
Justin baru saja selesai mencuci wajahnya, dia sulit tidur semalam. Hatinya masih belum tenang, walau dokter mengatakan jika calon anaknya baik-baik saja.
Sementara Killa masih belum ingin berbicara banyak padanya, padahal dia sangat ingin menyampaikan sesuatu pada wanita itu.
"Sarapan dulu yuk, aku suapin." Bujuk Justin seraya mengambil piring bubur di atas nakas.
"Aku gak suka bubur," ketus Killa acuh sambil memainkan ponselnya.
Justin kembali menghela nafas, "mau aku belikan apa, hmm?" tanya Justin lembut.
"Nasi kuning daging," jawab Killa masih acuh walau hati nya maaih ingin memesan yang lain, namun gengsi nya melebihi keinginan nya itu.
"Baiklah, tunggu aku. Jangan beranjak dari ranjang lagi seperti tadi malam, mengerti." Ujar Justin penuh peringatan.
Inilah alasannya dia tidak bisa tidur nyenyak semalam, wanita keras kepala di depannya ini di wanti-wanti oleh dokter, untuk bed rest total di tempat tidur. Namun semalaman, hampir saja Killa terpeleset di kamar mandi, karena risih jika harus Bab di pispot. Jika saja Justin tidak segera menangkap nya dari belakang. Dia tidak ingin kecolongan lagi, jadi memutuskan untuk tidak tidur hingga pagi.
"Hmm," sungguh jawaban yang ambigu, namun cukup bagi Justin. Segera setelah mengambil dompet dam kunci mobil nya, Justin keluar dari ruangan Killa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi Atun nya mas Kavin," sapaan Kavin membuat Atun terjengkit kaget.
"Ya ampun mas, suka banget ngagetin Atun." Ujar gadis itu merengut manja.
Semenjak kejadian kuah mie tumpah tempo hari, Kavin semakin gencar mendekati Atun. Apalagi sudah mendapatkan lampu hijau dari sang ibu, maka dirinya tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi menemui Atun.
"Tun? hari ini temanin mas mu ini beli buku yuk." Ajak Kavin menatap Atun penuh harap.
"Aduh, gak bisa mas. Si mbok mana bolehin Atun keluar-keluar." Ya sejak dirinya datang ke kota, belum pernah sekalipun Atun di ajak sekedar jalan santai keliling komplek mewah itu. Mbok Darmi akan selalu membatasi ruang gerak Atun. Meski gadis belia itu sangat ingin jalan-jalan, walau hanya di sekitar rumah majikannya.
"Pasti boleh, nanti mas Kavin minta ijin sama mbok. Kamu gak usah buatin aku sarapan, gak usah bantu masak juga. Pergi mandi terus ganti baju pake ini, udah sana." Dengan dorongan kecil, Kavin mengarahkan Atun ke keluar dari dapur mejuju paviliun dibelakang.
"Eh? tapi mas, Atun takut si mbok marah, bagaimana?" Atun masih terlihat cemas, meski Kavin sudah menjamin nya.
"Udah, gak akan marah. Ini ada aku ikut temanin," hibur Kavin agar pujaan hatinya tenang.
"Mbook, mbok Darmi.." seruan Kavin membuat wanita paruh baya itu berjalan tergesa-gesa dari arah kebun belakang paviliun.
"Ya mas? ada apa? Atun buat masalah lagi, kali ini numpahin apa lagi dia?" cerocos mbok Darmi tak sabar. Lalu melirik tajam pada keponakan.
"Ngak mbok, aku mau ajak Atun keluar. Di suruh bunda juga, katanya kasian calon mantunya gak pernah keluar rumah jalan-jalan." Jelas Kavin lancar jaya, sementara pipi atun sudah seperti tomat, menahan malu.
__ADS_1
Mbok Darmi sudah terbiasa dengan sikap blak-blakkan Kavin, nanun mendengar kalimat yang di ucap kan Kavin. Justru membuat nya ketar ketir.
