Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part VCLIII


__ADS_3

Nabila dengan bersemangat menceritakan banyak hal pada Asha, tentu saja melewatkan bagian yang tidak perlu mereka bahas.


Dara dan Marissa pun ambil bagian dalam bercerita, tentang anak-anak mereka yang juga sepupu dari Asha. Keempat wanita itu terlihat sangat akrab, seolah tak pernah ada perpisahan di antara mereka.


"Hmmm.. Aku pinjem Asha dulu mi. Udah hampir 2 jam loh kalian memonopoli calon istri ku. Yuk, sayang. Aku mau ajak kamu keliling sebentar." Tanpa menunggu persetujuan Asha, Daniel langsung menarik pelan tangan gadis itu untuk ikut bersama nya.


Para ibu itu hanya mendengus sebal. Mereka masih belum puas berbagi cerita bersama gadis itu, kini Daniel sudah menculiknya.


"Para ibu-ibu itu cerita apa aja sama kamu?" Daniel mengajak Asha berkeliling di dekat perkebunan teh warga. Mengajak gadis itu duduk di salah satu pondok kecil di bawah pohon.


"Banyak, sebagian nya aku sampe lupa." Asha terkekeh. Mengingat para wanita itu berebut siapa yang lebih dulu bercerita padanya.


Daniel menatap lekat wanita yang sangat di cintai nya itu, rasanya masih tidak percaya. Namun dia selalu mengucapkan banyak rasa syukur dan terima kasih, atas kebaikan Tuhan dalam hidup nya.


"Abang kangen sama kamu." Perkataan Daniel membuat Asha reflek menoleh.


"Kangen banget, sampe gak bisa mikirin yang lain lagi. Semua isi pikiran abang hanya tertuju sama kamu."


Asha mencebik. "Trus kenapa baru datang? Apa kangen nya sejenak di lupain. Sibuk banget ya? Di kota pasti lebih asyik dari pada di sini. Gadis kota itu pasti cantik-cantik, ya kan bang?" Celotehan Asha membuat Daniel tersenyum kecil.


"Rame, di kota rame, padat juga banyak polusi. Kamu gak akan suka. Gadis di sana juga cantik-cantik, kamu bener." Daniel melirik sekilas, lalu menarik sudut bibirnya lucu. Terlihat gadis itu sedang menahan cemburu.


"Trus kenapa masih nunggu aku bangun? Kan sayang, cewek-cewek cantik nya di anggurin." Asha berkata sambil membuang pandangan nya ke sembarang arah.

__ADS_1


"Ya, mereka memang cantik." Daniel menjeda ucapannya. "Tapi gak ada yang lebih cantik dari calon istri nya abang Daniel. Cuma satu yang gini mah, abang beruntung banget bisa dapat dia nih. Cinta, sayang. Pake Banget malah." Lalu memutar pelan bahu wanita nya yang nampak cemburu.


Asha bersemu, entah lah. Sejak bertemu dengan pria itu, hatinya selalu berdesir aneh. Mungkin dulunya dia secinta itu pada pria di depannya ini.


"Kita nikah yuk?" Ucap Daniel tiba-tiba.


Asha terbelalak mendengar nya. "Ishh, katanya masih lama, taun depan kan? Kenapa sekarang mau buru-buru gini." Gadis itu mengernyit heran.


"Aku gak mau jauh lagi dari kamu, gak kuat. Kita nikah trus balik ke kota. Tahun depan itu cuma wacana, tapi kan kamu udah sehat sekarang. Gak ada alasan lagi buat nunda. Mau ya, nanti aku ngomong sama Ayah sama papi. Pasti pasti langsung, iya." Ucap Daniel bersemangat.


Dia tau bahwasanya sang ayah sangat menyayangi wanitanya itu. Terlihat sekali saat Asha bersama ayah Reegan, sang ayah nampak sedikit cemburu. Seperti nya dia akan menjadi saingan sang ayah untuk selalu mendapat kan perhatian Asha kedepan Nya nanti.


Setelah terdiam dan nampak berpikir, Asha menatap Daniel. "Aku ikut aja bang, gimana baiknya." Ujar nya tersenyum lembut. Senyum yang selalu Daniel rindukan.


