Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXXI


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, keempat sahabat itu sedang sibuk mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa. Mereka juga sudah menghubungi pak Burhan, selaku pemilik villa, yang akan mereka tempati.


"Lo ngapain bawa beras segala sih, Muhidiiin?!" Seru Jason gemes, Mereka lebih tepatnya akan menyumbangkan sembako ke daerah terpencil itu dari pada berlibur.


"Kan Kavin bilang disana gak ada toko sembako, gue mana kenyang kalo makan ala-ala bule. Gak makan nasi sama aja belum makan gue." Balas Alfin membela diri.


"Ya tapi ini beras makan tempat banget, kalo mau bawa yang 10kg cukuplah buat 5 hari. Ini 25kg buat apa, lo mau tinggal sebulan disana." Ujar Jason semakin dongkol, mobil mahalnya di aniaya buat mikul beras 25kg. Batinnya meringis iba.


"Woi, Junaidi, Muhidin! Lo pada ngapain diskusi di situ. Itu dus di teras, angkat." Si muka datar berteriak dari arah pintu, dengan wajah yang tak bersahabat. Dia kesal sendiri, pasalnya Kavin melimpah kan semua pekerjaan pada nya.


Mulai dari membawa perbekalan mereka, hingga terakhir disuruh membawa ransel sahabat nya yang tidak ringan itu. Sementara Kavin sudah duduk macho dikursi depan, dengan posisi wuenak. Pria itu seakan tak tau-tau dengan kesibukan para sahabat nya diluar mobil.


'Kan gue mesti gantian nyopir 5 jam kedepan. jadi gue mesti banyakin istrahat. Tar kalo gue cape trus ngantuk, kan bahaya. Udah gak usah ribet, tas ransel gue tolong bawa ya Dan, itu dus sama plastik perbekalan kita juga ya, sekalian. Gue mau istrahat dulu di mobil.' Benar-benar sahabat gak ada akhlak kan.


"Dasar Gatotkaca, merintah gak pake senyum biar cuma seujung bibir." Dengus Jason sebal.


"Itu semua bawa, gue udah berat. Lo gak liat ransel gue ada dua, noh bos kita udah PW di mobil gak tau-tau." Ujar Daniel seraya menunjuk orang yang dia maksud dengan bos tersebut.


Jason menggerutu, sambil mengangkat dus besar dan plastik yang juga tak kalah besar. "Ini kita mau piknik apa mau nyumbang sembako sih."


Daniel hanya melirik, tanpa berniat membantu sedikit pun, sementara Alfan tengah sibuk mengatur letak beras yang dia bawa agar tidak ditindih oleh barang lain. Padahal sejatinya, tidak ada masalah bagi si karung beras, jikapun dirinya di bebankan oleh banyak tumpukan barang. Hanya saja Alfan terlalu seperhatian itu padanya.


"Karung beras lo itu gak akan bocor, cuma ditindih sama dus sama plastik ini doang." Ucapan Daniel mendapat delikan tak suka dari Alfan.


"Udah lo pada masuk sono, ini biar gue yang susun. Gak percaya gue sama lo pada. Yang ada karung beras gue lo tinggal lagi pas gue gak liat. Beras mahal ini, rekomendasi dari mommy tercinta gue." Ujar nya pamer, sekaligus membanggakan sang ibu.

__ADS_1


"Ck, siapa juga yang mau urus itu beras lo." Daniel bersungut dongkol


Setelah drama beras kelar, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju desa tujuan berlibur. Kavin sudah ngorok sejak pak Nanang baru sedepa menjalankan mobil. Daniel, Jason dan Alfan menyusul setelah dalam perjalanan.


Tak terasa sudah 5 jam, mereka menyusuri jalanan, melewati lembah, melintasi gunung dan rawa. Kini tiba giliran Kavin yang menyetir mobil.


Saat sudah setengah perjalanan Kavin membawa mobil, tibalah mereka dijalanan yang berliku tajam, dengan jurang disepanjang kiri jalan. Membuat mereka semua bergidik ngeri, Alfan sejak tadi sudah merengek ingin jalan kaki saja. Dan mendapatkan pelototan tajam dari para sahabatnya.


"Bisa diam gak lo, gerak-gerak mulu kaya kucing kebelet kawin. Ni mobil oleng lo duluan yang gue dorong keluar." Ujar Daniel kesal. Alfan sejak tadi terus menempeli nya, seperti anak kecil yang takut di tinggal ibunya ke pasar.


"Jahat bener sih sama gue, tadi gue pamit sama Mommy bilang ikut sama lo. Kalo ada apa-apa sama gue....."


"Mommy lo akan bilang makasih sama gue, udah nyingkirin bayi tua kaya lo." Potong Daniel kejam.


