
"Keluarga pak Ramdhani Herlambang!" Seorang perawat tiba-tiba keluar dari pintu ruang operasi, memanggil keluarga ayah nya Sarah.
"Iya sus, saya. Gimana? Lancar kan? Ayah saya baik-baik saja kan, sus?".. Cecar Sarah pada perawat itu tak sabar.
"Lancar, mba ini udah mau keluar, makanya mbak saya panggil, takut nya waktu pak Ramdhan keluar, mbak nya nggak ada." Ujar perawat itu tersenyum ramah.
"Owh, syukur lah." Ucap Sarah sumringah.
Klek.. "Nah, itu ayah nya." Tunjuk sang perawat, pada brankar yang sedang di dorong keluar.
Sarah berjalan mendekati brankar sang ayah sedikit tergesa. "Yah?".. Ucap Sarah dengan mata berkaca kaca.
"Ayah baik, jangan nangis, malu sama dokter Reza." Ujar pak Ramdhan sambil melirik ke arah belakang Sarah.
"Ayah kamu baik-baik saja, sudah tidak ada yang perlu di khawatir kan sekarang. Hanya perlu menjaga pola makan yang sehat." Ujar dokter Reza sambil mengerling kan mata nya pada Sarah. Membuat suasana haru itu seketika buyar, hati Sarah semakin dongkol pada dokter genit itu.
"Makasih dok, ayah saya sudah boleh di bawa ke ruangan kan, sekarang?".. Sarah ingin cepat-cepat pergi dari sana, berhadapan dengan dokter Reza membuat mood nya seketika berantakan.
"Owh, boleh. Nanti setelah jam praktek saya selsai, saya akan mengunjungi pak Ramdhan secara pribadi. Biar makin akrab aja maksud nya, pak Ramdhan sudah seperti ayah bagi saya. Bapak tdak keberatan, kan?".. Ujar dokter Reza sesopan mungkin.
__ADS_1
"Tentu saja boleh dok, kapan saja silah kan. Justru saya yang tersanjung dokter mau mengunjungi saya di luar jam prakter dokter."
"Ehmmm..." Deheman Sarah mengalih kan atensi dokter Reza dan pak Ramdhan.
"Suster, silah kan pasien nya di bawa keruangan, seperti nya pak Ramdhan sudah tidak sabar ingin cepat-cepat istirahat." Ucap dokter Reza penuh makna sindiran, lalu menatap Sarah dengan tatapan yang sulit di arti kan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Makasih ya sus, ini biar saya aja yang ganti." Ucap Sarah pada perawat, yang akan membantu sang ayah untuk mengganti baju.
"Baik, mba kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa apa panggil aja saya. Tekan tombol ini." Ujar perawat itu sambil menunjuk arah benda yang dia maksud.
"Baik, sus. Makasih sekali lagi." Ujar Sarah ramah.
"Itu, kamu nggak salah di kasih sama istri nya kang Sadin, Sar?".. Tanya pak Ramdhan pada Sarah, karena dia tidak merasa memiliki hem tersebut.
"Ini?" Sarah mengangkat hem yang ada di tangan nya. "Ini di belikan sama bu Maya, ayah ingat kan, belanjaan yang kemaren sarah kasih liat. Ternyata di dalam salah satu Paper bag itu ada hem pria, nah sudah Sarah Sarah tanya ke bu Maya. Kata nya memang sengaja belikan buat ayah sekalian, karena beliau tidak sempat mampir kemari." Jelas Sarah pada Ayah nya.
Sementara pak Ramdhan terdiam mendengar penjelasan Sarah, hati nya semakin gelisah. Dia hanya berharap wanita yang Sarah kenal itu, bukan wanita di masa lalu nya.
__ADS_1
"Yah? Kok jadi ngelamun, pasti terharu ya sama kebaikan bu Maya. Mau di sampein apa nih, sama bu Maya nya, yah?".. Ucap Sarah menggoda ayah nya.
"Sampein makasih aja, bilang ayah suka sama baju nya." Ucap pak Ramdhan tersenyum, kemudian meraih baju tersebut dari tangan Sarah dan memakai nya.
"Wah! Pas, yah. Hebat banget bu Maya, bisa nebak ukuran baju ayah." Ucap Sarah tampak antusias.
Pak Ramdhan kembali terdiam sambil meremat ujung hem tersebut, pikiran nya kini mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depan nya. Jika benar wanita yang di maksud oleh putri nya, adalah orang dari masa lalu nya, maka bisa dipastikan kehidupan tenang mereka akan terancam bahaya. Terutama Sarah, anak nya.
"Yah, Sarah mau pamit keluar. Mau datangin undangan nya pak RT, ayah nggak apa-apa aku tinggal sendiri?".. Sarah sebenar nya tidak tega meninggalkan ayah nya, namun juga tidak enak jika diri nya tidak datang. Paling tidak kehadiran nya bisa mewakili sang ayah.
"Iya, nggak apa-apa. Kamu hati-hati, ayah hampir lupa tadi kalau nggak kamu ingatin. Tolong nanti uang hasil penjualan sayur kemaren kamu masukin di amplop ya, ayah nggak bisa ngasih apa-apa. Kemaren waktu ayah di bawa ke sini, pake mobil nya pak RT, nggak ada ngasih ongkos bensin juga. Ayah jadi nggak enak hati." Ujar pak Ramdhan panjang lebar.
"Nggak usah, yah. Sudah Sarah isi amplop nya, udah di lem juga, ada dua ini. Satu dari ayah satu lagi dari aku." Ucap Sarah memperlihat kan dua amplop di tangan nya, yang memang sudah dia isi semalam waktu sang ayah tidur.
"Iya sudah itu uang nya mau kamu pakai, pakai aja beli makan atau apa."
"Sarah mau masukin ke celengan gajah kita, masih ayah isi si Mimoy? Pasti udah gemuk sekarang." Ujar Sarah terkekeh geli, mengingat celengan gajah hadiah ulang tahun nya yang ke 15 tahun, dari sang ayah.
"Masih, udah sekali ayah bedah selama kamu tinggal, ayah masukin di tabungan ayah. Kalau kamu ada perlu, ambil aja. ATM nya ayah taruh di lemari."
__ADS_1
"Biarin aja yah, nanti Sarah tambah. Sarah pamit dulu, ayah kalau butuh apa-apa, telpon aja." Ucap Sarah lalu mencium punggung tangan.
"Hati-hati di jalan, nak"