat vulgar dari mulut tajam istrinya.
Pria itu meremat jemari Violen untuk menyalurkan kedongkolan hatinya yang terpendam.
"Kau bahkan menendangku hanya karena aku tidur memelukmu. Lalu bagian mana yang ku buat babak belur hingga kau sampai kesulitan untuk berjalan, molen panas." Geram Mika dalam hatinya.
Sedangkan bibirnya mengulum senyum palsu yang meyakinkan persepsi semua orang.
"Wow! Kau ganas juga son. Tolong jangan buat putri kesayanganku kewalahan, putriku produk orisinil." Sambung Hans menimpali kalimat karangan sang putri tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya.
Mika meringis mendengar peringatan sang ayah mertua.
"Maaf dad, aku khilaf. Putri Daddy memang sangat orisinil, itu terlihat dari memar di pinggulku akibat keganasan pagi kami yang sedikit menggemparkan." Sahut Mika yang berusaha mengimbangi alur.
Violen ingin sekali melepaskan tawa jahatnya namun gadis itu bersikap seolah semuanya benar adanya.
"Sayang.. suapi aku.." rengek Violen memulai kembali aksinya. Mika'pun tak tinggal diam. Pria itu mengambil kesempatan di tengah keadaan yang serba mendukung.
"Baik sayang... dekatkan lagi mulutmu kemari." Titah Mika ngelunjak. Violen memajukan wajahnya, namun beberapa detik kemudian sebuah benda kenyal menempel di bibirnya.
Rupanya Mika benar-benar menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Pria itu mengecup bibir mungil istrinya dengan seringai penuh kemenangan.
"Absen sayang, rasanya ternyata masih semanis semalam." Tukas Mika tanpa rasa bersalah. Sedangkan Violen mengutuk pria itu dengan berbagai kalimat sumpah serapah di dalam hatinya.
......................
Judul : Mr & Mrs. BAR-BAR
__ADS_1