"Ya, sebenarnya udah lumayan baik


Hanya saja masih belum boleh naik pesawat aja. Tapi nantikan bisa di konsultasi kan ke dokter, mudahan sekarang sudah boleh." Daniel susah payah menelan ludah nya yang terasa keras melewati tenggorokan.


Berbohong ternyata tidak enak, entah kenapa orang lain bisa dengan mudah membuat kebohongan tanpa kendala apapun.


"Bunda cantik ya, tadi aku liat di video di hp mimi. Aku jadi kangen, padahal kaya asing aja gitu. Mudahan aku bisa cepat ingat ya bang, kaya gini tuh gak enak, semua-semua di lupain."


Degh!

__ADS_1


Jantung Daniel seperti berhenti bekerja, tidak, Asha tidak boleh ingat. Ingatan itu hanya akan membuat nya kembali terluka.


"Kamu gini aja abang tetap sayang, gak pulih juga gak apa-apa." karena aku gak mau ingatan kamu pulih, biarkan seperti ini saja. Selama nya!' Sambung Daniel dalam hati. Dia tidak sanggup jika ingatan gadis itu kembali. Bukankah terakhir mereka bertemu, dia sempat-sempatnya menorehkan luka di hati gadis itu. Dengan memutuskan hubungan mereka karena kesalahpahaman.


"Kenapa semua orang pada bilang kaya gitu ya. Aneh." Asha bergumam pelan di kata terakhir nya.


"Ya, supaya kamu gak mikirin itu terus. Nanti kamu bisa sakit kalo itu trus yang kami pikirin. Udah, balik yuk. Nanti aku mau ngomong sama keluarga kita, soal pernikahan kita nanti. Aku udah gak sabar, ini." Ujar Daniel gemes sendiri. Lalu merangkul pinggang Asha dan berjalan kembali menuju mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sarah sudah aku hubungi, minta ketemu sebentar kalo aku udah balik dari sini. Anak-anak juga, Kalla sampe terbang saat itu juga, waktu aku kabarin tadi pagi. Entah bagaimana orang-orang yang melihat nya, anak itu seperti nya menangis. Dari suaranya yang serak aja aku udah nebak."


"Keenan juga udah aku telpon tadi, dia masih di kediaman pak Madun. Gak enak katanya abis acaraan gak ramah tamah dulu, dia sama yang lain bantu-bantu dikit. Beresin panggung sama balikin kursi ke balai desa." Revan menimpali.


"Kamu udah kasih tau soal kita semua, Asha gimana? Kamu kasih tau juga?" Cecar Satria tak sabar, pasalnya beberapa bulan yang lalu. Beberapa orang kepercayaan nya bilang jika Keenan mencurigai, jika makam itu kosong. Karena berkat mulut lemes seorang perawat yang tanpa sengaja menyinggung soal kejadian di mana, saat mereka akan menggembok peti mati beberapa tahun lalu, ternyata satu dari peti itu ternyata kosong.


Keenan yang masih di landa penasaran, diam-diam meminta seseorang menggali makan sang adik. Dan benar saja, hanya peti yang sudah keropos, tanpa ada isinya. Meskipun hanya sepotong tulang.


"Soal Asha belum, kalian juga aku gak ngasih tau. Aku cuma bilang, kami ada di villa seorang kenalan bisnis, dan meminta mereka ke sini sama Keyra juga, karena Reegan terjatuh dan kaki nya keseleo. Udah, gitu aja" Revan menjabar dengan santai tanpa rasa bersalah, karena sudah menyumpahi Reegan terkilir.


"Cerdas memang bapak Revan kalo urusan beginian mah, dari dulu paling gak di raguin lagi keahliannya di bidang yang satu ini." Ujar Bintang membuat tawa mereka pecah.


Mereka seperti Dejavu, suasana semacam ini sudah lama tidak mereka lakukan. Mereka merindukan nya sekarang, dan di sisa umur mereka yang entah kapan. Kebahagiaan yang pernah mereka rancang di hari tua, kini bisa mereka lanjutkan kembali.

__ADS_1


Berkumpul bersama orang-orang terkasih, untuk mengahadapi dunia. Tidak peduli sehebat apapun tantangan mereka kedepannya nanti, kebersamaan mereka akan menguatkan satu sama lain.


__ADS_2