
Sarah baru keluar dari kamar mandi, dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah ayah nya. Dia tidak ingin palang ke rumah suami nya, karena pasti Angga tidak akan mengijin kan dirinya untuk kembali lagi ke rumah sakit.
"Yah, Sarah pulang mau ambil pakaian dulu ke rumah kita. Ayah mau sarah bawakan apa nanti, Sarah pengen beli nasi goreng teri petai nya mas Diman yang di ujung jalan rumah kita itu. Udah lama nggak pernah ke sana."
"Ayah pengen martabak manis aja, kamu masih ada pegangan uang?".. Pak Ramdhan hanya khawatir dengan keuangan anak nya itu, mengingat menantu nya hanya menjatah Sarah dengan uang belanja sejumlah 15 juta rupiah perbulan.
Bukannya pak Ramdhan tidak bersyukur, hanya saja, uang itu juga di pakai Sarah untuk membayar gajih ART dan satpam rumah mereka, belum lagi kebutuhan dapur dan lain lain. Sarah harus ekstra berhemat, kadang menjual beberapa lukisan kanvas secara online demi menutupi kekurangan kebutuhan dapur juga kebutuhan nya sendiri.
"Ayah tenang aja, selama Sarah masih bisa memenuhi semua kebutuhan ayah. Ayah tidak perlu khawatir memikirkan apa pun, cukup pikirin kesehatan ayah aja, ya."
Sarah mengambil tas selempang nya lalu menyampir nya di bahu.
__ADS_1
"Kamu hati hati, sampai rumah pakaian kotor ayah kamu titipin sama istri nya kang Sadin aja, nanti di cucikan. Kasih 40rb, bilang nggak usah di setrika segala, pewangi nya kamu beli sendiri ya, yang bungkusan sedang."
Kasihan juga, kang Sadin sekarang lagi nganggur, kerja nya serabutan. Kadang ayah minta tolong jualkan hasil kebun belakang rumah, lumayan hasil nya ayah bagi dua." Ucap pak Ramdhan panjang lebar.
"Iya, yah. Nanti Sarah belikan sekalian sabun cuci nya, Sarah juga mau beli keperluan mandi di minimarket market depan rumah sakit. Sarah berangkat dulu ya, yah." Ucap Sarah sembari mencium punggung tangan sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masih usaha, maa." Ini lah yang membuat Angga paling tidak suka jika datang ke rumah orang tua nya. Pertanyaan yang sama, selalu terlontar dari mulut ibu nya. Dia sampai bosan mendengar nya.
"Istri kamu itu memang nggak becus, hamil aja nggak bisa. Bisanya dia apa, selain menghambur hamburkan uang kamu untuk ayah nya yang penyakitan itu." Wanita paruh baya itu terus mengomel, membuat telinga Angga semakin panas.
__ADS_1
"Bisa nggak, ma. Nggak usah bahas masalah anak trus, aku tu lagi ribet sama masalah perusahaan. Mama jangan ikut nambah beban pikiran aku juga dong."
"Kok, kamu jadi nyalahin mama, wajar dong kalau mama nanya cucu sama kalian. Ini sudah 2 tahun kalian menikah, tapi belum juga bisa ngasih mama cucu." Dumel wanita itu tak ingin di salahkan.
"Bisa jadi istri kamu itu mandul, kamu ingat kan waktu hasil tes kesuburan kalian keluar. Sarah lebih memilih pergi sendiri, untuk mengambil hasil tes itu." Oceh wanita itu dengan segala praduga nya yang tak mendasar.
"Itu karena aku lagi sibuk waktu itu, ma. Jangan terlalu menekan Sarah, gimana dia mau hamil kalau mama selalu menekan dan meneror nya setiap hari soal cucu." Bela Angga pada ibu nya.
"Lagipula hasil tes aku dan Sarah juga baik semua, hanya perlu bersabar dan berusaha lagi." Jelas angga lagi.
"Terserah kamu, pokonya kalau sampai akhir bulan depan Sarah belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Kamu harus menikah lagi, mama nggak mau tau. Titik." Ucap wanita paruh baya itu, lalu beranjak meninggal kan Angga yang masih mematung mendengar ide sang ibu.
__ADS_1
Kepala Angga berdenyut hebat, di saat perusahaan nya sedang dalam fase kritis, ibu nya malah menambah beban pikiran nya. Angga beranjak dari duduk nya, bergegas keluar menuju mobil nya meninggal kan rumah sang ibu. Berlama-lama di sana membuat nya semakin stress. Belum lagi sang istri yang tidak pulang kerumah, semakin menambah pusing kepala nya saja.