
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari kelulusan Sekolah. Kira sudah terlihat sibuk merias wajah nya sejak subuh, di bantu oleh sang ibu, yang bertugas memilih pakaian apa yang akan Kira pakai.
Sebuah kebaya modern simpel, menjadi pilihan Sarah untuk putrinya, tentu saja sudah atas persetujuan sang anak.
"Udah beres, cantik banget sih anak bunda. Gak berasa, kamu udah gede aja, perasaan kemaren masih suka ngajak bunda gambar sama main Barbie-barbiean." Ujar wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, kok sedih-sedih gini sih. Nanti bunda gak cantik lagi loh." Seloroh Kira mencairkan suasana.
"Bunda kaya gak rela kamu cepat banget gedenya, masih belum puas bunda temanin kamu main."
"Sudah pada siap belum, nih. Yuk tar telat." Ujar Reegan menyela, sesi mewek-mewekan kedua wanita kesayangan nya itu.
"Yuk, itu tas kamu jangan lupa." Ujar sang ibu mengingat kan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai, sudah lama. Acara belum mau mulai kan?" Sara duduk persis di kursi samping Dara, yang juga menghadiri acara wisuda kelulusan anak angkatnya, Killa.
"Belum nih, tuh anak-anak pada foto-foto. Cuma betiga aja, Kalla-Kavin gak ikut?" Kedua anak Sarah tersebut, memang jarang pulang, keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Kalla mengelola perusahaan sang ayah di Singapura, sementara Kavin, lebih memilih bekerja di perusahaan sang paman, Bastian. Keahlian Kavin dalam bidang IT, membuat Bastian tertarik merekrut anak sahabatnya itu, untuk bekerja di perusahaan miliknya.
Kavin lebih banyak menghabiskan waktu luang nya di apartemen, sesekali dia akan pulang kerumah besar tersebut, jika jadwal mereka kumpul keluarga atau saat sang ibu merindukan nya.
__ADS_1
"Kalla baru pulang tar malam, tadi udah ngabarin, kerjaan nya gak bisa di tinggal. Tapi udah nyiapin kado buat adiknya, besok acara nya di villa, dia pulang tar langsung nyusul kita ke sana. Kalo Kavin tar siang ikut sekalian acara makan-makan nya aja. Anak itu gila kerja banget, cocok banget sama om daddy nya itu." Sarah berujar panjang lebar pada Dara, yang di sambut kekehan yang sama oleh wanita itu. Tanpa mereka tau, jika tawa dan senyum Kira yang mereka saksikan tampak begitu bahagia hari ini. Adalah senyum terakhir yang bisa mereka lihat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Cheers...."
"Akhirnya, perjuangan kalian berdua selama tiga tahun ini, terbayar dengan hasil yang memuaskan. Sekali lagi, selamat buat kalian berdua. Ini hadiah kecil dari ayah, buat kedua princess ayah yang cantik ini." Reegan menyerahkan dua buah kotak dengan ukuran yang sama, pada kedua gadis yang baru saja merayakan kelulusan nya.
"Makasih yah." Ujar kedua gadis itu serempak. Kemudian membuka kotak tersebut.
"Wuaaaa, makasih yah. Killa suka Banget. Killa sayang ayah." Gadis itu nampak begitu senang, senyum sumringah tak henti dia tebarkan. Di ciumnya pipi sang ayah dengan penuh perasaan. Sambil melirik sini kearah Sarah. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan, melihat Sarah yang melengos kesamping.
"Sama-sama, ayah senang kamu menyukai nya. Kira bagaiamana nak, kamu suka tidak?" Tanya sang ayah beralih menatap putri nya yang hanya diam saja, apakah anaknya tidak menyukai hadiah nya.
"Maaf aku telat, baru abis meeting di kantor." Suara bariton Daniel, mengalihkan atensi semua orang di meja panjang tersebut.
"Selamat ya, udah pada lulus juga akhirnya. Udah tau mau kuliah dimana? Killa?"
Degh
Hati Kira serasa di cubit keras, Daniel bahkan tidak menatap nya sama sekali. Sejak kapan Daniel sedekat itu sama Killa, setaunya Daniel selalu menghindar dan tidak suka, jika Killa akan ikut bersama mereka.
"Belum tau bang, abang mau lanjut S2 dimana? Biar bisa bareng sama aku sama Kira, sekalian bisa ngawasin Kira nya abang, ya kan Ra?" Ujar gadis itu terkekeh pelan dengan hati bersorak senang. Dia bisa melihat' raut wajah kesal Sarah mendengar ucapannya. Kata-katanya yang seolah penuh perhatian itu membuat semua orang ikut terkekeh. Kecuali Sarah dan Kira tentunya.
