Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CVII


__ADS_3

"Bunda gak apa-apa, ada yang luka gak. Coba mana ayah liat?" Pria itu panik ketika mendapat kabar dari sang ibu. Jika Killa mengamuk di kamar putrinya, Kira.


"Gak yah, bunda gak deketin kok. Cuma barang-barang Kira aja yah, ada yang masih di cuciin. Soalnya basah sama kena beling. Ada juga yang rusak, Barbie kesayangan nya yang warna biru, patah leher sama kakinya."Jelas Sarah panjang lebar, wanita itu terlihat sendu.


"Anak itu benar-benar sudah keterlaluan, biar ayah yang bicara sama dia."


"Eh, gak usah yah. Itu dia udah tidur, tadi ketiduran depan pintu kamarnya. Diangkat sama Mamat ke kasur. Cape abis nangis, tadi gedor-gedor pintu juga pake barang-barangnya yang ada di kamar." Cegah Sarah. Bukan apa, dia sudah merasa lelah hari ini. Jika harus bertambah satu perdebatan yang tak ada ujungnya, dia sudah tak sanggup.


"Hasil tes DNA Sasa sama Killa keluar hari ini, nanti Satria yang antar ke rumah. Kalau dia tidak bisa di atur, membalikan saja ibunya. Ayah harap tes DNA nya valid, Killa anak kandungnya. Kita punya alasan untuk melepaskan anak itu pergi." Ujar Reegan panjang lebar. Dia sudah tidak sanggup lagi harus memelihara anak itu, setiap hari seperti bencana untuk keluarga nya.


"Bunda ikut ayah aja, kalau memang yang terbaik adalah mengembalikan Killa pada ibunya. Bunda dukung, siapa tau jika sudah bersama ibu kandungnya. Sikapnya bisa berubah lebih baik." Mungkin ini adalah pilihan final mereka, keberingasan anak itu sudah tidak ada obatnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kira ngapain nak, ini biar bibik aja yang rapiin. Kira duduk aja, sini sama bunda." Sarah kaget melihat anaknya merapikan tempat tidurnya sendiri.


Tadi bibik memang sudah membersihkan kamar tersebut, namun belum sempat merapikan kasur Kira yang juga tak luput dari amukan Killa. Bi Surti baru menaruh alas kasur baru di atas meja, yang rencana, nanti setelah pekerjaan nya selesai, baru akan dia kerjakan. Namun Kira yang pengertian itu sudah mengambil alih pekerjaan bi Surti tersebut.


" Gak apa-apa bun, ini udah tinggal pasang karetnya aja. Bunda duduk aja dulu, bentar ya." Sarah tersenyum haru, anaknya itu pasti sudah biasa melakukan hal-hal semacam ini.

__ADS_1


"Bunda capek ya, Kira pijitin, mau? Mana minyak urutnya?"


"Gak nak, bunda gak capek. Ayo duduk sini, ngapain duduk di bawah begitu." Sarah menarik pelan lengan sang anak. Menuntun duduk di sofa bersama nya.


"Kamu tau dari mana soal minyak urut segala? hmm?" Tanya Sarah lembut.


"Dari mbok di rumah kardus, bun. Biasa kalo kira kesana suka dipijitin sama mbok. Katanya biar Kira gak gampang sakit. Dulu katanya waktu Kira baru-baru ikut ngamen sama mulung, Kira masih bayi. Masa bayi bisa ngamen sih bun, Mbok suka becanda dia. Kira sering dipijit sama mbok, katanya supaya gak keselahu." Kira begitu bersemangat saat menceritakan masa kecilnya, yang sebagian sudah dia lupa.


Wajar saja, dia sudah bergelut ditumpukkan sampah, dan bermain matahari saat sedang ikut mengamen sejak usia belum genap tiga tahun. Jadi saat itu usia yang masih lucu-lucunya, pantas saja orang-orang di rumah kardus itu mengatakan, jika dia masih bayi.


