
Daniel tak henti hentinya mencium wajah bayi merah itu, sampai-sampai yang lain harus mengantri dengan kesal.
"Daniel, aku lagi. Kau sudah puas menggendong mulai dari ruang bersalin tadi. kini giliran kami lagi," keluh Keenan mulai tak sabar.
"Ck! baru juga sebentar, lihat dia bahkan betah bersama ku." elak Daniel masih tak rela, memberikan bayi perempuan itu pada Keenan.
"Dan, ayah boleh gendong tidak?" suara Reegan mengalihkan perdebatan kedua pria itu.
Daniel menoleh lalu tersenyum, " boleh yah, ini si cantik nya." Daniel menyerahkan bayi itu ke gendongan Reegan.
"Ck, tadi saja aku tidak di kasih" gerutu Keenan kembali duduk, diantara orang-orang yang mengerubungi bayi mungil yang satunya.
Daniel menghampiri ranjang Kira, "mau makan? tadi gak ada makan mulai siang aku lihat. Makan dulu ya, biar ASI-nya cepat keluar banyak." Daniel mengambil bubur lalu mulai mengaduknya dengan lauk pauk.
Daniel menyuapi Kira dengan begitu telaten, sesekali mengelap bibir wanita itu dengan tissue.
"Udah, aku kenyang." tolak Kira pada suapan terakhir. "minum aja"
"Nih," Daniel memberikan gelas beserta sedotan nya. "Sekali lagi ya, tinggal ini kok. Biar asi nya banyak, kasian tadi mereka berdua cuma minum susu formula." Akhirnya Kira mengangguk dan membuka mulutnya.
Selesai makan dan membersihkan tangannya, Daniel kembali duduk disamping Kira.
"Mami sama papi mau ketemu anak-anak mu, boleh?" tanya Daniel hati-hati, suara nya rendah sekali.
"Boleh, Kenapa tidak boleh." Balas Kira menatap manik Daniel yang terlihat cemas menanti jawaban nya.
"Benar, kalo gitu aku suruh masuk. Mereka diluar sejak satu jam yang lalu," mata Kira melotot sempurna, bagaimana bisa Daniel membiarkan orang tuanya menunggu begitu lama diluar sana.
Daniel keluar dengan hati bahagia, "Pi, mi ayo masuk, Kira bolehin." ujar Daniel dengan wajah sumringah, kedua paruh baya itu masuk dengan ragu-ragu.
Semua mata tertuju ke arah mereka yang baru memasuki ruangan Kira, hati keduanya ketar ketir.
Reegan menghampiri sahabat yang sangat dia rindukan lalu memeluk nya erat. Tangis mereka pun pecah. Revan, Bastian dan Satria pun ikut memeluk sahabat mereka itu dengan penuh kerinduan.
Marissa dan yang lain menghampiri Sinta yang nampak canggung, kemudian memeluk wanita yang nampak sangat berbeda itu. Jika dulu Sinta mereka selalu nampak rapi, cantik dengan baju mewahnya. Kini nampak sangat sederhana, dengan balutan baju yang mungkin, tidak akan pernah di temukan di gerai manapun di mall.
Kulitnya pun sedikit kecoklatan, tidak seperti dulu. Apa yang sudah terjadi pada kehidupan wanita itu.
Duduk yuk, liat cucu cantik kita, ajak Nabila. Namun Sinta malah mengarah kan langkahnya ke ranjang Kira, air matanya sudah mengalir deras. Perlahan wanita itu memeluk tubuh Kira yang masih belum pulih sempurna.
__ADS_1
"Maaf," bisik Sinta di telinga Kira dengan suara yang begitu lirih. " Maaf kan keegoisan mami dan papi, maaf untuk semua penderitaan dan luka hati mu. Maaf untuk segala nya," Sinta terisak begitu pilu bahunya bergetar hebat.
Air mata Kira pun tak terbendung, dalam ruangan itu suasana berubah mendung. Air mata para sahabat mengalir bagai air, kesedihan akan kehilangan Sarah dan air mata haru atas pertemuan kembali para sahabat itu.
"Udah mi, aku tidak apa-apa, apa mami tidak ingin menggendong salah satu anakku?" tanya Kira mencairkan suasana.
Sinta melerai pelukannya lalu menghapus sisa air matanya. "Tentu saja, mereka juga cucu mami. Mami akan menggendong nya." Sinta menoleh pada Nabila lalu mengambil alih sang bayi dari gendongan Nabila.
"Wajah nya tidak mirip denganmu, pasti mirip dengan ayahnya. Cantik sekali," puji Sinta sambil mencium wajah bayi mungil itu dengan sayang.
Kira tersenyum mendengar nya, "ya, mereka sangat mirip Justin, bahkan tidak menyisakan satupun untuk menjadi bagian diri ku." Kekeh Kira berkaca-kaca. Dia merindukan suaminya, sangat. Terutama sekarang, dulu Justin lah yang merawat nya setelah melahirkan.
Daniel yang peka, mengelus pelan bahu Kira. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum untuk saling menguatkan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dua bulan sudah usia si kembar, Daniel bolak balik ke rumah Reegan hampir setiap hari. Satu bulan ini, Kirel bahkan tidak pernah sekalipun pulang dari sana. Anak itu masih mengira Kira adalah ibunya, Kira pun tak keberatan sama sekali.
"Delia sama Debya tidur?" tanya Daniel celingukan, karena hanya melihat anak-anak nya yang lain di ruang keluarga itu sedang bermain.
"Baru habis mandi, masih di kamar." Jelas Kira lalu beranjak setelah meletakkan gelas air putih di meja untuk Daniel.
Kebiasaan nya dulu selama menikah dengan Justin, pria itu ketika habis berkebun atau pulang mencari ikan. Akan Kira berikan air putih hangat untuk menyambut nya pulang.
