Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXIII


__ADS_3

Dua orang pria paruh baya sedang duduk, sambil menikmati pemandangan hiruk pikuk kota di bawah sana, dalam suasana kerlap kerlip lampu malam hari. Dari balkon kamar apartemen, salah seorang sahabat mereka yang sudah beristirahat dalam kedamaian abadi.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, sejak mereka datang kesana, hanya beberapa patah kata yang terucap. Sekedar saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing.


Seakan sedang menyelami, dalam nya rasa rindu pada orang-orang yang mereka sayangi. Setiap satu bulan sekali selama tiga tahun ini, Mereka berdua akan menginap di apartemen tersebut. Entah siapa yang memulai kebiasaan itu, namun mereka menjadi terbiasa untuk melakukan nya.


Tiga tahun terberat dalam kurun masa persahabatan mereka. Semua kejadian-kejadian mengerikan itu, seakan selalu ada di setiap kali mereka membuka mata. Berharap ketika pagi menyapa, semua mimpi buruk itu tidak pernah terjadi. Nyatanya, realita menyadarkan mereka secara telak dan tak terelakkan.


Ketika ketiga sahabat nya menyerah kalah, dan memilih pulang memenuhi panggilan sang pencipta. Mereka berdua justru masih bertahan, dengan menyimpan segala perkara dan kenangan-kenangan masa lalu yang tak terlupakan.


Sesakit ini rasanya, saat berusaha merelakan mereka yang pergi dengan cara yang begitu menyakitkan.


"Sarah, bagaimana kabar nya sekarang?" Revan memulai pembicaraan di suasana hening itu.


Reegan menghela napas berat mendengar pertanyaan sahabat nya itu. "Baik, itu yang aku dengar dari anak-anak." Sejak kejadian tragis tiga tahun lalu, Sarah memilih pergi dari rumahnya dan mengabdikan diri, di sebuah yayasan katolik yang membina anak-anak jalanan.


Di usianya yang semakin menua, Sarah ingin menjadi bermanfaat bagi orang lain. Sebelum waktu yang dia punya habis, untuk meratapi kepergian sang anak, yang tidak akan pernah bisa kembali. Meninggalkan keluarganya bukanlah hal mudah, keputusan nya melalui banyak pertentangan batin. Hingga akhirnya, Sarah memutuskan keputusan besar dalam hidupnya. Meninggalkan anak-anak dan juga suami tercinta nya.


"Gak pernah nyoba buat datangin kesana? Aku denger Daniel ada pulang ke Indonesia. Waktu aku kunjungi makam Kira, aku liat ada bunga baru, itu pasti dia. Udah ada ketemu belum?"

__ADS_1


"Kalo Daniel belum ada ketemu, mungkin anak itu masih belum mau berkunjung kerumah. Disana banyak kenangan masak kecil mereka, itu pasti akan semakin melukai hatinya. Biasa kalau berkunjung, Kira yang ditemui. Sekarang tidak ada, pasti lain rasanya. Apalagi dia merasa banyak salah pada Kira, disaat-saat terakhir hidupnya, dia tidak bisa melakukan apa-apa."


"Anak itu banyak nyimpan sakit dan penyesalan seorang diri, gak mau berbagi. Mami nya juga tidak baik-baik saja, Sinta sempat mengalami depresi dan di rawat oleh psikiater selama setahun setelah kejadian naas itu." Reegan melanjutkan ceritanya.


"Kalau Sarah, aku masih belum punya cukup keberanian untuk menemuinya. Rasanya waktu tiga tahun ini masih belum cukup, untuk menghapus rasa bersalah ku pada Sarah. Saat pergi, Sarah bahkan tidak menoleh padaku meski hanya sekedar berpamitan. Kebencian dihatinya, pasti sama besar dengan rasa sakit karena kehilangan putri kami, Kira. Maka sampai kapanpun, kebencian itu tidak akan pernah bisa hilang dari hatinya." Ujar Reegan dengan suara yang berat. Pria paruh baya itu, hidup dalam kekosongan selama beberapa tahun terakhir ini. Sama sakitnya, hanya saja dia memilih menyimpannya sendiri.


"Nabila juga merasakan kehilangan yang sama, Kira sudah seperti putri bungsu kita semua. Kamu tau kan, betapa istri ku itu sangat menyayangi Kira juga Sarah. Saat kita semua masih larut dalam suasana duka, kepergian Sarah dari rumah. Benar-benar membuat Nabila merasakan kehilangan, yang amat Sangat dalam." Lanjut Revan menimpali perkataan sahabat nya.


"Sinta, Marissa dan juga Dara, memilih menikmati luka Mereka dan berusaha menyembuhkan nya dengan cara mereka sendiri. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, itu pilihan hidup yang sudah mereka pilih dan putuskan. Begitupun dengan Sarah. Sarah memilih merawat luka batinnya dengan cara mengabdikan diri bagi anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan nya. Itu juga bukan hal yang salah, meninggalkan keluarga yang sudah mandiri, bukan sebuah kesalahan." Lanjut Revan lagi.


Hatinya juga menyimpan luka yang sama perihnya. Kepergian para sahabatnya, juga keponakan kesayangan mereka. Membuat hatinya sakit dan juga rapuh disaat bersamaan. Tidak mereka sangka, jika hari tua yang pernah mereka bayangkan, tidak berakhir seindah harapan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayah masih belum pulang?"


