
"Yah, hari ini Sarah mau ketemuan dengan mas Angga dan Lusi, tar siang katanya tadi. Mau ke dokter kandungan dulu, tapi aku mau keluar abis sarapan ini. Mau ke rumah Nabila, kangen banget sama tu anak, semenjak mau nikah sibuk banget dia." Sarah bercerita pada sang ayah tentang rencana nya.
"Iya, lama sudah Nabila nggak pernah main ke sini. Ayah kira pindah ke bali ikut orang tuannya." Timpal pak Ramdhan.
"Nggak yah, Nabila lagi sibuk siapin pernikahannya. Biasa yah, yang nikah anaknya sultan. Jadi t*t*k bengek nya banyak, beda kalo rakyat jelata yang nikah, paling banter dangdut koplo sama tong iblis. Pesta Rakyat gitu." Kekeh Sarah pada ayahnya.
Sarah mengangkat piring kotornya dan sang ayah membawa ke wastafel untuk dicuci.
"Ini biar ayah aja yang simpun, kamu cuci itu aja."
"Baik yah, ini habis ini mau ke rumah teh Tini antar pakaian kotor. Yah, Sarah ada rencana beli mesin cuci baru. Gimana menurut ayah, itu mesin cuci kita kasih teh Tini atau jual aja. Kang Sadin bisa servis juga kan, itu dinamo nya aja yang harus ganti. Masih bagus pengeringnya."
"Boleh, nanti ayah tanya sama kang Sadin. Nggak enak langsung mau ngasih, takutnya malah kesannya gimana gitu." Ujar sang ayah bijak seperti biasanya.
"Aku aja yah, yang ngomong nya, kebetulan juga mau kesana. Nanti aku basa-basi dulu ngomongnya sama te Tini." Kekeh Sarah
"Iya, sudah ayah mau antar sayur dulu kerumah pak Mamat, kemaren sore beliau pesan terong sama timun masing-masing 5kilo. Buat di warung makannya yang baru buka dua minggu dekat pasar malam sana." Ucap pak Ramdhan sembari menimbang sayur yang dimaksud.
__ADS_1
"Eh udah buka, pantas ada rumah makan yang katanya lagi promo di dekat pasar. Nggak perhatiin juga namanya apa, pasti pake nama nya, Warung makan pak Mamat atau rumah makan Indah." Ujar Sarah sambil terkekeh pelan, Indah adalah nama istrinya pak Mamat.
"Ayah berangkat dulu ya, kamu nanti hati-hati kalau sudah berangkat. Ayah sekalian mau singgah bengkel ganti ban sama busi, suka ngadet belakangan ini. Kemaren ayah dorong dari deket rumah nya pak lurah, mogok. Kata kang Ujang, busi nya itu paling, lama memang ayah nggak pernah ganti." Ujar pak Ramdhan panjang lebar.
"Ayah sih nggak mau Sarah ganti, kasian si Bepang. Udah tua renta gitu masih ayah aniaya juga, buat bawa sayur berkilo-kilo." Ujar Sarah merengut, mengingat si Bepang, motor antik kesayangannya itu. Yang selalu menjadi andalannya sejak kelas 3 SMP hingga kuliah, juga menjadi kuda besi pengangkut sayur sang ayah.
"Uang kamu simpan aja buat tabungan, itu lukisan kamu sudah selesai belum. Ayah mau liat dulu, anggap aja ayah sebagai Apresiator nya." Ujar pak Ramdhan terkekeh. Pak Ramdhan hanya ingin memastikan sesuatu, untuk itu dia ingin melihat lukisan yang Sarah buat.
"Boleh, bentar yah." Sarah bergegas ke ruangan yang dia gunakan untuk melukis, kemdian mambawa lukisannya keluar. "Nih, silah kan dilihat dan di nilai, pak Apresiator." Seloroh Sarah pada sang ayah.
Pak Ramdhan seketika mematung, lututnya terasa lemas, segera dia mendudukkan diri di kursi kayu yang ada didekatnya.