"Astaga, lihat pipimu sayang." Ujar Daniel gemas. Lalu keluar membawa Delia di gendongannya.
"Hai kakak-kakak, adek-adek mau ikut main dong. Boleh tidak?" Daniel menyapa ke empat anaknya yang sedang bermain susun balok.
"Aku gak mau pinjemin mainan aku, no!" seru Jeslyn lalu memeluk mainannya. Sejak si adik-adiknya lahir, Jeslyn merasa kasih sayang sang ibu berkurang padanya.
Daniel yang peka lalu mengajak Delia duduk di karpet dimana Jeslyn duduk. "Hai kakak Jeje yang cantik, Delia boleh ikut main tidak?" Daniel kembali mengulangi pertanyaannya, namun kali ini berfokus pada Jeslyn.
Jeslyn menatap sang adik dengan tatapan nanar, "Delia masih kecil, pa. Dia belum bisa bermain ini," elak Jeslyn mengamankan mainannya.
Daniel Nampak tengah berpikir, "baiklah, nanti jika adik-adik nya sudah lebih besar, main sama-sama ya. Nanti papa ajak ke toko mainan di tempat besar itu lagi, mau? Nanti adiknya di belikan boneka, boleh?" Daniel berusaha bernegosiasi dengan sang anak, dia tidak ingin perasaan iri di hati Jeslyn semakin bertumbuh subur.
Jeslyn terlihat sedang menimbang penawaran sang ayah, "baiklah, tapi untuk ku harus lebih banyak, bagaimana?" Jeslyn balik menego sambil menatap ayahnya penuh harap.
"Oke tidak masalah, asal adiknya di cium dulu sini. Adiknya udah wangi lho, ayo di cium." Daniel mengarah Delia lebih dekat dengan sang kakak. Selama ini Jeslyn membatasi dirinya semenjak sang adik lahir, berbeda dengan Jevi dan Jesen. Keduanya sangat senang karena merasa mendapat mainan baru.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Jeslyn mencium pipi bulat adiknya, sejenak gadis kecil itu terdiam. Menatap manik adiknya, tiba-tiba gadis kecil itu kembali mencium sang adik.
"Dia sangat lembut, aku suka. Boleh aku memangkunya, pah?" wajah Jeslyn berbinar, Daniel tersenyum senang, lalu menaruh Delia dengan hati-hati. Tentu saja Daniel tidak melepaskan begitu saja, Daniel tetap memegangi Delia di balik tangan mungil Jeslyn.
Hati Kira menghangat, dia tersentuh dengan apa yang Daniel lakukan untuk meluluhkan hati keras anaknya. Dua bulan ini dia hampir terserang baby blues, akibat penolakan Jeslyn terhadap adiknya. Beruntung Daniel setiap hari datang meski harus menempuh jarak yang tak dekat.
Keduanya saling bertatapan, dan tersenyum.
"Wah, cucu cucu kakek lagi pada ngapain ini?" Reegan datang membawa plastik ditangan nya.
"Kek, lihat aku sudah bisa memegang adik dua" celotehan Jeslyn memancing tawa Ketiga orang dewasa itu. Jeslyn selalu memanggil adik-adik nya dengan adik dua, karena mereka terlahir dua orang.
"Sayang, sama adik nya?" pancing Reegan.
"Hummm... Sayang, sekarang sudah mulai sayang." celoteh nya lagi.
"Harus di sayang adiknya, semua nya harus di sayangi" Reegan sengaja mengulangi perkataan nya, agar terekam di otak sang cucu. Bahwasanya, semua adik-adik nya harus di sayangi.
"Baik kek, aku bakal sayang semuanya setelah ini. Janji" ucap nya dengan wajah polos.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Nginap aja, hujannya lebat sekali." Saran Kira pada Daniel yang terlihat gelisah karena hujan tak reda-reda. Bukan nya dia ingin segera pulang, hanya saja berlama-lama di sana, dia tidak enak.
"Apa tidak apa-apa? aku tidak enak dengan ayah," jujur Daniel tak enak hati.
"Menginap saja, bahaya pulang cuaca begini." suara Reegan mengagetkan keduanya.
"Baiklah yah, aku tidur di sofa aja, biar bisa denger kalau twin menangis." Kamar Kira dan kedua anaknya di lantai bawah, begitu juga Reegan. Kamar tamu sedang di renovasi, jadi belum bisa di gunakan.
"Kenapa tidak di atas saja, ada kamar kosong." Saran Reegan kasihan, jika Daniel harus tidur di sofa ruang keluarga. Ditambah cuaca begini, pasti dingin sekali.
"Tidak apa-apa yah, aku bisa tidur di mana aja tidak masalah. Lagipula sofanya besar, aku bisa pakai selimut tebal." Ujar Daniel menolak halus. Dia tau setiap malam pasti Kira mengalami kesulitan, mengurus dua bayi sekaligus dalam keadaan nya sekarang ini.
Meski hanya dengan cara begini saja, dia harap bisa membantu. Untuk itu dia rela menempuh perjalanan 2 jam pulang pergi setiap hari, untuk mengunjungi Kira dan anak-anaknya.
∆Maaf baru update lagi, author nya ada sedikit kesibukan di dunia nyata 🤗🤗
Jadi othor bayar rasa bersalah, dengan update yang banyak...
__ADS_1
∆Jangan lupa oret-oret di laman komentar yah🙏🙏Luv yuhh😘😘😘
Update info: Dua bab terakhir sebenarnya bersamaan dengan 5 bab sebelumnya, hanya saja karena proses review nya yang baru lulus review pagi ini. Maka nya dua bab itu baru menyusul 🤭🤭