"Apa gak malu ajak Atun, mas? maksud mbok, Atun gak punya baju bagus buat jalan." Jelas mbok Darmi hati-hati, meski maksud dari perkataan nya adalah sebuah kode keberatan.
"Itu ada bunda beliin Atun baju, mbok. Lagian Atun make baju apa aja tetap paling cantik di mata aku," balas Kavin mengerling pada Atun, membuat pipi Atun kembali bersemu.
"Hmm.. ya sudah, nanti kalo Atun bikin malu mas Kavin, disuruh pulang aja duluan naik angkot, gak apa-apa." Ujar mbok Darmi menyerah.
"Beres mbok, Atun gak akan bikin malu. Bikin aku makin cinta baru ya," lagi-lagi ucapan Kavin yang blak-blakkan membuat mbok Darmi hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Mandi Tun, yang bersih. Jangan sampai bikin malu mas Kavin, ajak kamu dekil begini. Kaki di sikat, pake sampo yang banyak....." sederet wejengan dari mbok Darmi memenuhi telinga Atun.
Kedua nya berjalan menuju kamar Atun di lantai atas. Tak henti-hentinya mbok Darmi memberikan banyak nasihat, agar Atun tak membuat dirinya malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kavin berdecak kagum dengan pemandangan di hadapannya, dress motif bunga-bunga pilihan sang ibu, ternyata mampu mengeluarkan pesona terpendam seorang Atun.
Pemuda itu masih menelisik penampilan atun yang menurut nya terlalu cantik, dia jadi was-was mengajak Atun keluar, dengan penampilan paripurna seperti itu.
"Kamu kok cantik banget sih Tun, aku jadi kesal nih." Ujar Kavin membuat Atun melongo.
"Maksud nya gimana, mas? Atun gak cocok ya make baju ini, Atun gak usah ikut aja ya." Tiba-tiba rasa percaya diri nya menguar begitu saja, karena salah menangkap maksud perkataan Kavin.
Pipi Atun merona mendengar perkataan majikannya, " mas bisa aja," ujarnya malu-malu.
"Ya sudah deh, tar mbok Darmi malah berubah pikiran. Yuk jalan," Kavin menggandeng tangan montok Atun, menuju mobil lalu membuka kan pintu untuk gadis itu.
Sarah yang melihatnya dari gazebo hanya tersenyum, begitu juga mbok Darmi yang diam-diam mengintip dari balik jendela dapur.
Dia bukannya tidak suka jika Atun dekat dengan anak majikannya, hanya saja status merekalah yang membuat nya sadar diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tun? jangan jauh-jauh, Tun jangan noleh-noleh, Tun jangan di liatin terus, Tun.. Tun.. Tun..." sederet kalimat larangan Kavin membuat Atun sedikit mual, pasalnya sejak tadi dia hanya boleh melihat kearah Kavin saja. Selebihnya hanya menunduk atau menatap lurus kedepan, itu pun jika di depannya tidak ada makhluk berjenis kelamin jantan.
Atun merasa agak tertekan tentunya.
"Mas, kita pulang aja ya," rengek Atun mulai bosan, dia tadinya sudah sangat senang bisa jalan-jalan, apa lagi bisa masuk ke mall yang selama ini hanya menjadi angannya saja.
Namun nyatanya dia merasa bosan setengah hidup, dengan kelakuan tuan muda nya itu, Atun stress.
__ADS_1
"Kok pulang sih Tun, kamu gak suka ya jalan sama aku, gitu?" eh kok jadi Kavin yang ngegas. Lihatlah pria itu mulai merajuk dengan wajah di tekuk sempurna.
Atun gelabakan, "bukan gitu, mas. Atun cuma takut di marahin mbok aja," kilah Atun mencari alasan.
"Mbok gak akan marah, tenang aja. Yuk, mepetin mas mu ini, takut di culik tante-tante girang." Kavin mengeratkan genggaman tangannya pada Atun, dan menarik gadis itu hingga tak ada celah diantara mereka.
