
Sepanjang perjalanan pulang Angga dan Lusi terdiam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Aku senang, Sarah bisa menemukan laki-laki yang lebih baik dariku. Dengan begitu rasa bersalah ku padanya sedikit berkurang, aku bisa melihat dengan jelas tatapan mata Reegan pada Sarah. Tatapan penuh damba dan cinta, begitupun dengan Sarah." Ucap Angga sambil meremas lembut tangan kekasihnya, berusaha menyalurkan perasaan nya yang juga mulai mencintai wanita itu sepenuh hatinya.
"Aku juga, mas. Nggak nyangka mereka bisa kenal, Reegan itu orang yang sangat dikenal dingin dan juga arogan. Aku yakin pasti tidak mudah untuk bisa menaklukkan hati seorang Reegan Adnan Prayoga. Dan aku lebih yakin lagi, jika Reegan lah yang lebih dulu menjatuhkan harga diri nya, hanya demi seorang Sarah. Sarah beruntung banget ya, mas." Ujar Lusi tanpa sadar telah menyentil hati kecil Angga, pria itu terdiam. Dia merasa bersalah, telah membuat wanita hamil itu merasa tidak di cintai.
"Kamu juga beruntung kok, sayang. Aku sayang sama kamu juga si twins montok kita, maaf kalau aku tidak se ekspresif Reegan, aku nggak tau gimana cara nya, dulu dengan Sarah pun aku begitu. Saat kami berhubungan saja, aku tidak pernah mengucapkan kata manis atau sekedar memberi pujian padanya. Aku malah bisa melakukan itu sama kamu, memujimu dan memberikan kata manis dan sayang saat kita bersatu. Bukan berarti Sarah tidak hebat soal urusan ranjang, aku hanya terlalu kaku padanya." Jelas Angga panjang lebar, agar kekasihnya itu mengerti dirinya yang memang susah berkata manis.
"Kamu sadar nggak, kalau sebenarnya aku udah sayang sama kamu sejak hubungan kita berjalan, hanya saja aku berusaha untuk mengelak nya. Karna mungkin saat itu hatiku masih terbagi untuk Sarah. Aku bisa lebih menjadi diriku sendiri saat berhubungan sama kamu, mungkin itu yang membuat aku bisa memberikan kata-kata manis dan juga pujian atas hasil goyangan kamu di atas ku." Ucap Angga terbahak-bahak, melihat ekspresi sang kekasih yang menahan malu, dengan ucapan frontal nya.
__ADS_1
"Gini nih kalau terlalu lama bersolo karir, otak nya rada-rada mesum mulu, tiap kali ngobrolin sesuatu yang serius." Cibir Lusi kesal.
"Setiap cowok itu pasti akan mesum dan nakal bila sudah bersama kekasih nya, dan itu wajar sayang. Pria itu mengikuti naluri nya, sedangkan wanita lebih mengutamakan perasaan. Kamu ingat nggak perjanjian kita dulu, jangan pernah melibatkan perasaan dalam hubungan kita. Nyatanya, tanpa kita sadari, perasaan itu tumbuh dengan sendiri nya tanpa kita minta. Jadi biarlah suatu hubungan itu mengalir dengan sendirinya, karna semakin banyak kita meminta, maka semakin sedikit yang akan kita terima." Nasihat Angga membuat Lusi merenung, benar memang, hubungan mereka terjalin karna saling membutuhkan. Dia membutuhkan kehidupan yang bergelimangan kemewahan, sedangkan Angga butuh wanita yang bisa mengimbangi fantasi seksual nya yang liar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"aku langsung balik aja ya, Ree. Pasti ayah sudah pulang sekarang, aku janji mau beli mesin cuci baru sama ayah. Nanti kamu berhenti di pertigaan, aku mau langsung ke pasar."
"Kok kesini sih, Ree. Di sini tuh mahal, toko di pasar sana bisa lebih murah dan bisa nawar juga. Kalau gini ceritanya bisa bangkrut aku, cuma buat beli mesin cuci satu doang." Omel Sarah dengan kesal. Dia hanya membawa uang tunai 3juta rupiah, yang akan dia gunakan untuk membeli mesin cuci dan beberapa kebutuhan lain. Kalau begini, dia yakin untuk membeli mesin cuci saja tidak akan cukup.
__ADS_1
"Kamu ini ngomel terus, kaya istri kekurangan jatah aja, tadi nggak mau sih aku nembak di dalam, jadi uring-uringanan gini, kan." Pria itu malah bercanda di saat Sarah sedang ketar ketir, memikirkan saldonya yang pasti akan menjerit di rekening bila dia tarik lagi.
"Issh, kamu ini. Nggak bisa di ajak serius." Balas Sarah dengan hati semakin dongkol.
"Aku juga serius, sayang. Ini efek kamu lama nggak di tembak enak, nih. Makanya suka ngomel-ngomel nggak jelas gini." Astaga, pria itu membuat Sarah ingin sekali menabok nya dengan bibir, kalau saja tidak takut mereka akan khilaf lagi.
"Udah, tenang aja. Calon suami kamu ini, kaya. Uangnya banyak, nggak akan abis sepuluh turunan, sepuluh tikungan dan satu tanjakan." Seloroh Reegan kembali menggoda Sarah, dengan sengaja menoel dada kekasihnya, saat mengucapkan kata tanjakan. Bisa kelar masa depannya jika dia bilang sepuluh tanjakan, biarlah turunan dan tikungan nya yang banyak asal tanjakan satu, itu saja sudah cukup bikin Reegan merem melek tidak karuan.
"Awas aja, aku kasih bangkrut kamu sekalian." Gerutu wanita itu tiada henti.
__ADS_1
"Sok atuh neng, duit akang banyak, habisin kalau bisa, nih." Reegan menyerahkan kartu saktinya pada Sarah. "Kamu yang pegang, nanti orang kira aku ini suami yang pelit kalau aku yang bayarin. Kamu abisin aja isinya, semua milikku sekarang adalah milikmu, sayang. Begitupun sebaliknya." Ucap Reegan terkekeh melihat ekspresi mencibir sang kekasih.
"Ck, nggak mau Rugi juga ternyata." Cibir Sarah dengan bibir monyong sepuluh senti