Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XlVIII


__ADS_3

Suasana pagi di mansion Reegan tampak begitu tegang, sejak perdebatan Reegan dan kakeknya semalam. Mereka belum terlibat obrolan apapun lagi. "Papi nggak balik ke mansion utama?".. Celetuk Maya pada ayahnya.


"Kamu ngusir papi, Maya!".. Seru Tuan Prayoga pada putrinya, dia tidak terima dengan ucapan yang menurutnya bermakna pengusiran secara halus tersebut.


"Aku cu..."


"Mama sudah siap, ayo. Reegan antar mama ke toko." Ucap pria itu datar, namun penuh dengan perhatian pad sang ibu. Dia tidak ingin meninggalkan ibunya dirumah bersama sang kakek, mental ibu nya tidak akan baik jika berada dalam tekanan.


"Eh, oh ya. Bentar ya mama ambil tas dulu." Buru-buru Maya mengambil tas nya di kamar, dia bahkan hanya menggunakan baju rumah, karna tidak menyangka akan diajak ke toko.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mama ke apartemen aku aja, ya. Nanti aku telpon Sarah biar mama nggak kesepian." Reegan mengotak atik ponsel nya untuk menghubungi seseorang.


Sementara ibunya hanya bisa melongo, bukankah tadi diri nya akan di antar ke toko. Kenapa jadi ke apartemen, namun Maya tidak berani berkata apapun, melihat wajah datar Reegan. Dia tau sesuatu telah terjadi antara Reegan dan kakek nya.


"Halo sayang, kamu sibuk nggak hari ini?".. Ucapan Reegan membuat Maya hampir saja tersedak saliva nya sendiri.


("Nggak sibuk sih, Ree. Aku cuma mau ketemu sama mas Angga sebentar, ada berkas yang belum lengkap. Kenapa memang.")


"Sepulang dari sana kamu bisa temani mama di apartemen aku nggak? Memang kamu mau ketemuan nya jam berapa? Sama aku aja, jangan sendiri. Tar kamu cinlok lagi, aku yang repot." Seperti biasa, Sifat posesif mulai keluar jika berhubungan dengan mantan suami kekasihnya itu.

__ADS_1


("Cinlok apaan sih, Ree. Ketemuan nya bertiga, ada Lusi juga, siang abis mereka cek kandungan. Memang bu Maya sekarang dimana, aku ke sana aja sekarang.")


"Ck, kamu itu. Kapan sih manggil mama tu yang benar. Mama Sayang, mama." Gerutu Reegan pada sang kekasih. " Bentar aku mau parkir dulu, kami baru sampe di apartemen. Jangan di matikan."


("Ck, tukang perintah.") Gumam Sarah pelan.


"Aku dengar sayang, kamu mau aku jemput nggak, sekalian mau sungkem sama calon mertua." Kekeh Reegan. "Ayah di rumah nggak ini?"..


("Ayah antar pesanan sayur dari warung makan, lumayan ada 10kg, langsung semangat nunggangi si Bepang. Aku ke sana bentar lagi, nggak usah jemput. Aku matiin dulu ya, lagi di jalan nuju ke rumah abis antar cucian") Ucap Sarah mematikan ponselnya.


Satu bulan ini hubungan mereka sudah berjalan, meski jarang bertemu, komunikasi mereka tetap lancar. Sudah seperti kebutuhan, pagi, siang dan malam. Reegan akan uring-uringan jika Sarah terlambat membalas pesannya atau mengangkat telponnya.


Pria itu sudah terkena sindrom kebucinan akut tingkat dewa, setiap jam dia akan mengirim pesan, hampir semua pesannya berisikan kata yang sama. Sarah harus ekstra sabar menghadapi nya, saat pria itu lembur, Sarah akan menemani nya melalui sambungan video call hingga dia sendiri sering tertidur. Hampir setiap hari tidak pernah absen telpon, pesan singkat, dan video call.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ting tong... Klekk...


"Loh, kok kamu masih di sini, mama kamu mana?".. Cecar Sarah pada pria yang dia pikir sudah pergi bekerja itu.