"Cape ya, Tun?" tanya Kavin menoleh pada Atun yang sejak tadi lebih banyak menunduk.
Atun mengangkat kepalanya balas menatap Kavin, " Dikit, boleh beli es teh gak mas? Atun haus, tarok plastik aja gak usah duduk, kata teman Atun yang udah lama kerja di kota. Sekali duduk di restoran di mall itu, biayanya mahal. Bisa sampe 500rb, Atun gak sanggup." Ujar Atun polos dengan wajah seriusnya.
Kavin tak dapat menahan tawa nya, sepolos itu gadis kecilnya ini. Ya ampun, "gak segitunya, Tun. Cuma duduk aja gak bayar, temanmu itu cuma ingin mengerjaimu saja." Balas Kavin mengacak gemas rambut Atun.
"O," mulut Atun sedikit membulat, namum jelas gadis itu masih belum mengerti.
"Ayo kita makan dulu, abis itu kita belanja kebutuhan mu," ajak Kavin menarik pelan tangan Atun menuju sebuah restoran.
Atun berdecak kagum, matanya berpendar ke segala penjuru restoran tersebut. "Pantas saja bisa sangat mahal, modelnya aja begini." Atun terus bergumam kagum.
Kavin memesan beberapa jenis makanan, dia tak ingin Atun merasa malu jika sampai salah menyebut nama menu. Bagi dirinya tidak lah masalah, namun dia tak ingin Atun jera ikut dengan nya. Itu yang lebih mengkhawatirkan baginya.
"Mas Kavin? tadi mesen apa? namanya bule-bule semua Atun denger," Kavin hanya tersenyum, benar kan dugaannya.
"Ada deh, nanti liat aja sendiri. Aku yakin, kau pasti suka." Jawab Kavin sambil membenarkan anak rambut Atun yang menjuntai di dahinya.
"Nanti kita beli jepit rambut sekalian, ya. Biar ini gak nutupin mata," tawar Kavin penuh perhatian.
"Mahal gak mas, Atun cuma dibelaki mbok uang 150rb tadi. Rencana mau belikan dalaman, punya atun banyak yang bolong." Atun memelankan suaranya di akhir kalimat. Wajahnya menunduk malu.
Kavin tersenyum melihat kepolosan Atun, inilah yang membuat nya bisa dengan mudah jatuh hati pada gadis belia itu. Kepolosan dan kejujuran dalam segala hal, membuat dirinya sejatuh jatuhnya pada pesona seorang Atun.
"Gak, gak mahal. Nanti kita belikan sekalian sama dalaman kamu, ya." Tawar kavin lagi mengangkat dagu atun menggunakan jari telunjuk nya.
"Gak usah mas, Atun ada duit. Biasa kalo 80rb dapat 1 lusin," tolak Atun tak enak hati juga malu di saat bersamaan. Pipinya sudah seperti kepiting rebus.
Kavin hampir saja meledakkan tawanya, dimana ada orang jual dalaman 80rb satu lusin pikirnya. Atun ada-ada saja. Yang ada 80rb hanya dapat 1-2 lembar pakaian dalam, itupun yang tak bermerek. Namun mengingat Atun yang polos, Kavin hanya bisa mengurut dadanya agar tak terserang stroke.
"Ya, nanti kita nyari yang 100rb dapat dua lusin," ujar Kavien mengikuti alur, jika dia mengatakan harga pakaian dalam yang ada di sana. Dia khawatir, gadis itu yang malah terserah asma dadakan.
Atun membelalakkan matanya, terlihat binar kebahagiaan terpancar jelas disana.
Kavin tersenyum melihat wajah sumringah Atun, hanya mendengar harga pakaian dalam yang semurah itu saja. Sudah bisa membuat gadis itu bahagia, sungguh sederhana, namun jelas membuat dirinya semakin tergila-gila.
__ADS_1
Ah Atun, besok nikah yuk! batin Kavin meronta-ronta.