"Kira gak takut, sering pulang malam trus tidur di teras rumah.?" Sarah bertanya dengan menahan sesak di dadanya. Mengingat anak batita nya sudah berkeliaran di jalanan demi mencari makan.


"Gak bun, soalnya waktu masih kecil banget, Kira di antar sama teman-teman rumah kardus. Sampe ujung gang aja tapi, kalo ibu Sasa liat, pasti Kira di marahin. Apalagi kalo gak bawa uang banyak pas pulang, Kira gak di kasih makan. Tapi Kira udah makan kok, di rumah kardus. Pake singkong rebus pake nasi sedikit dicampur-campur, trus pake terasi pedas. Enak banget bun, nanti bunda bikin ya, Kira kangen makan itu." Anak itu berceloteh panjang lebar, tanpa dia tau jika ceritanya itu. Membuat perih hati kedua orangtuanya. Reegan sejak tadi berdiri di balik pintu, tanpa berniat Masuk. Hati nya terlalu rapuh jika mendengar kisah pilu sang anak.


"Tidak bun, gak apa-apa. Masih bisa di bagusin kok. Killanya jangan di marahin ya bun, dia pasti cuma kesal aja. Kira tiba-tiba datang dia gak di rumah." Oh, baik sekali hati mu nak.


"Ya gak di marahin kok. Emang masih bisa ya dek, untung bunda belum suruh bibi buang tadi. Itu di laci, ayo liat dulu. Bagian mana yang masih bisa di baikin." Dengan semangat kedua wanita kesayangan Reegan itu, membuka laci lalu mengeluarkan boneka Barbie yang patah tersebut.


"Masih ini bun, gak patah kok. Cuma lepas aja ini. Coba liat, tuh kan udah ada kepalanya lagi dia. Mana kakinya bun, sini. Tuh, bisa bun. Masih bagus kan. Nanti kalo ada mainan yang rusak jangan langsung di buang ya bun, siapa tau masih bisa di baikin lagi." Dengan senyuman secerah matahari siang itu, Kira tersenyum lebar melihat bonekanya berhasil dia perbaiki sendiri.

__ADS_1


"Waah, anak ayah hebat ya bun. Ini boneka Barbie sudah sehat lagi, kaki sama kepalanya. Sini ayah cium dulu, ayah kasih hadiah ciuman yang banyak kalo pinter gini." Reegan menciumi wajah anaknya, Membuat Kira kegelian. Tawa dalam kamar yang baru saja di terpa badai itu, kembali menggema.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sorry, gue telat. Sengaja juga sih, sekalian mau numpang makan malam." Ujar pria itu datar. Membuat Reegan kesal setengah dongkol. Mau numpang makan tapi dengan raut wajah sedatar itu.


"Ck, kita gak makan malam, udah di ganti ke sore. Gue tau lo pasti mau numpang makan di rumah gue. Janji nya datang sore, lo baru nongol jam orang makan malam." Ujar Reegan bersungut.


"Udah ih, itu ada Dara loh. Gak bisa gitu kalo ketemu langsung akur, gak kaya Tom Jerry dulu." Omel Sarah tak enak, ini baru kali kedua, Dara datang ke rumah mereka. Dia takut wanita itu tersinggung atau tidak enak hati..


"Gak apa mbak, sama saya biasa aja. Kiranya mana mbak, kangen sama dia." Ujar wanita itu tanpa peduli pada obrolan sengit-sengitan kedua pria tanggung tersebut.


"Ada, ayok ke kamar." Sarah menarik pelan tangan Dara, meninggalkan kedua pria yang melongo karena di cuekin.


"Ck, gara-gara lo."


"Kok, gue. Lo nya aja yang rese, sama tamu itu yang sopan. Ingat, tamu itu adalah raja. Ya gue ini." Ujar Satria bangga.


"Ck, raja penjelajah ************ mah ia." Balas Reegan sengit.

__ADS_1


"Eh, awas ya kalo sampe Dara denger." Raut wajah Satria seketika panik. Membuat Reegan tersenyum menyeringai.


"Tau, takut." Ejek pria bucin tersebut lupa diri.


__ADS_2