"Aku kangen, tunggu kamu, duduk sini." Ucap Reegan menarik pelan tangan Sarah menuju sofa. "Sini peluk aku dulu." Reegan mengulurkan tangannya, membawa Sarah dalam dekapannya, dia begitu merindukan wanita itu. sudah seminggu sejak pertemuan meraka di toko roti sang ibu, baru bertemu lagi sekarang.

__ADS_1


"Ree, nanti mama kamu liat. Malu ah."


"Aku masih kangen, bentar dulu. Atau mau ke kamar aja, biar mama nggak liat. Pelukan kaya waktu itu, aku suka, jadi bisa tidur nyenyak aku. Yuk!"..


"Eh, tar mama kamu mikirnya apa, nggak, di sini aja, lagian kamu nggak kerja. Udah rapi gini kok, berangkat gih." Tolak Sarah, dia tidak ingin bu Maya berpikir yang tidak tidak, meski mereka tidak melakukan apapun.


"Mama ke toko, nggak lama abis nyampe sini, ada pegawainya yang kena insiden, luka bakar gitu katanya nggak jelas juga. Mama buru-buru, jadinya nggak sempat nanya jelasnya gimana."


"Ck, kenapa nggak ngasih tau. Aku kan bisa langsung ke sana, aku kesini sampe buru-buru biar nggak ditungguin lama." Omel Sarah kesal, dia sudah buru-buru agar tidak membuat ibu kekasihnya itu menunggu, malah yang di temani anaknya. Suka sih, tapi kesal aja.


"Sengaja, aku kangen." Ucap Reegan tanpa rasa bersalah. "Bentar ya." Reegan mengambil hp nya dari dalam saku lalu menelpon seseorang.


"Abdi tolong bilang sama Nindy, rubah semua jadwal saya hari ini, sisanya kamu sama Nindy yang handle, kalau ada kakek telpon ke kantor bilang aja tadi saya ke kantor, trus pulang lagi karna nggak enak badan. Dan satu lagi saya sedang tidak bisa di ganggu!".. klik. Panggilan diputuskan sepihak oleh Reegan.


Kemudian pria itu mematikan ponselnya, dia sudah mengirim pesan pada sang ibu, jika sang kakek bertanya tentang dirinya, katakan saja bahwa dia sedang sakit, butuh istirahat dan tidak ingin diganggu. Reegan juga meminta ibunya kembali sore hari ke apartemen, dia sedang ingin berdua bersama Kekasih nya, sungguh ciri anak yang durhaka.


"Kamu nggak ngantor?".. Tanya Sarah lembut, dia bisa merasakan bila sang kekasih, seperti sedang menanggung beban pikiran yang berat.


"Nggak, mau sama kamu aja hari ini. Nanti aku ikut ya, aku nggak suka kamu ketemu sama mantan. Takut masih ada bibit-bibit cinta di sini, aku nggak mau patah hati." Ucap Reegan sendu, dia menunjuk dada Sarah. Reegan tidak rela, jika di hati sang kekasih, masih ada tersimpan benih cinta pada mantan suaminya.


"Nggaklah, udah ilang sempurna sejak aku tau di selingkuh. Hati kalau sudah terluka apalagi kecewa, cinta nya bisa langsung menguap begitu saja. Itu kalau aku, tiap orang beda-beda, tapi aku gitu, jadi kamu jangan coba-coba buat nakal." Ucap Sarah penuh peringatan.

__ADS_1


"Gimana mau nakal, dapat kamu aja aku sampe nekat nekatan. Nggak akan aku sia-siain pokonya, dapatnya susah ini, sampe mewek bombay aku tuh, karna ditolak." Kekeh Reegan, mengingat momen lamaran dadakan penuh kenekatannya sebulan yang lalu. "Nonton dikamar aja yuk, sambil rebahan, aku kan sakit." sungguh Reegan sangat berbeda ketika bersama Sarah, pria itu begitu manja dan selalu menempeli kekasihnya seperti lintah.


__ADS_2