Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXI


__ADS_3

Klek


"Eh, mas Keenan. Maaf, tadi saya masuk gak bilang-bilang dulu. Mas nya saya cari-cari gak ketemu, jadi saya masuk aja. Cuma mau beresin barang aja kok, ini udah kelar." Ujar Arumi sungkan.


"Saya gak ilang, kenapa dicariin?"


Eh, jawaban apa itu. Arumi jadi salah tingkah sendiri jadinya.


"Bukan gitu, mas Keenan. Maksud saya, saya nyariin tadi, mau ijin masuk kamar juga sekalian pamit sama mas nya." Balas Arumi semakin tak enak. Apa pria itu marah karena sudah masuk kamarnya tanpa ijin.


"Maaf, saya sudah lancang masuk kamar mas Keenan gak ijin dulu. Saya pikir gak apa-apa, biasanya juga gitu." Ujar gadis itu lagi dengan suara pelan.


Sementara Keenan masih menatap datar, pada gadis yang kini tengah berdiri di depannya, dengan menenteng tas kusam miliknya.


"Udah pamit sama ayah-bunda?" Tanya Keenan basa basi. Namun intonasi nya tetap datar.


"Udah, mas Keenan. Ini mau langsung pulang, semalam udah pamit sama ibu-bapak, juga yang lain." Ujarnya masih belum berani menatap kearah Keenan.


Siapa yang berani coba, dirinya ditatap dengan tatapan seolah dia sedang kepergok mencuri. Selama lebih sebulan mengenal anak sulung keluarga itu, Arumi masih selalu takut jika berhadapan langsung dengan Keenan.


Pria itu menurut nya tidak ramah, berbicara seperlunya dan selalu bersikap dingin padanya. Mereka berinteraksi jika Arumi akan mengambil pakaian ganti nya saja, karena gadis itu lebih memilih untuk mandi di kamar mandi yang ada diluar. Lebih praktis untuk orang kampung seperti nya. Pernah sekali dirinya mencoba mandi menggunakan bathtub, dirinya malah hampir masak gara-gara salah memutar keran air panas.


Masih belum jera, Arumi coba pindah mandi menggunakan shower. Kepala nya yang hampir botak di guyur air yang juga tak kalah panas. Akhirnya Arumi menyerah, tidak apa-apa tidak jadi mandi, lumayan sudah pernah masuk kamar mandi orang kaya pikirnya.


"Jadi kamu gak mau pamit sama saya, yang sudah kamu tumpangi kamar dan lemari nya."

__ADS_1


Loh? Kok? Padahal kan tadi sudah bilang mau pamit, kenapa jadi ribet gini sih. Perkara mau pamit doang. Kan dia juga yang nyuruh narok tas buluk arumi di kamar nya. Kenapa jadi kaya orang gak ikhlas gitu ujung-ujungnya.


"Eh, ya ini mau pamit. Saya pamit mas Keenan. Makasih banyak sudah di bolehin make lemari nya mas Keenan. Dan sudah bantu saya selama merawat non Killa di sini." Ujar gadis itu pamit pada Keenan, yang masih belum bergeser dari posisi nya, yang sedang bersandar di pintu kamar.


"Hmmm.."


'Itu artinya apa mas, sama-sama apa gimana. Ini udah boleh pamit tidak' Monolog Arumi, yang di buat pusing sendiri, dengan sikap Keenan yang tak memberi celah baginya untuk Lewat.


"Ini, saya boleh lewat tidak mas Keenan?" Dengan sedikit keberanian yang sudah dia kumpulkan mati-matian, akhirnya Arumi bisa melontarkan pertanyaan tersebut.


"Yang larang kamu lewat itu siapa?" Ujar Keenan semakin datar.


Arumi jadi semakin takut, apa yang salah dengan pertanyaan nya. "Ah,ya mas. Maaf. Kalo gitu saya permisi dulu, makasih sekali lagi. Atas tumpangan lemarinya." Ujar Arumi bergegas melewati tubuh Keenan yang masih menyeder di pinggir pintu.


Arumi merasa lega, akhirnya rintangan terberat nya sudah usai. Berhasil melewati Keenan tanpa masalah dan berhasil lolos dari si nona kecil psikopat dirumah itu. Keduanya bagi Arumi sama-sama menakutkan.


"Ada kakak, Kira." Suara bariton Keenan membuat keduanya tersentak kaget. Terlebih Arumi, dia merasa malaikat mautnya kembali mengincar.


