
Drrrt drrrtt ddrrrrtt
"Iya Halo".. Sarah menjawab dengan suara khas bangun tidur.
(" Selamatt pagi Sarah, sayang.") Sura cempreng dari seberang telpon, hampir saja membuat Sarah melempar ponselnya karna kaget.
"Nabila?".. Tanya Sarah masih di antara mimpi dan kenyataan.
("Ck,jangan bilang lo masih tidur jam segini. Udah pagi Sarah, sayang. Bangun! Buruan, gue jemput satu jam lagi. Lo nggak kangen sama gue?"..) Cerosos Nabila membuat Sarah mengerjakan kedua mata nya, lalu melirik jam di atas nakas nya.
"Ck, baru juga jam 7. Aku tidur subuh semalam, masih ngantuk banget, nih. hhoooammmm." Sarah menguap sengaja, dia tau Nabila paling benci mendengar orang menguap.
("Iyyuuuuhh... Jorok lo! Pasti masih bau jigong tu mulut. Lo semalam di *****-***** sama si Tangga? Ganas amat, sampe subuh menjelang baru kelar, kaya lagi ronda aja. Jadi ngeri gue yang mau married.") Nabila bergidik ngeri. Tidak tau saja Nabila, jika sahabat nya itu, sebentar lagi resmi menyandang status janda kembang.
"Ngaco ah, aku yang baru bangun kamu yang ngigo. Iya udah aku mau mandi dulu, jemput nya jangan satu jam lah. Dua jam lagi ya?".. Sarah menego pada Nabila.
("Nggak ya, satu ya satu jam! Mandi buruan! Gue sekalian bawa sarapan, nasi kuning bu Ningsih depan kampus kita dulu. Sekalian buat buat ayah juga, nggak ada alesan lagi lo.") Nabila mematikan sambungannya, tanpa menunggu jawaban Sarah.
Sarah masih melongo dengan sikap sahabatnya nya tersebut, dia masih ngantuk berat. Bagaimana tidak dia baru bisa tidur jam 4 subuh. Semalam selain Reegan menelponnya hingga 2 jam sampai kupingnya panas, Sarah masih memikirkan cerita sang ayah.
Sarah beranjak menuju kamar mandi, dia tidak perlu membuat sarapan pagi ini jadi dia tidak terburu-buru ke dapur. Setelah ritual mandi nya selesai, Sarah memoleskan wajahnya dengan sentuhan makeup supaya lebih segar.
Sarah ngambil salah satu dress yang dia dan Reegan beli kemarin, lalu sepasang sepatu high heels dan tas. Semua itu yang dia sangka akan dibeli untuk ibu dari sang kekasih, sehingga tanpa ragu dia memilih yang terbaik, dengan harga yang fantastis.
Sarah mematut kan dirinya didepan cermin, lalu memotret dirinya sendiri melalui pantulan kaca. Kemudian dia mengirim pada sang kekasih. Sarah tersenyum melihat tingkah konyol nya, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Sarah bergegas keluar menemui sang ayah.
.
__ADS_1
"Pagi yah, hari ini Sarah mau jalan sama Nabila. Ntar lagi di jemput, sarah nggak buat sarapan ya, Nabila bilang mau beli nasi kuning depan kampus."
"Iya nggak apa-apa, kamu hati-hati ya. Ayah mau ke kelurahan juga sebentar lagi, mau ketemu pak lurah. Nanti sama kang Ujang. Kang Ujang dapat kerjaan jadi satpam jaga malam disana, lumayan siangnya bisa kerja yang lain." Balas sang ayah lembut, tidak ada yang berubah. Pria paruh baya itu masih ayah nya yang kemarin, yang berbeda hanyalah perasaan Sarah saja.
Tiin tiin..
Suara klakson mobil menghentikan obrolan ayah dan anak itu. Sarah bergegas keluar rumah. free
"Ck, suara klakson lo, ganggu anak tetangga lagi tidur aja." Omel Sarah. Bukan takut Lala terbangun, bocah 5 tahun itu pasti sudah bangun sejak tadi. Sarah hanya takut jika istri pak Dulah yang akan mencak-mencak mendengar suara berisik tersebut.
Woii..berisik! Baru punya mobil ya, gak usah pamer saya juga punya. Sombong amat, ganggu aja!" Benarkan, ini yang Sarah takutkan, kalau tetangga singa betina nya sudah mengomel begitu. Suaranya pasti kedengaran satu RT.
"Eh, maaf ya bu. Ini memang mobil baru, keluaran terbaru maksudnya, saya masih punya tiga lagi dirumah. Jadi wajar kalau saya sombong, saya kan horang kaya." Balas Nabila tidak mau kalah, sambil mengibaskan rambut nya. Pamer aja sekalian biar tau rasa, mobil sejuta umat aja belagu, batin Nabila kesal.