"Katakan siapa yang meminta kamu membuat lukisan in, Sarah? Kenapa kamu menerimanya, nak. Hidup kita bisa terancam bahaya karena kecerobohan kamu ini. Berapa uang yang sudah kita pakai, ayah akan mengantinya. Kamu kembalikan uang itu, nak. Kembalikan!".. Seru pak Ramdhan, membuat Sarah syok bukan main. Ini pertama kali nya sang ayah berbicara dengan nada sedikit tinggi pada nya.
Tubuh pak Ramdhan bergetar hebat, menahan tangis juga diliputi kecemasan yang luar biasa. Bisa dipastikan jika tuan Prayoga melihat lukisan itu, hidupnya dan Sarah benar-benar berada diujung maut. Pak Ramdhan ingat, bagaimana kehidupan mereka sebelum berakhir dikampung tersebut.
Flashback
__ADS_1
"Pergilah tuan, saya akan mengalihkan perhatian orang-orang suruhan tuan besar. Jika saya tidak datang ke tempat yang sudah kita sepakati, tuan pergilah sendiri. Ajak serta istri dan anak saya, saya percayakan mereka pada anda tuan." Ucap Pak Ramdhan, sopir pribadi tuan Adnan.
"Tapi apa yang harus saya katakan pada istrimu, Ram. Kita pergi bersama saja, lebih baik seperti itu, kamu naik dipunggung saya sekarang." Perintah tuan Adnan pada sopir nya.
"Tidak tuan, saya sudah terluka sangat parah. Kondisi saya akan membuat kita ditemukan, berikan ini pada Samira, katakan padanya, ubah nama belakang anak kami Sarah, menjadi Sarah Sudibyo. Dan mulai sekarang, tuan akan memakai nama saya. Ramdhani Herlambang, saya pinjam nama belakang tuan untuk akan saya. Kelak tuan akan mengerti kenapa." Ucap Pak Ramdhan terbata-bata, darah segar kembali keluar dari mulutnya.
"Di buku kecil ini, sudah saya tuliskan nama-nama orang yang bisa tuan hubungi kelak jika keadaan kalian terdesak. Ingat hanya saat terdesak saja, nomornya ada disana berikut alamat nya. Pergilah menjauh dari ibukota untuk beberapa tahun. kuhukk.."
"Pergilah tuan waktu saya sudah tidak banyak, akan saya pergunakan sebaik mungkin, ikut pinggir hutan ini sampai bertemu dengan pos, katakan tuan korban perampokan. Mereka akan segera bertindak, berlindung lah sementara disana, di rumah kang Sudirman. Sebut nama saya, beliau akan mengerti." Pak Ramdhan kemudian bangkit menuju arah berlawanan, dengan sisa-sisa tenaganya untuk memancing orang-orang yang mengejar mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yah, maafin Sarah jika sudah membuat kesalahan. Sarah tidak tau jika lukisan ini akan membuat ayah semarah dan sesedih ini. Maafin Sarah, yah." Sarah berbicara dengan suara serak, dia trus terisak memeluk sang ayah. Membuat kesadaran pak Ramdhan kembali, kemudian menatap Sarah dengan tatapan bersalah.
"Nggak nak, bukan kamu yang salah. Kamu nggak pernah salah, anak ayah ini anak yang baik. Sudah jangan nangis lagi. Ayah juga minta maaf sudah membentak kamu tadi, ayah reflek. Ayah terbawa perasaan, nanti malam akan ayah ceritakan semuanya. Sekarang ayah mau pergi dulu ngantar sayur itu, kasian pak Mamat. Pasti udah nunggu."
Pak Ramdhan mengusap sudut matanya sebelum beranjak. "Kamu hati-hati lah kalau jalan, jangan dulu antar lukisannya sebelum ayah menceritakan semuanya sama kamu. Kamu paham kan, nak."
__ADS_1
"Iya, yah. Ayah hati-hati dijalan. Kalau ada apa-apa, hubungi Sarah. Pesan Sarah pada pak Ramdhan.
"Kamu juga, nak."