"Belum, tadi udah ngabarin, bilang pulangnya mungkin agak siangan atau sore sekalian. Sama om Revan diajak ke makam dulu, trus nongkrong di cafe biasa, deket kantor ayah." Jelas Arumi pada sang suami.


"Umi jadi keluar gak nanti siang, si kembar aku bawa kekantor aja ya? Ada Nina yang bantu jagain. Hari ini aku gak ada jadwal meeting atau pertemuan diluar juga, jadi anak-anak bisa aku handle. Aman." Keenan selalu seperti itu, dia tidak ingin istri nya kerepotan, jika harus membawa anak-anak mereka ke toko.

__ADS_1


Arumi mengelola toko roti mendiang oma Maya. Sejak dia kembali dan menikah dengan Keenan sepuluh tahun yang lalu. Arumi di amanat kan untuk mengelola toko roti tersebut. Sesuai keahliannya, meski profesi nya dulu seorang perawat. Hobbynya berkutat didapur, menjadi perawat adalah keberuntungan nya karena mendapat kan beasiswa.


"Gak ngerepotin mbak Nina malah bi? Tau kan mereka berdua lagi aktif-aktifnya. Lincahnya bikin yang jaga encok." Arumi merasa keberatan jika harus merepotkan sekretaris suaminya.


"Gak apa-apa, Nina malah senang kalo mereka ikut. Nanti aku minta tolong sama mbak susi, OG yang biasa buatin minum kalo aku ada tamu. Anaknya baik, bisa kayanya jagain adek sama kakak." Bukannya apa, Keenan tau istri nya itu sering kuwalahan sendiri jika menjaga kedua buah hatinya. Hanya saja tidak pernah mengeluh.


Keenan tau wanita itu bukan tipe istri yang manja. Sudah terbiasa membesarkan anak kembar mereka yang pertama seorang diri, membuat nya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Sungguh Keenan sangat menyesal, jika mengingat masa lalunya yang labil dan plin plan.


"Ya sudah, tapi kalo sekiranya agak kerepotan. Antar aja ke toko, disana juga banyak anak-anak yang bisa gantian jagain. Apalagi kalo udah pada tidur, semua aman terkendali." Ujar wanita itu akhirnya mengalah.


"Ya, aman aja klo udah di kantor. Oya, itu si dokter gatel, gak ada mampir-mampir lagi kan, di toko. Kalo cuma buat nyapa kamu doang, bilang sama anak-anak di toko, Umi nya gak ada. Iseng banget itu dokter, gak ada kerjaan lain apa selain nyamperin istri orang tiap hari. Kesel aku tuh."


Pria itu kembali ke mode cemburu gelap, setiap mengingat dokter yang pernah menjadi rivalnya, dalam mendapatkan Arumi dan anak-anaknya. Membuat suasana hati Keenan seketika memburuk tak karuan. Apalagi mengingat kedua anaknya, yang sampai sekarang masih berhubungan dekat dengan dokter tersebut. Hati Keenan jadi panas tinggi.


"Ada, tapi gak tiap hari juga lah. Paling mampir buat beli roti atau cake, kalo ketemu ya pasti nyapa. Ya gitu-gitu aja, gimana sih kalo orang ketemu trus saling sapa. Ya seputar itu aja yang dibahas, 'apa kabar, anak-anak gimana, boleh diajak main tidak'. Profesi nya itu dokter kulit, bi. Bukan dokter gatel, abi nih." Jelas wanita itu setenang mungkin. Jika salah ngomong, alamat dia tidak akan bisa pergi ke toko.


"Ck, ngapain nanya kabar segala. Udah liat juga kan kalo Umi itu sehat selama sama abi, anak-anak juga kenapa selalu ditanyain. Anak siapa yang repot nanya siapa. Kenapa gak nyari istri trus buat anak sendiri aja sih. Jadi gak perlu ngajakin anak orang mulu kalo jalan. Dasar dokter kurang kerjaan." Omel pria itu ketus.


"Gak tau dia, kalo tempat kerjanya itu rumah sakit punya siapa. Nyari masalah mulu perasaan. Mau di katain hebat dia, udah banyak bantu umi dulu, biar anak-anak semakin terkesan gitu. Pasti niat nyari celah itu, biar bisa masuk dalam hubungan kita. Liat kan, sampe sekarang dia gak nikah-nikah juga. Padahal kita udah nambah anak, dia kerjaan cuma numpang hasil jerih payah abi. Saban libur, anak-anak dia bawa seenaknya, gak tau apa, aku juga mau main sama mereka kalo aku libur." Keenan bersungut panjang lebar. Dia merasa tidak terima, jika anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dokter gatel itu.

__ADS_1


"Ya, nanti umi bilangin anak-anak. Abi weekend ini mau ajak main, jalan-jalan ke mall. Udah, berangkat kerja gih, udah bawa sekutu gini masa nyampe kantor nya telat. Nanti siang umi agak sibuk ya, ada pesanan kue pengantinnya horang kayah, 5 tingkat gitu. Kalo gak angkat telpon atau gak bales pesen, bukan berarti umi lagi sibuk ngerumpi manja sama dokter gatel itu. Sini semuanya, umi kasih mood booster dulu." Arumi mencium tiga orang kesayangan nya itu, satu persatu. Jika meladeni sikap cemburuan sang suami, bisa-bisa tembus pagi lagi masih belum kelar.


__ADS_2