
"jadi kamu yang kebelet kawin?" Satria terkekeh pelan, menepuk bahu Jason. Membuat pria itu malu-malu tapi ngebet.
"Sampe maksa gitu, dia pah. Aku jadi kasian sama nasib Mina. Menikah karena dipaksa, ya gak sih. Si pria nya sampe mewek-mewek bombay megang tangan si wanita. Jangan tolak aku ,Mi. Aku gak bisa hidup kalo gak sama kamu." Kavin mulai meniru kalimat Jason yang saat memaksa Mina menerima lamaran tempo hari.
"Rese lo. Namanya juga gue usaha, dari pada lo. Gak tau normal apa kagak. Kavin nih, gak pernah mau deket-deket sama cewek, perlu dipertanyakan anak kalian yang satu ini, dad, pah, pi." Balas Jason tak mau kalah.
"Enak aja, gue normal kali." Onde-onde yang sejati nya nikmat itu, seperti bola basket mini. Melayang dan mendarat tepat di hidung bangir Jason.
"Anjaayyy. Ini makanan enak tau, lo main lempar-lempar aja kaya bola." Jason memungut wade yang mendarat dipangkuan nya, meniupnya sebentar lalu, hap. Belum satu menit.
"Iyyuuuuhh." Alfan dan Daniel bergidik ngeri, melihat kelakuan sahabat mereka yang satu itu.
"Pi?"
"Ya, Dan?" Melihat gelagat Daniel, Bintang sudah bisa menebak akan kemana arah pembicaraan mereka nanti.
"Itu, kira eh maksud aku. Asha, kira-kira kalo kita bilang Daniel ini calon suaminya, gimana menurut papi, papa sama daddy?" Daniel meremat kedua ujung jari tangan nya dengan gelisah. Sudah seperti akan melamar anak gadis orang dan takut di tolak oleh keluarga nya.
Ketiga pria dewasa itu saling bertukar pandang, lalu menarik sudut bibir. Dalam hati mereka senang, Daniel tidak mempermasalahkan masa lalu yang pernah dialami oleh gadis itu. Lagi pula itu bukan keinginan nya.
__ADS_1
"Kalau papi sih, ya tergantung. Kamu nya benar-benar serius tidak dengan ucapan mu. Asha itu bukan lagi seperti Kira yang kamu kenal dulu, papi gak mau di kemudian hari, ada masalah diantara kalian. Kamu akan dengan atau tanpa sengaja mengungkit hal yang sudah berlalu. Papi gak mau apa yang kamu lakukan sekarang, hanya karena untuk menebus rasa bersalah mu dimasa lalu." Ditatapnya wajah sendu sang anak, terlihat jelas ketulusan dikedua matanya. Hanya saja dia perlu memastikan sendiri, sampai dimana ketulusan Daniel, pada Asha nya yang baru.
"Daniel tulus pa, sejak kecil, aku sudah sangat menyayanginya, aku selalu mencintainya, bahkan saat aku terhasut oleh gadis psikopat itu. Hatiku tetap untuk Kira, tidak ada yang berubah pi, bahkan saat Kira ku sudah menjadi Asha yang sekarang. Aku tetap mencintainya sepenuh hati. Tidak ada yang kurang darinya, dia tetap gadis kecil Daniel yang sempurna, yang selalu Daniel sayangi hingga kini." Daniel berucap dengan suara serak, susah payah dia menahan agar air matanya tak tumpah.
"Kami tidak bisa membantu mu banyak, Daniel. Namun kamu bisa berusaha untuk meraih hati Asha, agar dia menoleh lagi padamu. Walau dia tidak mengingat apapun, soal hati, siapa yang bisa menebak. Buat dia jatuh cinta secara alami, jangan melibatkan perasaan masa lalu. Karena disana hanya ada banyak luka, dan juga tidak baik, jika kita menjalani sesuatu yang baru. Namun masih berkubang dalam kubangan masa lalu." Bastian melanjutkan ucapan sahabat nya dengan sedikit nasihat untuk keponakan nya itu.
"Kami belum bisa pergi dari sini, gadis gila itu masih berkeliaran di luar sana dengan bantuan seseorang. Terakhir yang papa dengar, dia mendaftar kuliah, dikampus yang sama denganmu. Dengan identitas dan wajah baru. Akan sangat sulit untuk menjebaknya masuk dalam permainan jika dia sudah tau, bahwa kami semua masih hidup." Satria pun menimpali perkataan dua sahabatnya itu. Dia tidak mencemaskan dirinya, melainkan Kira mereka yang baru, Asha.