"Benar Kira, nanti main sama mas Keenan aja, atau mbak keyra. Mbak Arumi pamit ya, kamu baik-baik." Arumi bergegas menenteng tas nya, lalu berjalan cepat menuju ke luar rumah mewah tersebut.


Terlalu lama berada di dalam rumah itu, terutama berada disekitar Keenan, membuat nya tiba-tiba merasa kan serangan Jantung dan Asma dalam waktu bersamaan. Dia berdoa agar dia tidak dipertemukan kan lagi, dengan pria kaku tersebut.


Namun tanpa Arumi tau, seseorang sedang berdoa sebaliknya. Siapakah dia hanya author yang tau🤭


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


klek


"gimana keadaan keponakan saya dok?" Satria mengambil alih situasi.


"Keadaannya sudah lebih baik, transfusi itu membantu mengembalikan darahnya yang banyak keluar. Sekarang kondisi nya sudah baik dan bisa dijenguk. Silahkan masuk pak-bu." Ujar dokter itu Ramah.


"Lo aja, gue mau pulang. Urus sampe kelar, jangan hubungi gue kalo masih ngambang kaga jelas kaya gini. Yuk sayang, sekalian kita nyari sarapan." Ujar pria itu tanpa dosa, dan Tanpa memikirkan perut sahabat nya yang juga butuh di isi.


"Lo ya, lo pikir lo doang yang laper. Gue juga, gak bisa. Lo belum boleh pergi, kalo mau pergi, bareng. Enak aja. Ayo ikut gue masuk kedalam, lo harus gue amankan terlebih dahulu. Main kabur aja lo gak mikirin nasib gue." Satria mengomel sembari trus menarik paksa tangan Reegan kedalam ruangan Killa.


"Yah? Aku tau pasti ayah bakal jenguk aku. Ayah nyesel kan udah ninggalin Killa sama wanita gila itu, liat yah, kepala Killa dihantub ke pintu. Sakit banget yah, Killa gak mau sama orang itu yah, bawa Killa pulang. killa janji gak bakal nakal lagi. Nanti Killa main bareng sama Kira. boleh ya yah, bawa Killa pulang. Killa takut yah." Anak itu berucap dengan air mata yang bercucuran sederas air sungai Amazon.


Terbersit rasa iba dihatinya, selama ini anak itu tidak pernah memohon sambil menangis sesedih itu padanya. Biasanya dia akan menangis histeris dan berteriak tak jelas.


"Kamu harus tetap ikut ibu kamu Killa, bagaimana pun dia itu ibu kandung yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini. Lagi pula Kira takut sama kamu." Biarlah dia berbohong atas nama Putri kecilnya, dia tidak berani menjamin, anak itu akan benar-benar berubah.


"Gak yah, jangan kasih Killa sama wanita itu yah. Killa takut disakitin lagi sama dia. Om, tolongin Kira." Anak itu kembali memelas memohon belas kasihan Reegan dan Satria


"Kalo Killa mau, Killa bisa tinggal sama om Satria. Jadi anak om Satria saja, bukan ayah Reegan lagi. Maka Killa tidak akan di kasih sama mama kandung Killa. Bagaimana?" Killa terdiam, dia menatap kedua pria itu bergantian. Pilihan yang berat, jika bisa memilih dia tidak ingin bersama Satria. Namun kondisi nya tidak memberi nya banyak pilihan sekarang.


"Tapi Killa masih boleh main kerumah ayah Reegan tidak?" Akhirnya Killa melunak. Tidak apa-apa jika tidak kembali kerumah mewah itu lagi, dia akan melakukan nya perlahan. Akan dia singkirkan Kira dari kehidupan ayahnya. Itulah yang ada di otak kecilnya saat ini.


Mengerikan bukan? Anak sekecil Killa sudah bisa merancang rencana jahat di otaknya, yang bahkan tidak sampai segenggam itu.


"Itu akan kita pikirkan nanti, tapi tentu saja kamu harus menuruti semua aturan yang saya buat. Jika kamu melanggar, bukan hanya akan di kembalikan pada ibumu, tapi akan saya singkirkan kamu sejauh ujung dunia ini berakhir.

__ADS_1


Cocok bukan, kalau sekelas keras kepala Killa dipersatukan dengan Satria si bos mafia.


"Baik, om." Ujarnya Terdengar mantap. Namun siapa sangka, gadis kecik itu kelak yang akan membuat hidup keluarga Reegan terasa begitu nano-nano, asem rasanya.


__ADS_2