
Sarah berdiri menatap gerbang rumah, yang sudah dia tinggali selama kurang lebih 2 tahun itu, dengan perasaan campur aduk. Hampir tidak pernah ada canda tawa di dalam nya, sesaat setelah resepsi sederhana pernikahan nya, Angga memboyong pulang kerumah ini.
Kini hati nya sudah mantap untuk berpisah, dia pikir pernikahan nya akan memberinya banyak cinta dan kebahagiaan. Nyata nya, di malam pengantin nya, dia malah di tinggal pergi oleh sang suami dengan alasan pekerjaan selama 3 hari.
Lalu hari-hari berikut nya, sikap pria itu sering berubah-ubah padanya. Kadang dia begitu perhatian, kadang dingin dan tiba-tiba memarahi bahkan memukulnya hanya karna hal-hal sepele.
Sarah rasa sekarang sudah cukup, kesabaran nya sudah berada di limit terakhir. Dia tidak ingin berkompromi lagi dengan keadaan, apalagi sang ayah sudah mendukung penuh keputusan nya. Benar kata sang ayah, tempat pulang suami adalah di mana istri nya tinggal dan tempat pulang anak perempuan yang sudah tidak di hargai oleh suami nya, adalah rumah ayah nya.
Sarah membuka pintu gerbang itu lalu mendorong nya perlahan, di lihat nya sang penjaga rumah tengah tertidur pulas. Di lirik nya jam yang ada di dinding pos itu, menunjukkan pukul 15:21. Masih ada waktu pikir nya, untuk mengemasi barang-barang nya. Kemudian Sarah bergegas masuk ke dalam rumah yang nampak sepi itu.
"Ibu, akhir nya ibu pulang. Bibi kangen." Ucap sang ART dengan senyum sumringah melihat kedatangan Sarah.
__ADS_1
"Iya, bi. Ayah baru habis pasang ring jantung tadi pagi. Makanya Sarah baru bisa pulang, ini juga cuma mau ambil barang-barang Sarah aja. Sarah tinggal dulu ya, bi." Ucap Sarah kemudian menaiki tangga menuju lantai atas.
Sarah membuka pintu kamar lalu berhenti sejenak, dia menatap setiap sudut kamar tersebut. Sarah menghela napas pelan, ada rasa sakit di sudut hati nya. Selama ini dia trus berjuang sendirian tanpa sekalipun suami nya ikut andil dalam perjuangan nya. 3 bulan yang lalu, Sarah tidak sengaja melihat suami nya, sedang menggandeng mesra sekretaris nya memasuki sebuah butik ternama. Sambil sesekali meremas bokong wanita itu, tanpa mempedulikan mereka sedang berada di mana.
Hati Sarah sangat sakit mengetahui, suami yang sangat dia cintai itu telah menghianati nya. Sejak saat itulah jiwa memberontak Sarah muncul, selama ini dia di kekang, bahkan ke rumah ayah nya saja dia tidak boleh berkunjung lebih dari sekali sebulan. Bahkan jatah bulanan Sarah di batasi, dan suami nya itu sedang membawa perempuan lain untuk di manjakan nya di butik yang Sarah tebak, harga nya berada di kisaran 20juta paling murah.
Sarah bergegas menuju koper yang tidak terlalu besar, lalu membuka nya, mengeluarkan sebuah tas jinjing ukuran sedang milik nya. Kemudian menuju lemari pakaian, memasukkan nya ke dalam tas dan koper nya. Setelah semua barang-barang nya selesai di masukan, Sarah duduk sejenak di sisi ranjang. Dia mengusap pelan wajah nya, ada perasaan yang sulit untuk di jabar kan. Bukan perasaan tak rela berpisah, hanya semacam perasaan kecewa yang mendalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bu? Itu koper sama tas nya mau di bawa kemana?" Tanya hi Siti dengan nada tidak enak, karna seperti terkesan mencampuri urusan majikannya.
__ADS_1
"Owh itu, nanti bibi juga bakal tau." Ucap Sarah sambil tersenyum lembut kepada ART nya itu.
"Sayaang, kamu dimana?" Terdengar teriakan sang suami di ruang tamu.
Sarah bergegas untuk menyambutnya, sebelum berpisah dia akan memberi kesan yang baik, begitulah pikir nya.
"Cepat banget kamu pulang, mas, tumben." Ucap Sarah mengambil tas kerja suami nya dan membantu pria itu membuka sepatu berikut kaus kaki nya, kemudian memasangkan sandal rumah yang susah dia siap kan tadi.
Sejenak Angga terdiam di tempat duduk nya, melihat apa yang Sarah lakukan membuat jantung nya berdesir aneh. Di tatap nya wajah Sarah yang sibuk membereskan sepatu dan kaus kaki nya itu, ada gelayar yang membuncah di dada nya. Di rengkuh nya tubuh kecil Sarah kedalam dekapan nya, lalu menghirup dalam-dalam aroma vanilla di tubuh istri nya itu. Dia baru sadar, ternyata dia sangat merindukan wanita itu, Angga memeluk erat tubuh Sarah seolah akan di tinggal pergi oleh istrinya. Iya memang, sebentar lagi.
"Kamu kenapa baru pulang, aku kangen benget sama kamu. Berapa hari ini aku kesepian nggak ada kamu di rumah, nyambut aku pulang kerja, masakin aku makanan dan nyiapin semua kebutuhan aku. Jangan pergi-pergi lagi ya, aku nggak bisa kalau nggak ada kamu di rumah, rasa nya ada yang kurang. Maaf sudah sering melukai hati kamu bahkan fisik kamu, aku janji akan berubah. Nanti kita rawat ayah di sini aja , biar kamu nggak bolak balik. Itu jauh, aku takut kamu kecapean." Ujar Angga panjang lebar masih trus memeluk tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Kalau dulu Angga berkata seperti itu, mungkin dia akan sangat bahagia, namun hati nya sudah tidak bisa di ajak kompromi sekarang. Terlalu banyak sakit nya ketimbang bahagia nya.
"Mas, sesak. Aku susah napas." Ucap Sarah menyadarkan Angga, kemudian pria itu mengurai pelukannya dan menatap mata sarah yang sembab, mungkin Sarah terharu dengan kata-kata nya, begitulah pikirnya.