"Tidak masalah, pi,pa, dad. Aku ngerti, aku akan berusaha mendekati nya dengan perlahan. Tapi bantu aku sekali ini saja, katakan padanya, jika Daniel adalah tunggangannya. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk mendekati Asha. Sisanya, aku akan usahakan sendiri." Daniel berucap dengan wajah penuh permohonan.
Bintang menghela napas panjang, dia juga masih bingung bagaimana cara menjelaskan pada Asha soal keadaan sekarang ini. Belum lagi Daniel butuh bantuan mereka, dia tidak ingin membuat keduanya terluka.
"Baiklah, tapi hanya sampai disitu saja papi akan membantu mu, selebihnya, kamu usahakan sendiri. Inget Daniel, jangan sekali-kali kamu menyakiti hati nya, papi orang pertama yang akan membunuhmu jika kamu berani melukai hatinya lagi." Ucapan penuh peringatan itu tidak membuat Daniel sakit hati. Dia tau, betapa sang ayah sangat menyayangi wanitanya itu. Hingga tidak rela, jika dia sampai melukainya.
Pertemuan tak disengaja itu, telah memberikan banyak makna. Belajar dari masa lalu, belajar memperbaiki diri, dan belajar menjadi orang yang lebih baik dmsedta bijak dalam memilih, menentukan dan memutuskan sesuatu yang baik tanpa meninggalkan sesak di kemudian hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Astagaaa Jason, mimi hampir hampir meninggoi tau gak kamu. Ini kenapa harus nyari jodoh kok sampe sejauh ini, belum lagi medan jalanan yang. Huuu, jantung mimi. Kamu ini, awas aja kalo pilihan kamu gak bener, mimi masukin lagi kami keperut trus minta tukar tambah." Nabila tak henti-hentinya mencecar Jason sejak baru sampai beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Jason hanya mendengus mendengar ucapan absurd sang ibu, ternyata usia tak membuat seseorang dewasa sesuai usia nya.
Berkat kecerdasan pak Mumun, akhirnya sang ibu dipaksa melihat jalanan yang penuh rintangan itu. Pria paruh baya itu ketiduran hampir satu jam, saat mereka beristirahat dikota kabupaten mengisi bahan bakar dan makan.
"Mi, bisa diem gak sih. Malu itu, diliatin mulu kita dari baru turun mobil, mimi udah kaya radio rusak." Revan balas mengomel sang istri yang sejatinya sudah secerewet itu sejak lahir.
"Ih, didi. Kenapa gak bilang sih. Minggir dulu, bentengin mimi bentar, mau baikin alis sama gincu." Revan hanya bisa mendengus kasar. Gimana gak berantakan itu lipstik, sepanjang jalan nyerocos mulu kaya knalpot resing, berisik.
"Van, itu ngapain bini lo, ngumpet gitu. Malu ketemu besan ama calon mantu apa gimana?" Reegan yang juga belum masuk ke dalam, karena sibuk membantu para wanita mengeluarkan koper dan barang seserahan juga kebutuhan lain untuk acara dadakan tersebut. Dibantu juga oleh beberapa warga desa yang ikut naik kevilla sejak subuh tadi, bahkan ada yang menginap semalam setelah selesai memasang tenda. Begitulah kalau di desa, apa apa serba dikerjakan secara bergotong royong.
Satu mobil itu penuh dengan barang, jangan lupa noleh ke atas punggung kuda besi itu. Barang yang kelebihan, pak Mumun ikat diatas sana. Mereka tidak percaya meski Jason dan yang lain bilang semua yang diperlukan susah mereka beli dan siap. Ragu aja, keempat pemuda itu bisa melakukannya dengan baik dan benar. Yang ini aja, pamit pergi liburan, dapat kabar, tau-tau malah mau kawin.
Tanpa mereka tau, jika semua persiapan dadakan itu, semalam sudah di handle oleh Bintang dan kawan-kawan, serta Varel dan rekan-rekannya.
"Biasa, gak bisa kalo gak dilihat lagi dalam keadaan perfect maksimal." Nabila mencebik sebal dibalik punggung suaminya.
"Loh, belum dandan, bukannya tadi waktu mampir udah dandan maksimal." Dara menatap heran pada Nabila yang krasah krusuh di balik punggung Revan.
"Meleber lipsik aku, ini alis juga, kena bahu didi tadi di mobil, jadi kaya cicak kegencet pintu." Setelah selesai mereka mulai memasuki villa tersebut.
__ADS_1
Para wanita dibelakang, Dara dan Marissa memutuskan ikut, siapa lagi keluarga mereka jika bukan sesama mereka sendiri.
Mereka datang dengan 4 mobil, satu mobil dikhususkan untuk membawa keperluan acara dadakan itu, satu lagi untuk membawa barang-barang mereka sendiri, sisanya untuk membawa para penumpang nya.