"Sudah sudah, berangkat sana. Hati-hati dijalan, ayah juga mau ke rumah kang Ujang ini." Pak Adnan menengahi perdebatan yang bisa dia pastikan akan berlanjut itu. Dia sangat mengenal sahabat putrinya itu, watak keras kepalanya tidak akan bisa dilawan.
"Makasih Nabila, nanti salam buat orang tua mu. Ayah lama tidak bertemu mereka."
"Siap, ayah. Nanti Nabila sampaikan. Kami berangkat dulu, yah." Pamit keduanya seraya menyalami tangan sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reegan tampak sedang sangat serius menghadap setumpuk berkas juga laptop di ruang kerja nya. Sejak kemarin sang kakek sudah menerornya, dengan berbagai pesan dan panggilan, yang tidak satupun Reegan gubriskan.
Sesekali pria itu mengecek ponselnya, berharap mendapat balasan pesan dari sang kekasih.
"Ck, kemana sih?".. Reegan tampak kesal, sejak sejak satu jam pesannya tidak juga kunjung di balas.
__ADS_1
Tuut tuutt tuuttt...
("Iya, Ree")
"Kebiasaan, pasti kamu silent lagi ponsel kamu. Aku ngirim pesan loh tadi, kenapa gak dibaca. Kamu dimana itu, kenapa ada suara klakson mobil, kamu jalan sama siapa? Bukan dokter Genit itu kan? Awas aja, aku tembak mati dia kalau berani dekatin kamu lagi." Cerocos Reegan panjang lebar, pria itu terlihat sedang menahan amarah. Andai pekerjaan nya tidak menumpuk, pasti dia akan menyusul kemana kekasih nya itu pergi.
("Nggak, Ree. Ya ampun, main tuduh - tuduh aja kamu tuh, heran. Aku lagi jalan sama Nabila, mau temani dia ke butik. Ini lagi sarapan nasi kuning di mobil, jadi kacanya di turunin dikit.") Ucap Sarah kesal, dia sedikit berbisik takut Nabila mendengar percakapan yang sedikit ambigu.
("Kamu udah sarapan belum?")
Reegan merasa lega mendengar penjelasan kekasihnya. "Belum, nggak sempat. Tadi buru-buru kekantor, kamu mampir bentar dong, kangen aku. Aku lagi nggak bisa keluar hari ini, kerjaan numpuk banget." Pria itu memohon pada kekasihnya.
(" Nggak bisa, Ree. Nggak enak sama Nabila. Aku antar sarapan aja ya, tar aku titip di pos satpam.") Tawar Sarah, sambil melirik sahabatnya yang melengos pura-pura tidak dengar.
"Ck, bentar aja sayang. Aku kangen, peluk bentar sama cium juga. Nggak bakal lama, kasih vitamin aku dulu. Biar ayah calon anak kita ini semangat kerja nyari duit nya.") Kukuh Reegan seperti biasa, mode memaksa adalah hobi barunya sekarang.
("Tar, tanya Nabila dulu. Aku matiin ya, mau beliin kamu sarapan dulu.") Sarah mematikan sambungan telpon sambil menggerutu kesal.
"Mampir di kantor teman aku bisa, bentar aja antarin sarapan." Ucap Sarah hati-hati, pasalnya dia belum bercerita apapun pada Nabila perihal dirinya sekarang.
"Ree itu cewe apa cowok, ingat si tangga noh." Balas nabila menatap tajam pada sahabat nya itu.
"Namanya Rere, aku kenal baru sebulan lebih ini lah. Kamu sih ninggalin aku lama banget, kan aku jadi mendua sekarang." Kelakar Sarah menutupi kegugupannya.
"Ck, Dasar tidak setia kawan, tuh nasi kuning aku kasih aja. Nanti gampang, kita bisa nyari cemilan lain. Aku udah kenyang juga kamu suapin tadi." Omel Nabila sedikit ketus, dia merasa cemburu jika Sarah punya teman baru. Dia tidak suka, untuk itulah sejak dulu, Nabila selalu menempel pada Sarah jika mereka bersama. Demi menjauhkan Sarah dari orang yang berniat untuk berteman atau sekedar berkenalan dengan sahabatnya itu.
Persahabatan mereka terjalin sejak kelas tiga SMP hingga kuliah, mereka sering di sangka pasangan lesbian. Karna jika bersama mereka akan selalu menempel, seperti kembar Siam. Nabila menyukai Sarah yang baik hati, perhatian dan sabar menghadapi sikap keras kepalnya. Sarah juga sangat cerdas, dengan begitu, otak pas-pasan Nabila bisa sedikit terbantu.
__ADS_1