__ADS_1
"Samaan kamu aja, kamu mau lanjut kuliah dimana? Nanti biar abang bantuin daftar kan, kamu tinggal siapin apa aja persyaratan nya." Lagi-lagi, Daniel bertanya pada Killa saja. Seolah gadis itu adalah kekasih nya. Mata Kira sudah berkaca-kaca, sang ibu yang peka langsung mengambil alih situasi.
"Kira gak sekalian di tanyain, bang? Kira juga mau lanjut kuliah, kan lulusnya bareng dengan Killa." Sarah berujar lembut, namun dengan menekan setiap kalimatnya.
"Eh, ya bun. Sampe gak merhatiin. Kira mau lanjut kuliah bareng Killa juga? Ada yang mau abang bantuin gak?" Ujar pria itu gugup, namun hatinya masih belum bisa berdamai, dengan apa yang sudah Kira perbuat padanya. Bahkan pria itu dengan sengaja selalu memposting fotonya bersama Killa, dengan emoticon yang membuat hati Kira panas dingin. Hubungan mereka, sudah Daniel anggap berakhir, selama kurang lebih tiga bulan ini.
"Belum tau bang, nanti di pikir dulu. Takutnya malah nyesel, kalo mutusin sesuatu gak pake dipikirkan dulu. Biasa orang kan suka gitu, mutusinnya duluan, mikirnya belakangan, nyeselnya kemudian." Ujar gadis itu terkekeh hambar. Hati nya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Melihat' kedekatan Daniel dan Killa beberapa waktu belakangan ini, membuat nya sadar. Pria itu sudah berpindah hati darinya. Dia hanya masih belum terbiasa, mungkin karena sejak kecil, Daniel selalu perhatian padanya. Dan sekarang semua perhatian itu, sudah berpindah haluan, hatinya masih belum rela. Belajar mengikhlaskan ternyata seberat ini rasanya, hatinya masih perlu berjuang keras, untuk melupakan pria itu mulai sekarang.
Sementara Daniel, merasa tersindir oleh kata-kata gadis tersebut. Dia menatap tajam kearah Kira yang malah di balas senyuman teduh oleh gadis itu.
"Itu tergantung apa yang diputuskan, kalau sekitarnya memang layak untuk diputuskan, maka tidak perlu di pikirpun, tidak akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari" Balasan telak Daniel membuat hati Kira semakin terluka, sebegitu tidak layak kah dirinya bagi Daniel.
Satria yang menyadari situasi jadi tidak kondusif, segera mengambil alih. "Killa nanti sama papa aja, semua sudah papa sama mama siapkan, tinggal daftar. Gampang mah itu, papa masih bisa handle. Kamu gak keberatan kan, kalo papa yang temanin kamu daftar kuliah?" Ujar Satria pada gadis yang sudah menjadi bagian keluarga nya, selama 12 tahun itu.
"Gak kok pa, aku oke aja. Aku gak suka ribet orang nya, mau papa oke, mau mama oke atau abang juga oke. Gak jadi soalan kalo aku mah, santuy." Ujar Killa tertawa pelan, walau hatinya tidak suka atas ide sang ayah. Namun sekarang bukan saatnya membantah. Dia cukup puas, sudah melihat raut wajah pias Kira dan Sarah.
Dalam hatinya tersenyum jahat, akan segera dia akhiri dramanya selama belasan tahun ini. Akan dia singkirkan Kira dan Sarah dengan caranya sendiri, cara yang sudah dia persiapkan sejak lama. Ada untungnya menjadi anak angkat Satria, dia belajar banyak hal tentang apa yang berhubungan dengan profesi pria itu. Killa remaja sudah tidak asing dengan berbagai jenis senjata api, bahan peledak dan kawan-kawan. Setiap ada kesempatan, Satria akan mengajari nya menembak, dan menggunakan barang-barang berbahaya lainnya. Tujuannya agar gadis itu bisa menjaga dirinya sendiri dan juga Kira. Namun siapa sangka, keahlian Killa itu, yang akan mengantarkan sang pelatih, menuju alam baka tak lama lagi.
∆Jadi guys, para Readers ku yang baik hati, Killa memang sengaja aku jadiin anak angkatnya papa Satria, karena sejak awal alurnya sudah aku atur sedemikian rupa. Karena dari sanalah semua kisah puncak nya berawal dan berakhir.
∆Tar lagi tamat, mohon dukungannya ya, jangan lupa di like, komen n' vote nya yaa🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1
∆Yang nungguin ceritanya Keenan-Arumi, tar lagi meluncur di beranda kalian. Gas komen yaa, bagi yang masih suka sama cerita recehnya author. Lophee yuu Readers ku terkasih 😘🙏🙏😘