Pasalnya, jantungnya pun berdetak 10 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Bayangan terjatuh kebawah jurang curam itu membuat susah bernapas, belum lagi bayi tua itu terus memeluknya sejak tadi. Daniel serasa sedang di hukum mati sekarang.


"Gue makan nasi, Muhidiin. Lo aja kali yang makan beras, makanya otak lo ngeres mulu." Balas Daniel sengit.


"Gatotkaca, Muhidin. Lo bedua kalo sekiranya mau debat, turun gih. Berat-beratin muatan aja, berisik. Ganggu konsentrasi gue tau gak." Suara intrupsi dari driver didepan membuat keduanya seketika diam tak bersuara. Alfan yang tadi gaya-gayaan mau jalan kaki pun kicep.


Akhir nya ujian perjalanan mereka telah usai, kini mereka semua bis bernapas lega. Jalan di ujung desa itu menyambut mereka dengan suka cita, semenisasi yang lumayan mulus itu, membuat mereka semua tersenyum cerah. Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu 11 jak itu, akhirnya mereka lewati dalam waktu 12 jam gak sombong.


"Gilaa, bening-bening uiiy." Si Casanova cap beras kepala mulai beraksi. Yang tadi katanya ngantuk berat, kini kedua mata itu berbinar secerah mentari pagi, yang kurang dari satu jam akan menyapa mereka.


Di desa mulai ramai orang-orang berjualan dipasar tradisional dipinggir jalan desa tersebut. Jason yang tadinya mendelik sebal pada sahabatnya, kini mendadak bilang perutnya lapar tak tertahankan. Membuat Kavin terpaksa menghentikan mobil mereka tidak jaug dari pasar itu berada.

__ADS_1


Dengan semangat 45 kedua sahabat itu turun, lalu berjalan menghampiri sebuah warung nasi sederhana, yang biliknya terbuat dari bambu kuning.


"Mau pesen apa mas-mas nya? Ada nasi rawon, ikan gurame bakar, ayam kampung bakar/goreng, lele goreng dan bla bla bla......."


Kedua makhluk yang seakan belum pernah melihat wanita itu, hanya terdiam mematung dengan mulut ternganga. Daniel yang kesal, mengambil setengah sendok sambel dari wadahnya lalu menyuapi keduanya bergantian.


"Auwww hooss hoosss, gila ini sambel apa bara api." Alfan dan Jason kalang kabut meraih minuman botol yang terpajang dirak kayu tersebut lalu membuka nya untuk diminum.


"Gimana? Hot kaan?" Ledek Kavin dan Daniel bersamaan.


"Anjir lo bedua, pedesnya gila. Ini cabe apa sih neng, pedes nya bikin abang tegang. Eh, maksud nya, lidah abang tegang gitu." Alfan segera meralat ucapan absurd nya. Lupa dia, sedang berada dimana. Kena santet, kelar masa depan.


"Itu namanya cabe rawit setan mas, kalo orang sini bilangnya. Segitu mana pedes biasanya. Masnya dari kota ya, di sana jarang ada jual cabe jenis ini. Biasa paling jual cabe minyak, cabe sayur sama rawit biasa." Jelasnya tanpa di minta.


"O." Penjelasan panjang kali lebar itu hanya dibalas ooo bulat oleh Jason, matanya tak berkedip menatap gadis ranum di hadapannya. Seperti nya pria itu telah tertombak panah cinta oleh gadis desa tersebut.


"Mau pesen apa mas-mas nya." Tanya gadis itu lagi.


"Aku gurame bakar sama sayur bening nya juga, Sambel nya dikit aja, kecap manis ada mbak?" Kavin mulai memesan, dirinya sangat lapar akibat energi nya terkuras habis di jalanan maut tadi.


"Ada mas, itu botolnya di meja." Tunjuknya pada Kavin. " Mas yang lain pesen apa lagi?" Tanyanya ramah.


"Saya ayam bakar kampung sama kuahnya... sop ada ?" Daniel juga mulai memesan untuk dirinya.


"Ada mas, kuahnya ada sop bening iga, sama sayur bening, kalo tumisan, ada daun ubi oseng, pare campur udang sungai, buncis sama tahu tempe. Ini minumnya apa mas?" setelah menjelaskan menu ala kampung yang mereka punya tak lupa gadis itu menanyakan minuman apa yang yang mereka inginkan.

__ADS_1


Setelah semua menu sudah di hidangkan, keempat sahabat itu makan, tidak lupa sang sopir yang memilih duduk di meja luar warung tersebut. Ngopi Nyambi menikmati pemandangan desa yang sudah mulai terang benderang. Sesekali pria paruh baya itu menggeleng pelan, entah mengagumi atau apa, pada objek yang tertangkap indra pengelihatan nya. Hanya dia yang paham arti gelengan nya tersebut.


__ADS_2